Mission 10

1520 Kata
Harta, tahta, dan wanita? Atau mungkin harta, tahta, Elvina? Uwais tak butuh harta dan tahta, Dia hanya butuh cinta dan Elvina.. ***** Uwais memanggil Elvina untuk datang ke ruangannya. Kimmi menunggunya dengan antusias. Dia akan membantu adik sepupunya itu mencari tahu tipe ideal lelaki idaman Elvina. "Permisi, Pak Uwais butuh bantuan saya?" tanya Elvina saat memasuki ruangan. "Hmm gini, Kimmi butuh teman ngobrol disini karena saya harus melanjutkan pekerjaan saya." jawab Uwais. "Eh?? Siapa??" "Oh, iya saya belum mengenalkan kamu langsung sama Kimmi. Kemari Vina, kenalkan ini Kimmi!" "Hai, aku Kimmi!" Kimmi berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Elvina. Di dalam hatinya Elvina berkata, "Tampaknya gadis ini sangat baik.. Sudah cantik, berhati baik pula! Pantas saja Pak Uwais memilihnya menjadi kekasih!" Elvina menyambut uluran tangan Kimmi. Sambil saling melempar senyum yang hangat, keduanya kini berjabat tangan. Kimmi menarik tangan Elvina dan mengajaknya untuk duduk di sofa menemaninya. "Kamu gak sibuk kan? Temani aku dulu yuk disini!" seru Kimmi. "Aku gak terlalu sibuk sih, hanya sedang merangkum hasil meeting kemarin." "Nah, bagus kalau begitu! Tenang saja, Uwais gak akan marah kok!" Kimmi menggerakan kedua alisnya naik turun sambil tersenyum lebar pada Uwais. "Ya sudah, aku lanjut kerja ya!" "Ya sudah sana!" Sebenarnya Elvina merasa sedikit canggung berada di ruangan Uwais untuk menemani Kimmi. Dia baru saja mengenal Kimmi, dan dia juga merasa tidak percaya diri duduk berdampingan dengan Kimmi yang sangat cantik dengan tubuh selayaknya m seorang model. Sedangkan Elvina, tubuhnya tidak semolek Kimmi. Caranya berpakaian juga tidal semodis Kimmi. Apalagi wajahnya, biasa saja tidak bisa dibilang cantik. "Kamu Elvina ya? Uwais sering membicarakan kamu!" kata Kimmi. "Iya, saya Elvina, Bu! Ibu bisa panggil saya Vina saja!" "Ibu? Kamu panggil aku Ibu?" Kedua mata Kimmi membesar tak percaya dipanggil dengan sebutan Ibu oleh seseorang yang sepertinya usianya lebih muda. "I--iya." jawab Elvina terbata-bata. "Hahahaha jangan panggil saya Ibu dong! Kamu kan bukan anak saya!" Kimmi tertawa. "Panggil Kimmi saja sudah cukup kok! Gak usah pakai embel-embel Ibu ya!" tambahnya. "Maaf ya.. Saya hanya bingung saja harus manggil dengan sebutan apa. Kalau langsung panggil nama takut dikira gak sopan." jelas Elvina. Mendengar dua orang gadis sedang berbincang di ruangannya membuat Uwais tidak bisa berkonsentrasi. Dia juga penasaran bagaimana Kimmi mengorek informasi dari Elvina tentang tipe lelaki idealnya. Sesekali Uwais mengerlingkan matanya mengawasi Kimmi dan Elvina. Dia juga menajamkan indera pendengarannya agar bisa menguping pembicaraan kedua gadis tersebut. "Oh iya, kamu tuh udah lama kerja disini?" tanya Kimmi basa-basi. "Lumayan sih, tapi belum bisa dibilang lama kalau dibandingkan yang senior disini." jawab Elvina. "Oh, gitu! Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum?" "Hmm, sudah.." Uwais mengerling cepat mendengar Elvina dengan mudahnya menjawab pertanyaan tersebut. Padahal dulu Uwais pernah menanyakan hal yang sama, tetapi Elvina seperti enggan menjawabnya. "Wah, cowok kamu kayak gimana? Cerita-cerita dong!" pinta Kimmi. "Hmm gimana ya? Yaa dia biasa saja sih, tidak setampan Pak Uwais. Tetapi dia sangat baik sama aku." jawab Elvina. "Wah, cowok kamu ini udah tipe ideal kamu ya? Cowok yang baik!" Kimmi mulai mengorek informasi dari Elvina. Jika dengan mengobrol seperti ini, tentunya Elvina tidak akan merasa sungkan untuk mengatakannya. Anggap saja sedang bergosip dengan teman. "Baik itu salah satu tipe idealku. Tetapi jika mau disebutkan semuanya, tipe idealku harus lelaki yang sayang dengan ibunya, pekerja keras juga, dan yang paling penting dia harus dekat dengan Tuhan." "Dekat dengan Tuhan?" "Iya, karena semakim dekat dirinya dengan Tuhan, maka dia akan semakin mengerti bagaimana harus menghargai perempuan." Kimmi langsung kagum dengan jawaban Elvina. Bahkan tipe idealnya bukanlah lelaki yang harus tampan dan kaya raya. Tetapk harus sayang dengan Ibunya dan juga dekat dengan Tuhan. Kimmi melirik ke arah Uwais. Dengan jelas Kimmi bisa melihat Uwais menyunggingkan senyum setelah mendengar jawaban Elvina. Kimmi pun langsung mengerti mengapa Uwais menginginkan Elvina untuk menjadi kekasihnya. "Kimmi.. Kalau kamu sendiri, gimana tipe cowok ideal kamu?" tanya Elvina. "Eh, aku? Hmm kalau aku yang pasti jenis kelaminnya harus laki-laki! Hehehe" Kimmi terkekeh. "Terus dia juga jangan jauh-jauh dari aku! Apalagi sampai harus berhubungan long distance, duh anti banget deh aku!" sambungnya. Elvina menoleh ke arah Uwais lalu bergumam dalam hati, "Pantas saja sekarang Kimmi menemani Pak Uwais di kantor. Kimmi gak mau jauh-jauh dari kekasihnya." "Kayaknya aku harus pergi sekarang deh! Aku udah janjian mau belanja sama Mamaku!" kata Kimmi sambil melihat jam di layar ponselnya. "Kamu mau kemana, Kim?" tanya Uwais. "Uwais, aku mau pergi sama Mama! Aku pulang sekarang ya!" Kimmi berdiri diikuti oleh Elvina. Uwais juga langsung mennghentikan kegiatannya dan menghampiri Kimmi. "Mau aku antar?" tanya Uwais. "Gak usah deh! Aku naik taksi online aja!" Kimmi kemudian menatap Uwais tajam, "Udah dapat yang kamu mau kan?" tanyanya. Elvina mengerutkan dahinya. Yang dimau? apa maksudnya? "Eh, i--iya! Udah ah jangan berisik!" Uwais mencubit pipi Kimmi. "Kamu jangan cubit-cubit ah!" Kimmi membalas cubitan Uwais. Sehingga Uwais mengaduh kesakitan seperti anak kecil. Sepertinya kebiasaan mereka yang sering mencubit pipi itu sangat sulit dikontrol dan sangat tidak melihat waktu juga tempat. Banyak yang langsung salah paham melihat keakraban mereka yang seperti itu. Elvina terkejut melihat sikap manis Uwais terhadap Kimmi. Dia tak menyangka jika seorang Uwais bisa bersikap manis bahkan seperti anak kecil di depan Kimmi. Ternyata cinta bisa mengubah seseorang seperti itu, pikir Elvina. Kimmi sudah pergi dari kantor Uwais. Elvina pun sudah kembali ke mejanya melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. "Tipe ideal lelaki idaman Elvina, harus sayang sama ibunya, pekerja keras, dan dekat dengan Tuhan. Hmm..." Uwais menyandarkan punggunya dan melempar pandangannya lurus ke depan. "Sayang sama Ibu? Aku kurang sayang apalagi sama Bunda! Semua orang juga tahu itu! Bahkan aku juga jadi anak kesayangannya Bunda!" Tentu saja anak kesayangan, karena Aisyah hanya memiliki satu orang anak dan dia adalah Uwais. Aisyah sudah tidak membagi kasih sayangnya pada yang laib. Cukup pada suaminya dan juga Uwais. "Pekerja keras? Hmm sepertinya aku harus nunjukin sama Elvina kalau aku juga tipe lelaki pekerja keras! Wah, gak boleh sering pulang cepat nih!! Harus mulai membiasakan diri sering-sering lembur kayaknya deh!" lanjut Uwais. "Terus yang terakhir, dekat dengan Tuhan? Kalau ini kan aku gak bisa mengukur seberapa dekatnya aku dengan Tuhan. Solat 5 waktu, sudah pasti! Tadarus Quran, itu juga walau gak setiap hari! Kayaknya untuk masalah ini aku harus konsultasikan dengan Bunda deh!" tambahnya. ***** "Bundaa.." Uwais masuk ke kamar Aisyah dan mendapati ibundanya itu baru saja selesai solat isya. "Uwais? Kamu baru pulang?" tanya Aisyah seraya bangkit dan melipat sajadahnya. "Iya, baru saja pulang!" jawab Uwais. Uwais kemudian meraih tangan Aisyah dan mencium punggung tangannya dengan hikmat. "Kamu sudah solat Isya?" tanya Aisyah sambil mengusap kepala Uwais. "Belum, Bun. Aku baru sampai rumah dan langsung ke kamar Bunda." Jawab Uwais. "Ya sudah, kamu solat dulu deh sana! Setelah itu kamu makan malam! Nunda sudah siapkan makan malam untuk kamu dan Ayah di meja makan." "Bun, aku mau tanya satu hal dulu sama Bunda." "Tanya apa?" Aisyah menjadi penasaran dengan pertanyaan yang akan dilontarkan putranya. "Tipe lelaki yang dekat dengan Tuhan itu gimana sih Bun? Rajin solat? Puasa? Baca Quran? Terus apa lagi Bun?" Aisyah tersenyum dengan pertanyaan putranya. Sepertinya tipe lelaki aeperti itu adalah tipe lelaki yang diinginkan oleh wanita yang dicintai Uwais. "Hmm mungkin yang dimaksud dekat dengan Tuhan ini adalah tipe lelaki religius yang taat beragama. Dia juga menjunjung tinggi nilai agama." Aisyah mulai menjelaskan. "Rajin solat dan berpuasa juga taat beragama bukan?" Uwais menyela kalimat Aisyah. "Dalam suatu hubungan, mungkin dia menginginkan lelaki yang juga melibat Allah dalam hubungannya. Jadi dia akan takut menyakiti pasangannya karena dia selalu ingat dan takut akan Allah. Lelaki yang taat beragama juga lebih berpikiran optimis, dan banyak hal baik yang bisa dijadikan contoh darinya. Kurang lebih mungkin seperti itu. Kalau kamu masih ingin tahu yang lebih jelas, kamu bisa tanyakan itu sama Pak Ustad." Uwais menggelengkan kepalanya, "Gak usah Bun, untuk sekarang aku sudah bisa membayangkan seperti apa lelaki yang dekat dengan Allah. Kalau ada yang aku ingin tahu lagi, aku akan tanya sama Pak Usad nanti!" "Bunda jadi penasaran seperti apa wanita yang sudah membuatmu jatuh hati. Jika membicarakan Tuhan, sepertinya dia wanita yang juga taat beragama." kata Aisyah dengan senyum di wajahnya. "Suatu saat aku akan mengenalkan dia sama Bunda! Doakan saja agar dia akan menjadi jodohku ya Bun!" kata Uwais yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Aisyah. "Ya sudah, aku solat isya dulu! Habis itu Bunda temani aku makan ya!" pinta Uwais. Setelah selesai solat dan makan malam, Uwais kini berada di dalam kamarnya memikirkan tipe lelaki idamannya Elvina. Uwais juga langsung teringat dengan kekasih Elvina saat ini. "Apa cowok itu sudah taat beragama ya? Tetapi, jika nantinya aku yang akan menjadi jodohnya Elvina, apa Elvina mau menutup auratnya demi menunjukan ketaatannya pada agama?" gumam Uwais. Lalu Uwais juga teringat dengan dirinya yang membayangkan mencium Elvina saat memergoki Kimmi berciuman. Hatinya langsung merasa berdosa sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. "Duuhh.. Maaf yaa Vina! Aku khilaf ngebayangin hal seperti itu! Janji deh, gak lagi-lagi!" serunya. Uwais mengambil catatan misinya dari dalam tas kerjanya. Dia melihat misi selanjutnya yang harus dia lakukan untuk mendapatkan cinta Elvina. "Hmm misi selanjutnya sih gak kelihatan sulit, tetapi aku gak mau menganggap remeh seperti sebelumnya!" Misi ketiga akan segera dilakukan oleh Uwais. Lebih tepatnya besok akan dilakukan oleh Uwais.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN