Aku tak pernah menyangka,
Cinta tumbuh hanya dari memandangmu..
Awalnya aku mengira ini hanyalah rasa kagum..
Namun, semakin aku menyelami hatiku,
Hanya namamu yang terukir disana..
Mungkin, benih cinta itu langsung tertanam saat kupandangi wajah polosmu..
Dan aku bahagia, karena cinta ini tumbuh tanpa ada yang memaksa..
- Uwais Al Fatih -
*****
Dengan perasaan senang dan hati yang berbunga-bunga, Uwais mengerjakan pekerjaannya sambil bersenandung kecil di dalam ruangannya. Dia sudak sukses menjadikan Elvina sebagai sekretaris pribadinya.
"Hmm... coba kita panggil Vina masuk kemari untuk membantuku mengatur jadwal meeting dengan klien!" seru Uwais sambil menjentikan jarinya.
"Ehem, Vina bisa masuk ke ruangan saya?!" Uwais mengencangkan volume suaranya agar Elvina bisa mendengarnya dari luar.
Uwais menegakan tubuhnya dan berpura-pura fokus dengan laptonya. Namun Elvina tak kunjung masuk ke dalam ruangannya.
"Apa suaraku kurang kencang ya?" gumam Uwais.
"Aku coba lagi deh! Vina! Vin, bisa bantu saya?!" Uwais menaikan volume suaranya.
"Permisi Pak.." akhirnya Elvina mendengar panggilan Uwais dan masuk ke dalam ruangannya.
"Ah, kemari Vina! Saya mau minta kamu untuk mengatur jadwal meeting saya." titah Uwais.
"Baik, Pak! Saya akan atur jadwal Pak Uwais. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Untuk sekarang hanya itu saja, nanti saya akan panggil kamu lagi jika saya butuh kamu untuk mengerjakan sesuatu."
"Baik, Pak.. Oh iya, jika Pak Uwais membutuhkan saya lagi, Pak Uwais tidak perlu berteriak untuk memanggil saya! Di bagian telepon Pak Uwais sudah tertera nomor-nomor yang bisa langsung tersambung ke telepon seluruh staff. Untuk meja sekretaris di depan ruangan Pak Uwais, tinggal tekan 01 lalu akan langsung tersambung dan saya yang akan menerima panggilan telepon tersebut Pak!" Elvina memberitahu Uwais sambil menunjukan catatan nomor yang tertempel di badan telepon Uwais.
"Eh, memangnya itu sejak kapan ditempel disitu?" tanya Uwais bingung.
"Sudab tertempel sedari awal Pak. Kan Pak Uwais juga pernah menghubungi saya melalui telepon ruangan ini!"
Wajah Uwais memerah seketika. Dia merasa sangat malu karena lupa jika ada catatan kecil nomor-nomor di telepon ruangannya yang akan menyambungkannya langsung dengan orang yang dituju. Dia sampai melupakan hal itu karena terlalu senang Elvina sudah menjadi sekretaris pribadinya.
"Pak Uwais sudah jelas?" tanya Elvina.
"Eh, i--iya sudah jelas! Maaf ya saya lupa sebelumnya!"
"Gak apa-apa Pak, mungkin karena belum terbiasa saja.."
"I--iya belum terbiasa.." Uwais berusaha menutupi rasa malunya.
"Kalau begitu saya kembali ke meja saya ya, Pak! Saya permisi.."
"Iya, Vina.. Silahkan.."
Elvina pun keluar dari ruangan Uwais kembali ke tempatnya. Dia langsung mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh Uwais tadi. Elvina tampak menutupi senyumnya karena sikap lucu Uwais tadi. Tetapi Elvina berusaha bersikap biasa saja di depan Uwais agar dia tidak bertambah malu.
"Duh! Uwais.. Uwais..!! Masa jadi salah tingkah begini sih!! Bahaya kalau nanti si Elvina jadi ilfeel sama aku!!" gumam Uwais sambil memukul pelan kepalanya.
"Okay, jangan terlalu senang, jangan juga panik. Sekarang kita lihat misi selanjutnya!"
Uwais mengeluarkan kertas misinya dari dalam laci meja kerjanya. Dia melihat misi yang tertulis di urutan kedua.
MENCARI TAHU TIPE LELAKI IDAMAN ELVINA
"Hmm, sepertinya tak terlalu sulit! Kenapa aku bikin misi yang mudah seperti ini ya? Hahaha.." katanya meremehkan misi yang sudah dibuatnya.
Dia bilang tidak sulit? Nyatanya sudah hari ketiga tetapi Uwais masih tidak mempunyai kesempatan untuk menanyakan tipe lelaki idaman Elvina. Mereka berdua disibukan dengan kerjaan dan juga meeting dengan klien. Disaat mereka sedang berduaan, Uwais sangat sulit memancing Elvina membicarakan tipe ideal lelaki idamannya. Elvina selalu menghindari pertanyaan itu dan selalu mengalihkan pembicaraannya pada pekerjaan.
"Aahh ternyata sulit! Aku sudah salah meremehkan misi ini! Sekarang aku harus cari cara biar aku bisa tahu tipe ideal lelaki idamannya!" seru Uwais.
"Kira-kira aku udah termasuk ke dalam tipe idealnya belum ya?" sambung Uwais bergumam.
Ponsel Uwais kemudian berdering. Dia langsung menerima panggilan masuk dari seorang wanita yang sangat dekat dengannya.
"Halo, Kim!" seru Uwais.
"Uwais, kamu satu kantor bareng Ayah kamu kan?" tanya Kimmi di seberang telepon.
"Iya, kenapa?"
"Kalau gitu aku udah di depan kantor kamu nih! Hehehe.." Kimmi terkekeh.
"Kamu di depan kantor aku? Tumben banget kamu kesini! Ya sudah, tunggu ya! Aku jemput kamu di bawah!"
"Okay siaapp!!"
Uwais bergegas keluar ruangan untuk menjemput Kimmi. Dia melewati meja Elvina lalu menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri Elvina.
"Vin, tolong kamu telepon bagian pantry untuk menyiapkan minuman dingin dan juga cemilan ke ruangan saya ya!" titah Uwais.
"Baik, Pak!"
"Oh iya, minuman dinginnya dua gelas ya!" tambahnya.
"Oke, saya telepon pantry sekarang!"
Kemudian Uwais kembali melangkah dengan terburu-buru. Elvina mengecek jadwal Uwais setelah menelepon bagian pantry. Tidak ada jadwal bertemu dengan klien penting hari ini. Mungkin ada tamu penting lainnya yang datang untuk menemui Uwais. Begitulah pikir Elvina saat ini.
"Uwais!" panggil Kimmi saat melihat Uwais keluar dari pintu dan berlari menghampirinya.
"Kim, kamu gak lama kan nunggunya? Tadi lift lumayan ramai soalnya jadi aku harus nunggu liftnya antar ke lantai atai dulu!"
"Lamaaa!! Kamu lamaa!! Hahahaha!!" Kimmi tertawa menjahili adik sepupunya itu.
"Ya sudah yuk masuk!" ajak Uwais.
Uwais dan Kimmi berjalan berdampingan memasuki kantor. Tubuh proporsional Kimmi sangatlah serasi jika berdampingan dengan Uwais yang tinggi dan tegap. Paras cantik Kimmi juga sangat pas jika harus disandingkan dengan Uwais yang tampan, pujaan para wanita. Mereka berdua sudah seperti pasangan selebriti yang membuat banyak pasang mata tak bisa mengalihkan pandangannya pada mereka.
Saat Uwais berjalan dengan senyum yang lebar melewati para staff wanita di ruangannya, hati para wanita itu seperti terpotek karena lelaki pujaan mereka kini sedang berdampingan dengan seorang wanita cantik.
"Itu... Pacar Pak Uwais??"
"Pacarnya Pak Uwais cantim banget!"
"Kita bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan pacar Pak Uwais yang udah kayak model gitu!"
Para staff wanita langsung heboh berbisik menggosipkan Uwais dan Kimmi. Mereka semua belum tahu saja kalau Uwais dan Kimmi hanyalah saudara sepupu.
"Vin, yang tadi saya minta sudah disiapkan di dalam?" tanya Uwais sebelum masuk ke ruang kerjanya.
Elvina menatap Uwais dan Kimmi secara bergantian lalu menjawab pertanyaan Uwais tadi, "Sudah Pak, semua sudah disiapkan di dalam."
"Bagus, terima kasih ya Vina!" seru Uwais.
Kimmi menyunggingkan senyum pada Elvina lalu mengikuti Uwais masuk ke ruang kerjanya. Kimmi yakin, Vina yang diajak bicara oleh Uwais tadi adalah Elvina yang sering dibicarakan oleh Uwais.
Diberikan senyuman oleh wanita secantik Kimmi membuat Elvina mengaguminya. Tidak ada rasa benci atau cemburu di hati Elvina. Yang ada hanya kekaguman yang luar biasa karena Elvina baru melihat wanita secantik dan seramah Kimmi. Dalam otaknya, Elvina langsung berpikir jika Uwais sangat cocok berdampingan dengan Kimmi. Mereka adalah pasangan yang sempurna.
"Oohh jadi itu yang namanya Elvina? Benar kan tebakan aku!" kata Kimmi saat sudah berada di dalam ruang kerja Uwais.
"Ssttt! Jangan berisik! Nanti dia bisa dengar!" Uwais meletakan jari telunjuk tangan kanannya di depan bibir, meminta Kimmi untuk tidak berbicara terlalu kencang.
"Tapi aku benar kan?! Hehehe.." lanjut Kimmi terkekeh.
"Sudah deh jangan berisik! Silahkan duduk, Kim! Ini aku udah siapin minuman dingin sama cemilan biar kamu betah disini!"
Dua gelas minuman dingin sudah diletakan di meja untuk tamu yang ada di ruangan Uwais. Di tengah dua gelas minuman itu terdapat sebuah piring berisi kue soes, potongan bolu marmer dan juga dadar gulung.
"Wah, kebetulan aku juga lagi lapar! Kamu tuh tahu aja deh!" Kimmi mencubit pipi Uwais lalu duduk di sofa dan menyanntap hidangan yang disediakan.
"Kim,kamu emang pernah kesini sebelumnya ya?" tanya Uwais penasaran.
"Pernah! Tapi cuma sampai depan aja, waktu itu Papa cuma antar Bunda Aisyah aja kok kesini!" jawab Kimmi sambil mengunyah bolu marmer di mulutnya.
"Pantas saja, kok kayaknya orang-orang lihat kamu tuh asing gitu! Kalah kamu pernah kesini sih mereka gak akan asing dengan kamu!"
"Kalau ke tempat kerja Papaku sih mereka gak akan asing melihatku. Hampir semua sales Papa tuh udah kenal mukaku! Yang belum kenal berarti sales baru! Hahaha!"
"Terus kamu ngapain kesini?" pertanyaan Uwais dibalas dengan kerlingan tajam dari Kimmi.
"Aku gak boleh kesini ya?" Kimmi bertanya balik.
"Boleh aja sih! Cuma tumben aja!"
"Aku cuma mau lihat gimana kamu kerja di perusahaan Ayah kamu! Sekalian mau tahu yang namanya Elvina itu sih! Hehehe!" Kimmi tersenyum lebar.
"Taoi kebetulan juga, ada yang mau aku tanyain sama kamu! Kamu kan cewek, pasti lebih tahu apa yang harus aku lakuin!"
Senyum di wajah Kimmi langsung redup. "Pasti curhat lagi deh!" serunya.
"Aku cuma mau tahu aja menurut kamu gimana caranya aku bisa tahu tipe ideal Elvina!"
Kimmi memincingkan kedua matanya dan mendekatkan wajahnya pada Uwais yang duduk di sampingnya. Uwais sedikit terkejut lalu menjauhkan kepalanya dari tatapan aneh Kimmi.
"Kamu ngapain sih Kim?!"
"Kamu mau tahu gimana caranya kamu bisa tahu tipe idealnya Elvina? Kan kamu bisa tanya langsung sama dia!" jawab Kimmi.
"Aku udah sering nyuri kesempatan untuk nanyain hal ini ke dia, tapi dia selalu mengalihkan pembicaraan dan membuatku tak berani menanyakannya lagi!" ungkap Uwais.
Kimmi menganggukan kepalnya pelan. Kemudian Terbesit sebuah ide di kepala Kimmi. Kimmi pun membisikan idenya itu pada Uwais.
"Ah, yang benar saja! Enggak ah! Nanti dia malah curiga sama aku!" Uwais menolak ide Kimmi.
"Kamu percayakan aja sama aku! Cepat panggil Elvina kesini!!" pinta Kimmi.
"Enggak ah!"
"Kamu gak percaya sama aku?! Udah cepat panggil dia kesini!" Kimmi memaksa Uwais untuk memanggil Elvina masuk ke ruang kerjanya ini.
Uwais menatap Kimmi dengan dahi berkernyit. "Kamu yakin ya dia gak akan curiga apalagi sampai tersinggung?"
"Iyaa!! Cepatan!!"
Uwais bangkit dan mendekat ke meja kerjanya. Dia menelepon Elvina dari telepon si ruangannya dan meminta Elvina masuk ke dalam ruangannya.
Ide apa yang Kimmi rencanakan untuk membantu Uwais? Akankah idenya itu berjalan dengan lancar?
--------------------
Kalian sudah tap tanda love kan??
kalau sudah, yuk beri komentar di tiap part ceritanya :))
Kira-kira apa yang sudah direncanakan oleh Kimmi??