Secret 7

1777 Kata
“Gak usah ya, Dev! Aku beneran cuma butuh istirahat aja kok!” dengan lemas Arumi memohon pada Devandra agar dia tidak menelepon dokter untuk datang. “Tapi Rumi, aku tuh khawatir! Aku takut kamu …” Brukk! “ARUMII!!” Devandra berteriak histeris karena tiba-tiba Arumi kehilangan kesadarannya dan tergeletak di depan Devandra. Kepala bagian belakangnya membentur lantai. Sekuat tenaga Devandra mengangkat tubuh Arumi dan meletakannya di atas ranjang. Dia mengambil kembali selimut yang tadi dia lempar ke lantai lalu menyelimuti tubuh Arumi agar dia tidak merasa kedinginan. Setelah itu Devandra berlari keluar kamar Arumi menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Arumi untuk mengambil ponsel miliknya. Langsung diteleponnya dokter pribadi keluarga mereka untuk segera datang dan memeriksakan kondisi Arumi.   ***   “Devandra, ada apa? Sepertinya tadi kamu teriak?” Ibu Shanum datang dari arah tangga dan melihat Devandra yang hendak kembali ke kamar Arumi. “Ma, Arumi pingsan. Badannya juga panas banget Ma. Devandra sudah panggil dokter pribadi kita, tinggal tunggu dia datang untuk memeriksa Arumi.” “Apa? Pingsan?” Ibu Shanum pun ikut panik dan melangkah cepat memasuki kamar Arumi. Ibu Shanum mendekati ranjang Arumi dan meletakan telapak tangannya ke kening Arumi. “Panas banget badan Arumi, kenapa kamu gak bilang sih Dev kalau Arumi tuh demam!” Ibu Shanum menyalahkan Devandra karena dia sudah sangat panik. “Devandra juga gak tahu Ma! Baru tahu tadi pas Devandra ke kamar dia!” Devandra membela dirinya sendiri. “Ya sudah, Mama mau samperin Papa dulu, mau bilang kalau Mama nemenin Arumi saja di rumah!” Ibu Shanum pun berjalan dengan sangat cepat keluar dari kamar Arumi. Arumi masih belum membuka matanya. Di kesempatan ini Devandra memperhatikan wajah Arumi dengan intens. Wajah Arumi sebenarnya sangat cantik, namun dia selalu memoles wajahnya dengan make up yang natural, bahkan jika di rumah dia hampir tidak pernah menggunakan make up. Kulitnya yang putih membuat wajah Arumi terlihat semakin pucat saat ini. Hidungnya yang kecil dan tidak terlalu mancung, juga matanya yang berbentuk seperti kacang almond, dilengkapi dengan bulu mata yang lentik alami membuat Arumi tampak sangat cantik dan sempurna. Devandra menggerakan tangannya membelai pipi Arumi dengan lembut. Dia salurkan rasa sayang yang selama ini dipendamnya selagi Arumi masih belum membuka mata. Karena jika Arumi sudah membuka matanya maka sudah bisa dipastikan tangan Devandra akan langsung ditepis olehnya. Tangan Devandra kini naik membelai kepala Arumi. Perlahan dia memajukan wajahnya mendekati wajah Arumi. Dikecupnya lama kening Arumi dengan penuh perasaan. “Rumi, jangan sakit dong.. Nanti aku bisa sedih..” katanya setelah mendaratkan kecupan di kening Arumi. Kecupan Devandra tadi juga membuat Arumi tersadar dari pingsannya. Arumi membuka kedua matanya, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan bingung. “Arumi? Kamu sudah sadar?” Devandra mendekap tangan Arumi dengan erat. Arumi melirik Devandra yang duduk di sampingnya dengan raut wajah khawatir. “Sadar? Memangnya aku kenapa?” “Kamu tadi pingsan, Rumi! Untung sekarang kamu sudah sadar!” jawab Devandra cepat. Arumi mengerutkan dahinya, dia juga mengurut keningnya yang terasa sangat pusing. “Rumi, kamu kenapa? Kepala kamu sakit? Sini biar aku urut kepala kamu.” Dengan sigap Devandra menggeser tangan Arumi dan menggantikannya mengurut kening Arumi dengan perlahan. “Sabar ya, sebentar lagi dokter datang, kita periksain kesehatan kamu dulu!” lanjut Devandra. Arumi menghela nafas panjang, lalu dirasakan sakit di bagian kepala belakangnya. Tentu saja Arumi merasakan kepala bagian belakangnya sakit, dia tadi terjatuh dan kepalanya membentur lantai. “Dev..” “Iya, Rumi?” “Kepala belakang aku sakit banget.” “Iya, tadi pas kamu pingsan kepala kamu membentur lantai. Nanti kamu bilang ke dokter ya!” tangan Devandra yang tadi memijat kening Arumi kini membelai lembut kepalanya. Devandra benar-benar bersikap sangat lembut dan sangat menunjukan perhatiannya. Baru pertama kali selama Arumi melihat Devandra seperti itu selama tinggal di rumah tersebut. Selama ini Devandra berlagak menunjukan perhatiannya jika hanya sedang berada di depan kedua orang tuanya. Tak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksakan kondisi Arumi. Devandra dan Ibu Shanum terus mendampingi Arumi sampai pemeriksaan selesai. “Gimana Dok? Arumi gak kenapa-kenapa ‘kan?” tanya Ibu Shanum sesaat setelah dokter selesai memeriksakan kondisi Arumi. “Gak apa-apa kok, Bu! Gak perlu khawatir!” jawab sang dokter. “Arumi hanya kelelahan saja, dia juga sepertinya sangat sering telat makan, benar ‘kan Arumi?” sang dokter menoleh pada Arumi. Dia pun mengangguk pelan menjawabnya. Setelah itu sang dokter memberikan selembar kertas kecil bertuliskan resep obat yang harus dibeli pada Ibu Shanum. Lalu dokter tersebut diantar oleh Ibu Shanum sampai ke tempat dia memarkirkan mobilnya di depan rumah. Arumi kembali memejamkan mata karena kepalanya masih sangat terasa berat. Devandra pun tetap setia menemaninya sampai Arumi benar-benar tertidur pulas. Setelah itu Devandra meninggalkan Arumi untuk beristirahat, dia masih harus pergi ke tempat pemotretan. Melihat jam yang menempel di dinding Arumi, sudah bisa di pastikan dia sudah sangat terlambat sampai ke tempat tersebut.   ***   “Lia, si Rumi absen ya hari ini?” tanya Adelio pada sang adik. Adelia mengangguk, “Iya, tadi dia chat sih katanya lagi gak enak badan.” Jawab Adelia. “Perasaan semalam dia masih sehat-sehat aja deh!” “Namanya penyakit kan gak tahu kapan mau datangnya, Lio.” Balas Adelia. “Iya juga sih! Mau jenguk ke rumahnya gak?” ajak Adelio. “Boleh! Ya sudah sepulang jam terakhir kita langsung ke rumah Rumi!” Adelia menyetujui ajakan sang kakak. Mereka berdua sudah bersahabat lama dengan Arumi. Hal tersebut membuat mereka saling mengkhawatirkan satu sama lain. Ditambah lagi Adelia dan Adelio tahu kalau Arumi kini sudah tidak mempunyai orang tua, membuat mereka merasa ikut bertanggung jawab memastikan kesehatan dan juga kebahagiaan Arumi. Sementara itu di tempat lain, Rangga menunggu kedatangan Arumi di restoran. Ini memang belum siang, tetapi Rangga sangat setia memperhatikan sekeliling menunggu kedatangan Arumi. Rangga masih belum tahu jika Arumi sedang sakit dan tidak akan datang ke restoran hari ini. Rangga ikut membantu para pelayan di restoran. Sampai tak terasa waktu sudah pukul setengah 4 sore. Arumi seharusnya sudah datang, karena jadwal dia bekerja mulai dari jam 2 siang. Rangga memberikan buku menu yang dipegangnya pada salah satu pelayan yang berada tak jauh darinya. Kemudian dia pun melangkahkan kakinya cepat menuju ke ruang loker sambil mengedarkan pandangan berkeliling. Arumi masih belum terlihat di setiap sudut restoran. Rangga berpikir mungkin Arumi berada di ruang loker. Rangga membuka pintu ruang loker dengan mantap. Namun tak ada siapa pun di dalam ruangan tersebut. Rangga kembali menutup pintu ruang loker. Dia kembali berjalan menuju tempatnya semula. “Pak Rangga!” Sasha memanggilnya dan menghampirinya sambil berlari kecil. Rangga menoleh ke kanan dan melihat Sasha datang menghampirinya. Nafas Sasha sedikit terengah saat sudah berada di hadapan Rangga. Mungkin karena restoran sedang banyak tamu hari ini, dan juga dia sudah bekerja sedari pagi saat restoran buka, dia juga harus berlari kecil menghampiri Rangga jadi dia sudah cukup lelah sehingga membuat nafasnya terengah. “Ada apa Sasha? Butuh bantuan?” tanya Rangga. “Bukan, Pak. Saya mau kasih kabar kalau hari ini Arumi gak bisa masuk kerja. Dia sakit, Pak!” Sasha kemudian mengeluarkan ponsel dari saku apron yang digunakannya. “Ini Pak chatnya dia!” Sasha menunjukan layar ponselnya pada Rangga. “Kok dia gak langsung hubungi saya?” tanya Rangga bingung. “Memang Pak Rangga pernah kasih tahu kita nomor ponsel bapak?” Rangga menepuk keningnya pelan, “Iya maaf saya lupa kasih tahu kalian! Ya sudah kamu lanjut kerja lagi, makasih ya sudah kasih tahu saya kalau Arumi sakit.” Sasha mengangguk lalu kembali bekerja melayani para tamu yang datang ke restoran. Rangga menghela nafas lesu. Ingin hati dia menjenguk Arumi namun apa daya Rangga juga tak tahu dimana Arumi tinggal. Arumi kini sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya sambil membaca sebuah novel. Kepalanya sudah tidak terasa sakit, namun dia masih merasa sedikit lemas di seluruh tubuhnya. “Rumiiii!!” sapa Adelia arah pintu kamar. “Lia!” Arumi terkejut karena sahabatnya datang menemuinya. Adelia langsung berlari menghampiri Arumi dibuntuti oleh Adelio di belakangnya. Dipeluknya sangat erat Arumi sehingga membuatnya sedikit sesak. “Lia! Kasihan itu Arumi sesak nafas gitu!” seru Adelio seraya menarik lengan sang adik agar melepaskan pelukannya dari Arumi. “Uhuk! Hahaha, gak apa-apa Lio, si Lia kayaknya kangen banget sama aku!” kata Arumi sambil tertawa. “Kamu sakit apa sih, Rumi? Semalam kan kita masih bakan bareng!” tanya Adelia. “Cuma kecapekan aja kok! Ini juga udah mendingan!” Arumi menjawab sambil menyunggingkan senyumnya. “Iya sudah pasti kamu kecapekan, pulang kuliah kamu langsung kerja di restoran, makannya juga sudah apsti telat ‘kan!” celetuk Adelio. “Makanya Rumi kamu tuh gak usah kerja sambilan lagi deh! Kalau memang harus banget kerja sambilan, yaa seminggu 3 kali saja! Kamu kayak orang yang kekurangan uang saja deh, Rumi!” sambut Adelia. “Sekarang kamu harus banyak istirahat, urusan kerjaan kamu kalau perlu nanti aku yang izin sama si Rangga!” Adelio menambahkan. Arumi hanya melebarkan senyumnya. Dia tidak ingin dinasihati lebih jauh lagi oleh si kembar. Arumi sudah sangat kenyang dengan semua nasihat yang diberikan oleh mereka semenjak kedua orang tuanya tiada. Si kembar memang sangat ikut andil dalam kehidupan Arumi bahkan sebelum kedua orang tuanya meninggal. Mereka besar bersama, bermain bersama, juga bersekolah di tempat yang sama. Arumi benar-benar menganggap mereka sebagai saudara sendiri. Kalau bisa malah Arumi jadi kembar yang ketiganya. “Rumi, ini aku bawakan kamu buah!” Devandra datang dan membawakan sepiring buah-buahan yang sudah dipotong-potong. “Loh ada kalian ternyata!” seru Devandra saat melihat Adelia dan Adelio berada di dalam kamar Arumi. Devandra meletakan piring berisi buah tersebut di meja rias yang berada di sudut kamar Arumi. “Ini aku taruh sini saja ya, Rumi! Bisa kamu makan bareng teman-teman kamu nanti.” kata Devandra. “Iya, makasih ya.” jawab Arumi. Devandra pun langsung melangkah menuju ke arah pintu. Namun tiba-tiba Adelio memanggilnya dan menghentikan langkahnya. “Devandra!” Devandra membalikan tubuhnya menatap Adelio. “Ya?” “Gue mau ngobrol sebentar!” Adelio langsung berjalan mendekati Devandra. “Kita ngobrol di tempat lain saja!” ajak Adelio yang kemudian melangkah terlebih dahulu memimpin Devandra. Arumi sempat menatap Adelia dengan tatapan bertanya-tanya. Adelia hanya mengendikan bahunya tak tahu mengapa kakak kembarnya mengajak Devandra berbicara. Arumi sebenarnya bisa menebak apa yang akan dibicarakan Adelio. Itu pasti ada hubungannya dengan diri Arumi sendiri. Karena sejak Arumi menikah dengan Devandra, Adeliolah yang sangat protektif dan mengkhawatirkan pernikahan Arumi. Adelio akan sangat marah jika mengetahui Devandra menyakiti Arumi, walau hanya karena tidak disengaja. Namun, Arumi masih belum menyadari jika Adelio berbuat seperti itu karena Adelio mempunyai perasaan yang berbeda pada Arumi. Dia sangat menyayangi Arumi sebagai seorang wanita, bukan sebagai seorang adik seperti yang dipikirkan oleh Arumi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN