Katanya, jodoh itu cerminan diri sendiri. Katanya, jodoh itu akan datang jika sudah waktunya. Katanya, jodoh itu tidak bisa menawar. Tapi, ya Tuhan... apakah boleh, sekali saja Dira nego soal jodoh. Ia benar-benar ingin tukar tambah jodohnya sekarang juga. Ia ingin, Jaehyun NCT yang menjadi jodohnya bukan si bos k*****t bin ketus itu. Ia ingin, ingin menghilang dari acara akad nikah ini sekarang juga. Ia masih belum siap jika statusnya berubah menjadi istri dari si bos ketus bin medit itu.
Duduk di samping bosnya, Dira tak henti-hentinya berdoa di dalam hati. Ia berdoa, semoga pernikahan ini batal. Ia berdoa semoga bosnya itu punya pacar lalu pacarnya datang kesini dan mengamuk-ngamuk hingga akhirnya pernikahan mereka batal. Jika itu terjadi, maka Dira akan goyang dombret di tengah jalan untuk menunjukkan seberapa bahagianya ia karena batal menikah dengan bos medit bin ketus itu.
Namun, doa Dira tidak didengar oleh Tuhan. Gadis itu langsung menunduk lesu dengan wajahnya yang suram begitu telinganya mendengar kata 'Sah' mengalun, terucap dari bibir para saksi setelah laki-laki di sampingnya ini berhasil mengucapkan ijab qobul dengan lancar tanpa ada drama-drama salah sebut nama atau yang lainnya. Hamdallah diucapkan, lalu disusul dengan doa. Setelahnya, acara tukar cincin dilakukan. Dira dengan ogah-ogahan mulai memasangkan cincin di jari manis laki-laki itu tanpa menunjukkan senyum sedikitpun.
"Pak?" Dira memanggil dengan suara berbisik.
"Iya?"
"Ini serius kita udah sah?"
Fadli mengangguk. "Iya. Sekarang kamu sudah resmi menjadi istri saya. Dan status jones kamu juga udah hilang."
Dira cemberut mendengar sebutan jones itu. Ia tidak suka ada orang yang memanggilnya jomblo ngenes meskipun kenyataannya memang begitu.
"Nggak usah monyong-monyong. Mau saya sentil itu bibir?" kata Fadli dengan nada ketus.
Dira mendengkus sebal. "Suami jahat!"
***
"Ih, jorok. Abis dari pelaminan, salam-salaman sama banyak orang, bukannya mandi malah tiduran. Mandi sana, Pak! Banyak kuman. Bau keringat juga badan Bapak!" Cibiran itu Dira berikan untuk suaminya yang sedang berleha-leha, rebahan di kasur sambil bermain ponsel.
Fadli menoleh sekilas. "Nanti. Saya masih capek. Mau istirahat dulu sebentar."
"Mandi dulu Pak. Itu kumannya nempel di kasur kalo Bapak kelamaan tiduran disitu. Sana mandi, kalo nggak mau saya guyur pake air seember." Dira menatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Sebentar lagi, Andira. Sini, kamu pijitin kaki saya. Pegel berdiri seharian di pelaminan." Fadli menggerak-gerakkan kakinya, menyuruh Dira memijit kedua kakinya yang pegal.
"Saya nggak bisa mijit."
"Bisa. Tinggal ditekan-tekan doang. Nih, pijitin. Nggak boleh nolak, dosa nolak perintah suami."
Dira mendengkus. Handuknya yang tadi ia pegang dilemparnya ke sembarang arah, lalu dengan ogah-ogahan kakinya mulai melangkah menghampiri suaminya yang berada di atas kasur. Mendudukkan diri di dekat kaki suaminya, Dira mulai memijat kaki laki-laki itu sesuai perintahnya.
"Yang kuat Dir. Nggak terasa itu. Keluarin tenaganya, jangan loyo. Strong. Ayo keluarin tenaga kamu," ucap Fadli tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Wajah Dira ditekuk. Lalu tanpa aba-aba dipencetnya kuat-kuat kaki laki-laki itu hingga sang empunya meringis dan refleks menjauhkan kakinya dari tangan Dira. Fadli terlihat kesakitan, matanya menatap tajam ke arah istrinya yang terlihat cemberut dengan bibirnya yang maju seperti bebek.
"Sakit Dira. Itu namanya nyubit, bukan mijit. Badan ceking tapi tenaga kayak babon," kata Fadli sambil mengusap-usap kakinya yang terasa sakit.
"Tadi katanya suruh kuat mijitinnya. Ya udah, saya teken aja kuat-kuat kaki Bapak," sahut Dira sedikit sewot.
Fadli menghela napas. "Ya udah, iya saya yang salah karena nyuruh kamu mijit kuat-kuat. Saya mau mandi dulu. Nanti baru kita keluar bareng-bareng untuk makan malam," ucapnya, lalu segera beranjak turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Melihat suaminya sudah masuk ke dalam kamar mandi, Dira langsung merebahkan dirinya di kasur sambil memainkan ponselnya. Aplikasi chat berwarna hijau adalah aplikasi yang pertama Dira buka. Dilihatnya beranda chat-nya yang penuh. Penuh dengan pesan-pesan yang dikirimkan teman-temannya hanya untuk mengucapkan selamat serta memberikan godaan untuknya.
Setelah membalas pesan mereka satu persatu, ibu jari Dira beralih membuka aplikasi i********:. Malam-malam begini, enaknya cuci mata setelah seharian matanya hanya melihat sekumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak yang merupakan para tamu undangan. Matanya yang lelah ini butuh asupan vitamin A dengan cara melihat postingan-postingan Jaehyun NCT, Sehun EXO, Jin BTS, Song Joong Ki, Lin yi, dan Kai Exo. Baru saja jarinya menekan postingan Song Joong Ki, memberikan like yang kebetulan baru saja memposting foto. Suara teriakan terdengar nyaring, hingga mampu membuat ponsel yang berada di tangan Dira jadi melompat dan mendarat di dekat kakinya. Suara teriakan itu, berasal dari kamar mandi, dan tak lama kemudian pintu kamar mandi dibuka dengan kasar, menampilkan sosok laki-laki dengan handuk yang hampir melorot berlari terbirit-b***t dengan wajahnya yang pucat dan tubuh yang bergetar ketakutan.
"DIRAAA!" Fadli berteriak, melompat naik ke atas kasur lalu tanpa aba-aba langsung memeluk lengan Dira dengan erat.
"Kenapa sih, Pak? Ada kuntilanak di kamar mandi? Ngintip Bapak mandi? Iya?" Dira bertanya dengan nada malas, sambil berusaha mengambil ponselnya yang berada di dekat kakinya.
Fadli menggeleng. Pelukannya di lengan Dira semakin erat. "Saya takut," ucapnya lirih.
Dira menoleh menatap suaminya. "Kenapa? Di kamar mandi beneran ada setan?"
"Bukan." Perlahan Fadli mendongakkan kepalanya. "Tapi... ada kecoa, Dir! Kecoa! Makhluk kecil yang warnanya cokelat dengan tingkat k*****t kuadrat. Hewan yang paling saya benci. Kecoa k*****t itu ada di kamar mandi kamu, Andira!"
Dira tercengang. "Bapak... takut kecoa?" tanyanya dan segera dijawab dengan anggukan oleh suaminya. "Pfttt." Dira mengatupkan bibirnya, berusaha menahan tawa yang hampir meledak.
"Jangan ketawa!" Fadli memelototi Dira. "Saya sleding kamu kalo berani ngetawain saya. Cepetan, sana buang kecoa nya. Sekalian bunuh dia kalo bisa."
"Ini juga mau saya buang, tapi Bapak malah peluk-peluk saya begini. Lepasin dulu. Saya mau buang kecoa nya."
Fadli menarik tangannya yang tadi melingkar di lengan gadis itu. Tubuhnya mundur, menjaga jarak dengan istrinya. "Sana buang. Saya belum selesai mandinya."
Dira beranjak turun dari ranjang dan segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Begitu sudah sampai, matanya mendapati seekor kecoa sedang berjalan mondar-mandir di dekat bathtub. Sedikit membungkukkan badan, Dira menjiwir kumis kecoa itu lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan seekor kecoa yang berada di tangannya.
"Buang Dira! Buang jauh-jauh!" suruh Fadli. Matanya menatap ngeri ke arah istrinya yang berjalan dengan santai dengan seekor kecoa yang berada di tangannya.
"Saya taruh di ketek Bapak aja, ah. Biar seru ngeliat Bapak jerit-jerit terus berakhir dengan pingsan," sahut Dira dengan senyum jahil yang terukir di bibirnya.
"Beneran saya sleding kamu, kalo sampe berani-beraninya taruh kecoa itu di tubuh saya. Buang Andira! Buang!"
Dira terkikik geli melihat wajah ketakutan suaminya. Langkah kakinya berjalan menuju balkon, begitu sudah sampai, disentil nya tubuh kecoa itu sebelum akhirnya dijatuhkan ke bawah.
Tangan Dira melambai-lambai, dengan pandangan yang turun ke bawah. Menatap kecoa yang ia jatuhkan ke bawah sana. "Dadah kecoa! Gue doain, semoga lo tenang di alam sana."
***