Secret 8

1663 Kata
“Gue mau ngobrol sebentar!” Adelio langsung berjalan mendekati Devandra. “Kita ngobrol di tempat lain saja!” ajak Adelio yang kemudian melangkah terlebih dahulu memimpin Devandra. Arumi sebenarnya bisa menebak apa yang akan dibicarakan Adelio. Itu pasti ada hubungannya dengan diri Arumi sendiri. Karena sejak Arumi menikah dengan Devandra, Adeliolah yang sangat protektif dan mengkhawatirkan pernikahan Arumi. Adelio akan sangat marah jika mengetahui Devandra menyakiti Arumi, walau hanya karena tidak disengaja. Namun, Arumi masih belum menyadari jika Adelio berbuat seperti itu karena Adelio mempunyai perasaan yang berbeda pada Arumi. Dia sangat menyayangi Arumi sebagai seorang wanita, bukan sebagai seorang adik seperti yang dipikirkan oleh Arumi.   ***   Adelio dan Devandra kini duduk bersebelahan dengan jarak yang cukup lebar memisahkan mereka. Mereka berdua duduk di sebuah kursi panjang yang ada di teras belakang rumah Devandra. “Apa yang mau lo omongin?” tanya Devandra. “Lo pasti tahu kok, ini tentang Arumi.” Adelio menolehkan kepalanya ke kanan, ke arah Devandra, dan menatapnya dengan tajam. Devandra pun menolehkan kepalanya ke kiri, menatap Adelio dengan tatapan bingung sambil mengernyitkan dahinya. “Gue sebagai sahabat Arumi tahu kok kalau kalian menikah karena permintaan orang tua lo, dan sepertinya lo juga gak mau kalau banyak orang tahu jika kalian sudah menikah. Benar kan?” Devandra mengangkat alis kirinya, “Lalu?” “Dev, lo masih belum bisa menjaga Arumi dengan baik. Lo ngebiarin Arumi kerja keras sampai kelelahan dan telat makan. Hasilnya, Arumi sekarang sakit!” kata Adelio dengan nada ketus. “Itu kemauan dia buat bekerja. Gue dan orang tua gue udah sering minta dia buat gak usah kerja! Lo gak bisa nyalahin gue!” Devandra membela dirinya. “Apa lo pernah tahu alasan Arumi kenapa dia maksa banget buat cari uang sendiri?” “Dia mau biayain kuliahnya sendiri!” jawab Devandra cepat. Adelio mendengkus dan tersenyum miring. “Cuma itu yang lo tahu?” sindirnya. “Memangnya ada lagi?” “Arumi mau lanjutin keinginan almarhum kedua orang tuanya, membangun sebuah yayasan yatim piyatu dan tunawisma.” Adelio memalingkan wajahnya dari Devandra dan menatap ke langit yang luas. “Bagi Arumi, ini adalah cita-cita kedua orang tuanya yang harus dia kabulkan. Dia bekerja keras dan benar-benar menyisihkan gaji yang dia terima. Kebetulan kedua orang tua lo juga maksa Arumi agar mau dibiayai kuliahnya. Lima puluh persen gaji Arumi dia tabung, dan sisanya dia pakai untuk keperluan mendesak. Bahkan sisa dari gaji Arumi itu juga dia bagi dua dan dia sumbangin ke salah satu panti asuhan yang ada di deket kampus. Lo pasti gak tahu ‘kan?” Adelio melirik tajam pada Devandra. Apa yang baru saja dikatakan Adelio tadi langsung membungkam mulut Devandra. Terlihat raut wajah tak percaya dari Devandra karena Arumi benar-benar berusaha keras untuk almarhum kedua orang tuanya. Dia merasa sangat gagal menjadi seorang suami. Bahkan istrinya saja tak pernah mengatakan hal tersebut padanya. Mungkin karena Arumi merasa Devandra masih beulum pantas untuk dipercaya? “Dev!” seru Adelio seraya bangkit dari duduknya. “Pernikahan kalian masih di rahasiakan ‘kan?” lanjut Adelio bertanya. “Iya, kenapa?” “Setelah Arumi lulus nanti tolong lepasin Arumi! Gue yang bakal jaga dia!” Genderang perang telah dibunyikan. Devandra menatap kesal Adelio yang berjalan menjauh meninggalkannya. Walau sampai saat ini dia masih menyembunyikan pernikahannya pada khalayak umum, tetapi jauh di dasar hati Devandra dia sudah sangat jatuh cinta pada seorang Arumi. Dia tak akan melepaskan Arumi sampai kapan pun. Dia akan mencari cara dan juga waktu yang tepat untuk mengungkapkan pernikahannya. Dengan begitu Arumi akan sepenuhnya menjadi milik Devandra. “Bos Dave!” Ghani berjalan menghampiri Devandra. “Itu cowok tadi siapa Bos? Temannya Bos Dave?” tanya Ghani yang berpapasan dengan Adelio saat ingin menghampiri Devandra. “Bukan!” jawab Devandra dengan lantang seraya bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Ghani. “Temannya Nona Arumi kali ya, Bos? Ganteng juga!” seru Ghani. Devandra menghela nafas berat lalu melangkah melewati Ghani. Dengan cepat Ghani pun mengikuti langkah Devandra di belakangnya. “Bos, hari ini kita akan mulai syuting untuk sinetron kejar tayang. Yang jadi lawan main Bos Dave itu si Quinsha! Artis yang sama-sama lagi naik daun seperti Bos Dave! Pasti sinetron ini bakal dapat rating yang bagus banget deh!” Ghani berbicara sendirian di belakang Devandra. Dia mengira Devandra mendengarkannya, tetapi untuk sesaat indera pendengar Devandra tidak berfungsi karena pikirannya sedang melayang jauh memikirkan perkataan Adelio tadi. Bahkan di dalam mobil pun Devandra menyuruh Ghani untuk berhenti berbicara karena dia masih sangat bingung memikirkan cara untuk menandai jika Arumi hanya boleh menjadi miliknya seorang. Sesampainya di lokasi syuting, Ghani langsung memimpin Devandra menuju ke ruang ganti. Ghani juga bertugas untuk menata penampilan Devandra. Saat Devandra membaca naskah untuk sinetron kejar tayangnya, Ghani sibuk merapihkan rambut dan juga sedikit memoleskan bedak ke wajah Devandra agar terlihat semakin tampan di dalam kamera. “Permisi..” suara lembut seorang wanita terdengar dari balik pintu ruang ganti Devandra. Devandra dan Ghani kompak menolehkan kepalanya ke arah pintu. “Siapa itu Ghan? Coba buka pintunya!” titah Devandra. “Okee Bos!” Ghani pun menghentikan sementara kegiatannya untuk membukakan pintu. Dari suaranya sepertinya itu adalah seorang wanita yang sangat cantik. Apa mungkin itu adalah Quinsha, lawan main Devandra? “Ya ampun benar ternyata Quinsha!” seru Ghani heboh melihat Quinsha berada di balik pintu. Quinsha menyunggingkan senyum lebar pada Ghani yang baru saja membukakan pintu untuknya. Kemudian Quinsha melirikan matanya pada Devandra yang duduk di dalam ruang ganti. Bahkan walau belum selesai ditata rambutnya, Devandra sudah terlihat sangat tampan. “Dave, bisa kita ngobrol?” pinta Quinsha. “Boleh kok boleh banget! Silahkan masuk cantik!” Seru Ghani seraya mempersilahkan Quinsha masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruang ganti tersebut tersedia 4 bangku yang berjajar di depan sebuah cermin yang sangat lebar. Devandra duduk di kursi kedua dari sebelah kanan. Kemudian Quinsha dengan sangat percaya diri duduk di kursi ketiga dari sebelah kanan, tepat di sebelah Devandra. Ghani senyum-senyum sendiri melihat Devandra dan Quinsha yang duduk bersebelahan seperti ini. Pasangan yang sangat serasi, begitulah yang ada dalam benak Ghani. Namun sangat disayangkan, Devandra sudah ada yang punya. Ghani mengetahui hal tersebut karena Ghani adalah asisten pribadi Devandra. Devandra tidak terlalu mengindahkan kehadiran Quinsha yang kini sudah duduk dan tersenyum di sebelahnya. Dia masih terus berusaha fokus menghafal naskah yang ada di tangannya. “Hai, Dave!” sapa Quinsha. “Hai juga!” jawab Devandra tanpa melirik sedikit pun pada Quinsha. “Dave, kamu masih belum hafal naskahnya? Mau aku bantu? Kan lebih enak kalau langsung ada lawan mainnya.” Quinsha mengajukan diri untuk membantu Devandra dengan senang hati. Pada akhirnya Devandra melirikan matanya pada Quinsha. “Aku gak butuh bantuan kamu!” katanya dengan ketus. Membuat Quinsha sedikit merasa jengkel. “Ya sudah kalau memang gak butuh bantuan aku, gak apa-apa kok! Aku kan hanya menawarkan bantuan saja. Biar nanti pas kita take itu bisa langsung bagus hasilnya.” Setelah mengatakan hal tadi Quinsha dengan cepat mengangkat bokongnya dan bergegas pergi dari ruangan Devandra. Sungguh kesan pertama yang sangat menjengkelkan. Quinsha tidak menyangka jika seorang Dave yang digandrungi gadis remaja itu ternyata sikapnya sangat ketus. “Dasar artis baru!” ejek Quinsha saat keluar dari ruangan Devandra. “Haduuhhh Bos Dave! Jangan ketus gitu sama Quinsha kenapa sih!” Ghani yang gemas dengan sikap Devandra tadi kini duduk di tempat Quinsha tadi. “Lagian kenapa sih dia pakai datang kesini? Ganggu orang lagi konsentrasi ngafalin naskah aja sih!” ujar Devandra kesal. “Dia kan udah baik mau bantuin Bos, kenapa malah Bos marahin!?” “Siapa juga yang marah! Udah deh lo gak usah berisik! Lanjut aja tata rambut gue!” Devandra malas mendengar ocehan Ghani. Setelah menghela nafas panjang, Ghani pun lanjut menata rambut Devandra. Dia melakukan pekerjaannya itu sambil tersenyum masam. Kini sudah waktunya Devandra untuk memulai perannya di depan kamera. Peran yang dimainkan Devandra kali ini adalah seorang pemuda yang sangat mencintai pasangannya dan akan melakukan segala cara agar tidak kehilangan pasangannya itu. “Camera! Rolling! ACTION!” sang sutradara memberi aba-aba bagi Devandra dan Quinsha untuk memainkan peran mereka. Quinsha berperan sebagai Ratu, gadis kaya raya yang bisa dengan mudah mendapatkan apa pun yang dia mau. Termasuk untuk mendapatkan cintanya. Quinsha menuruni sebuah mobil mewah, lalu menemukan Devandra, yang berperan sebagai Raja, lelaki yang mengejar cinta Ratu. Devandra sudah berlutut dengan setangkai bunga mawar merah di tangannya. Menyodorkan bunga tersebut pada Quinsha, berharap Quinsha menerimanya dengan tersenyum. “Ratu, terimalah setangkai bunga ini sebagai pernyataan cintaku!” Devandra mengucapkan dialognya. “Huh!” Quinsha mendengkus. “Setangkai bunga murahan itu untuk aku? Sorry, kamu bukan levelku!” lanjut Quinsha mengucapkan dialognya. Quinsha melangkahkan kakinya lalu dia melakukan adegan seolah tersandung sesuatu di jalan yang dilewatinya. Quinsha yang ingin terjatuh ditangkap oleh Devandra. Devandra kemudian memeluk Quinsha dan kini mereka berdua saling bertatapan. “Kamu gak apa-apa Ratu?” tanya Devandra sesuai dengan dialognya. Jarak yang begitu dekat antara Quinsha dan Devandra membuat jantung Quinsha berdegub dengan cepat. Quinsha kini bisa dengan jelas melihat wajah Devandra yang sangat tampan. Tatapan mata Devandra yang penuh cinta juga membuat Quinsha semakin jatuh ke dalam perasaan sukanya. “CUT!! Okay bagus Dave dan Quinsha!” seru sang sutradara mengakhiri peran mereka. Tatapan Dave yang tadinya penuh cinta langsung berubah menjadi sangat dingin pada Quinsha. Dia melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh dari Quinsha. Tatapan penuh cinta tadi adalah tatapan Raja pada Ratu yang dicintainya. Bukan Dave pada Quinsha. Tatapan itu hanyalah acting semata. Devandra memang sangat handal memainkan perannya sehingga membuat Quinsha benar-benar jatuh hati padanya. Inilah salah satu alasan mengapa Devandra dengan cepat meraih popularitasnya. “Dave!” Quinsha berlari mendekati Devandra dan menarik tangannya. Devandra pun membalikan tubuhnya. “Kenapa?” tanya Devandra dengan nada sinis. “Gimana kalau kita pacaran beneran?” ajak Quinsha. Dengan penuh keberanian Quinsha mengajak Devandra untuk berpacaran. Mungkin untuk aktor lainnya tidak akan mungkin menolak ajakan Quinsha. Dia begitu cantik. Namun akankah Devandra menerima ajakan Quinsha? Karena jika mereka berdua berpacaran kemungkinan popularitas keduanya akan semakin naik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN