Mission 11

1728 Kata
Uwais mengambil catatan misinya dari dalam tas kerjanya. Dia melihat misi selanjutnya yang harus dia lakukan untuk mendapatkan cinta Elvina. "Hmm misi selanjutnya sih gak kelihatan sulit, tetapi aku gak mau menganggap remeh seperti sebelumnya!" Misi ketiga akan segera dilakukan oleh Uwais. Lebih tepatnya besok akan dilakukan oleh Uwais. *** MISI MENGEJAR CINTA ELVINA 3 - MAKAN MALAM "Uwais, Ayah minta kamu untuk mempelajari semua dokumen ini dan tulis laporanmu ya! Ayah tunggu sampai lusa!" titah Rendi pada putranya seraya meletakan setumpuk dokumen di meja kerja putranya tersebut. "Semua ini, Yah?" tanya Uwais dengan raut wajah terkejut. Rendi mengangguk, "Iya, semuanya! Ayah tunggu sampai lusa sudah harus ada laporannya!" "Ba-baik kalau begitu, Yah!" jawab Uwais dengan nada ragu. Rendi kemudian keluar dari ruangan Uwais untuk memenuhi janji temu dengan klien. Dia sudah mempercayai Uwais mampu memenuhi permintaannya tadi. Uwais adalah putranya yang belajar dengan cepat. Buktinya saja Uwais juga sudah mampu membujuk klien agar mau bekerjasama. Rendi kira akan butuh waktu yang lama bagi Uwais menguasai pekerjaannya, tapi ternyata dalam waktu singkat Uwais sudah mampu menghandle beberapa pekerjaan. Uwais menghela nafas panjang lalu mulai membaca dokumen yang diberikan oleh sang ayah satu per satu. Dia harus menyelesaikannya tepat waktu agar dia bisa menjalankan misi ketiganya mendapatkan cinta Elvina. "Oh, iya! Vina!" Uwais teringat sesuatu. Dia menelepon Elvina agar bisa membantunya. "Vina, tolong ke ruangan saya segera!" titahnya lewat telepon. Sesaat kemudian Elvina pun datang ke ruangan Uwais. "Pak, ada yang bisa saya bantu?" "Tolong bantu saya membuat laporan dari dokumen-dokumen ini ya! Hmm separuhnya saja gak apa, saya juga separuh, deadlinenya sampai lusa." Uwais membagi tumpukan dokumen yang ada di mejanya menjadi dua. Lalu dia memberikan separuh dokumen tersebut pada Elvina. "Baik, Pak! Saya akan kerjakan di meja saya!" Elvina sedikit membungkukan tubuhnya berpamitan keluar. "Tunggu sebentar!" seru Uwais. "Setelah laporan selesai sesuai deadline, aku mau kamu ikut saya untuk makan malam." sambungnya menyampaikan ajakan makan malam. Elvina memiringkan sedikit kepalanya lalu bertanya, "Makan malam? Pak Uwais mau bertemu dengan klien dari perusahaan apa? Biar saya atur jadwalnya." "Eh, a-anu... itu... nanti kamu juga akan tahu siapa kliennya!" jawab Uwais terbata-bata. Uwais masih belum bisa mengatakan sejujurnya jika dia hanya mengajak Elvina saja tanpa mengajak klien atau orang lainnya. Uwais takut Elvina akan menghindarinya jika mengetahui maksud sesungguhnya dari ajakan Uwais. Elvina sudah memiliki kekasih, dan kini Uwais sedang berusaha merebut Elvina dari kekasihnya bukan dengan memaksa. Tetapi berusaha menumbuhkan benih cinta di hati Elvina dan menyebutkan nama Elvina di setiap doanya agar gadis tersebut menjadi jodohnya. Manusia hanya bisa berencana, namun tetap Tuhan yang menentukan jalan hidup manusianya. Sama halnya seperti Uwais, dia sudah menyusun rencananya sebaik mungkin, mengebut pekerjaan yang diberikan oleh sang ayah berharap dia bisa mengajak Elvina makan malam setelahnya. Namun, nyatanya pekerjaan lain datang silih berganti dan membuat Uwais benar-benar kewalahan. Tidak sempat otaknya memikirkan misi makan malamnya. "Pak, ini laporan untuk besok!" Elvina menyerahkan sebuah map pada Uwais. "Terima kasih banyak, Vina!" kata Uwais seraya menerima map dari Elvina. Uwais memeriksa sejenak laporan yang dikerjakan oleh Elvina. Sedangkan Elvina sendiri kini berdiri di hadapan Uwais menunggu jawaban darinya apakah pekerjaannya sudah bagus atau ada revisi. "Ini sudah bagus, Vina! Kamu benar-benar membantu saya. Terima kasih ya.." Uwais tersenyum simpul pada Elvina yang juga dibalas dengan senyuman oleh Elvina. Elvina melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir jam 9 malam dan Elvina baru menyadari jika mereka berdua belum makan malam. "Hmm, Pak Uwais gak mau istirahat dulu? Pak Uwais belum makan sejak siang tadi kan?" tanya Elvina. "Saya masih ngebut laporan yang diminta Ayah, karena laporan ini akan dijadikan bahan presentasi oleh Ayah besok siang." "Oh, begitu Pak." "Iya, Vina. Oh iya, kalau pekerjaan kamu sudah selesai kamu boleh pulang duluan." Elvina kembali melirik jam di tangannya. Raut wajahnya sedikit gelisah. Dia seperti tidak tega membiarkan Uwais lembur sendirian. Dia menyadari tugasnya sebagai sekretaris pribadi Uwais dia harus setia mendampingi bosnya itu sampai pekerjaannya selesai. "Saya permisi ya, Pak!" pamit Elvina. "Iya, Vin! Kamu hati-hati di jalan ya!" jawab Uwais. Elvina melangkah keluar ruangan meninggalkan Uwais yang masih mengebut pekerjaannya. Namun tak beberapa kemudian Elvina kembali ke ruangan Uwais dengan membawa kantung plastik berisi 2 kotak makanan dan juga minuman. "Pak Uwais, sebaiknya Pak Uwais makan dulu! Ini saya belikan chicken katsudon di mini market seberang." kata Elvina saat memasuki ruangan Uwais. "Kok kamu belum pulang? Lalu kenapa kamu pakai repot-repot bawain saya makan? Saya kan jadi gak enak!" Padahal di dalam hatinya Uwais merasa sangat senang sampai terharu karena Elvina mau membawakannya makanan. Bukankah ini sebuah kemajuan bagi Uwais? "Saya takut nanti Pak Uwais sakit, karena sejak siang tadi Pak Uwais belum makan sama sekali!" jawab Elvina. Pipi Uwais langsung merona kemerahan setelah mendapat perhatian dari Elvina. Langsung ditinggalkan semua pekerjaannya dan menghampiri Elvina. Di atas meja yang biasa digunakan untuk menjamu tamu, Elvina membuka kotak makan yang dibelinya tadi. Chicken katsudon, jenis makanan dari negeri sakura yang terdiri dari nasi dengan potongan chicken katsu atau ayam goreng khas Jepang, telur, sayuran dan juga bumbu sebagai pelengkapnya. "Saya gak tahu Pak Uwais suka apa engga, tapi di mini market tinggal ini saja Pak. Ini sudah dihangatkan juga kok di microwave" kata Elvina. "Harusnya saya yang tanya, kamu suka gak? Karena kamu kan gak pernah makan makanan cepat saji seperti ini!" Uwais bertanya balik pada Elvina. "Sesekali sih pernah, Pak! Tapi untuk makanan Jepang ini kali pertama bagi saya! Semoga rasanya enak ya, Pak!" Uwais terkekeh, "Enak kok! Saya sering makan ini waktu masih kuliah dulu! Untuk masalah harga kan sangat pas di kantong anak kuliahan! Murah tapi bisa makan enak! Hehehe.." "Maaf ya, Pak. Saya hanya bisa membelikan makanan yang murah seperti ini." Elvina tersenyum tipis. Uwais langsung salah tingkah. Dia tidak bermaksud menyinggung perasaan Elvina. Dia segera meminta maaf atas ucapan yang menurutnya menyinggung Elvina. "Maaf, Vina. Bukan maksud saya menyinggung! Duuhh, saya salah ngomong ya?" "Hihihihi, saya gak tersinggung kok Pak! Ayo kita makan Pak!" Elvina tertawa kecil. Syukurlah kalau Elvina tidak marah. Begitulah isi hati Uwais sekarang. Elvina memberikan sumpit dan sendok pada Uwais. Elvina juga meletakan minuman dingin yang dibelinya tadi di sebelah kotak makan Uwais. Hati Uwais semakin jatuh cinta pada sikap Elvina yang sangat perhatian padanya. Baru beberapa suap Uwais dan Elvina makan, tiba-tiba ponsel Uwais berdering. "Sebentar ya, Vin! Saya mau lihat siapa yang telepon. Takutnya Bunda saya telepon." kata Uwais sambil melangkahkan kaki mengambil ponsel yang ada di meja kerjanya. Tertera nama 'Bunda Tercinta' di layar ponsel Uwais. Tentu saja Uwais langsung menerima panggilan telepon dari bundanya tersebut. "Assalamualaikum, Bun." Uwais mengucapkan salam "...................." "Iya, Bun. Aku lembur sampai malam karena mau ngebut laporan. Tapi sebentar lagi juga selesai kok!" "....................." "Oh, Ayah juga belum pulang? Tadi memang sih Ayah bilang mau ketemu klien dulu! Yaahh Bunda jadi sendirian dong di unit!" "...................." "Ya sudah, selesai makan nanti aku segera pulang yaa! Aku lanjut di rumah saja kerjain laporannya! Daripada Bunda sendirian di rumah!" "...................." "Iya, Bunda. Waalaikumsalam." Elvina memperhatikan bagaimana cara bicara Uwais saat ditelepon oleh ibunya. Elvina cukup kagum, karena Uwais bisa berbicara dengan sangat lembut pada ibunya. Tidak seperti kebanyakan lelaki di luar sana yang menanggapi ibunya biasa saja tanpa ada sentuhan kelembutan dari caranya bicara. Uwais kembali ke tempat sebelumnya untuk menghabiskan makan malam yang sempat tertunda. "Maaf tadi Bunda saya telepon. Saya akan pulang setelah makan dan melanjutkan pekerjaan saya di rumah." kata Uwais tanpa ditanya. "Pak Uwais dekat dengan ibunya ya?" "Wah, bukan dekat lagi! Aku anak tunggal, jadi hanya aku yang bisa menyayangi Bunda selain Ayah! Bunda juga orangnya bisa diajak seru-seruan! Dia juga jago masak loh!" Uwais memuji sang Bunda di depan Elvina. Elvina semakin mengagumi kepribadian Uwais. Dalam hatinya dia langsung berkata, andai saja Abyan bisa seperti Uwais yang sangat pekerja keras dan juga sangat menyayangi ibunya. Abyan adalah nama kekasih Elvina saat ini. Mereka berpacaran sejak mereka lulus SMA. Abyanlah yang mengejar dan menyatakan cintanya terlebih dahulu pada Elvina. Karena Elvina menganggap Abyan adalah lelaki yang baik, maka Elvina menerima cinta Abyan. Dan mereka tetap berhubungan sampai sekarang. Namun, dari pemikiran Elvina tadi yang membandingkan Uwais dengan Abyan, bisa disimpulkan jika Abyan bukanlah pekerja keras seperti Uwais. Bukan juga penyayang seperti Uwais. Walau begitu Elvina masih percaya jika Abyan bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan sesuai dengan yang Elvina inginkan. "Alhamdulillah, kenyaanngg.." kata Uwais sambil menyandarkan punggungnya. "Ternyata enak ya, Pak! Dan rasanya juga gak seperti masakan fast food seperti umumnya. Justru terasa seperti masakan rumahan!" seru Elvina. "Benar kan aku bilang! Rasanya tuh enak!" "Iya, benar!" Elvina merapihkan bekas makan mereka berdua. Uwais merapihkan dokumen dan laptop yang akan dia bawa pulang. Lalu Uwais menawarkan tumpangan pada Elvina. "Kamu saya yang antar ya! Ini sudah malam dan tidak baik perempuan oulang sendiri." ujar Uwais. "Tapi saya bisa minta jemput pacar saya kok, Pak!" Apa? Minta jemput pacarnya? Uwais tidak akan membiarkan hal itu terjadi untuk malam ini. "Saya saja yang antar, kan sekalian saya juga mau pulang." "Tapi Pak ..." "Okay, setuju kan! Yuk kita pulang! Kamu kasih tahu saya jalan ke rumah kamu ya, Vin! Anggap saja ini ucapan terima kasih karena kamu sudah belikan saya makan malam!" Uwais memotong kalimat yang ingin diucapkan oleh Elvina dan memaksanya untuk bersedia diantar pulang oleh Uwais. Elvina menyunggingkan senyum dan mengangguk. Dia bersedia diantar oleh Uwais walau sebenarnya dia tak enak hati harus diantar oleh atasannya itu. Dalam perjalanan, Uwais dan Elvina mengobrol tentang banyak hal. Itu tidak bisa mereka lakukan ketika di kantor. Uwais bisa lebih mengenal Elvina dengan pemikirannya yang luar dan cerdas. Walau Elvina bukanlah lulusan dari universitas, tetapi caranya berpikir benar-benar membuktikan jika dia sudah belajar banyak hal. "Saya suka cara berpikir kamu, Vin! Kamu membuktikan jika ijazah sekolah atau universitas itu hanyalah jaminan jika kita pernah sekolah, tetapi tidak menjamin kalau kita lernah belajar!" puji Uwais. "Guru saya pernah bilang kalau kita memang punya semangat belajar, tetapi kita tidak punya biaya, kita bisa belajar dari segala hal. Banyak buku yang bisa kita baca untuk menambah wawasan kita. Banyak juga hal di dunia ini yang bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup. Dan pengalaman dalam hidup kita itu adalah guru terpenting yang akan menentukan kehidupan kita selanjutnya jika kita benar-benar menjadikan pengalaman adalah pelajaran hidup!" Uwais menoleh pada Elvina dan menatapnya penuh kekaguman. Dia tidak salah memilih wanita. Hanya tinggal menunggu jawaban Tuhan apakah wanita yang sangat mengagumkan ini adalah jodohnya atau bukan. Semoga saja Elvina benar jodohnya Uwais.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN