Secret 9

1648 Kata
“Dave!” Quinsha berlari mendekati Devandra dan menarik tangannya. Devandra pun membalikan tubuhnya. “Kenapa?” tanya Devandra dengan nada sinis. “Gimana kalau kita pacaran beneran?” ajak Quinsha. Dengan penuh keberanian Quinsha mengajak Devandra untuk berpacaran. Mungkin untuk aktor lainnya tidak akan mungkin menolak ajakan Quinsha. Dia begitu cantik. Namun akankah Devandra menerima ajakan Quinsha? Karena jika mereka berdua berpacaran kemungkinan popularitas keduanya akan semakin naik.   ***   Devandra menaikan alis kirinya, “Kamu bilang apa tadi?” tanya Devandra atas ajakan Quinsha. “Gini Dave, dengerin aku dulu! Ini biar chemistry antara kita lebih kelihatan alami kalau kita beneran pacaran. Lagipula itu juga kan bagus untuk naikin rating sinetron kita. Semua fans kita pasti senang!” Quinsha berusaha menjelaskan maksud dari ajakannya. “Gak perlu, kalau kamu memang artis hebat kamu bisa buktiin sama fans kamu kalau kamu bisa menjalin chemistry saat kita di hadapan kamera. Gak harus ikut berpacaran di dunia nyata.” Dengan tegas Devandra memberikan penolakan pada Quinsha. Devandra menarik tangannya yang sedari tadi di pegang oleh Quinsha. Kemudian dia berjalan meninggalkan Quinsha. Sungguh semakin jengkel Quinsha dibuatnya. Quinsha pun hanya bisa menatap punggung Devandra yang sudah semakin jauh dari pandangannya. “Lihat aja nanti! Lo bakal bertekuk lutut di hadapan gue! Lo bakal jadi milik gue, Dave!” seru Quinsha dengan suara pelan. Quinsha benar-benar sangat berambisi memiliki Devandra. Dia sudah jatuh hati pada Devandra. Namun sayangnya Quinsha belum menegtahui jika Devandra sudah menikah dan memiliki istri. Gadis cantik itu pun berbalik dan melangkahkan kakinya berlawanan arah dengan Devandra. Quinsha memilih untuk menunggu take berikutnya di dalam mobil miliknya yang terparkir tak jauh dari lokasi syuting. “Mba Quin kenapa cemberut gitu?” tanya seorang wanita pada Quinsha. Sepertinya wanita tersebut adalah manager sekaligus asisten pribadi Quinsha. Quinsha hanya menggelengkan kepalanya lalu mengambil ponselnya dari dalam tas yang diletakan di dalam mobil. Kemudian dia menyibukan dirinya dengan bermain game di ponselnya tersebut. Di tempat lain, di ruang ganti Devandra, Ghani dengan cepat menghampiri Devandra saat Devandra melangkah masuk ke dalam ruangan. Ghani menyeka bulir keringat yang tampak di kening Devandra dengan tissue. Kemudian Devandra duduk di salah satu kursi yang tersedia disana sambil membaca kembali naskah yang harus dia hafalkan. Setelah menyeka keringat Devandra, Ghani lanjut merapihkan tatanan rambut Devandra, juga memoles sedikit bedak ke wajah Devandra. “Ghan! Udah telepon Mama atau Arumi?” tanya Devandra pada Ghani. “Belum Bos!” jawab Ghani singkat di sela-sela kegiatannya. “Coba lo telepon Arumi, tanyain gimana kondisi dia!” pinta Devandra. Ghani pun menuruti permintaan bosnya tersebut. Dia merogoh saku celananya mengambil ponsel dari dalamnya. Dihubunginya nomor Arumi. “Ya, halo!” suara seorang lelaki menjawab panggilan telepon dari Ghani. “Loh, kok suara cowok? Nona Arumi dimana?” Ghani menanyakan keberadaan Arumi. Mendengar jika seorang lelaki yang menerima telepon, Devandra langsung mengerlingkan mata pada Ghani yang berdiri di sampingnya. Devandra penasaran siapa lelaki tersebut. “Arumi? Dia lagi tidur.” “Lagi tidur? Ini siapa sih?” Ghani mulai penasaran dengan lelaki yang menerima panggilan telepon dari ponsel Arumi. Tak hanya Ghani, Devandra juga semakin penasaran. Ditambah hatinya mulai memanas mengetahui ada lelaki lain di samping