Mission 13

1738 Kata
"Aku menginginkan lelaki yang sangat menyayangi ibunya. Karena, jika dia bisa menyayangi ibunya, maka dia juga pasti bisa menyayangi dan menghargai pasangan hidupnya kelak. Dan aku ingin disayangi dengan sepenuh hati oleh pasangan hidupku." - Elvina Zemira - ***** "Kamu jawab jujur deh sama aku, kamu sebenarnya sudah punya pacar kan?" tanya Gina pada Abyan. Abyan mengenakan celananya kemudian menoleh pada Gina yang masih terbaring di tempat tidurnya hanya dengan terbalut selimut tipis. "Kamu gak perlu mengkhawatirkan hal itu. Dia hanya sebagai kedok di depan kedua orang tuaku saja." jawab Abyan. "Lalu apa kamu akan serius denganku? Aku tidak mau jika terus dijadikan pelarian dan pelampiasan nafsumu saja!" Gina merajuk. Dia menyingkirkan selimutnya lalu bangkit menghampiri Abyan dan memeluknya dari belakang. "Kita sudah sering berhubungan tanpa menggunakan pengaman, jadi aku tidak mau kalau nanti kamu tidak menikahiku." kata Gina sambil berbisik di telinga Abyan. "Aku sudah bilang, kamu gak perlu khawatir. Aku pasti akan terus bersamamu." Abyan menenangkan Gina. "Baiklah, aku akan percaya padamu." Abyan berbalik, lalu dia menatap tubuh polos Gina yang tidak tertutup sehelai benang pun. "Kenapa kamu belum berpakaian?" tanya Abyan. "Karena aku masih ingin bersama denganmu, Byan. Memangnya kamu sudah tak ingin bersamaku?" Gina menggoda Abyan dengan menempelkan tubuh polosnya pada Abyan. "Aku sudah harus kembali ke kantor. Besok aku akan kesini lagi." "Besok? Kenapa tidak malam ini saja?" "Malam ini aku ada urusan keluarga bersama kedua orang tuaku. Jadi aku tidak bisa datang kesini." Abyan kemudian menjauhkan tubuh Gina lalu dia mengambil selimut untuk menutupi tubuh wanita tersebut. "Cepat pakai baju, jangan sampai kamu masuk angin!" seru Abyan. *** Kini sudah waktunya pulang kerja. Namun, Uwais masih harus menyelesaikan beberapa proposal yang akan dia bawa esok hari bertemu klien. "Pak Uwais, apa akan lembur lagi sampai malam?" tanya Elvina sambil membawakan teh hangat untuk Uwais. "Sepertinya begitu, karena saya akan menyelesaikan proposal ini untuk dibawa besok." jawab Uwais dengan fokus pandangannya pada layar laptop. "Ada yang bisa saya bantu? Biar pekerjaan Pak Uwais lebih ringan." Elvina menawarkan bantuannya. Uwais menatap Elvina sejenak kemudian bertanya, "Apa kamu tidak lelah?" Elvina menggelengkan kepalanya lalu balik bertanya, "Bukankah sudah tugasku untuk meringankan pekerjaan Pak Uwais?" "Baiklah kalau begitu. Tolong saya untuk menyelesaikan proposal yang satunya lagi. Tolong kamu cek kembali apa penawaran harga dan diskonnya sudah sesuai atau belum." Uwais mengumandangkan perintahnya. Dengan sangat teliti Elvina mengerjakan tugas yang diberikan oleh Uwais. Pekerjaan mereka pun selesai secara bersamaan. "Kamu sudah selesai, Vin?" Uwais melirik ke arah Elvina yang duduk di sofa sambil memangku laptop. "Sudah, Pak. Akan saya kirim ke email Pak Uwais untuk diperiksa terlebih dahulu." Uwais melirik jam yang ada di dinding. Sudah lewat dari waktunya makan malam. "Vina, kita belum makan malam." kata Uwais. "Iya, Pak. Mau saya belikan makan malam lagi?" Elvina menawarkan diri. "Bagaimana kalau kita makan malam di luar sekalian kita pulang? Sebelumnya kamu yang traktir saya, sekarang saya yang akan traktir kamu. Bagaimana?" Elvina berpikir sejenak. Sepertinya tidak apa-apa jika menerima ajakan Pak Uwais. Ini hanya sebagai balasan untuk makan malam yang dibelikan Elvina sebelumnya. Lagipula Abyan juga sudah memberi kabar pada Elvina jika dia tidak bisa menjemput Elvina karena ada urusan keluarga. "Bagaimana Vina? Kamu mau kan?" Uwais menunggu jawaban Elvina. "Baik, Pak. Saya menerima ajakan Pak Uwais." jawab Elvina. "Yess!! Yess!! Yess!! Akhirnya misi mengajak makan malam Elvina bisa dilaksanakan!" teriak Uwais di dalam hati. Tanpa menunggu lama, Uwais dan Elvina segera meninggalkan kantor yang sudah sepi. Hanya tinggal mereka berdua saja di kantor tersebut. Ditambah security yang berjaga di luar. "Kita mau makan dimana Pak sudah jam segini?" tanya Elvina sambil melempar pandangannya keluar jendela mobil. Sudah jam 10 lewat dan banyak restoran yang bersiap untuk tutup. "Dimana ya, Vin? Di depan situ ada restoran cepat saji yang buka 24 jam. Kamu mau makan disana?" Uwais menunjuk ke sebuah restoran cepat saji dengan menu andalan ayam goreng yang berada sekitar 15 meter di depan mereka. "Fast food ya pak?" Elvina tampak ragu. "Hmm, kamu kurang suka ya? Apa mau makan pecel ayam di pinggir jalan saja? Itu termasuk fast food bukan sih?" Uwais menawarkan pilihan lain. Elvina tertawa kecil. "Pak Uwais udah pernah makan di pinggir jalan?" tanyanya. "Pernah sih beberapa kali, tapi bukan makan pecel ayam. Saya penasaran aja gimana rasa ayam goreng dengan nasi uduk yang ada di pinggir jalan itu." "Ya sudah, kita makan di pinggir jalan aja gak apa-apa ya, Pak!" seru Elvina. Uwais menganggukan kepalanya dengan mantap. Lalu dia melajukan mobilnya ke tempat yang dia ingat ada kedai pecel ayam di pinggir jalan. Dihadapan mereka berdua kini tersaji dua piring nasi uduk, dua potong ayam bagian p*ha yang baru matang digoreng, dua potong tahu dan juga tempe. Asapnya masih sangat jelas menari di udara. Lalu sambal disediakan di piring kecil lainnya lengkap dengan potongan ketimun dan juga daun kemangi. Benar-benar menggugah selera. "Waahhh, harumnya benar-benar bikin air liurku mengalir!" kata Uwais dengan mulut sedikit terbuka. "Ayo dimakan Pak!" "Baiklah, akhirnya aku bisa menikmati pecel ayam yang sangat menggugah selera ini! Bismillah..." Uwais dan Elvina langsung menyantap makanan mereka dengan lahap. Antara suka dan lapar, begitulah mereka berdua menyantap makan malam mereka. Berkali-kali Uwais tampak memuji rasa dari ayam goreng di piringnya. Dipesannya lagi ayam goreng untuk Uwais, ditambah nasi uduk setengah piring. Elvina sampai tertawa sambil menggelengkan kepalanya karena tingkah Uwais itu. "Kenyaanngg..." kata Uwais sambil mengusap perutnya. "Pak Uwais makannya banyak juga ya! Berarti makanan yang saya belikan kemarin itu masih kurang banyak ya Pak?" Uwais menggeleng, "Bukan gitu, pecel ayam disini enak banget! Coba ah nanti aku ajak Bunda makan disini!" "Pak Uwais selalu hidup dalam kemewahan sih ya, jadi jarang menikmati makanan pinggir jalan seperti ini." pikir Elvina. "Siapa bilang? Justru Bunda selalu mengajarkanku untuk hidup sederhana. Apartemen yang kami tinggali sekarang saja masih apartemen dua kamar tanpa ada kemewahan di dalam unit kami tinggal." jawab Uwais. "Sederhana? Apartemen? Tetapi mungkin sederhana yang dimaksud Pak Uwais masih beda kategorinya dengan orang seperti saya." Elvina bingung dengan maksud sederhananya Uwais. "Hahaha kamu kenapa? Kok kayaknya bingung? Kalau kamu sudah ketemu dengan Bunda saya, pasti langsung mengerti. Kalau urusan makanan, Bunda memang jarang membolehkanku makan di pinggir jalan begini. Kurang higienis katanya." "Benar juga sih, Pak." Elvina membenarkan. "Menurut cerita, Bunda itu pernah divonis sakit parah. Bunda benar-benar berjuang untuk sembuh. Makanya setelah dia sembuh, dia jadi sangat menjaga makanan dan gaya hidupnya. Kurang lebih seperti kamu, Bunda lebih suka masakan rumahan daripada harus beli makan di luaran." Mendengar cerita Uwais, Elvina mulai mengerti mengapa dia sangat menyayangi ibunya. Bahkan ibunya juga dinilai Elvina sangat tangguh bisa berjuang dari sakit parahnya. "Sudah larut malam, saya antar kamu pulang sekarang ya!" seru Uwais. "Iya, Pak!" Elvina menjawab. Uwais mengantarkan Elvina dengan selamat sampai di rumah. Elvina sempat menawarinya untuk mampir sejenak di rumahnya. Namun Uwais menolak dengan alasan sudah larut malam. Tak pantas seorang pria berkunjung larut malam seperti ini. Uwais tak ingin jika nanti akan ada perkataan dari tetangga Elvina yang menyakiti hati. Uwais memilih untuk langsung pulang. Sesampainya di unit apartemen. Uwais langsung masuk ke kamarnya, mengganti pakaian tanpa mandi terlebih dahulu karena sudah terlalu malam. Lalu Uwais menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Kimmi. Memberitahunya jika misi ketiganya sudah berhasil dia laksanakan. MISSION 3 COMPLETED Uwais sudah merasa lebih dekat dan lebih mengenal Elvina sekarang. Sepertinya tak akan sulit untuk melakukan misi-misi selanjutnya. Pemuda itu kini melompat ke tempat tidur, menarik selimut, lalu mengatur posisinya agar lebih nyaman. Dipejamkan kedua matanya dengan senyum tersungging di wajah tampannya. Malam ini Uwais sangat senang, karena bisa mengajak Elvin makan malam walau harus di pinggir jalan. "Mungkin rasa ayam tadi jadi semakin enak karena ada Elvina di sampingku ya? Ah, sudahlah." gumamnya dengan mata terpejam. Keesokan paginya, Uwais sudah bersiap untuk kembali bekerja. "Uwais, kamu sudah Bunda buatkan bekal untuk makan siang di kantor!" kata Aisyah yang sedang menyusun bekal makan Uwais di kotak makan. "Tumben Bunda buatin aku bekal?" "Lagi kepengen aja buatin kamu sama Ayah kamu bekal makan siang. Biar lebih hemat. Hehehe." Aisyah terkekeh. "Hoo jadi alasannya biar hemat ya, Bun! Hahahaha!" balas Uwais tertawa. "Ini Bunda bawakan kamu untuk 2 porsi ya." "Kok dua porsi?" "Kan kamu bisa makan bareng cewek yang kamu suka itu. Kalian satu kantor kan?" Uwais tercengang. Dari mana Bundanya tahu kalau gadis yang disukai Uwais bekerja di satu kantor dengannya? "Bunda kok tahu?" tanya Uwais penasaran. "Bunda nebak aja sih. Tapi benar kan?" balik Aisyah bertanya yang dijawab dengan sebuah anggukan pelan oleh Uwais. "Insting Bunda hebat ya!" seru Uwais. Aisyah terkekeh, "Namanya orang tua, pasti bisa menebak dari perilaku anaknya yang kadang suka senyum-senyum sendiri kalau mau berangkat ke kantor!" Uwais tersenyum malu karena kehebatan sang Bunda yang bisa menebak hanya dari perilaku putranya saja. Atau memang semua orang tua seperti itu ya? Bekal makanan sudah di bawa oleh Uwais ke kantornya. Sang ayah masih harus mengawasi project yang sedang berjalan. "Hmm, Vina!" panggil Uwais saat Elvina hendak keluar dari ruangannya. "Iya, Pak?" "Kamu bawa makan siang?" Uwais menanyakannya dengan suara pelan. "Bawa, Pak!" jawab Elvina cepat. Uwais langsung lesu mendengar jawaban Elvina. Dia bingung bagaimana harus mengatakan pada Elvina kalau sang Bunda membawakan bekal untuknya. Elvina pun bertanya pada Uwais, "Memangnya kenapa, Pak?" "Ah, tidak apa-apa! Ya sudah, kamu boleh keluar dari ruangan saya!" "Baik, kalau begitu Pak. Saya permisi." Elvina melangkah keluar dari ruangannya. Kemudian Uwais menggaruk kasar kepalanya, masih bingung bagaimana mengatakan pada Elvina tentang bekal makan siang yang dibawanya. "Duh, ternyata sulit. Padahal cuma ngasih bekal aja!" gumam Uwais. Uwais mengambil bekal yang di bawanya dan diletakan di atas meja kerjanya. "Huuufff..." Dia menghela nafas menatap tumpukan kotak makannya. "Kasihan kamu bekal, biar aku yang habiskan saja ya. Bunda juga kan sudah susah payah buatnya." Uwais melanjutkan. Dibukanya kedua kotak bekal tersebut. Ditatapnya sejenak isi dalam kotak bekal tersebut. "Padahal ini enak banget loh! Sayang Elvina belum bisa mencicipinya!" ucap Uwais sambil menatap kotak bekalnya penuh rasa bersalah. "Permisi, Pak!" tiba-tiba Elvina kembali masuk ke ruangan Uwais. Elvina tertegun melihat Uwais yang sudah bersiap makan dengan dua buat kotak bekal di atas mejanya. Apa memang sebenarnya sebanyak itu porsi makan Uwais? Begitulah pikirnya. Uwais melihat Elvina tertegun dan tak bergerak dari tempatnya. Dia langsung menyeringai malu karena Elvina memergokinya bersiap memakan dua porsi makan siang. "A-anu... Ini..." Uwais terbata-bata. "Eh, gak apa-apa kok Pak. Silahkan dilanjutkan." ucap Elvina yang kemudian berbalik hendak keluar kembali dari ruangan Uwais. "Vin, tunggu!" Uwais membuat Elvina kembali membalikan tubuhnya. "Mau makan siang bareng?" ajak Uwais. Apakah Elvina akan menerima ajakan Uwais?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN