“Gak usah saya-kamu, lo-gue aja! Kan gak usah formal ngomongnya!” ujar Adelio.
“Hahaha, Oke deh! Mabar yuk!” ajak Rangga.
“Oke! Siapa takut! Gue invite ya!” seru Adelio.
Akhirnya, berkat game online yang sama-sama mereka mainkan, Adelio dan Rangga pun menjadi akrab satu sama lain. Arumi dan Adelia hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat kelakuan kedua pemuda yang kini menjadi heboh karena game yang mereka mainkan.
Makanan yang mereka pesan pun datang. Rangga dan Adelio menghentikan sejenak aktifitas bermain mereka untuk segera menyantap makan malam yang sudah tersedia di atas meja mereka. Mereka berempat makan dengan lahap sambil bersenda gurau.
Piring mereka sudah bersih, perut mereka juga sudah terisi penuh. Sudah waktunya mereka untuk pulang.
“Rumi, kamu pulangnya aku antar saja ya!” kata Adelio.
“Loh bukannya kamu sama Adelia satu rumah? Biar Arumi saya yang antar sampai rumah!” ujar Rangga.
Arumi dan Adelia saling melirik satu sama lain. Mata mereka berdua seolah saling berbicara. Dari sorot mata Adelia, dia seolah menanyakan pada Arumi apakah Rangga sudah mengetahui dimana Arumi tinggal, juga dengan siapa dia tinggal. Lalu sorot mata Arumi seolah menjawab jika Rangga belum mengetahui apapun tentang rahasia kehidupannya.
“Eh! Rangga kamu antar aku aja deh! Soalnya si Lio mau ambil buku di rumah Arumi dulu, iya kan?” seru Adelia seraya mengerlingkan matanya pada kakak kembarnya itu.
Adelio langsung mengerti maksud dari ucapan sang adik. “Iya, tolong anterin si Lia pulang ya! Dia suka dimarahin sama Mama kalau pulang kemaleman!” Adelio menambahkan.
“Rangga menatap Arumi lalu menganggukan kepalanya. “Oke kalau gitu!” jawab Rangga mantap.
Arumi pun menghela nafas lega. Setidaknya yang akan mengantarnya pulang adalah Adelio, sahabatnya sedari kecil. Arumi tidak perlu meminta Adelio menurunkannya di ujung jalan karena takut ketahuan kalau dirinya tinggal di rumah yang sangat mewah. Adelio sudah pasti akan mengantarnya dengan selamat sampai depan pintu rumahnya. Bahkan kalau perlu sampai masuk ke dalam rumahnya.
Motor Rangga dan juga Adelio pun kini meluncur menuju ke dua arah yang berbeda. Rangga membonceng Adelia, dan Arumi dibonceng oleh Adelio.
“Untung ya, Rumi.” Ucap Adelio saat sedang mengendarai motornya.
“Untung kenapa?” tanya Arumi.
“Yaa untung, Adelia pintar bisa membaca situasi jadi si Rangga gak harus antar kamu pulang.”
“Iya, Lio. Kalau ketahuan bisa-bisa jadi masalah. Eh tapi kayaknya kalau ketahuan juga Rangga orangnya gak rumpi ah!”
“Kamu sama si Devandra masih terus menjalani perjanjian itu?” tanya Adelio dengan ragu.
“Masih.” Jawab Arumi singkat dan pelan.
“Rumi, ada kemungkinan gak kalian pisah?”
Arumi terkejut dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Adelio. “Kok kamu nanya kayak gitu?”
“Aku nanya aja kok, Rumi. Apa ada kemungkinan kalian berdua memilih untuk berpisah dan memilih kebahagiaan masing-masing? Kalian menikah juga kan karena orang tuanya Devandra.”
Arumi diam dan tak menjawab. Dia sendiri masih belum tahu apakah pernikahannya dengan Devandra akan terus berjalan setelah kelulusannya nanti. Arumi sendiri juga ingin meraih kebahagiaannya. Dia juga ingin meneruskan cita-cita kedua orang tuanya sebelum meninggal, yaitu membangun sebuah yayasan untuk anak-anak yatim piyatu dan juga tunawisma. Arumi ingin membangunnya dengan uang hasil keringatnya sendiri, bukan dari orang lain apalagi dari kedua orang tua Devandra.
Di arah jalan pulang yang lain, Rangga mengambil kesempatan untuk bertanya-tanya pada Adelia tentang Arumi.
“Lia, kamu sama Arumi sudah lama berteman?” tanya Rangga.
“Lama banget, udah dari kecil malahan!” jawab Adelia.
“Hahaha lama banget ternyata ya!”
“Iya! Eh, nanti di perempatan sana belok kanan ya!” seru Adelia menunjukan arah jalan pulang ke rumahnya.
Rangga mengikuti arah yang ditunjukan Adelia. Dia membelokan motor sport miliknya ke kanan. Kemudian tak jauh dari perempatan mereka memasuki wilayah komplek perumahan.
“Hmm Lia, kalau boleh tahu Arumi itu orangnya seperti apa sih?” lanjut Rangga bertanya.
“Yaa kayak gitu, dia sih orangnya apa adanya, gak neko-neko!” tegas Adelia.
“Simple ya berarti,” jawab Rangga sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Lalu, dia udah punya pacar?” tanpa membuang waktu Rangga langsung menanyakan hal tersebut.
Adelia terdiam sejenak lalu balik bertanya pada Rangga. “ Memangnya Rumi gak pernah cerita apa-apa?”
“Enggak!”
“Kalau begitu sebaiknya kamu tanya langsung aja sama Arumi! Kita berhenti di depan situ ya, di rumah yang pagar hitam itu.” Adelia menunjuk sebuah rumah dengan pagar besi hitam.
Rangga menghentikan motornya dan menurunkan Adelia tepat di depan pagar rumahnya. Adelia pun langsung bergegas masuk tanpa mau berlama-lama. Dia tidak mau Rangga banyak bertanya tentang Arumi, takut dia keceplosan mengatakan apa rahasia Arumi.
***
Tok.. Tok.. Tok.. Seorang wanita berpakaian pelayan mengetuk pintu kamar Arumi. Pelayan tersebut diperintahkan oleh Ibu Shanum untuk membangunkan Arumi yang sepertinya masih tidur.
“Nona Arumi, sudah waktunya sarapan.” Kata si pelayan dengan nada bicara yang sangat lembut.
Dari dalam kamar Arumi menjawab pelayan tersebut, “Saya gak sarapan dulu, saya mau tidur lagi!”
“Baik Nona.”
Pelayan tersebut tak bisa memaksa Arumi, dia hanya menjalankan perintah namun tak punya hak untuk memaksa. Pelayan tersebut kembali ke ruang makan dan berbisik di telinga Ibu Shanum jika Arumi tidak ikut sarapan bersama mereka.
Ibu Shanum menganggukan kepalanya lalu menyuruh pelayan tersebut membawakan sarapan untuk Arumi ke kamarnya. Ibu Shanum tidak mau Arumi sampai sakit karena tidak sarapan.
“Dev, setelah makan nanti coba kamu tengok Arumi di kamar.” Pinta Ibu Shanum.
“Arumi kenapa Ma? Dia gak ikut sarapan bareng kita?” tanya Pak Emran penasaran.
“Mama juga gak tahu, cuma tadi katanya Arumi gak mau sarapan. Makanya Dev, setelah sarapan kamu lihat istrimu ya!”
Devandra mengangguk pelan sambil tetap mengoleskan selai stroberi ke roti yang ada di atas piringnya.
“Lagian kalian berdua tuh kenapa sih gak tidur sekamar saja! Kalian kan sudah sah sebagai suami istri, harusnya kalian tidur sekamar, bukan malah seperti orang musuhan yang pisah kamar!” Ibu Shanum menyindir Devandra sehingga yang disindir langsung menghentikan kegiatan mengoles selai ke rotinya dan mengerlingkan matanya pada sang mama.
“Apa kalian mau kamar yang lebih besar? Papa bisa urus itu, Dev!” Pak Emran menambahkan.
“Bukan begitu Ma, Pa. Kita kan sudah sepakat untuk nunggu Arumi lulus kuliah dulu baru punya anak. Kalau Devandra sama Arumi sekamarnya sekarang, bisa-bisa Devandra keleapasan Ma, Pa!” elak Devandra.
Devandra bukan mencari-cari alasan, hanya saja perjanjian antara dirinya dengan Arumi tak mungkin dia katakan pada kedua orang tuanya. Devandra tak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa. Dia juga tak mau karir yang dibangunnya itu hancur hanya karena status pernikahannya terbongkar ke khalayak umum.
“Ada-ada saja kalian berdua! Untung saja Mama sayang sama kamu dan juga Arumi, jadi Mama masih nurut aja kemauan kalian berdua gimana. Tetapi kalau dipikir-pikir Mama juga sudah kepengen nimang cucu loh, Dev!” ujar Ibu Shanum dengan raut wajah kecewa.
“Papa juga, Ma! Papa mau cucu Papa itu kembar, kayak temannya Arumi itu loh!” sambut Pak Emran.
“Iya benar! Pasti senang banget ya kalau langsung nimang cucu sepasang!”
“Coba kita pikirin namanya dari sekarang Ma, kita cari nama yang paling bagus!”
Seketika Ibu Shanum dan Pak Emran langsung heboh membicarakan keinginan mereka memiliki cucu yang sama sekali belum terpikirkan oleh Devandra. Perlahan-lahan Devandra bangkit dari kursinya lalu meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang asik menyiapkan nama untuk calon cucu mereka.
Devandra melangkahkan kakinya sambil mengurut dahinya. Dia benar-benar dibuat sakit kepala oleh sikap kedua orang tuanya. Sepertinya Ibu Shanum dan Pak Emran benar-benar sudah sangat menyayangi Arumi dan menginginkan cucu dari rahimnya Arumi. Arumi benar-benar sudah sangat diterima di dalam keluarga Devandra.
Kini Devandra sudah berdiri tepat di depan pintu kamar Arumi. Dia mengetuk pintunya beberapa kali namun tak ada jawaban dari Arumi. Devandra pun membuka pintu kamar Arumi yang sudah tidak terkunci.
“Arumi..” panggil Devandra dengan suara lembut.
Arumi tidak menjawab panggilan Devandra. Dia masih tampak tertidur nyenyak dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Hanya kepalanya saja yang tidak ditutupi.
Devandra pun berjalan mendekati ranjang Arumi yang cukup besar. Kemudian Devandra duduk di pinggir ranjang dan mengguncang pelan tubuh Arumi.
“Arumi, kamu belum bangun? Memangnya gak ada jadwal kuliah?”
Arumi menggeliat lalu mengubah posisi tidurnya. Dia membalikan tubuhnya dan memunggungi Devandra.
“Hey, Rumi! Ayo cepat bangun!” Devandra mencubit pipi kiri Arumi agar dia segera bangun.
Namun Devandra langsung mengerut kan dahinya, tangan yang tadinya mencubit pipi Arumi kini dia pindahkan ke kening Arumi.
“Ya ampun Arumi! Badan kamu panas banget! Kamu demam!” seru Devandra dengan suara lantang.
Mendengar suara Devandra yang lantang tadi membuat Arumi terbangun dari tidurnya dan membuka matanya. Arumi menolehkan kepalanya pada Devandra. “Kamu ngapain disini?”
“Cepat bangun, Rumi! Kita ke dokter sekarang!” titah Devandra.
Kemudian Devandra menarik tangan Arumi berusaha membatnya bangkit dari posisi tidurnya. Namun dengan cepat Arumi menarik kembali tangannya dan menyembunyikannya ke dalam selimut.
“Aku masih ngantuk, mau lanjut tidur!” kata Arumi.
“Enggak! Kita ke dokter sekarang!” tegas Devandra.
“Gak mau! Aku ngantuk!” Arumi sangat keras kepala menolak permintaan Devandra dan menarik selimut untuk menutupi kepalanya.
Devandra geram, dia menarik selimut Arumi dengan kasar lalu membuangnya ke lantai. “Aku suami kamu! Turuti perintahku! Kita ke dokter sekarang!” bentak Devandra.
“Apaan sih kamu Dev! Aku gak kenapa-kenapa kok cuma butuh tidur aja!” balas Arumi membentak Devandra seraya bangkit dari posisi tidurnya.
“Oke kalau kamu gak mau ke dokter, aku panggil saja dokternya datang ke sini!”
“Apaan sih! Gak usah Devandra, aku gak kenapa-kenapa!” Arumi masih saja menolak permintaan Devandra. Dia hanya tidak mau membuat seisi rumah menjadi khawatir padanya.
“Kamu tuh keras kepala banget sih! Sudah kamu tunggu disini, aku ambil ponsel aku dulu di kamar!”
Devandra membalikan tubuhnya lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Namun tiba-tiba Arumi menahan pergelangan tangannya dan membuat langkah Devandra terhenti.
“Gak usah ya, Dev! Aku beneran cuma butuh istirahat aja kok!” dengan lemas Arumi memohon pada Devandra agar dia tidak menelepon dokter untuk datang.
“Tapi demam kamu tinggi banget, Rumi!”
“Enggak apa-apa, Dev! Aku baik-baik saja kok!”
“Tapi Rumi, aku tuh khawatir! Aku takut kamu …” Brukk! “ARUMII!!” Devandra berteriak histeris karena tiba-tiba Arumi kehilangan kesadarannya dan tergeletak di depan Devandra. Kepala bagian belakangnya membentur lantai.
Kepanikan langsung melanda pikiran Devandra. Dia berlutut di samping tubuh Arumi, lalu menepuk-nepuk pipi Arumi berusaha menyadarkannya.
“Rumi.. Arumi..” Devandra memanggil nama Arumi sambil terus menepuk-nepuk pelan pipi Arumi. Namun Arumi masih belum juga sadar dan membuat Devandra semakin mengkhawatirkannya.
Sekuat tenaga Devandra mengangkat tubuh Arumi dan meletakannya di atas ranjang. Dia mengambil kembali selimut yang tadi dia lempar ke lantai lalu menyelimuti tubuh Arumi agar dia tidak merasa kedinginan. Setelah itu Devandra berlari keluar kamar Arumi menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Arumi untuk mengambil ponsel miliknya. Langsung diteleponnya dokter pribadi keluarga mereka untuk segera datang dan memeriksakan kondisi Arumi.