"Tuhan, aku benar-benar jatuh cinta. Pada dirinya, cara bicaranya, kepribadiannya, caranya menatap dunia, semua yang ada di dirinya. Mungkinkah Kau menggariskan takdir agar dia menjadi pendamping hidupku? Menjadi jodoh dunia akhiratku? Akan selalu kusebut namanya dalam doaku agar Engkau tidak lupa dengan permintaanku ini."
- Uwais Al Fatih -
***
"Sumpah ya, Kim! Aku makin jatuh cinta sama dia! Dia benar-benar beda dari yang lain!" kata Uwais saat sedang menelepon Kimmi.
"Ya kenapa tadi gak langsung ditembak aja sih! Ngapain nunggu-nunggu sih, Uwais? Kan kali aja dia juga punya perasaan yang sama kayak kamu!" jawab Kimmi di telepon.
"Jangan dulu dong! Kalau dia belum benar-benar jatuh hati sama aku bisa ditolak mentah-mentah nanti aku! Dia kan juga masih punya pacar!"
"Sudah tahu punya pacar tapi kamu tetap mau ngejar dia kan?"
"Iya sih, Kim! Hehehe..." Uwais terkekeh.
"Eh, tapi tipe cowok idaman dia kayaknya kurang lebih mendekati kamu deh! Sayang ibu, ya kamu udah sayang banget sama Bunda Aisyah kan? Pekerja keras, kurang nguli apa lagi sih kamu!" cetus Kimmi.
"Hah? Apa tadi? Nguli?"
"Hahahaha..!!" Kimmi tertawa lepas.
"Asal aja ya kalau ngomong!" sentak Uwais.
"Ya sudah lain kali jangan buang-buang kesempatan yang datang ya! Kesempatan itu gak datang dua kali loh!" ujar Kimmi.
Benar saja apa yang Kimmi bilang. Kesempatan tidak datang dua kali. Rendi meminta Elvina untuk sementara ikut serta bersamanya dalam menjalankan sebuah project. Rendi pun sangat mengandalkan Elvina. Uwais tak bisa membantah permintaan sang Ayah.
Uwais jadi lebih sering menghela nafas lesu di ruang kerjanya karena tidak bisa memanggil Elvina ke ruangannya untuk sementara waktu. Uwais juga hamoir tidak pernah bertemu dengan Elvina karena dia selalu mengikuti kemana pun Rendi pergi.
"Kapan kira-kira pengiriman akan selesai?" tanya Rendi pada Elvina.
Elvina membaca sejenak sebuah berkas yang dipegangnya. "Kemungkinan semuanya pengiriman akan selesai dalam satu minggu. Tetapi baru akan sampai semuanya kurang lebih 3 hari setelahnya."
"Baik kalau begitu!" seru Rendi, lalu Elvina pun mengangguk.
"Ehm, Vina. Boleh saya tanya sesuatu?"
"Boleh, Pak! Mau tanya apa?" Elvina menolehkan kepalanya dan menunggu pertanyaan Rendi.
"Bagaimana kinerja putra saya menurut kamu? Apa dia sudah layak jika saya beri tanggung jawab sebagai pengganti saya?" Rendi menanyakan hal tersebut dengan raut wajah serius dan nada suara berat.
"Bapak serius bertanya tentang hal penting itu pada saya?" Elvina menatap Rendi bingung.
"Kamu kan sekretarisnya Uwais, dan kalian selalu bekerja bersama. Oleh karena itu saya bertanya pada kamu bagaimana kinerjanya Uwais." jelas Rendi.
Elvina mengangguk tanda mengerti. Kemudian dia melemparkan pandangannya lurus ke depan.
"Pak Uwais menurut saya sangat ceoat belajar dan juga pekerja keras. Sifatnya yang seperti itu mirip dengan Pak Rendi. Saya juga tak pernah mendengar Pak Uwais mengeluh jika pekerjaannya sedang menumpuk. Dia benar-benar bisa mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya." Elvina menyampaikan pendapatnya tentang Uwais pada Rendi.
Rendi tersenyum bangga mendengar jawaban dari Elvina. Tidak salah dia mengajak Uwais bekerja di perusahaannya dan mengajarkan segala hal padanya. Uwais memang sangat bisa diandalkan.
"Oh iya, Elvina. Sifat Uwais yang seperti itu bukan mirip dengan saya!" seru Rendi.
Elvina menoleh ke arah Rendi, "Lalu mirip dengan siapa?"
"Bundanya!" jawab Rendi dengan senyum yang terkembang.
Seperti apa ibu dari seorang Uwais? Wanita yang berhasil mendidik putranya sampai dia tahu bagaimana caranya menghormati dan juga menyayangi ibunya. Juga tahu bagaimana memberikan kebanggaan pada ayahnya. Elvina menjadi penasaran dengan sosok dari istrinya Rendi yang juga adalah ibunya Uwais.
"Besok kamu sudah boleh kembali ke kantor dan kembali menjadi sekretarisnya Uwais!" titah Rendi.
"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Elvina.
"Project sudah hampir selesai dan untuk masalah pengiriman saya bisa menghandlenya sendiri. Jika memang saya butuh bantuan nanti, saya akan bilang sama kamu!"
Pernyataan dari Rendi tadi dijawab dengan sebuah anggukan mantap dari Elvina. Di sudut-sudut hatinya dia juga sudah sangat ingin kembali pada pekerjaan sebelumnya. Menjadi sekretaris Uwais.
Keesokan paginya, Uwais melangkahkan kakinya dengan berat menuju ke ruangannya.
"Gak ada Elvina di depan ruanganku, rasanya tak bersemangat sekali harus masuk bekerja.." gumam Uwais.
"Tapi aku gak boleh malas-malasan! Urusan perasaan gak boleh aku bawa-bawa dalam pekerjaan! Harus tetap semangat!" lanjutnya.
Tiba-tiba dia melihat siluet wanita yang sedang merapihkan berkas di meja yang ada di depan ruangan Uwais. Uwais menyipitkan kedua matanya memperhatikan siapa wanita itu. Lalu kedua mata Uwais menjadi berbinar setelah memastikan jika Elvina yang ada disana.
Langkah kaki yang tadinya berat kini menjadi sangat ringan. Suasana hatinya juga menjadi sangat senang. Walau Uwais belum bisa memastikan apakah Elvina sudah kembali bekerja menjadi sekretarisnya atau belum, setidaknya dia bisa melihat pujaan hatinya pagi ini.
"Hai, Vin! Selamat pagi!" sapa Uwais dengan senyum cerianya.
"Pagi, Pak! Sepertinya Pak Uwais sedang senang pagi ini?"
"Ya, aku memang sedang sangat senang pagi ini!"
"Kalau boleh tahu kenapa Pak Uwais sangat senang? Apa Pak Uwais baru saja memenangkan sebuah project?" tanya Elvina penasaran.
"Hahaha, bukan kok Vin! Pokoknya pagi ini hati saya senang!"
"Kalau begitu saya juga ikut senang Pak!" seru Elvina.
"Terima kasih ya, Vina! Oh iya, kamu sudah kembali bekerja dengan saya lagi?" tanya Uwais penuh harap.
"Iya, Pak! Pak Rendi meminta saya kembali ke kantor. Beliau bilang kalau beliau bisa menghandle semuanya sendiri sekarang."
Jawaban Elvina barusan sukses membuat suasana hatj Uwais semakin berbunga-bunga. Tak bisa lagi dia sembunyikan raut wajah bahagianya. Elvina sampai bingung dengan sikap bos mudanya itu.
Uwais dan Elvina kembali bekerja bersama. Uwais benar-benar terbantu dengan kehadiran Elvina. Semua pekerjaan tak terasa berat lagi. Dan yang paling penting dari semuanya, Uwais bisa melihat wajah Elvina setiap saat.
"Permisi, Pak. Boleh saya masuk?" Elvina memunculkan sebagian tubunya dari celah pintu.
"Masuk saja, Vin! Ada apa?"
Elvina melangkah masuk dengan sedikit kecemasan di raut wajahnya. Dia memainkan jemarinya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa Vina?" tanya Uwais.
"Begini Pak, saat jam makan siang nanti saya boleh izin keluar?"
Uwais memiringkan kepalanya, "Keluar? Maksudnya gimana?"
"Saya mau makan siang sama pacar saya. Kebetulan dia sedang senggang dan saya juga ada di kantor, jadi saya sudah janjian makan siang dengannya." Elvina menyampaikan keinginannya pada Uwais yang langsung membuat semangat Uwais kembali meredup.
Uwais harus siap dengan semua ini. Sedari awal dia sudah tahu jika Elvina itu audah memiliki kekasih. Uwais pun tak punya hak untuk melarang apalagi mencampuri urusan mereka.
"Ya sudah, kamu boleh keluar makan siang nanti. Take your time, Vina! Tetapi jangan terlalu lama kembali ke kantor ya!"
Walau dengan berat hati, Uwais tetap memberikan izin pada Elvina. Dia tak akan tega membuat Elvina bersedih hanya karena tidak diberikan izin.
Elvina menyadari perubahan pada raut wajah Uwais. Walau Uwais tetap tersenyum pada Elvina, tetapi Elvin bisa menyadari jika senyumnya itu dipaksakan. Elvina jadi sedikit merasa bersalah pada Uwais. Tetapi, mengapa dia harus merasa bersalah? Uwais hanyalah atasannya.
Saat jam makan siang tiba, Elvina langsung bergegas keluar dari kantor dan menghampiri Abyan yang sudah menunggunya di lobi.
"Vin, kamu sudah siap? Kita berangkat sekarang yuk!" seru Abyan, kekasih Elvina.
"Iya, Byan! Tapi kita cari tempat makan di sekitar sini saja ya, karena aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku terlalu lama." jawab Elvina disambung dengan permohonannya.
