Makan malam sekarang disponsori oleh masakan Fadli. Laki-laki itu langsung berkutik dengan alat memasak begitu selesai membersihkan dirinya setelah seharian membereskan rumah menggantikan pekerjaan istrinya yang sekarang sedang pergi entah kemana. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi belum ada tanda-tanda istrinya akan pulang. Tadi, sehabis membujuk perempuan itu dengan black card, istrinya itu langsung pergi begitu saja sambil membawa black card miliknya. Fadli membiarkannya saja, yang penting mereka berdamai dan ancaman kepala benjol sudah hilang.
Menghembuskan napas panjang, Fadli segera meletakkan masakannya yang baru saja matang ke dalam piring, kemudian segera menyajikannya di atas meja. Ditatanya dengan rapi makanan-makanan itu, dan pada saat dirinya hendak mengambil peralatan makan, suara bel pintu utama terdengar ditekan berulang kali, membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Begitu sudah sampai, dibukanya pintu itu kemudian munculah sesosok perempuan cantik yang berdiri di depan pintu sambil memamerkan senyum lebar dengan beberapa papper bag yang berada di tangannya.
"Lama banget. Ngapain aja kamu?" Fadli bertanya setelah menggeser tubuhnya dan membiarkan istrinya masuk ke dalam rumah.
"Jalan-jalan dong, sama Mitha. Makasih ya, Pak, black card-nya! Sayang sama Pak Fadli banyak-banyak!" Dira berjinjit dan mendaratkan kecupan singkat di pipi suaminya.
Fadli memutar bola matanya. "Giliran ada maunya, ngabisin duit saya, baru puji-puji. Baru bilang sayang. Coba aja tadi, hampir babak belur saya kalo nggak ngebujuk kamu pake black card," sindirnya.
Dira nyengir. "Hehe, maaf, maaf." Lalu dipeluknya lengan suaminya erat-erat. "Wuidih! Bapak masak ya? Wangi amat. Sampe kesini lho wanginya. Bapak tau aja perut saya keroncongan."
"Iya, saya masak. Ayo makan dulu. Abis itu langsung mandi, awas aja kalo sampe langsung tepar di kasur. Saya geret kamu ke kamar mandi," ucap Fadli galak.
"Iya, iya, Om."
Fadli melotot. "Heh!" sentaknya, "Am, Om, Am, Om! Saya bukan Om-om!"
"Iya, Hubby. Jangan galak-galak dong, saya kuras entar duit Bapak." Dira cemberut, bibirnya mengerucut.
Fadli mendelik. "Ngapain monyong-monyong?! Mau saya tampol pake p****t panci?!"
"Ck, galak amat." Dira memutar bola mata. "Saya aduin emak saya nih, Bapak marah-marah mulu. Marah-marah itu nggak baik, Pak. Nanti, kalo Bapak darah tinggi terus berakhir dengan mati, kan saya jadi janda. Janda uhuy-uhuy, masih perawan. Yang pesonanya ngalahin Song Hye Kyo."
Mata Fadli melotot, dilepaskannya tangan Dira yang melingkar di lengannya. "Kamu mau doain saya cepet-cepet mati?!"
"Eh?" Dira garuk-garuk kepalanya yang tiba-tiba gatal. "Siapa yang nyumpahin lo mati, Jono?! Gue cuma bilang jangan marah-marah, entar darah tinggi terus mati. Gue kagak nyumpahin! Astaga..."
"Ya sama aja."
"Bodo, Jono! Bodo!"
"Jono siapa?" Tatapan Fadli menyipit, menatap istrinya curiga. "Selingkuhan kamu ya? Jono? Kamu selingkuh sama si Jono?!"
Dira mendesah frustasi, tubuhnya merosot ke lantai. "Bukan! Jono itu nama kartun di tv!" jawabnya asal.
"Masa? Nggak percaya saya."
Dira menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Kepalanya mendongak menatap wajah suaminya. "Serius, Pak! Sejutarius! Jono itu nama kartun di tv."
"Bohong! Jono itu selingkuhan kamu!"
Ya, Tuhan... tolong, tolong tambahkan kesabaran Dira agar tidak kelepasan menimpuk wajah suaminya dengan sandalnya. Masa iya, selingkuh sama yang namanya Jono? Hih, dari namanya saja sudah terbayang bagaimana bentukannya si Jono. Bogel, tuwir, item, tonggos, perutnya bulat, bau ketek. Iyuh! Jijay! Najis tralala!
"Serius, Pak. Nih ya, yang lagunya itu begini. 'Wooooo Jono house. Woooooo Jono house. Kini mereka datang ke bulan'. Yang itu. Saya yakin Bapak pasti tau!" kata Dira, wajahnya berusaha ditampilkan serius, namun pada akhirnya, gelak tawa muncul karena tidak bisa ditahan.
Fadli berjongkok di hadapan istrinya. Matanya masih menyipit, menatap curiga. "Ngapain kamu ketawa? Bohong kan kamu? Makanya kamu ketawa. Hayo, ngaku! Jono itu selingkuhan kamu, kan?!"
"Emaaak! Hahaha, sakit perut saya Pak!" Dira masih terkikik, bahkan sampai mengeluarkan air mata saking merasa gelinya. "Jono house. Woilah."
Melihat istrinya tertawa, Fadli berdecak. "Serius Dira!"
"Saya serius." Berdehem sebentar untuk menghilangkan tawa, Dira kembali melanjutkan, "Nih, ya, si Jono. Kartun goblin yang di Meat tv itu lho, Pak. Yang goblinnya cebol, warna ijo, matanya belo, gemoy deh pokoknya! Namanya Jono."
"Masa sih?" Fadli garuk-garuk kepala. "Saya baru denger ada kartun namanya Jono. Sejak kapan itu?"
"Ya nggak tau, kok tanya saya," jawab Dira cepat. "Tanya aja sama yang buat kartunnya."
"Bodo lah." Fadli mengibaskan tangannya, lalu kembali berdiri tegak. "Ayo makan, nggak penting ngebahas si Jono terus. Cacing di perut saya lebih penting." Kemudian ia mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya berdiri. Dan segera berjalan beriringan bersama istrinya menuju ruang makan.
***
Goyang dombret...
Goyang dombret...
Goyang dombret...
Goyang dombret...
Kang Dadang paling kasep
Saya suka akang, suka sekali
Bang Mandor paling ganteng
Saya demen akang, demen sekali~
Fadli yang baru saja selesai mencuci piring dan hendak masuk ke dalam kamar, jadi berhenti sebentar di depan pintu kamar begitu telinganya mendengar suara musik dangdut yang cukup keras dari dalam kamarnya. Dahi laki-laki itu berkerut, lalu dengan perlahan tangannya membuka pintu kamar dan mendapati istrinya tengah berjoget-joget di dalam sana tanpa menyadari kehadirannya.
"Goyang dombret~ Goyang dombret~ ahay! Goyang dombret~ Goyang dombret~" Dira terus bernyanyi dengan kedua mata yang dipejamkan. Botol micelar water miliknya dialih fungsikan menjadi mikrofon.
Sementara di depan pintu, Fadli menyenderkan tubuhnya di tembok, bersedekap d**a sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan aneh istrinya. Ia akui, istrinya ini unik. Jika perempuan lain akan konser dengan lagu-lagu Korea, maka istrinya, konser dengan lagu dangdut Goyang dombret.
"Ehem!" Fadli berdehem, cukup keras tapi istrinya masih belum sadar. "Ehem! Ehem!"
Perlahan, gerakan Dira yang tengah berjoget jadi berhenti. Kepala gadis itu menoleh kebelakang. Lalu cengiran selebar kuda terukir di bibirnya begitu matanya mendapati suaminya berdiri di dekat pintu dengan mata yang menatapnya dengan tatapan aneh, seolah-olah ia adalah alien yang nyasar ke bumi.
"Ngapain kamu?" Fadli bertanya dengan wajah serta nada bicara yang datar.
"Lagi melakukan ritual untuk berubah jadi tuyul, Pak," jawab Dira asal.
Fadli menaikan sebelah alisnya.
"Saya ini tuyul komplek, Pak, yang lagi nyamar jadi istri Bapak. Bapak tau, kekayaan Ayah saya darimana? Nah, itu dari hasil saya jadi tuyul selama satu tahun." Dira nyengir dengan menunjukkan wajah tengil.
"Lucu?"
Dira menggeleng. "Enggak, buktinya saya nggak ketawa."
Fadli menghela napas. "Kamu ngapain sih joget-joget malem-malem begini? Kurang kerjaan banget."
"Lagi latihan buat goyang di ranjang sama Bapak," Dira menjawab dengan senyum tengilnya.
"Uhuk! Uhuk!"
"a***y, keselek dia." Dira mematikan musiknya yang masih terputar, lalu melangkahkan kaki menghampiri suaminya. "Kaget ya, Pak? Atau itu kode minta di goy—"
Tahu kemana arah pembicaraan istrinya, Fadli segera memotong, "Cukup!"
Dira mengulum senyum. "Tegang ya, Pak? Ayo sini, liatin saya joget. Nanti Bapak lama-lama tambah kegoda sama saya."
Fadli menyentil kuat dahi serta bibir Dira. "Dasar prik!"
***