Chapter 6

1209 Kata
"Andira~ sapu sampai bersih, ya, sampai kinclong. Terus kalau sudah, masakin saya makanan. Saya laper."     Dira mendengkus, matanya mendelik tajam ke arah suaminya yang sedang selonjoran di kursi sambil menonton televisi. Rasanya... ingin sekali ia membanting sapu yang tengah ia pegang sambil berteriak kencang, karena emosinya sudah naik sampai ubun-ubun. Ya, Tuhan... suaminya ini ... sangat-sangat tidak berperikeistrian! Begitu tadi mereka sampai di rumah laki-laki itu, bukannya beristirahat, Dira malah disuruh ngebabu dengan cara membersihkan rumah yang besarnya mungkin ada sekitar satu RT itu.      Dira sampai berpikir, dosa sebesar apa yang dilakukannya di masa lalu sampai-sampai dirinya mempunyai suami semenyebalkan Fadli. Baru satu hari sah menjadi istrinya, Dira sudah dibuat kesal hingga rasanya ingin taubat jika menghadapi sikap menyebalkan suaminya yang selalu mampu membuatnya beristighfar. Sifat laki-laki itu, berkali-kali lebih menyebalkan daripada sifat ibu tiri di sinetron-sinetron yang pernah ia tonton. Dira sendiri heran, mertuanya, orang tua dari bosnya itu baiknya masyaallah. Tapi kenapa anaknya sangat astaghfirullah?      Pinggangnya encok, tulangnya serasa hampir keropos, dengan tubuh lemas kayak orang kurang darah, Dira mendudukkan diri di lantai dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Rambut acak-acakan kayak nenek lampir, keringat yang bercucuran di wajahnya, lengkap juga dengan sebuah sapu yang tergeletak di sampingnya, membuatnya terlihat seperti nenek lampir yang nyasar. "Andira... laper."      Tuh kan, baru saja ia istirahat, sudah dipanggil lagi, disuruh ngebabu lagi. Dira mengerang kesal, kepalanya menoleh ke arah suaminya sambil menunjukkan tatapan tajamnya. "Saya capek, Pak! Astaga... istirahat bentar dulu napa. Encok ini pinggang saya gara-gara Bapak!"  "Ya itu, DL," Fadli menyahut dengan santai.     Dira mengernyit. "DL?" ulangnya. "Derita lo!" Lalu terdengar suara gelak tawa yang amat menyebalkan. Suara tawa kakek lampir yang tengah senang melihat penderitaan orang lain.     Dira menggeram kesal. Emosinya sudah sampai pada ubun-ubun. Dilepaskannya sandalnya, lalu ia pegang erat-erat. Satu tangannya yang memegang sandal melakukan ancang-ancang, bersiap ingin menimpuk bosnya dengan sandal jepitnya. Setelah merasa bidikannya tepat, dilayangkannya sandal itu hingga melayang ke udara, bergerak menuju seorang laki-laki yang sedang selonjoran di kursi sambil tertawa terpingkal-pingkal. Saat jarak sudah sangat dekat, sudah hampir mengenai kepala samping laki-laki itu, sandalnya malah terjatuh, turun ke lantai, sehingga menyebabkan timpukan nya meleset. Gagal total! "Bapak kok nyebelin banget, sih?!" Kedua tangan Dira mengepal dengan tatapan yang tertuju pada suaminya. "Rasanya pengen saya cekek kalo nggak inget situ suami saya. Bapak itu nyebelinnya, sampe bikin saya pengen minum Baygon!"     Fadli menghentikan tawanya. Ditolehkannya kepalanya ke arah istrinya. "Oh, ya? Ya udah sana minum Baygon, nanti tinggal saya siapin liang lahat nya aja," kata Fadli santai. "BAPAAAK! SAYA CEKEK BAPAK SEKARANG JUGA, YA!" Dira bangkit dari duduknya, melangkahkan kaki dengan kedua mata yang melotot. Kesabarannya sudah habis, keinginan untuk mencekik laki-laki itu semakin besar.     Sedangkan di sofa sana, Fadli gelagapan. Ya, Tuhan... niatnya tadi hanya ingin menggoda istrinya bukan menyuruh istrinya untuk benar-benar minum Baygon. Salahkan mulutnya yang ceplas-ceplos itu, Fadli benar-benar menyesal telah memancing emosi perempuan. Ia akui, perempuan jika sedang dalam mode senggol bacok, galak dan seramnya melebihi galak si raja hutan, dan seramnya melebihi dedemit.  Perlahan, Fadli beranjak turun dari sofa. Kakinya melangkah mundur, menjauhi ancaman kematian di depan sana. Tampang istrinya sekarang mirip seperti malaikat pencabut nyawa yang bersiap membuatnya mampus dengan cara mencekiknya dan menggebukinya dengan sapu. Sungguh, sekarang seluruh tubuhnya sudah gemetar ketakutan, melebihi ketakutannya ketika melihat kecoa. "Andira, saya minta maaf. Saya tadi cuma bercanda, nggak serius suruh kamu minum Baygon. Serius. Suwer tekewer-kewer, saya cuma bercanda. Maaf, Dira! Maaf!"  Dengan tampang galak macam nenek lampir yang ingin mengutuk musuhnya menjadi kodok, Dira mengacungkan sapunya tinggi-tinggi. "Saya beneran, pengen nyekek Bapak sekarang juga. Ada pesan terakhir sebelum saya habisin Bapak?" Lalu, senyum yang paling menakutkan muncul di bibir Dira seiring dengan langkahnya yang semakin maju mendekati suaminya. "Dosa Dira bunuh suami! Dosa! Kamu masih terlalu piyik untuk mendapatkan dosa segede gaban jika nekat membunuh saya. Maafkan saya, Andira. Maaf! Ampuni saya!" Langkahnya terus mundur, hingga akhirnya ia berlindung di balik sofa yang menjadi penghalang antara dirinya dan istrinya. Senyum menakutkan masih terukir di bibir Dira. Sapu yang dipegangnya ia ketuk-ketukkan di telapak tangannya. "Saya nggak mau bunuh Bapak. Saya cuma mau liat Bapak jalan-jalan pake mobil ambulance doang." Fadli bergidik ngeri. Nyalinya semakin menciut. Kakinya terus melangkah mundur, beringsut menjauhi istrinya yang sedang cosplay jadi psikopat. "Maaf, Dira! Maaf! Turunin ya, Sayang, sapunya? Jangan jadi psikopat cantik. Nanti saya beliin kamu es krim, permen, sama balon," bujuknya lembut.     Melihat ancaman kematian semakin mendekat, Fadli melompat naik melewati sofa, menjauhi istrinya yang terlihat bersiap melempar sapu ke arahnya. Ya, God... please, save me from this beautiful psychopath's tantrum.  "Saya bukan bocil, ya, Pak!" Sapu yang tadi dipegangnya, ia lempar, dijatuhkan ke lantai. Satu sandal jepit yang masih berada di kakinya ia lepas, lalu diacungkan tinggi-tinggi ke udara. "Bapak itu terlalu ngeselin jadi orang! Saya pengen buat Bapak jalan-jalan keliling kota pake mobil ambulance!"  Lalu, detik berikutnya sebuah sandal melayang di udara, perlahan bergerak maju ke arahnya, lalu hampir mendarat mengenai kepalanya jika dirinya tidak buru-buru menghindar bergerak ke samping.  "Sandal kamu masih sayang sama saya. Sampai-sampai dia tidak berani mendarat di kepala saya." Fadli tersenyum songong.     Dira menggeram kesal. Diambilnya lagi sapunya kemudian berlari kencang menghampiri suaminya. "BAPAAAK! BALIK SINI NGGAK!" teriaknya murka.     Sementara Fadli, sudah lari kocar-kacir, pontang-panting untuk menyelamatkan dirinya dari amukan psikopat cantik itu. Satu tangannya menyambar bantal sofa, lalu dilemparnya bantal itu hingga mengenai wajah istrinya. "Ampuun, Diraa! Ampun! Ingat dosa, Dira! Dosa menyakiti suami! Kamu masih piyik untuk mendapatkan dosa segede gaban!" teriak Fadli ketakutan. "Istighfar, Dira! Istighfar! Jangan mengikuti apa yang setan bicarakan!" Ah, nggak pa-pa Dira. Suamimu itu nyebelin. Ayo, pukul kepalanya pake gagang sapu! Setan di sisi kiri Dira memanas-manasi.     Jangan Dira, dosa. Selain itu kamu bisa masuk penjara karena dituntut atas tuduhan p**********n terhadap suami, malaikat baik hati di sisi kanan bersuara.     Bodo amat Dira! Jangan dengerin apa kata malaikat gadungan ini! Ayo, ayo pukul kepala suamimu itu pake gagang sapu!     Dasar setan psikopat! Lalu, malaikat dan setan itu adu mulut, dan berakhir dengan baku hantam. Sementara Dira, berdiri dengan kedua tangan yang mengepal. Hasutan si setan lebih masuk di telinganya.     "Bodo amat, Pak! Saya tetep mau buat Bapak jalan-jalan pake mobil ambulance!" ucap Dira dengan emosi menggebu-gebu.     Fadli yang melihat istrinya masih marah jadi tambah ketar-ketir. Otaknya mendadak blank jika sudah ketakutan seperti ini. Ya, Tuhan... ia tidak mau mati di tangan istrinya! Tidak mau! "Andira, tenang ya? Jangan emosi, karena emosi bisa membuat kamu darah tinggi, lalu berakhir dengan pembuluh darah pecah, dan kamu akan mati. Tenang, ya, oke? Saya kasih kamu penawaran terbaik, tapi syaratnya kita harus damai." Fadli menunjukkan senyum, berusaha menenangkan emosi istrinya. "Bodo amat, Pak! Bodo amat!" "Ini, saya kasih kamu ini!" Fadli merogoh-rogoh saku celananya, mengambil dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari sana. "Kamu boleh belanja apapun pakai black card saya. Tapi syaratnya, kita harus berdamai."     Melihat kartu itu disodorkan kepadanya, membuat emosi Dira mendadak hilang. Anjralala! Rezeki anak sholehah! Mana mau ia menolak rezeki nomplok yang terpampang nyata di depannya. Black card, euy! Seumur-umur belum pernah ia memegang kartu hitam itu. Mata Dira berbinar-binar, sapu yang di tangannya ia letakkan di lantai, lalu dengan senyuman secerah mentari pagi, ia melangkahkan kakinya mendekati suaminya. "Oke, kita damai!" kata Dira masih tetap mempertahankan senyum. "Tapi..."     Fadli mengernyit. "Tapi?" "Black card Bapak, buat saya selamanya!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN