Chapter 4

1065 Kata
 Biasanya, orang-orang akan menghabiskan malam pertama setelah menikah dengan hal yang uwu-uwu hingga mampu membuat jantung tuing-tuing. Biasanya, malam pertama menjadi malam yang paling membahagiakan dan menjadi malam yang tidak akan pernah terlupakan bagi orang-orang. Tapi, tidak dengan Dira yang di malam pertamanya malah dibuat sebal oleh suaminya. Kedua orang itu terus bergulat, memperebutkan selimut. Dira si keras kepala dan Fadli si tidak mau mengalah terus bergulat, melakukan aksi tarik menarik selimut, dan aksi tendang-tendangan untuk membuat lawan kalah.  "Balikin selimut sayaaa!" teriak Dira kesal. Emosinya sudah sampai ubun-ubun. Keinginan untuk mencekik suaminya semakin bertambah besar. "Enggak mau! Kamu cari selimut lain aja sana!"  "Bapaaakk!" Dira menjerit, kakinya berusaha menendang-nendang kaki suaminya agar laki-laki itu kalah." Saya aduin emak saya nih, ya! Balikiiin!" "Aduin aja sana." "Laki-laki itu harusnya ngalah!" Dira mendengkus sebal. "BALIKIIIN BAPAAAK!"     Fadli menekuk wajahnya. Dengan kesal, dilepaskannya selimut yang sedari tadi ia pegang kuat-kuat. Dan hal itu, membuat Dira yang tadinya sedang menarik selimut jadi hampir terjungkal ke belakang kalau saja tangannya tidak ditahan oleh Fadli. "Gitu aja langsung mau ngejungkel. Makanya, punya tenaga. Oh iya, badan cungkring gitu mana ada tenaganya. Daging aja tipis, kebanyakan tulang, kayak tengkorak idup," ejek Fadli dengan wajah songong nya.     Tidak terima dikatai cungkring, tangan Dira refleks memukul lengan Fadli. "Enak aja ngatain saya cungkring! Ini itu body goals!" "Cungkring itu namanya. Ceking, kerempeng, nggak ada daging. Liat aja tuh, perut kamu tipis begitu. Kasian, lambung, usus, sama ginjal kamu kegencet." Fadli menggeleng-gelengkan kepalanya. Miris.     Dira cemberut. "Bodo amat, lah! Terserah! Terserah Bapak! Capek saya." "Capek ya tinggal tidur."     Wajah Dira ditekuk, detik berikutnya direbahkannya tubuhnya dengan posisi yang membelakangi suaminya. Sebelum benar-benar memejamkan mata, Dira menoleh ke belakang, memberi tatapan tajam kepada Fadli. "Awas aja kalo Bapak tidurnya meluk-meluk saya! Alergi tingkat dewa saya dipeluk Bapak!" "Ih, siapa juga yang mau peluk tengkorak idup kayak kamu. Mendingan saya peluk guling aja, masih berisi."     Dira cemberut, tangannya bergerak mengambil guling yang terletak di tengah-tengah mereka lalu memeluknya dengan erat, kemudian posisinya kembali berubah membelakangi Fadli. "Dir." Fadli memanggil dengan suara pelan, tubuhnya bergeser mendekati istrinya. "Kamu marah sama saya?"     Dira tak menjawab. "Andira," panggil Fadli lagi, kali ini satu tangannya sudah menyentuh lengan istrinya. "Jangan ngambek dong. Nanti saya beliin es krim sama balon." "Dikira saya bocil!"  "Dir." "Apa?!" "Enggak mau peluk saya nih? Masa orang ganteng kayak saya dianggurin?"     Mendengar itu tubuh Dira langsung berbalik menghadap suaminya. Ditatap suaminya itu dengan tatapan horor, kemudian satu tangannya mendarat di dahi suaminya. "Oh, pantesan, panas. Minum obat dulu sana! Biar balik waras."     Fadli menepis tangan Dira yang berada di dahinya. "Sembarangan!" sentak Fadli tak terima. "Saya nggak gila ya!"     Dira terkekeh pelan. "Bercanda elah, baperan amat," ucapnya. Kemudian, "Bapak kalo marah lucu, mukanya langsung merah gitu. Eh, tapi, kenapa harus merah ya? Kenapa nggak hijau aja. Kalo hijau kayaknya jadi lebih lucu, kayak Hulk gitu." "Kalo hijau nanti saya jadi buto ijo, dong." Fadli terkekeh pelan, kedua sudut bibirnya membentuk senyuman.  "Masyaallah," gumam Dira, kedua matanya menunjukkan binar-binar kekaguman. "Bapak ganteng banget kalo senyum. Mirip sama mamas duda ganteng. Wei Zhe Ming. Tunggu bentar, Pak. Ini kudu, wajib, harus, diabaikan dalam sebuah potret! Bentar, tahan senyumannya, ganteeeng."  "Jangan!" Fadli mencekal pergelangan tangan Dira yang hendak mengambil ponsel. Ditatapnya wajah istrinya itu dengan tatapan serius. "Jangan foto saya."     Dira mengernyit. "Kenapa? Lumayan tau, bisa saya share di grup ghibah. Kan bisa jadi tranding tuh, di grup. Saya yakin, karyawan-karyawan Bapak di kantor auto heboh plus kejang-kejang liat senyuman Bapak." "Saya nggak mau," Fadli menyahut dengan suara tegas. " Cukup kamu aja yang boleh liat senyuman saya."     Mendengar hal itu, membuat Dira jadi mengulum senyum dengan wajah yang malu-malu monyet. Diliriknya suaminya itu dengan tatapan malu-malu, lalu tangannya memukul pelan d**a suaminya. "Bisa aja si Bapak. Kalo saya baper, tanggung jawab, ya." "Saya udah tanggung jawab. Udah nikahin kamu juga," jawab Fadli santai. "Bapak kok manis, sih?" Dira bertanya dengan suara yang dibuat sok imut. "Sumpah nih, ya, Pak. Seumur-umur saya kenal Bapak, baru malem ini saya ngeliat Bapak senyum. Mana senyumnya manis banget lagi. Saya jadi takut Pak."     Fadli mengernyit. "Takut? Kenapa takut?" tanyanya terheran-heran. "Takut diabetes kalo kelamaan liat senyuman Bapak." Lalu, Dira tertawa terpingkal-pingkal, sementara Fadli hanya menatapnya dengan alis yang terangkat sebelah. "Lucu?"      Dira mengangguk. "Dir."     Dira berdehem, berusaha menghentikan sisa-sisa tawanya. "Iya, Bapakku sayang~" "Ck, saya bukan Bapak kamu!" decak Fadli tak terima. "Jangan panggil saya 'Bapak'." "Ya emang situ bukan bapak saya," sahut Dira, "bapak saya namanya Heru, bukan Fadli. Sejak kapan juga saya brojol dari bibit kecebong nya Bapak?"     Fadli menyentil bibir Dira pelan. "Mulutnya," tegurnya. Kemudian, "Panggil saya 'Mas', bisa? Biar lebih enak aja dengernya." "Enggak bisa," jawab Dira, kepalanya menggeleng, "saya nggak biasa manggil begitu. Geli gitu dengernya. Kalo manggil 'Bapak' lebih enak." "Panggil nama aja."     Dira menggeleng lagi. "Enggak sopan, Pak. Bapak kan lebih tua dari saya. Jarak umur kita berapa? Delapan tahun, kan? Jadi nggak sopan rasanya kalo saya manggil nama." "Ya udah lah, terserah kamu," kata Fadli akhirnya. "Omong-omong, kapan kita mau bikin anak?" "Enggak sekarang!" jawab Dira cepat. "Dua tahun lagi." "Dua hari lagi, lah." Fadli tersenyum menggoda.     Dira menggeleng. "Saya belum mau punya anak. Kelakuan saya masih kayak dajjal gini, belum pantes punya orok."     Fadli manggut-manggut. "Ya udah kalo gitu, saya nggak mau maksa kamu." "Btw, nanti kita mau tinggal dimana, Pak?" "Di rumah saya," jawab Fadli. "Besok kita pindahnya." "Cepet amat. Saya masih mau di sini. Masih pengin kangen-kangenan sama ponakan saya. Anaknya Bang Izi." "Kan kamu masih bisa main ke sini, Andira. Lagian besok juga kita pindahnya sore, jadi masih bisa kamu main sama Zidan," sahut Fadli. Kemudian, "Omong-omong, nanti kalo kamu udah siap punya anak, kita bikin gen gledek, ya?"     Dira mengernyit. "Gen gledek apaan?" "Saudaranya gen halilintar. Gen gledek namanya. Nanti kita bikin anak sebelas," Fadli menjawab dengan menunjukkan wajah tengil nya. "Ogah!" tolak Dira dengan cepat. "Bapak aja sono yang bunting! Dikira perut saya gentong, bisa nampung anak sebelas?!" "Banyak anak banyak rezeki, Dira." "Iya. Tapi Bapak aja sono yang bunting. Kan Bapak yang mau punya anak sebelas."     Fadli menghela napas. "Tapi saya nggak punya rahim. Mau ditaruh di mana itu orok? Di lambung?"  "Udah lah Pak nggak usah bahas anak," ucap Dira. "Lagian masih lama juga bikinnya. Saya ngantuk, mau tidur."     Fadli mengangguk. Satu tangannya bergerak, dan mendarat di puncak kepala Dira, mengusap-usapnya dengan lembut kemudian mendaratkan kecupan singkat di sana. "Sweet dream, my wife." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN