bc

Wanita Pilihan Untuk Presdir Duda

book_age18+
344
IKUTI
4.1K
BACA
billionaire
HE
arrogant
blue collar
tragedy
no-couple
genius
city
like
intro-logo
Uraian

Amira Djalal membenci Ruben Diablo-presiden direktur Bens Company, tidak mau menerima pertanggungjawaban sang presdir, hanya ingin tuan billionaire itu mendekam dalam penjara seumur hidup.

Sang presdir pun terperangah karena sudah salah menculik dan memperkosa Amira yang sosoknya seperti pinang dibelah dua dengan Erika Khapoor putri tunggal Aldron Khapoor yang menghinanya di night club dan sosial media. Dia berusaha menebus kesalahannya, menyingkirkan sisi arogannya, meski Amira membencinya. Sikap sang gadis yang keras hati membuatnya tersentuh cinta.

Satu saat setelah Ruben menyelamatkan Amira dari para pria di rumah bordil, dia tergoda aura sensual si gadis yang saat itu dalam keadaan terkena obat perangsang yang dicekokan para pria tersebut, terjadilah gairah semalam di antara mereka, membuat Amira semakin membencinya.

Tapi apakah Amira bisa terus membenci Ruben, karena muncul Lotta putri sang presdir, di mana memanggilnya dengan mommy, lantas langsung menempel ke dia. Amira menjadi terombang-ambing hatinya, sebab jatuh menyayangi Lotta, sedangkan dia membenci sang presdir, dan ternyata mengandung benih pria itu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
Di dalam luxury room di hotel, tampak seorang pria tampan berprofil wajah perpaduan Spanyol, Amerika. dan Indonesia, duduk di teras di mana pandangan kedua manik indahnya fokus ke video editan di tabletnya yang menampilkan beberapa gadis cantik berpenampilan seksi tengah mentertawakan seorang pria dengan sosok seperti dirinya tanpa busana. Pria yang menonton video itu bernama Ruben Diablo-presiden direktur Bens Company miliknya, dan berstatus duda satu anak. Tampak wajah Tuan Presdir geram, di mana satu tangannya diremat kuat-kuat. Video tersebut dibikin oleh Erika Khapoor putri tunggal Aldron Khapoor billionaire level C keturunan India dan Indonesia yang bermukim di Jakarta. Sebenarnya video itu sudah berkali dihapus beberapa pengelola situs sosial media, tapi selalu dibikin tayang lagi oleh Erika. Sang nona kepicut cinta ke Ruben, tapi sang presdir tidak pernah kepicut kecantikan dan keseksiannya. Padahal setahu Erika, sang presdir adalah playboy yang mudah terpikat kecantikan dan keseksian perempuan, lantas dibawa beradu panas di ranjang hotel. Pengetahuan sang nona tidak begitu adanya. Tuan presdir tidak pernah terpikat kecantikan dan keseksian perempuan, hanya memangsa perempuan yang dinilainya bisa memuaskan hasratnya di ranjang agar segala penat selepas bekerja sirnah. Setelah itu ditinggalkan si perempuan, tidak ada satu pun yang dicantelkan ke hati dan pikirannya. Kembali ke motif Erika membuat dan menyebarluaskan video itu agar sang presdir naik pitam, berusaha menemukannya, lantas saat itu bisa ditaklukan olehnya di ranjang, berharap mengandung benih pria tersebut, sehingga mau tidak mau dijadikan istri oleh tuan muda. Sejurus kemudian datang Alta asisten sang presdir, lantas menyapa si boss,“Tuan.” “Mengapa mereka belum menyeret Erika kemari?” Ruben bicara tanpa memandang asisten tersebut, “Katamu mereka tengah mengutit perempuan b******k itu.” “Hari ini, mereka akan membawa Nona Erika ke anda.” “Saya pegang kata-kata itu. Jika sampai tidak, kalian akan tahu akibatnya.” “Paham, Tuan.” Beralih ke rumah sakit Sentosa, rumah sakit swasta tipe B yang berlokasi di Jakarta, tampak Amira yang berprofesi sebagai shuttle car driver di Drive Indo, terhenyak saat membaca berkas rincian pembayaran untuk Santi neneknya agar bisa di operasi ginjalnya. “Mbak Mira.” Terdengar suara Hanum petugas administrasi yang melayani si gadis. “Emm,” Amira terkesiap sadar, “Mbak, apa bisa semua biaya ini di angsur?” ditanya apakah seluruh biaya tersebut bisa dibayar dengan mengangsur. “Jika di angsur, maka mbak membayar DP dulu sebesar lima juta,” sahut Hanum dengan suara ramah di mana memandang iba sang gadis. “Lantas baru di angsur sebanyak tiga kali.” “Tiga kali, Mbak?!” Amira terperanjat mendengar ini,”Apa mengangsurnya bulanan?” “Tidak Mbak, perminggu saja.” Sang gadis kembali terhenyak mendengar ini. Uang sebesar lima juta mungkin bisa dia usahakan. Tapi untuk mengangsur sepuluh juta selama tiga minggu berturut-turut, dari mana dia mengusahakannya? “Baik Mbak, saya paham.” Terdengar suara gadis itu disertai helaan napasnya, lantas beranjak pergi meninggalkan loket administrasi. Amira segera mengambil mobilnya ke parkiran sambil terus memikirkan ke mana harus meminjam uang sebesar tiga puluh lima juta tersebut. Akhirnya dia memutuskan menemui Fikar HRD manager Drive Indo, berharap bisa kembali mendapat pinjaman untuk biaya operasi dan berobat Santi. Dia tidak sadar sedari di rumah sakit terus dikutit dua pria tidak dikenalnya. Namun harapan hanya impian belaka. Saat dia sampai di ruangan Fikar di Drive Indo, sang atasan menolak pengajuan pinjamannya. “Maaf Mira,” Fikar memandang si gadis, “Kali ini saya tidak bisa membantumu karena pinjamanmu yang terdahulu belum kamu kembalikan sebesar lima belas juta,” ujarnya mengemukan mengapa menolak pengajuan pinjaman sang gadis. Amira pelan menghela napas menyadari kesalahannya yang belum mengembalikan pinjaman tersebut ke Drive Indo akibat kebutuhan berobat Santi bertambah tinggi. Fikar kemudian mengeluarkan sebuah map berisi dokumen, diletakan ke meja tepat menghadap si gadis, “Mira.” Terdengar lagi suaranya, “Mohon maaf mulai hari ini saya memberhentikan kamu dari Drive Indo.” Amira terhenyak kaget mendengar ini, menatap Fikar tidak percaya. “Sebenarnya kerja kamu bagus,” masih terdengar suara sang direktur, “Tapi akhir-akhir ini kamu sering tidak mengambil orderan, karena kamu lebih banyak mengurus nenekmu.” Si gadis menghela napas, menyadari di Drive Indo memang semua driver diberikan kewajiban mengambil order pesanan minimal sebanyak sepuluh kali. Namun akibat dia mengurus Santi yang menderita sakit ginjal menjadi tidak memenuhi aturan tersebut. Fikar lantas mengeluarkan satu amplop berwarna coklat, diberikan ke Amira, tampak wajahnya memandang sang gadis dengan rasa tidak tega. Dia sangat tahu kondisi Amira yang menjadi tulang punggung Santi sejak mereka pindah dari Kota Padang ke Jakarta ini. Di Jakarta, mereka tidak punya sanak saudara, sehingga sempat menumpang tinggal di teras belakang Masjid di daerah Pejaten. Lantas Amira menyewa rumah petakan di Gang Kluwek di daerah sana juga, mulai berjualan nasi uduk untuk membiayai hidup mereka sehari-hari. Lantas Tuhan menaruh iba ke dia, mempertemukan dia dengan Drajat Owner dan CEO Drive Indo yang suka membeli nasi uduk darinya. Saat itu sang CEO kepicut kecantikan Amira, bermaksud mendapatkan hati si gadis dengan menawarkan pekerjaan sebagai shuttle car driver di Drive Indo. Drajat bertanya apa Amira bisa menyetir mobil, punya SIM atau tidak. Amira memberi jawaban bisa menyetir mobil dan punya SIM, karena dulu belajar stir mobil sama Koh Atong tempatnya bekerja sebagai kasir toko sembako di Padang. Akhirnya Drajat minta Amira melamar ke Drive Indo untuk menjadi shuttle car driver. Diberi gaji lumayan di sana. Tapi sayangnya sakit ginjal Santi kian membutuhkan dana untuk pengobatan, karena harus cuci darah rutin setiap minggu. Amira tidak memiliki kartu berobat gratis dari Pemerintah, lantas juga bukan warga setempat, hanya warga mengontrak. Keadaan ini membuat gadis itu terpaksa meminjam dana dari Drive Indo. Beruntungnya Drajat tidak keberatan karena sudah mengetahui kondisi kehidupan Amira. “Ini sedikit pesangon dari perusahaan untuk kamu.” Terdengar suara Fikar memberitahu apa yang terdapat di dalam amplop tersebut. “Lantas mengenai hutangmu terdahulu,” imbuhnya, “Pak Drajat bilang, kamu boleh kembalikan saat kamu sudah ada uang, dan boleh di angsur sesuai kemampuanmu,” Imbuhnya menyampaikan pesan dari Drajat CEO Drive Indo. Amira menerima ini dengan wajah pilu karena sumber penghasilannya ditutup dengan diberhentikan dari perusahaan. Bagaimana bisa dia mendapatkan sumber penghasilan dengan cepat? Bagaimana pula dia mengatasi masalah pembiayaan berobat Santi? “Baik, pak,” terdengar suara pilunya, “Terima kasih sudah berkenan membimbing saya selama ini,” Diucapkan terima kasih ke Fikar, “Kalau begitu, saya pamit permisi dulu.” Imbuhnya lantas bangkit dari tempatnya duduk, disalami sejenak sang pimpinan, baru meninggalkan ruangan ini. *** Amira mengemudikan motor sekennya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Tampak dia kurang konsentrasi saat ini, beberapa kali nyaris menyerempet atau ditabrak kendaraan lain, sehingga memutuskan menepi sejenak di satu tempat. Dia tidak menyadari sedari keluar dari kantor Drive Indo dibuntuti dua mobil jip. Setelah motornya berada di tepi bahu jalan, dilepas helm dari kepalanya, ditarik napasnya dalam-dalam, lantas dilepas perlahan. Seiring dengan itu bilur air mata jatuh bergulir dari kedua manik indahnya. “Andung,” dari bibir indahnya dipanggil sang nenek, “Maafkan Mira. Mira tidak mendapatkan uang untuk operasi itu, bahkan Mira dipecat dari tempat kerja Mira.” Diluapkan sesak hatinya dalam linangan air matanya. “Mira juga tidak bisa menghubungi Datuk Andi dan Sutan Arsan kakak Andung untuk meminta bantuan,” Imbuhnya masih melepas beban dihatinya. “Andung dengan mereka tidak akur,” Imbuhnya lagi. Santi memiliki dua kakak laki-laki yaitu Datuk Andi dan Sutan Arsan. Perempuan itu anak kesayangan orangtua mereka, membuat kedua saudaranya iri. Ketika orangtua mereka meninggal, menurut adat Minang, warisan diberikan ke anak perempuan, maka Santi mendapatkan semua warisan orang tua mereka. Hal ini membuat iri menjadi benci, sehingga memutuskan hubungan persaudaraan. Malah mereka mencelakai Santi, dengan merampok rumah warisan itu. Tidak sampai di sana kemalangan yang mengenai Santi. Tidak lama setelah kejadian, Anwar putra tunggalnya dipecat dari Kantor Walikota Padang, lantas Kila sang menantu meninggal setelah melahirkan Amira dan Amita. Kemudian ternyata Amita sejak lahir jantungnya bocor sehingga membuat beban kehidupan mereka kian berat. Anwar pun tidak tahan, dibawanya Amita, lantas meninggalkan Santi dan Amira tanpa berpamitan. Sejak itu lah Santi berjuang sendiri membesarkan Amira dengan bekerja di toko sembako Koh Atong. Perempuan ini juga menjual lauk cepat saji depan rumahnya sebelum ke toko Koh Atong di Pasar Raya Kota Padang. Amira kecil dibawanya saat ke toko tersebut. Beruntungnya Koh Atong tidak ada anak perempuan, menyukai Amira kecil. Jadilah kemudian Amira diangkat jadi anak asuhnya, disekolahkan, diberi bermacam les, dan di didik akhlaknya. Kemalangan lain kemudian datang menimpa Santi, akibat kerja terlalu keras, ginjal perempuan itu mulai bermasalah. Amira pun menggantikan dia bekerja di toko Koh Atong. Tidak lama kedua kakak wanita itu datang dan mengusir dia dan Amira dari rumah warisan itu, karena Datuk Andi menjual rumah tersebut. SHM rumah ternyata di ambil saat perampokan terjadi. Amira terpaksa berhenti kuliah, agar tidak memberatkan Koh Atong dan Mak Mamay istrinya, memutuskan pindah ke Jakarta. Koh Atong membekalinya sejumlah uang untuk menyewa tempat tinggal, juga modal bikin usaha rumahan. Amira menghela napas, menyeka air matanya, lantas bergegas memakai kembali helm, tidak lama melajukan motor. Dia memutuskan untuk tetap tegar, dan meyakini pasti Tuhan memberikan bantuan untuk mengatasi masalahnya saat ini. Sayangnya dia masih tidak menyadari dibuntuti dua mobil tersebut. Hingga saat berada di jalanan sepi, salah satu mobil cepat menyalip dan berhenti tepat di depannya. Dia terkaget segera menghentikan motornya. Belum lagi dia sempat bersuara, dari dalam mobil turun beberapa pria yang memakai masker wajah berwarna hitam. Dia segera melepas helm, lantas terkaget lagi sebab dari arah belakang ada yang menariknya kasar sehingga terjatuh dari motornya. “Erika Khapoor!” terdengar suara salah satu dari pria yang kini mengepung Amira. Amira terkesiap mendengar ini, dipandang si pria dengan keheranan. Dia bukan Erika Khapoor, tapi Amira Djalal. Si pria menarik gadis ini berdiri, ditatap dengan sengit, “Kamu Erika Khapoor kan?” ditanya si gadis dengan suara garang. “Bu, bukan!” sahut sang gadis dengan suara gemetaran, “Aku bukan Erika Khapoor! Kalian semua ini siapa?” dipandang si pria dan rekan-rekan pria tersebut dengan sorot mata ketakutan. “Hei nona!” terdengar seruan pria lain, “Lebih baik mengaku saja kamu itu Erika Khapoor, atau,” tidak diteruskan perkataannya, lantas segera ke dekat motor Amira, tidak lama dipukul beberapa kali dengan besi panjang. “Akh!!” jerit Amira pun terdengar, “Jangan lakukan itu!” dia hendak menyelamatkan motornya, tapi pria di depannya cepat membekap mulutnya dengan saputangan berbubuhkan obat bius. Seketika dia jatuh pingsan, langsung di gendong dibawa masuk ke mobil terdepan. Sedangkan rekannya yang lain kembali menghantam motor sang gadis hingga mengalami kerusakan berat dan ditinggalkan begitu saja di jalanan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.4K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.3K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook