"A-anu... Ini..." Uwais terbata-bata.
"Eh, gak apa-apa kok Pak. Silahkan dilanjutkan." ucap Elvina yang kemudian berbalik hendak keluar kembali dari ruangan Uwais.
"Vin, tunggu!" Uwais membuat Elvina kembali membalikan tubuhnya.
"Mau makan siang bareng?" ajak Uwais.
*****
"Eh, apa Pak?" Elvina memasang raut wajah bingung.
"Kamu... mau makan siang bareng saya?" Uwais melirikan matanya ke dua kotak bekal yang sudah terbuka di atas mejanya.
"Anu, sebenarnya ..." Elvina menunjukan sebuah tas berwarna hijau muda yang dia sembunyikan di balik tubuhnya.
Uwais menyipitkan kedua matanya. "Apa itu Vina?"
"Ini... bekal makan saya." jawab Elvina.
"Oh, ya sudah kita makan bersama disini! Kebetulan Bunda menyiapkanku dua porsi makan siang."
"Anu, bukan begitu. Sebenarnya saya juga sengaja menyiapkan bekal untuk Pak Uwais."
"Maksudnya??" Uwais tampak bingung.
"Saya kira Pak Uwais tidak membawa bekal, karena memang biasanya gak pernah bawa bekal kan? Jadi saya menyiapkan bekal untuk Pak Uwais juga. Eh, tapi jangan salah paham ya Pak. Kebetulan memang ada bahan makanan lebih." Elvina menjelaskan.
Mata Uwais langsung berbinar mendengar penjelasan Elvina. Mau karena ada kelebihan bahan makanan atau pun alasan lain, setidaknya Elvina sudah bersedia menyiapkan bekal makan siang untuk Uwais.
"Wah, terima kasih ya Vin! Sini, Vin! Kita makan bareng!"
Mendapat respon yang baik dari Uwais, Elvina pun bisa tersenyum lega. Dia duduk di hadapan Uwais, membuka bekal yang dibawanya dan memakannya bersama dengan Uwais.
Elvina mencicipi masakan Ibunda Uwais, dan Elvina pun memuji keahlian memasaknya. Rasa makanannya sangat lezat. Jauh berbeda dengan rasa masakan Elvina.
"Kamu harus ketemu Bunda dan kamu pasti senang diajak Bunda masak bareng!" celetuk Uwais disela-sela kegiatan makannya.
Elvina mengangguk. Dia juga jadi semakin penasaran dengan sosok Ibundanya Uwais. Seperti apakah paras wanita tersebut, cara bicaranya, dan juga seperti apa nantinya beliau tersenyum pada Elvina.
Sementara itu, Abyan sedang berkutik dengan pekerjaannya di kantor. Dia hanyalah staff marketing di sebuah perusahaan tender. Abyan sedang disibukan dengan pengajuan tender ke lembaga pemerintah. Banyak perusahaan bonafit yang juga ikut serta dalam tender tersebut.
"Abyan, gimana kira-kira pengajuan tender kita?" tanya manager marketing yang menghampirinya.
"Masih aman, Pak! Kalau sampai besok siang posisi kita masih aman. Maka kita akan memenangkan tender kali ini, Pak!" jawab Abyan dengan optimis.
"Bagus, kalau jangan sampai kita gagal di tender kali ini! Karena kalau tidak, kita tidak akan mendapat bonus dari tender dan gaji kamu tidak akan ada peningkatan lagi!" tegas si manager.
"Iya, Pak!"
Sang manager pergi meninggalkan Abyan. Mendengar kata bonus, otak Abyan langsung berwisata membayangkan liburan bersama Gina ke pulau Bali.
"Tender ini harus goal! Biar aku bisa menikmati liburan romantis dengan Gina!" gumamnya.
Suara ponsel Abyan berbunyi. Abyan melirikan matanya pada ponsel yang dia letakan di samping keyboard komputer. Nama Elvina tertera dengan jelas di layar ponsel Abyan.
"Mau apa sih si Elvina?!" Abyan berdecak.
Dengan sedikit terpaksa Abyan pun menerima panggilan masuk dari kekasihnya tersebut.
"Halo, Vina."
"Byan, kamu udah makan siang?" tanya Elvina.
"Sudah kok tadi. Sekarang aku sedang sibuk memantau tender di lembaga pemerintah." jawab Abyan.
"Oh, kamu sedang sibuk ya? Maaf kalau aku ganggu. Hmm.. pulang kerja nanti aku boleh mampir ke rumah kamu?"
"Ke rumahku? Memangnya ada apa?"
"Aku mau ketemu sama orang tua kamu. Sudah lama juga aku gak mampir ke rumah kamu. Mau lihat saja gimana keadaan orang tua kamu."
Abyan menjadi resah. Sore ini dia sudah berjanji untuk mengunjungi Gina, kekasihnya yang lain. Tetapi dia sedikit sulit menolak permintaan Elvina.
"Hmm.. gimana ya? Aku hari ini akan lembur sampai malam. Gimana kalau besok saja? Besok kan hari Sabtu, kamu libur kan?" Abyan berusaha membujuk Elvina agar mengganti hari berkunjungnya.
"Oke kalau gitu. Kamu semangat ya kerjanya!"
Panggilan telepon kemudian terputus. Abyan bisa menghela nafas lega karena malam ini tak ada yang akan mengganggunya berduaan dengan Gina.
Kembali lagi di ruang kerja Uwais. Dia kembali teringat dengan misi selanjutnya yang harus dia jalankan.
"Oh, iya! Misi selanjutnya apa ya?"
Uwais memeriksa lembar misi yang dibuatnya. Misi selanjutnya untuk mendapatkan cinta Elvina adalah MENGAJAK ELVINA NONTO DI BIOSKOP.
"Ngajak nonton di bioskop? Ini aku sebenarnya bikin misi ini tuh lagi mikirin apa sih? Belum juga pacaran tapi udah ngajak nonton!" gumam Uwais.
Kini otaknya berpikir. Bagaimana dia menemukan alasan yang tepat agar bisa mengajak Elvina nonton di bioskop. Namun Uwais merasa misi kali ini sedikit sulit.
"Apa aku skip dlu ya? Lanjut ke misi yang lain dulu gitu!" pikirnya.
"Eh, jangan deh! Coba aku tanya Kimmi dulu bagusnya gimana." lanjutnya.
Seperti yang direncanakan, kini Uwais melangkahkan kakinya menuju ke unit Kimmi. Hari ini dia tidak terlalu sibuk. Pertemuan dengan klien pun sudah dia lakukan tanpa berbelit-belit siang tadi. Jadi sekarang dia punya banyak waktu luang untuk meminta saran dari Kimmi, sekaligus mengganggunya.
"Om Fahri!" Uwais menyapa Fahri saat dia baru saja keluar dari unitnya.
"Eh, kamu Uwais! Mau ketemu Kimmi?" tanya Fahri.
"Iya, Om! Kimmi ada di unit kan?"
"Kamu kurang beruntung, Uwais. Kimmi gak ada di unit. Ini Om baru mau jemput dia!"
"Oh, baru mau dijemput? Jemputnya dimana? Biar aku aja yang jemput!" Uwais menawarkan diri untuk menjemput Kimmi.
"Kamu yang mau jemput? Dia sekarang ada di mal kawasan Kelapa Gading. Habis ketemu teman-temannya."
"Ya sudah, aku saja yang jemput! Nanti aku juga yang telepon Kimmi, Om!" seru Uwais seraya melangkahkan kakinya pergi.
Walau sedikit tersendat, mobil Uwais kini sudah sampai di mal tempat Kimmi menunggunya. Dia juga sudah menghubungi Kimmi dan meminta Kimmi sedikit bersabar karena kondisi jalanan yang macet.
"Halo, Kim! Aku sudah di mal, kamu di sebelah mana?" tanya Uwais melalui panggilan suara di ponselnya.
"...................."
"Oh, iya aku tahu tempatnya! Ya sudah tunggu aku ya! Ini aku langsung lari kesana!"
Uwais melangkah sedikit lebih cepat menuju ke tempat Kimmi berada. Tiba-tiba tanpa sengaja Uwais melihat sepasang pria dan wanita yang berjalan sambil bergandengan mesra. Uwais mengenali seperti mengenali wajah si pria. Namun karena Kimmi sudah menunggunya, Uwais pun memilih untuk masa bodoh dan tidak mencari tahu lebih lanjut.
"Kimmi!" Uwais menepuk bahu kanan Kimmi.
"Kamu sudah sampai? Yuk kita pulang!" seru Kimmi.
"Yukk!!"
Uwais dan Kimmi melangkah melewati jalan yang tadi Uwais lalui. Rasa penasaran Uwais masih ada. Dia melempar pandangannya ke segala arah mencari sosok pria yang sepertinya dia kenal.
"Kamu nyari apa sih? Kok matanya jelalatan gitu?" tanya Kimmi.
"Eh, enggak! Tadi aku kayak lihat orang yang aku kenal."
"Siapa? Teman kamu?"
"Hmm belum pasti juga, tapi bisa jadi!" jawab Uwais gamblang.
"Sudah ketemu belum orangnya? Mau kita cari dulu?"
Uwais menggeleng. "Gak usah deh, kita pulang saja yuk!"
Akhirnya Uwais pulang dengan rasa penasaran yang belum terjawab. Dia mengingat-ingay kembali wajah pria tadi. Sepertinya wajahnya mirip dengan kekasih Elvina. Tetapi wanita di sampingnya bukanlah Elvina.
Uwais menggelengkan kepalanya cepat. "Duh aneh-aneh aja sih aku mikirnya! Suudzon nanti jadinya!" gumam Uwais.
"Suudzon kenapa?" sahut Kimmi.
"Bukan apa-apa kok! Tadi lagi ngelamun terus keingat sesuatu aja." Uwais mengelak.
Kimmi hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia juga tidak mau terlalu banyak tanya pada Uwais.
"Wah kalau benar itu pacarnya Elvina, harus dikasih pelajaran!" gumam Uwais dalam hati.
Dalam perjalanan pulang, Uwais menanyakan saran Kimmi tentang misi selanjutnya.
"Jadi gimana, Kim? Baiknya gimana?"
"Hahahaha... Kamu yang bikin misi tapi kamu sendiri yang bingung! Kalau ngajak nonton ya tinggal ajak aja sih! Beliin tiket nontonnya, terus beli berondong jagung sama minumnya juga! Beres kan?!" ujar Kimmi sambil tertawa.
"Tapi kan gak segampang itu, Kim! Kecuali kalau aku sama dia tuh udah pacaran!"
"Ya sudah pacaran aja sih! Kamu kelamaan!" sindir Kimmi.
"Kim, kalau misal pacarnya si Elvina itu selingkuhin Elvina, kesempatan aku dapetin Elvina makin besar kan?" tanya Uwais yang direspon dengan kernyitan dahi oleh Kimmi.
"Pacarnya Elvina selingkuh?" Kimmi tak mengerti maksud dari ucapan Uwais.
"Yaa kan misalnya saja, Kim! Tapi kalau itu benar terjadi, sebaiknya aku apain ya pacarnya itu?"
"Yaa kamu pukul, tinju, tendang, banting kalau perlu! Gila aja cewek sebaik Elvina diselingkuhin!" emosi Kimmi membara.
Uwais tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari sepupunya itu. Tidak disangka jika Kimmi sudah menilai Elvina adalah gadis baik yang tak pantas diselingkuhi.
Jika nanti Uwais benar menjadi kekasih Elvina walau entah kapan itu terjadi, Uwais tak akan pernah menyakiti hati Elvina. Apalagi menduakannya, tak akan pernah terpikirkan oleh Uwais melakukan hal tersebut.