"Tanteee Diraaaa!" Sapaan itu berasal dari bocah laki-laki berusia enam tahun. Dia Zidan, bocah itu berlari sambil merentangkan kedua tangannya begitu melihat Dira berjalan menuruni tangga. "Te, ada babi! Tante Mitha dateng bawa babi," ucapnya sambil menunjuk seekor kucing berwarna oranye yang berada di pangkuan Mitha.
Dira berjongkok, membawa tubuh mungil Zidan ke dalam pelukannya. Dikecupnya puncak kepala bocah itu sampai berkali-kali. "Zidan suka kucing, ya?" tanyanya setelah melepaskan pelukan.
Zidan mengangguk semangat. "Iya. Tapi Zidan mau kucing yang kayak babi. Tadi Zidan mau minta babi, tapi nggak boleh sama Mama." Bibir Zidan mengerucut begitu diakhir kalimat.
"Kalo minta itu ya jelas nggak dibolehin Mama," sahut Dira. Satu tangannya mengusap pipi gembul Zidan. "Bilangnya Zidan mau kucing bukan babi. Kalau Zidan bilang mau kucing pasti boleh sama Mama," lanjutnya.
"Gitu ya, Te?"
Dira mengangguk.
Zidan berbalik badan, lalu berlari kencang menuju dapur. "MAMAAA! ZIDAN MAU KUCIIING, TAPI YANG KAYAK PUNYA TANTE MITHA!"
Andini—istri Alfarizi, langsung berjongkok begitu anaknya menggoyang-goyangkan kakinya. "Bilang sama Papa, dulu. Kalo boleh nanti kita beli," ucapnya lembut seraya merapikan rambut sang anak yang sedikit berantakan.
"Papa pelit." Bibir Zidan mengerucut.
"Siapa yang pelit?" Alfarizi datang sambil berkacak pinggang, dengan tatapan yang tertuju pada anaknya.
"Papa," jawab Zidan jujur. "Dede mau kucing. Kata Mama suruh bilang sama Papa dulu," lanjutnya sambil menatap sang ayah dengan tatapan melas. "Bolehkan, Pa?"
Alfarizi menggeleng. "Kamu main sama kucingnya Tante Mitha aja. Ribet kalo ngurus hewan."
Zidan cemberut, lalu dengan langkah gontai bocah itu berjalan menghampiri Mitha. Ditatapnya perempuan itu dengan tatapan melas.
"Nih, Zidan boleh main sama babi. Sana main, hati-hati dicakar, si babi galak soalnya," ucap Mitha begitu menyadari tatapan melas Zidan.
Zidan bersorak senang, diambil alihnya kucing songong itu dari tangan Mitha. "Makasih Tante!" Kemudian, ia melenggang pergi sembari menggendong seekor kucing di tangannya.
"Uhuy, pengantin baru~ gimana malam pertamanya, beb? Lancar jaya, makmur, sentosa, kan? Sabilah, bulan depan udah bunting," Mitha bertanya begitu melihat Dira mendudukkan diri di sampingnya.
"Lancar apaan," sahut Dira. "Malam pertama gue sama dia rebutan selimut," lanjutnya sambil mengambil toples kue yang berada di meja.
"Jadi, lo belum... nananinu?"
Dira mengernyit. "Nananinu, nananinu, apaan? Nggak ngerti gue."
Mitha berdecak. "Itu lho... nananinu. Masa lo nggak ngerti. Mbak Andini aja ngerti. Ya kan, Mbak?" Tatapan Mitha beralih menatap Andini.
"Mbak juga nggak ngerti," kata Andini sambil tersenyum kikuk.
"Yang jelas kalo ngomong, Mit."
"Aish! Memproduksi orok. Nah, itu nananinu," jawab Mitha sambil ikut mencomot camilan di depannya.
Dira ber-oh ria. "Ooooh." Detik berikutnya pandangannya beralih menatap Andini. "Ayah sama Bunda mana, Mbak? Belum keliatan dari tadi," tanyanya.
"Di depan. Lagi ngobrol sama mertua kamu, sama suami kamu juga."
Dira manggut-manggut paham.
"Mbak Andini kalem banget, ya. Gile, bisa gitu si Bang Izi yang tengilnya minta ampun dapet bini modelan Mbak Dini, gini. Kira-kira, gue yang b****k plus galak ini, bisa nggak ya, dapet laki yang kalem, yang model-modelan calon penghuni surga gitu?" kata Mitha tiba-tiba. Matanya melirik ke arah Dira dan Andini secara bergantian.
"Bisa kok, siapa tau jodoh kamu orangnya alim," sahut Andini sambil tersenyum.
Dira menyenggol siku Mitha, kedua alisnya dinaik turunkan. "Firman tuh, Mit. Kalem, baik, kaya raya, ganteng. Sama Firman aja sono."
Mitha mendelik. "Ogah! Najis tralala gue sama dia. Hih, amit-amit." Satu tangannya mengetuk-ngetuk kepalanya lalu setelahnya mengetuk-ngetuk meja.
"Amit-amit nanti jodoh lho," kata Andini menggoda Mitha. "Kamu sekarang benci sama dia, tapi kedepannya nanti, siapa tau kamu jadi suka sama dia. Maybe, kan?"
"Ogah, Mbak, ogah!" Disambarnya cangkir berisi teh di depannya. Menyesapnya sebentar, kemudian melanjutkan, "Dia itu ya Mbak, hih, kayak patung idup. Dieeem terus, kagak pernah ngomong kalo nggak diajak ngomong. Itu aja kadang-kadang kalo kita ngomong sama dia suka dikacangin, Mbak. Pokoknya nyebelin banget orangnya. Tampol-able."
"Sekarang aja lo bilang tampol-able, entar berubah jadi peluk-able," goda Dira.
Mitha mendelik. "Enggak akan, Didir! Pacar idaman gue model-modelan, Yang Yang, bukan si Firman. Sampe kapan pun dia tetep tampol-able."
"Siapa yang tampol-able?"
Suara yang menginterupsi itu membuat ketiga perempuan yang sedang duduk di meja makan menoleh ke sumber suara. Di sana, mereka mendapati Fadli yang berjalan dengan santai menuju meja makan.
Melihat bosnya yang bertanya, Mitha nyengir. "Itu Pak, kucing saya tampol-able."
Dira mendelik. "Dih, si babi dijadiin tumbal." Detik berikutnya pandangannya beralih menatap suaminya. "Ini Pak, si Mitha ngatain Firman tampol-able. Bapak kan sohibnya, si Firman. Aduin sana Pak. Bilang ada salam cinta dari Mitha," ucapnya.
Spontan Mitha memukul lengan Dira. "Fitnah, lo, Didir! Nggak Pak, ini bini Bapak bohong. Jangan percaya. Hoaks, itu Pak, hoaks!" sentaknya.
Fadli manggut-manggut, kemudian mendudukkan dirinya di samping istrinya. "Saya percaya kok sama istri saya. Nanti saya sampaikan sama Firman. Salam cinta dari Mitha, kan?"
Mendengar hal itu, membuat Dira tersenyum senang, dipeluknya lengan suaminya erat-erat. "Ahay! Laki gue lebih percaya sama gue. Sampein Pak salamnya. Entar kalo mereka berdua jadian kita tagih pajak jadiannya."
"Monyet!" Mitha mendengkus sebal. "Ngadi-ngadi lo mah, Dir. Gue bilang cinta aja kagak."
Andini yang melihatnya terkekeh pelan, kemudian pandangannya beralih menatap Fadli dan Dira. "Oh iya, kalian berdua belum makan, kan? Mau makan sekarang? Biar Mbak siapin," tanyanya.
"Nanti aja Mbak." Fadli menjawab dengan ramah.
Andini mengangguk singkat. "Ya udah. Tapi nanti kalo mau makan bilang ya, biar disiapin."
"Enggak usah Mbak. Nanti biar Dira aja yang nyiapin," tolak Dira halus sambil tersenyum.
"Zidaaan! Ya ampun ini bocah!"
"Mamaaa!"
Suara itu berasal dari dua orang laki-laki yang berlari kecil menuju meja makan. Alfarizi dan Zidan. Zidan berlari sambil membawa seekor kucing ditangannya, sementara Alfarizi berlari kecil mengikuti anaknya dari belakang.
"Tante Mitha, babi buat Zidan aja, ya?" Zidan berdiri di samping Mitha, matanya mengerjap-ngerjap lucu, dengan wajah imutnya. "Zidan suka sama babi. Lucu. Bolehkan, Tante?"
"Jangan, nanti Tante Mitha nangis," kata Alfarizi yang kini sudah mendudukkan diri di samping istrinya.
Bibir Zidan mengerucut. "Papaaa! Jangan ikut-ikutan! Ini urusan Zidan sama Tante Mitha," ucapnya galak.
"Sok iye lo, urusan-urusan segala, cil." Alfarizi geleng-geleng kepala.
"Ya udah boleh," kata Mitha akhirnya.
Zidan bersorak senang. Dipeluknya erat-erat kaki Mitha. "Asyik! Makasih Tante! Sekarang namanya Zidan ganti jadi Lasmini, bukan babi. Iya kan, Lasmi?"
"Meow."
Zidan melepaskan pelukannya dari kaki Mitha, lalu berjalan menghampiri sang ibu dan segera mendudukkan diri di kursi yang berada di samping ibunya. Sambil mengusap-usap kepala Lasmini, tatapan Zidan tertuju pada Dira. "Tante Dira," panggilnya.
Dira menoleh. "Iya?"
"Kata Papa, kapan Tante Dira punya Dede?" Zidan bertanya dengan wajah polosnya. "Zidan mau punya Dede bayi. Ayo kita bikin, Te! Kata Papa, bikinnya pake tepung," lanjutnya lagi.
"Tapi Tante—"
"Nanti Om sama Tante bikinin ya buat Zidan. Zidan tunggu aja," sahut Fadli sambil tersenyum ke arah Zidan.
"Bikin yang lucu ya, Om. Zidan mau ikutan juga bikinnya. Nanti Zidan bantuin pilih Dede bayi yang lucu-lucu. Zidan bantuin juga bentukin Dede bayi nya biar lucu," ucap Zidan bersemangat.
Fadli hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sementara Dira memilih diam tidak menjawab, dan berpura-pura sibuk mengunyah camilannya. Lagian, bentukin bayi. Ya, Tuhan... dikira bikin bayi kayak bikin kue donat apa?!
***