"Oke sayang! Yang penting kan makannya sama kamu!" jawab Abyan seraya mengusap lembut pipi Elvina.
Pemandangan itu ternyata dilihat oleh Uwais yang baru keluar dari kantor untuk makan siang. Uwais berbalik dan bersembunyi di balik vas bunga besar yang diletakan di depan pintu masuk. Dia tak ingin Elvina sampai melihatnya.
"Yuk sayang! Cepat naik ke motorku! Jangan lupa peluk penuh cinta ya! Hehehe..." pinta Abyan.
Elvina pun naik ke motor dan duduk di belakang Abyan. Sesuai permintaan kekasihnya, Elvina langsung melingkarkan tangannya di pinggang Abyan, memeluk hangat dari belakang.
Sepasang kekasih tersebut menuju ke sebuah rumah makan padang yang cukup terkenal enak dan letaknya tidak terlalu jauh darj kantor Elvina. Merek makan dengan cepat karena peeut mereka juga sudah lapar.
Setelah selesai makan, Elvina dan Abyan berbincang sebentar sebelum Abyan mengantarkan Elvina kembali ke kantor.
"Vin, kamu sudah gak ikut Bos kamu menjalankan project?" tanya Abyan.
"Sudah enggak. Sekarang aku balik jadi sekretarisnya Pak Uwais."
Abyan menarik dagu Elvina agar gadis itu menatapnya. Kemudian dengan membut Abyan berkata, "Aku sebenarnya gak suka kalau kamu jadi sekretaris Pak Uwais itu."
Elvina terkekeh. "Kami cemburu ya?" tanyanya.
"Masa aku gak cemburu sama bos muda seperri Uwais sih! Dia ganteng gak? Gantengan mana sama aku?"
Elvina tersenyum. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Uwais sangatlah tampan dan menjadi idaman banyak wanita. Dia tak ingin menyakiti hati kelasihnya.
"Ganteng kamu kok, Byan!" jawab Elvina.
"Kamu gak bohong kan?"
"Byan, bagiku kamu yang paling tampan. Karena kamu adalah pacarku." ucap Elvina untuk menyenangkan perasaan kekasihnya itu.
Abyan menarik kepala Elvina dan mengecup keningnya. "Makasih ya sayang..."
Pipi Elvina langsung bersemu kemerahan. Sikap Abyan sangatlah manis. Selama mereka berpacaran, Abyan tak pernah memaksa Elvina untuk berciuman ataupun melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Memeluk Abyan saja Elvina hanya berani melakukannya dari belakang, saat mereka berdua sedang berboncengan. Sebagai ungkapan tanda sayang, sesekali Abyan mengecup kening Elvina seperti tadi.
"Suatu saat aku akan bisa menikmati bibir indah kamu ini, Vin.. Tapi aku janji, itu hanya akan terjadi setelah kita menikah." bisik Abyan.
Elvina mengangguk malu dengan wajah tertunduk dan juga kedua pipi yang bersemu kemerahan. Hatinya senang karena Abyan memandang hubungan mereka dengan serius sampai membicarakan pernikahan.
Diantar kembali Elvina ke kantornya. Elvina melambaikan tangan saat Abyan melajukan kembali motornya pergi dari hadapan Elvina.
Tanpa Elvina ketahui, Abyan tidaklah kembali untuk bekerja. Dia melajukan motornya ke sebuah apartemen dan langsung menuju ke lantai tempat seorang wanita tinggal sendirian di salah satu unit apartemen tersebut.
"Sayang, buatkan aku minuman dingin!" pinta Abyan pada seorang wanita yang hanya memakai kemeja longgar tanpa mengenakan celana. Abyan bisa dengan jelas melihat kaki mulus wanita tersebut.
"Kamu tumben jam segini ke tempatku?" tanya wanita tersebut.
"Aku ada urusan tadi, lalu tiba-tiba aku kangen sama kamu!" jawab Abyan.
Wanita tersebut memberikan segelas jus dingin pada Abyan sambil meletakan bokongnya di pangkuan Abyan.
"Kamu kangen sama aku? Sini aku kasih ciuman yang paling manis untuk kamu."
Wanita tersebut langsung menempelkan bibirnya di bibir Abyan. Abyan pun melumat, dan menikmati ciuman dari wanita yang ternyata juga adalah kekasihnya. Abyan tak bisa mendapat kepuasan untuk harsatnya dari Elvina. Oleh karena itu dia mencari pelampiasan pada wanita lain.
Elvina sama sekali tidak mengetahui perilaku b***t Abyan di belakangnya. Dia benar-benar menjaga hatinya untuk Abyan. Namun sayangnya Abyan tidak menjaga hatinya untuk Elvina.
Andai saja Uwais mengetahui semua ini, dia pasti akan maju di barisan paling depan meminta Elvina untuk meninggalkan lelaki b***t seperti kekasihnya sekarang. Dan Uwais akan tanpa beban menyatakan perasaannya pada Elvina.
Namun, sampai kapankah Abyan sukses menutupi hubungan gelapnya?