Arumi. Secepat kilat Devandra merampas ponsel Ghani untuk bisa berbicara dengan lelaki tersebut. “Halo! Kasih ponselnya ke Arumi!” seru Devandra dengan nada keasl. “Arumi lagi tidur, jangan diganggu dulu!” jawab lelaki tersebut. Devandra mengenali suara lelaki tersebut. “Adelio? Kok lo seenaknya angkat telepon buat Arumi!” “Karena ponselnya berdering, dan Arumi baru tidur. Gue gak mau tidurnya terganggu.” Jawab Adelio. “Adelia mana? Biar Adelia aja yang nemenin Arumi!” “Adelia? Dia ada urusan lain, jadi gue yang ngejagain Arumi di kamarnya.” “Apa? Jadi cuma ada lo sama Arumi di kamar? Berduaan? Gak boleh! Lo gak boleh nemenin Arumi di kamar!” bentak Devandra kesal sampai-sampai dia berdiri dan mendorong kursinya ke belakang. “Arumi harus ada yang nemenin, takutnya dia butuh apa-apa. Sudah ya, daahh!” Adelio langsung mengakhiri panggilan teleponnya. “Halo!? Halo!? Arghh sial!!” Devandra melempar ponsel Ghani ke meja yang ada di hadapannya karena kesal. “Booss!! Itukan punya saya kenapa dilempar gitu??” sontak Ghani berteriak heboh melihat ponselnya yang dilempar oleh Devandra. Devandra tidak memperdulikannya. Hatinya sangat kesal mengetahui Adelio bersama dengan Arumi di dalam kamar. “Lio? Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” Adelia heran pada kakak kembarnya. “Gak apa-apa, Lia! Ya sudah kita pulang sekarang. Rumi udah tidur, kita jangan ganggu dia.” Ajak Adelio. Sebenarnya Adelia tidak ada urusan apapun yang mengharuskannya meninggalkan Adelio berdua saja dengan Arumi. Dia hanya pergi ke toilet untuk menuntaskan panggilan alam. Adelio tampak sangat senang bisa mengerjai Devandra.   ***   Keesokan harinya Arumi sudah merasa sangat sehat. Dia langsung berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Kebetulan memang hari ini ada dosen yang meminta murid-muridnya untuk hadir jam setengah 8 pagi. “Tadaaa!!” seru Arumi sambil berpose di hadapan Adelio dan Adelia. “Rumiiii..!!” Adelia melompat dan memeluk Arumi. “Kamu memangnya sudah sehat banget?” tanya Adelio yang masih sedikit khawatir dengan kesehatan Arumi. “Udah kok! Lagian bosen juga di rumah mulu!” jawab Arumi sambil tersenyum lebar. Adelio meletakan tangannya di kening Arumi. “Masih sedikit hangat sih badan kamu. Sepulang kuliah nanti lebih baik kamu gak usah kerja dulu ya!” pinta Adelio. “Iya, Rumi! Kamu gak usah kerja dulu ya! Nanti aku yang bilang sama Rangga!” Adelia menambahkan. “Rangga?” tanya Arumi bingung. “Iya! Rangga manager kamu itu Rumi. Kita cukup sering kirim-kiriman pesan.” Arumi mengerutkan dahinya dan menatap Adelia dengan memasang senyum aneh di wajahnya. Adelia pun merasa tatapan Arumi tak seperti biasanya. Adelia mencubit pipi Arumi sampai Arumi mengaduh kesakitan. “Duh! Sakit Lia!” seru Arumi seraya memegang pipinya yang memerah karena dicubit. “Lagian kamu ngapain sih ngelihat aku kayak gitu?” Arumi kembali tersenyum dan perlahan mendekatkan wajahnya pada Adelia. “Kamu kayaknya makin dekat ya sama Rangga?” bisik Arumi. Adelia pun menjauhkan wajah Arumi dengan mendorong keningnya mundur. “Dia sering chat aku karena nanyain kondisi kesehatan kamu!” Arumi menjelaskan. “Kamu udah punya penggemar ya, Rumi!” celetuk Adelio. “Ih, apaan sih! Lagian kenapa si Rangga malah nanya kondisi aku sama kamu Lia? Tanya Arumi heran. “Yaa mana aku tahu!” jawab Adelia sambil mengendikan bahunya. Kemudian dosen mereka pun masuk ke kelas dan bersiap memulai pelajaran pagi ini. Arumi, Adelia dan Adelio langsung menempati kursi mereka masing-masing. Sementara itu di rumah mewah tempat tinggal Arumi dan Devandra, beserta orang tua Devandra, terjadi sedikit kehebohan. Devandra mencari-cari Arumi di rumah tersebut, namun Arumi sudah tak ada di sana. Devandra sama sekali tidak mengetahui jika Arumi sudah berangkat kuliah pagi-pagi sekali. “Apa Ma? Arumi sudah berangkat kuliah?” tanya Devandra dengan nada terkejut sekaligus kesal. “Iya, Dev! Dosennya minta kelas dimulai jam setengah delapan katanya.” Jawab Ibu Shanum. “Kenapa Mama izinin Arumi berangkat kuliah Ma? Dia kan belum sembuh banget!” “Dia yang maksa, Dev. Kamu tahu sendiri kalau Arumi sudah punya kemauan tuh sulit untuk dilarang!” Devandra langsung terduduk lesu di sofa ruang tamu. Ibu Shanum ikut duduk di samping Devandra. “Dev, Mama mau minta sesuatu boleh?” Devandra kemudian menolehkan kepalanya pada sang mama. “Minta apa, Ma?” tanya Devandra. “Mama mau kamu dan Arumi mulai sekarang tidur di satu kamar yang sama. Kamu mau kan menuruti apa kemauan Mama itu?” “Tapi Ma, Devandra belum siap.” “Belum siap kenapa? Kalian kan sudah suami istri! Gak perlu nunggu Arumi lulus kuliah. Mama sudah tahu kok tentang perjanjian yang kalian berdua buat.” Tubuh Devandra mendadak tegang mendengar ucapan dari sang mama. Apa benar mamanya itu sudah mengetahui semuanya? Atau hanya menebak-nebak saja? “Kamu gak usah kaget gitu, Dev! Gak perlu mengelak juga!” seru Ibu Shanum. “Kamu pikir Mama kamu ini orang biasa? Mama punya orang suruhan yang bisa Mama minta untuk menginvestigasi semua hal. Kamu jangan lupa itu!” lanjutnya. Devandra kembali bersandar lemas di sofa. “Jadi Mama sudah tahu?” “Kalian tuh kenapa sih harus merahasiakan pernikahan kalian dari orang-orang? Memangnya kalian malu kalau sudah menikah?” Ibu Shanum memulai interogasi pada putranya yang sudah tak bisa menyembunyikan apa pun darinya. “Bukan gitu Ma!” “Lalu kenapa?” “Baik Devandra dan Arumi sama-sama punya cita-cita yang sedang kami kejar. Profesi Devandra juga kan sebagai public figure Ma, selebriti. Gimana kalau fans Devandra tahu kalau Devandra sudah menikah di usia semuda ini? Mereka pasti pada kabur dan karir Devandra pasti langsung hancur seketika!” Terdengar Ibu Shanum menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan Devandra. Devandra kemudian memegang tangan sang mama dan menatapnya dengan tatapan memohon. “Ma, Devandra mohon Mama gak perlu bahas masalah ini sama Arumi ya. Dia sedang semangat mengejar cita-citanya. Devandra gak mau kalau Mama bicarain hal ini nantinya Arumi malah jadi kepikiran dan jatuh sakit lagi.” Devandra memohon pada Ibu Shanum. “Entahlah, Dev!” jawab Ibu Shanum kehilangan bersemangat. “Devandra akan turuti kemauan Mama untuk tidur di satu kamar yang sama. Tetapi Devandra mohon biarkan rahasia antara Devandra dan Arumi ini tetap menjadi rahasia diantara kami. Mama pura-pura gak tahu saja ya, Ma!” Ibu Shanum pun menganggukan kepalanya lesu menyetujui permintaan putra satu-satunya itu. Ibu Shanum tahu jika baik Devandra dan Arumi punya cita-cita dan impian yang sedang mereka kejar. Ibu Shanum akan mencoba untuk memaklumi keputusan mereka berdua dan berusaha mendukungnya. Namun Ibu Shanum juga takut akan kehilangan Arumi nantinya jika pernikahan mereka masih terus dirahasiakan. Devandra adalah selebriti yang sedang naik daun. Sudah pasti banyak gadis dari kalangan selebriti juga yang mungkin akan mengejarnya. Begitu juga dengan Arumi, dia cantik dan mudah akrab dengan orang lain. Ibu Shanum tidak mau ada lelaki lain yang mencoba mendekati Arumi. Sepertinya sebagai seorang ibu, firasat Ibu Shanum tadi benar-benar tepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN