“100 MISI UNTUK MENDAPATKAN CINTA ELVINA”
Satu per satu Uwais mulai menuliskan misi-misi yang akan dijalankannya. Di misi yang ke-100 dia menuliskan “Menikah dengan Elvina dan membangun rumah tangga yang bahagia”.
Apa sajakah misi Uwais untuk mendapatkan hati Elvina? Dan apakah Uwais akan semudah itu menjalankan semua misinya?
***
“Kimmi ayo banguunn!!” Uwais menarik selimut Kimmi dan menggoyang-goyangkan tubuhnya agar membuka kedua matanya yang terpejam.
“Kimmi! Nanti kamu telat ketemu sama klien loh!!” Uwais melanjutkan.
“Aahhh…!! Ini anak kenapa pagi-pagi udah berisik gini sih?!” Kimmi menggeliat lalu menarik kembali selimutnya menutupi tubuhnya hingga kepala.
“Ehh, jangan tidur lagi! Ayo cepetan bangun!” Uwais kembali menyingkirkan selimut Kimmi. Kemudian dia menarik tangan Kimmi agar gadis itu segera bangun.
“Iihh!! Mama! Papa! Kenapa biarin si Uwais pagi-pagi masuk ke kamarku sih!” Kimmi mengeluh pada kedua orang tuanya karena membiarkan Uwais masuk ke kamarnya.
“Satu, dua tiga! Yapp!! Akhirnya kamu bangun juga, Kim! Hehehe!” Uwais terkekeh setelah berhasil membangunkan Kimmi dari tidurnya.
Kimmi memasang mimik wajah kesal karena paginya yang sudah terganggu oleh Uwais. Berbeda dnegan Uwais yang tersenyum senang. Uwais memberikan selembar kertas yang penuh dengan coretan tangannya Uwais di kedua sisinya.
“Lihat deh, Kim!”
“Apaan tuh??” Kimmi menatap bingung kertas yang ditunjukan oleh Uwais.
“100 misi untuk mendapatkan cintanya Elvina!” jawab Uwais dengan mantap.
Kimmi menatap datar Uwais, kemudian dia membaringkan tubuhnya lagi dan menarik selimut hingga menutupi kepala seperti sebelumnya.
“Eehh, Kimmi!! Kok malah tidur lagi sih!!” seru Uwais.
“Aku malas ah dengerin kamu cerita tentang si Elvina melulu! Udah sih kamu sama si Sherly aja!” ujar Kimmi.
“Sudah berkali-kali aku bilang kalau aku dan Sherly itu hanya temenan saja! Kok kamu malah maksa aku sama dia terus sih?!”
Kimmi membuka selimut yang menutupi kepalanya. Lalu Kimmi menatap Uwais dengan sedikit menyipitkan kedua matanya dan berkata, “Kalau memang kalian hanya teman, kan bisa dibuat jadi lebih dari sekedar teman!”
“Aku sudah jatuh hati dengan Elvina, dan sampai kapan pun akan kukejar cinta dia selama janur kuning belum melengkung. Aku pun akan terus berdoa sama Allah agar Elvina menjadi jodohku kelak.”
Tiba-tiba Kimmi tertawa setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Uwais. Dia tidak menyangka jika lelaki setampan Uwais ternyata bisa menjadi seserius itu setelah menemukan wanita yang sudah membuat hatinya jatuh cinta. Sampai-sampai dia juga berdoa agar Elvina menjadi jodohnya. Padahal Elvina sudah memiliki kekasih. Namun, Uwais meminta kekuatan Tuhannya untuk bisa membantunya.
“Kamu kenapa ketawain aku??” tanya Uwais.
“Aku gak nyangka kalau kamu sampai berdoa menjadikan Elvina jodoh kamu! Padahal dengan wajah kamu yang tampan, kamu bisa dengan mudah mendapatkan gadis yang mungkin jauh lebih cantik daripada Elvina itu!” jawab Kimmi.
“Cinta itu bukan hanya sekedar memandang fisik saja, Kim. Secantik apa pun seorang perempuan, tetapi kalau dia tidak bisa membuat hatiku bergetar dan otakku terus memikirkannya, itu tandanya aku tidak jatuh cinta sama dia!”
“Hmm.. Begitu! Boleh juga kamu, Uwais!” puji Kimmi.
“Ya sudah, kamu kasih lihat aku list misi kamu nanti sore sepulang kerja saja ya! Aku mau lanjut tidur!” sambung Kimmi.
“Jadi kamu mau tidur lagi?? Percuma dong aku bangunin kamu pagi-pagi gini!”
“Iya! Lagian aku juga gak minta kamu bangunin aku pagi-pagi gini!” sahut Kimmi.
Pada akhirnya Kimmi melanjutkan tidurnya dan membiarkan Uwais menahan kesal karena usahanya membangunkan kakak sepupunya itu sia-sia. Dia tetap tidak bisa menunjukan list misi yang sudah dia buat pada Kimmi.
Di kantornya, Uwais sengaja sering memanggil Elvina untuk datang ke ruangannya. Dia beralasan masih belum cukup mengerti tentang dokumen-dokumen yang harus dia pelajari di atas meja kerjanya.
Dengan sabar Elvina mengajari Uwais menjelaskan dokumen tersebut satu per satu. Kedua mata Uwais tidak bisa lepas dari Elvina saat sedang memberi penjelasan padanya. Tanpa disadari Uwais menyunggingkan senyum dan membuat Elvina mengernyitkan dahinya kebingungan dengan senyuman Uwais itu.
“Maaf, Pak. Apa penjelasan saya sudah dimengerti?” tanya Elvina.
“Eh? Aahh.. I—itu.. Iya, saya mengerti, Vina!” jawab Uwais dengan salah tingkah.
“Sepertinya Pak Uwais tidak fokus dengan penjelasan yang saya berikan. Apa ada yang sedang Pak Uwais pikirkan?”
“Itu… Sebenarnya aku…” Uwais mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang bisa membantunya mencari alasan. Kemudian pandangannya mengarah pada jam bulat yang menempel di dinding ruang kerjanya. “Itu, Vin! Sebentar lagi sudah waktunya makan siang, saya sudah lapar! Kita makan siang bareng dulu yuk! Atau sekalian saja bawa dokumennya ke tempat makan, jadi bisa lebih enjoy ngobrolnya!”
Elvina memutar kepala melihat jam di dinding. “Kalau memang Pak Uwais sudah lapar, kita bisa makan siang sekarang Pak! Tapi, saya sudah bawa bekal makan siang saya. Jadi saya menemani bapak saja ya!”
“Kamu bawa bekal? Ya sudah bawa saja bekal kamu ke tempat makan, nanti kita makan bareng-bareng!” pinta Uwais.
“Memangnya gak apa-apa Pak?”
“Ya gak apa-apa dong! Ya sudah yuk kita pesan tempat makan sekarang!” ajak Uwais.
Elvina menuruti permintaan Uwais. Mereka memesan sebuah meja di kafe yang jaraknya beberapa blok dari kantor. Uwais memesan makan dan minum di kafe tersebut untuk makan siangnya. Sedangkan Elvina hanya memesan air mineral saja karena dia lupa membawa botol minumnya.
“Permisi, pesanan meja 03!” seorang pelayan datang dengan sebuah nampan berisi makanan dan minuman yang dipesan oleh Uwais.
“Ini Hanburger dan juga lemon tea nya ya, Pak!” kata si pelayan sembari meletakan makannya.
“Ini pakai keju kan Mbak?” Uwais memastikan pesanannya.
“Tidak, Pak! Memangnya pakai keju ya?”
“Loh, gimana sih Mbak?! Saya kan pesannya pakai keju! Kok malah datangnya tanpa keju! Saya sudah menunggu lama loh!”
“Maaf, maaf Pak! Lalu ini gimana Pak? Bapak mau tunggu lagi sebentar?”
“Saya harus menunggu lagi? Saya sudah lapar loh Mbak!” Uwais kesal.
Elvina mengambil hamburger yang tadi dibawa oleh si peayan kafe, “Ya sudah begini saja, biar hamburger ini untuk saya, lalu tolong ya buatkan terlebih dahulu pesanan Pak Uwais yang tadi. Tolong didahulukan ya, Mbak! Karena kita sudah menunggu lama!”
“Iya! Akan segera saya buatkan pesanannya! Terima kasih ya..” si pelayan berterima kasih pada Elvina.
“Maaf ya Pak, pelayan itu hanya bertugas mengantarkan pesanan yang sudah dibuat dari bagian dapur. Mungkin yang salah adalah yang mencatat pesanan kita tadi. Jadi harap dimaklumi ya Pak! Maaf jadinya Pak Uwais harus menunggu lagi.” kata Elvina menjelaskan pada Uwais.
Uwais tersenyum simpul. Dia semakin kagum dengan sikap Elvina. Elvina tidak terbawa emosi walau perutnya sudah lapar. Bahkan Elvina bisa berbicara dengan sangat ramah pada pelayan tadi walau sudah melakukan kesalahan.
“Kamu benar-benar luar biasa ya, Vin!” puji Uwais.
“Luar biasa kenapa Pak?”
“Yaa.. saya jadi kagum saja dengan kamu masih bisa bersikap baik pada pelayan tadi. Mungkin karena saya sudah terlalu lapar makanya saya jadi terbawa kesal. Hhehehe.” Uwais terkekeh.
“Bisa jadi Pak, biasanya kalau orang lapar itu emosinya jadi lebih mudah meledak.”
“Vina, kita kan sedang di luar kantor, jangan panggil pakai ‘Pak’ dong! Panggil Uwais saja!” pinta Uwais.
Namun sayangnya Elvina menolak, “Saya gak bisa Pak! Biar pun di luar kantor juga status Pak Uwais masih atasan saya.”
“Tapi kan kemarin kamu sudah bisa memanggilku Uwais saja!”
“I—iya sih, tetapi saya jadi malu banget Pak! Kok kayak jadi gak sopan gitu manggil atasan hanya dengan namanya saja!”
“Hahaha, gak usah malu ya! Saya sih biar lebih merasa dekat seperti teman aja gitu! Jadi gak canggung kalau mau bercanda juga!” ujar Uwais.
Elvina mengangguk dan tersenyum. Baru pertama kali baginya mendapat atasan seperti Uwais yang mau menganggap dirinya seperti teman. Elvina langsung berpikir, mungkin karena usia mereka yang tidak terpaut jauh membuat Uwais lebih mudah menganggapnya sebagai teman.
Pesanan Uwais pun datang tanpa kesalahan lagi. Mereka berdua langsung menyantap burger yang sudah tersedia di atas meja dengan lahap.
“Wah, jarang-jarang saya makan burger gini Pak!” seru Elvina.
“Tuh kan pakai Pak lagi! Tapi masa sih kamu jarang makan burger? Gaya hidup kamu sehat banget ya, Vina!”
“Eh iya maaf, Uwais! Aku lebih suka membawa bekal dari rumah. Karena sedari kecil aku itu gampang sakit, jadi aku lebih sering membawa makanan dari rumah yang sudah terjamin kebersihannya!”
Uwais mengangguk mendengar jawaban Elvina. “Eh, tapi kalau begitu bekal yang kamu bawa itu jadi gak dimakan dong?” Pandangan mata Uwais mengarah pada kotak bekal yang dibawa Elvina ke kafe.
Elvina mengambil kotak bekalnya lalu membuka tutupnya. Kemudian Elvina menggeser kotak bekalnya tersebut ke hadapan Uwais.
“Silahkan kamu cicipi! Siapa tahu kamu masih lapar dan bekalku bisa membantu!” Elvina mempersilahkan Uwais untuk mencicipi bekal makan siang yang dibawanya.
Suapan terakhir dari burger masuk ke mulut Uwais. Lalu Uwais meraba perutnya dan masih tersisa sedikit ruang di perutnya untuk mencicipi masakan Elvina. Tak akan mungkin Uwais menolaknya, ini adalah makanan yang dimasak olegh Elvina.
Di kotak bekal tersebut terisi nasi dengan didampingi potongan ayam bumbu lada hitam. Warna paprika merah dan hijaunya membuat nafsu makan Uwais bertambah.
“Ini boleh aku makan?” tanyanya.
“Boleh kok, Uwais! Silahkan dimakan! Biasanya kalau cowok kan porsi makannya dobel!”
Sebenarnya ini hanya demi bisa mencicipi bekal dari Elvina. Perut Uwais hanya bisa menampung sedikit makanan lagi. Tetapi demi mengharga pemberian Elvina, maka Uwais akan memakannya sampai habis.
Uwais menyuap potongan ayamnya terlebih dahulu. “Hheeemmmm!! Enaakkk!!” serunya dengan mata yang berbinar-binar.
“Masakan kamu rasanya sama kayak masakan Bunda aku! Enak!” puji Uwais.
“Masa sih? Tapi bagus kalau kamu suka. Aku jadi senang ada orang yang juga suka sama masakan aku.” Elvina tersenyum senang.
Waktu makan siang kali ini benar-benar menjadi waktu yang menyenangkan bagi Uwais. Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Jangan tanya siapa yang membayar saat makan di kafe tadi. Sudah pasti Uwais yang membayarnya. Elvina menyodorkan uang untuk membayar hamburger yang dia makan tetapi Uwais menolaknya dengan tegas. Uwais bilang anggap saja itu sebagai ganti bekal yang sudah dihabiskannya.
Tak ada sesuatu yang spesial saat mereka berada di kantor. Elvina menjalankan tugasnya membantu Uwais, namun sayangnya kali ini ada Rendi yang ikut serta di ruangan Uwais. Rendi ingin melihat sudah sampai mana perkembangan putranya itu.
Seperti biasanya, sepulang bekerja Uwais menyempatkan dirinya untuk mampir ke unit apartemen Kimmi. Dia ingin melanjutkan yang tadi pagi walau Kimmi akan memarahinya lagi. Dia merasa Kimmi harus mengetahui tentang 100 misi yang sudah dibuatnya.
Langkah Uwais melanbat saat melihat pintu unit apartemen Kimmi sedikit terbuka. Uwais mengendap dan mengintip ke dalam dari selah pintu. Kimmi sedang bersama dengan Ryan, kekasihnya. Mereka berdua terlihat sedang berciuman di ruang tamu. Ryan memegangi tengkuk Kimmi, menjaga Kimmi agar tidak melepaskan ciuman mereka.
Uwais memalingkan wajahnya lalu memutar arah langkah kakinya. Dia tidak ingin mengganggu Kimmi yang sedang bersama dengan kekasihnya. Kemudian Uwais membayangkan apakah dia juga bisa mencium bibir Elvina seperti Ryan yang mencium Kimmi tadi. Sesaat kemudian Uwais menggelengkan kepalanya dengan cepat mengusir pikiran yang singgah tadi.