Chapter 8

996 Kata
Suasana kantin bawah pada saat jam makan siang sangat ramai, dipenuhi para pegawai yang mengantre untuk memesan makanan. Harga makanan di kantin memang ekonomis, dan bersahabat dengan dompet kaum rakyat jelata. Kebanyakan dari pegawai memilih makan di kantin ketimbang makan di restoran depan kantor yang harga makanannya bikin geleng-geleng kepala, dan membuat dompet menangis. Tapi, tak jarang juga dari mereka yang lebih memilih membawa bekal sendiri dari rumah untuk melakukan pengiritan. Seperti halnya ketiga perempuan yang tengah duduk berjejer di depan meja kerja dengan kotak makan yang dipegang masing-masing di tangan mereka. Di tengah-tengah ada Dira yang sedang sibuk melahap makanannya, lalu di sisi kirinya ada Mitha yang tengah makan sambil sesekali senyam-senyum melihat layar ponsel, dan di sisi kanan ada Sheila yang sedang sibuk mengunyah makanannya. Jika di jam istirahat seperti ini mereka memang selalu kumpul bertiga, makan siang bersama kemudian diakhiri dengan kegiatan bergosip. Memang, perempuan jika sudah berkumpul bersama teman-teman terdekat jika tidak bergosip seperti ada yang kurang. Sudah menjadi kebiasaan setiap perempuan kayaknya, selalu bergosip bersama teman-teman tanpa mengenal waktu dan tempat. Seperti sambil makan bergosip, di kamar mandi bergosip, lagi kerja bergosip, bahkan mau tidur saja para perempuan sempat-sempatnya bergosip di grup chat. "Lo kenapa nggak ngambil cuti buat honeymoon, Dir?" Sheila membuka obrolan ketika makanannya sudah habis. "Laki gue nggak ngajakin," jawab Dira tanpa menoleh ke arah Sheila.      Mitha geleng-geleng kepala. "Anjir, nggak diajak, kasian bener lo Dir, abis kawin bukannya honeymoon, jalan uhuy-uhuy, malah balik ngantor." Dira hanya mengedikkan bahunya. "Ngomongin soal Pak Fadli, gue ada gosip hot. Tadi pagi gue liat ada cewek seksoy masuk ke ruangan dia," mulai Sheila, si lambe turah. Kepala Dira sontak menoleh ke arah Sheila. "Siapa?" tanyanya penasaran. Sheila mengedikkan bahu. "Mana kutehe. Gue cuma liat sekilas doang pas lewat ruangan dia, kagak tau itu cewek siapa." Mendengar itu, sontak Mitha langsung meletakkan kotak makannya dan menggeser kursinya agar lebih dekat dengan kedua sahabatnya. Mata perempuan itu menyipit, pandangannya menatap Dira dan Sheila secara bergantian. "Gue... mencium aroma-aroma pelakon di sini," ucapnya dengan suara pelan. "Pelakor kali. Pelakon, pelakon," ralat Sheila yang langsung dibalas jentikan jari oleh Mitha. "Itu maksud gue." Tatapannya beralih sepenuhnya pada Sheila. "Ceweknya bohay, Shei? Seksoy ulala kayak biduan dangdut di kondangan?" Sheila mengangguk. "Mampus kau, Dir!" Pandangan Mitha beralih menatap Dira. "Sana samperin laki lo cepet! Entar digondol cewek bohay nyaho lo," ucapnya menggebu-gebu sambil menepuk-nepuk pundak Dira. Dira mengernyit. "Apaan sih, heboh banget. Palingan juga itu cewek pacar dia, atau bini kedua dia, atau tante dia." "Gile." Mitha berdecak, "Bisa-bisanya lo santai begini. Sana cepetan—anjir! Laki lo jalan sama cewek bohay, Dir!" Dengan hebohnya, Mitha mengguncang-guncang bahu Dira dengan jari telunjuk yang mengarah ke arah dua sejoli yang berjalan ke arah mereka. Dira berdecak, ditepisnya tangan Mitha dari bahunya. Lalu dengan malas, pandangannya mengikuti arah telunjuk Mitha. Detik berikutnya matanya mendapati orang yang dimaksud, lalu kepalanya manggut-manggut santai. "Oooh, udah sih biarin aja. Nggak usah terlalu heboh jadi orang," ucapnya santai. "Lo masih mau diem aja di sini? Nggak mau nyamperin laki lo? Samperin sono, Dir!" Mitha geleng-geleng kepala tak habis pikir. Dira masih diam di tempat, sibuk melahap makanannya tapi dengan mata yang terus memperhatikan interaksi kedua orang di depan sana. Suaminya itu terlihat berbincang sesuatu dengan perempuan yang entah siapa itu karena Dira baru pertama kali melihatnya. Sambil terus melahap makanannya, kedua bola mata Dira membulat begitu matanya melihat suaminya tertawa kecil bersama perempuan itu. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di hatinya begitu melihat pemandangan itu. Perasaan... cemburu dan seolah tidak rela melihat suaminya tertawa bersama perempuan lain. "Monyet!" umpat Dira sambil menelan makanan yang masih berada di dalam mulut. "Bilangnya 'cuma kamu yang boleh liat senyuman saya'. Halah, pret! Giliran liat cewek yang lebih bohay dari bininya langsung ketawa-ketiwi. Dasar om-om nyebelin," lanjutnya menggebu-gebu, membuat Mitha dan Sheila yang mendengarnya langsung saling menatap satu sama lain. "Lo... cemburu, Dir?" Sheila bertanya lebih dulu. "Kalo cemburu sama samperin, Sulasmi! Jangan malah diem doang sambil ngomel-ngomel! Sana samperin! Labrak! Jambak rambut cewek itu!" kata Mitha dengan suara yang menggebu-gebu. Dira memutar bola matanya. "Gue nggak cemburu. Cuma—" "Andira!" Suara panggilan itu menginterupsi obrolan ketiganya. Menolehkan kepala, Dira mendapati suaminya sudah berdiri di sampingnya bersama perempuan itu. "Ada yang mau saya bicarakan sama kamu," ucap Fadli memberitahu setelah menyadari tatapan bingung istrinya. Melihat hal ini, Mitha dan Sheila segera berpamitan untuk pergi menjauhi ketiga orang itu. Setelah berpamitan pada bosnya dan mendapatkan respon anggukan, barulah keduanya melenggang pergi dari sana. "Ngomong aja Pak," sahut Dira sambil menutup wadah makannya kemudian berbalik menatap kedua orang di depannya ini. Pandangan Fadli beralih menatap perempuan di sampingnya. "Ini Andira, istri saya," ucapnya memperkenalkan. Dira mengerutkan dahi, menatap bingung ke arah dua orang itu. Ini ceritanya mau ngenalin bini baru apa gimana? Batinnya bingung. Perempuan itu tersenyum ramah, menatap Dira sambil mengulurkan tangannya. "Salam kenal Bu Dira. Saya Stella, sekretaris baru nya Bapak Fadli." Dira mengangguk singkat, membalas jabatan tangan perempuan itu. "Andira," ucapnya dengan senyum ramah. "Betewe, jangan panggil ibu. Saya belum ibu-ibu. Panggil nama aja nggak pa-pa." Stella mengangguk sopan. Pandangan Fadli beralih menatap sekretarisnya. "Kamu bisa kembali ke meja kamu. Saya mau bicara sama istri saya." Setelah melihat sekretarisnya pergi, Fadli segera menarik kursi yang tadi diduduki Sheila. Posisinya miring agar bisa menghadap ke arah istrinya sepenuhnya. "Saya ngenalin kamu sama dia karena nggak mau kamu salah paham," ucapnya tiba-tiba. Dira mengernyit. "Siapa juga yang mau salah paham?" "Ya siapa tau. Saya tau dua temen kamu itu tukang gosip. Saya cuma nggak mau kamu denger gosip yang enggak-enggak dari mereka berdua yang bisa membuat kita bertengkar karena salah paham," jelas Fadli. Dira manggut-manggut. "Betewe, Pak, sekretaris Bapak cantik ya." Kedua ujung alis Fadli menyatu. "Maksudnya?" tanyanya bingung. "Ya, Stella cantik. Badannya bagus, pasti tipe cewek idaman Bapak banget. Beda banget sama saya yang cuma kaum jelmaan umbi-umbian, dengan badan cungkring." Fadli menggeleng. "Dia nggak cantik." Dira mengernyit. "Eh? Nggak cantik?" "Cantikan ibu saya," lanjut Fadli, "sama istri saya juga." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN