Langkah Uwais melanbat saat melihat pintu unit apartemen Kimmi sedikit terbuka. Uwais mengendap dan mengintip ke dalam dari selah pintu. Kimmi sedang bersama dengan Ryan, kekasihnya. Mereka berdua terlihat sedang berciuman di ruang tamu. Ryan memegangi tengkuk Kimmi, menjaga Kimmi agar tidak melepaskan ciuman mereka.
Uwais memalingkan wajahnya lalu memutar arah langkah kakinya. Dia tidak ingin mengganggu Kimmi yang sedang bersama dengan kekasihnya. Kemudian Uwais membayangkan apakah dia juga bisa mencium bibir Elvina seperti Ryan yang mencium Kimmi tadi. Sesaat kemudian Uwais menggelengkan kepalanya dengan cepat mengusir pikiran yang singgah tadi.
***
Uwais kembali ke unit apartemennya. Dia memutuskan untuk memberitahu Kimmi di lain hari saja, atau mungkin nanti setelah Uwais menjalankan misinya baru dia akan memberitahu sepupunya itu. Kimmi dan kekasihnya sudah jarang betemu, jadi Uwais akan memberikan waktu untuk mereka.
Walau tadi Uwais melihat Kimmi dan Ryan sedang berciuman, tetapi Uwais sangat yakin mereka tidak akan melanjutkannya ke sesuatu yang lebih dari itu. Fahri, papanya Kimmi sangatlah galak dan Uwais yakin Kimmi tak akan berani membangunkan singa tidur dalam diri Fahri.
“Assalamualaikum..” Uwais mengucap salam saat memasuki unit apartemennya.
“Waalaikumsalam..” jawab Aisyah.
“Bunda sudah pulang?”
“Pulang? Hmm bunda gak pergi kemana-mana kok!”
Aisyah membawa sebuah piring besar dengan kue yang baru matang di atasnya. “Sini Uwais, cobain kue yang baru bunda bikin!” Aisyah menggerakan tangannya meminta Uwais mendekat ke arahnya.
“Wah, kue apa nih Bun??”
“Bolu ketan hitam. Bunda baru pertama kali buat kue ini! Kamu cobain deh, enak gak?”
Aisyah memberikan sepotong kue untuk Uwais. Dengan satu kali suapan Uwais melahap potongan kue yang diberikan tadi.
“Gimana? Enak?” Aisyah penasaran menunggu jawaban Uwais.
“Hmmm… Hmmm… Enak kok Bun!” jawab Uwais sambil mengangguk-angguk.
“Beneran?”
“Iya, Bun! Enak! Ini Uwais mau potong lagi!”
Uwais mengambil pisau kecil dan memotong sendiri kue yang dibuat oleh sang Bunda. Dia kembali melahap potongan tersebut dalam satu kali suapan.
“Kamu itu lapar apa doyan sih?” tanya Aisyah.
“Kuenya enak Bun! Kalau lapar sih gak terlalu, kan tadi siang aku makan 2 porsi!”
“Apa? 2 porsi? Tumben kamu makan sebanyak itu?”
“Hehehehe…” Uwais hanya tertawa kecil menjawab pertanyaan sang Bunda.
Aisyah membelai kepala sang putra lalu melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Dari meja makan, Uwais memperhatikan Bundanya itu. Kembali terbayang dalam otaknya jika suatu saat nanti Elvina yang memasakan makan malam untuknya.
Tersungging senyum di wajah tampan Uwais saat membayangkan hal tersebut. Aisyah memperhatikan putranya yang senyum-senyum sendiri dengan tatapan mata lurus ke arahnya.
“Kamu kenapa senyum-senyum gitu?”
Uwais masih saja senyum-senyum dan tidak mendengar Aisyah. Pikirannya masih melayang jauh pada gadis yang sudah membuatnya sangat jatuh hati.
“Uwais?? Kamu bengong ya??” tanya Aisyah lagi.
Pikirannya yang melayang tadi kini kembali dan menyadarkannya ke dunia nyata. Dia menggelengkan kepalanya lalu menjawab sang Bunda, “Eh, gak bengong kok Bun!”
“Ah, kamu bohong sama Bunda! Kamu lagi bengongin apa sih?”
“Hmm.. enggak kok Bun!”
Aisyah mengernyitkan dahi dan menyipitkan kedua matanya melihat sikap sang putra yang sudah mulai mencurigakan. Namun kemudian terbitlah senyum di wajah Aisyah.
“Kok sekarang Bunda yang senyum-senyum?” tanya Uwais heran.
“Biasanya, kalau seseorang sudah senyum-senyum sambil bengong itu, dia sedang jatuh cinta. Benar kan tebakan Bunda?”
“Masa sih Bun? Kayaknya enggak deh!” Uwais mengelak.
“Siapa sih cewek yang bisa bikin anak Bunda ini jadi senyum-senyum gitu?”
Uwais mengembangkan senyumnya lagi. Dia bangkit dari duduknya lalu berlari kecil menghampiri sang Bunda.
“Bun, kalau aku suka sama cewek boleh gak?” tanyanya dengan nada sedikit ragu.
Uwais takut jika Bundanya akan melarang Uwais untuk berpacaran. Terdengar seperti anak kecil? Memang begitulah terkadang Aisyah memperlakukan putranya yang sudah dewasa ini. Uwais adalah anak semata wayang, dan perjuangan Aisyah untuk bisa mendapatkan Uwais sangatlah sulit. Oleh karena itu terkadang Aisyah menyayangi Uwais seperti saat dia masih kecil.
“Kamu suka sama cewek? Hmm.. Gimana ya..??”
“Kali ini boleh ya, Bun! Dia gadis baik-baik kok! Sikapnya santun banget!” Uwais membujuk Aisyah agar memberikan izin padanya.
“Kamu yakin dia cewek baik-baik? Bunda cuma gak mau nanti anak Bunda ini merasa sakit hati gara-gara seorang cewek!”
“Enggak kok Bun! Uwais jamin Uwais gak akan sakit hati!” seru Uwais dengan sangat yakin.
“Jadi kamu mau pacaran sama dia??” tanya Aisyah.
“Maunya sih Bun! Tapi dianya belum suka sama aku! Hehehe..” jawab Uwais terkekeh.
“Dia belum suka sama kamu? Kok bisa? Tumben loh ada cewek yang gak langsung tertarik sama ketampanan anak Bunda ini!”
“Tapi tenang aja Bun, aku akan bikin dia jatuh cinta sama aku! Nanti kalau memang kita sudah pacaran, aku akan ajak dia kesini untuk ketemu Bunda!”
Aisyah tidak bisa melarang putranya lagi. Uwais sudah dewasa, dan memang sudah usianya dia mencari pasangan hidup. Aisyah hanya sedikit khawatir jika nanti putranya tersakiti karena merasakan cinta. Dia teringat dengan pengalaman cintanya yang dulu.
“Ya sudah, nanti kenalkan sama Bunda ya!” seru Aisyah.
“Jadi Bunda udah kasih lampu hijau nih??” pertanyaan Uwais dijawab dengan sebuah anggukan oleh Aisyah.
“Yeesss!!!!” Uwais bersorak kegirangan setelah mendapat izin dari sang Bunda.
Setelah mendapat lampu hijau dari sang Bunda. Uwais akan mulai menjalankan misi pertamanya esok hari. Misi yang menjadi pembuka jalan bagi Uwais agar bisa lebih dekat dengan Elvina. Misi yang sudah pasti akan membuat Uwais bisa bersama dengan Elvina setiap hari.
MISI MENGEJAR CINTA ELVINA 1 – MENJADIKAN ELVINA SEBAGAI SEKRETARIS PRIBADI
***
Uwais sedang duduk di ruang kerja sang Ayah. Sambil memegang selembar dokumen, Uwais mencuri pandang memperhatikan ayahnya yang sibuk dengan laptop di hadapannya. Dalam otaknya juga Uwais sedang menyusun alasan yang bagus agar ayahnya dengan mudah mengizinkan Elvina sebagai sekretaris pribadinya.
“Kamu kenapa lihat Ayah seperti itu? Pakai ngintip-ngintip dari lembaran dokumen segala!” Rendi menangkap basah putranya yang terus mengintip ke arahnya.
“Hehehe..!!” Uwais terkekeh sembari menyingkirkan dokumen yang dipegangnya.
Uwais menarik kursi agar lebih dekat dengan Ayahnya itu. Dia ingin segera menyampaikan keinginannya menjadikan Elvina sekretaris peribadinya.
“Hmm.. Yah! Gini.. Kerjaanku sekarang kan sudah mulai banyak, tetapi masih ada beberapa yang belum aku pahami.”
“Kan kamu bisa minta Elvina mengajari kamu!” seru Rendi.
“Nah itu dia! Tapi kan Elvina juga harus ngerjain kerjaan lainnya, dia gak bisa terus-terusan membantuku, Yah!”
Jemari Rendi yang sedang menari di atas keyboard laptopnya mendadak berhenti. Rendi langsung menatap Uwais penuh tanda tanya.
“Jadi gini, aku ad aide gimana kalau Elvina mulai sekarang menjadi sekretarisku saja? Jadi aku bisa meminta bantuannya tanpa harus mengganggu pekerjaannya. Pekerjaanku nanti juga akan lebih cepat selesai karena ada dia yang membantuku.” Keinginannya pun sudah tersampaikan. Tinggal menunggu respon dari Rendi.
Rendi menyatukan kedua tangannya dengan siku yang bertumpu di atas meja. Dia menatap Uwais dan memikirkan dengan serius permintaan putranya itu. Kurang lebih memang yang dikatakan oleh Uwais ada benarnya. Uwais memang masih membutuhkan seseorang untuk membantu pekerjaannya. Tetapi jika Elvina dijadikan sekretris Uwais, maka itu artinya Rendi harus mencari seorang staff lagi untuk menggantikan Elvina mengerjakan tugasnya.
“Hmm.. Gimana Yah?” tanya Uwais.
“Okay kalau menurut kamu itu terbaik untuk kamu saat ini! Mulai hari ini Elvina akan menjadi sekretaris pribadi kamu dan akan membantu semua pekerjaan kamu!”
Uwais tersenyum sumringah, “Jadi boleh nih, Yah?!”
“Iya, Uwais! Nanti Ayah akan hubungi bagian HRD untuk mencarikan staff baru yang bisa menjadi pengganti Elvina mengerjakan tugasnya.” jawab Rendi.
Kemudian Rendi memanggil Elvina ke ruangannya untuk memberitahu tugas baru Elvina.
“Mulai hari ini kamu akan menjadi sekretaris putra saya. Kamu akan membantu pekerjaannya dan mengatur jadwalnya setiap hari. Dia akan mulai saya kenalkan dengan semua klien, dan sebisa mungkin kamu bisa mengatur jadwal pertemuannya dengan klien.” Kata Rendi pada Elvina.
“Jadi, mulai sekarang saya jadi sekretaris Pak Uwais?” tanya Elvina dengan raut wajah tak percaya.
“Iya, Vina! Di depan ruangan Uwais sudah tersedia meja untuk kamu. Saya percayakan pekerjaan penting ini padamu ya, Vin! Saya yakin kamu dan Uwais bisa bekerja dengan baik!”
Elvina mengangguk pelan. Sedangkan Uwais tersenyum puas di sampingnya. Misi pertama Uwais berhasil. Dengan begini Uwais akan lebih mudah menjalankan misi-misi selanjutnya. Karena Uwais bisa dengan leluasa memanggil Elvina masuk ke ruangannya, dan juga waktu mereka bersama akan menjadi lebih lama dari sebelumnya. Dan tidak akan ada yang mencurigainya karena harus memanggil Elvina terus-terusan ke ruangannya, karena Elvina sudah resmi menjadi sekretaris pribadinya Uwais.
Uwais sudah kembali ke ruangannya. Kini Elvina sedang merapihkan barang-barang di meja kerja sebelumnya. Dia menumpuk dokumen dengan sangat rapih, menyimpan tugas yang sedang dikerjakannya di komputer, lalu dia mengambil barang-barang pribadinya seperti bingkai foto dan lainnya untuk dibawanya ke meja kerja yang baru.
“Kamu mau kemana Vin?” tanya salah seorang staff wanita yang duduk di sebelahnya.
“Meja kerjaku jadi pindah ke depan ruangan Pak Uwais.” Jawab Elvina.
Tak hanya staff wanita yang duduk disebelahnya, tetapi juga staff wanita lain yang mendengar jawaban Elvina langsung menghampiri Elvina dan mengerubunginya.
“Kamu pindah ke meja di depan ruangan Pak Uwais? Kok bisa?” tanya staff wanita pertama.
“Pak Rendi memerintahkanku untuk jadi sekretarisnya Pak Uwais, jadi mejaku pindah kesana agar Pak Uwais lebih mudah memanggilku kalau ada perlu apa-apa.”
“Kamu? Sekretaris Pak Uwais? Aaahhh… aku irih sama kamu!! Kamu bisa jadi sekretaris bos muda ganteng kita!” kata staff wanita kedua.
“Iya, mungkin karena sedari awal aku sudah membantu Pak Uwais, jadi sekarang Pak Rendi pecrcaya kalau aku bisa menjadi sekretarisnya.”
“Boleh gak kita tukeran aja? Aku mau banget loh jadi sekretarisnya Pak Uwais, kan jadi bisa makin dekat sama dia! Siapa tahu nanti Pak Uwais jadi tertarik sama aku!” kata staff wanita ketiga.
Staff wanita satu ini mempunyai postur tubuh yang montok, banyak lelaki yang menyukai postur tubuhnya itu. Elvina tersenyum lalu mengangguk menanggapi staff wanita ketiga ini. Dia pun berpikiran sama, Uwais juga pasti akan menyukai staff wanita itu karena postur tubuh montoknya.
“Tapi kamu beruntung banget ya Vin! Pak Rendi tuh udah percaya banget sama kamu, sampai anaknya yang ganteng juga dipercaya ke kamu!” seru staff wanita kedua.
“Ini kan pekerjaan, kita harus ikuti apa yang atasan kita perintahkan.” Jawab Elvina.
“Eh, tapi kalau nanti Pak Uwais jadi suka sama kamu gimana?” tanya staff wanita ketiga.
“Kalau itu sih gak mungkin! Pak Uwais kan ganteng banget gitu, pasti ya seleranya cewek yang cantik dan kayak model! Iya kan? Iya kan?” staff wanita pertama yang menjawabnya.
Elvina tersenyum menanggapi hal tersebut. Dia juga percaya dengan yang dikatakan staff wanita pertama tadi, seorang bs muda tampan seperti Uwais pasti hanya menginginkan gadis cantik seperti model sebagai pendampingnya nanti.
Elvina masih belum mengetahui jika Uwais sudah menyiapkan berbagai misi untuk mendapatkan hatinya. Lalu apakah Elvina akan dengan mudah berpindah hati pada seorang pemuda setampan Uwais?