Sebagai jomblo dari orok, bisanya jika malam sehabis pulang kerja seperti ini, kerjaan Dira hanya bisa rebahan di kasur sambil scroll-scroll media sosial untuk melihat postingan-postingan pacar beda perasaan, beda negara, beda tahta, dan beda agamanya. Biasanya juga ia akan berdoa kepada Tuhan agar turun hujan deras atau angin tornado sekalian biar orang-orang yang sedang uwu-uwu diluar sana lari pontang-panting, kocar-kacir, untuk menyelamatkan diri. Biasanya juga ia selalu overthingking malam-malam, selalu bertanya-tanya mengapa dirinya masih jomblo sampai sekarang. Atau malah menangis-nangis tidak jelas karena baper nonton drama atau baca novel yang sad ending.
Namun, kegiatan-kegiatan di atas tidak berlaku untuk malam ini. Malam ini. Malam ketiganya menjadi istri dari bosnya ini. Ia akan menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan, melepas penat setelah seharian bekerja. Sejujurnya Dira masih tidak menyangka, dibalik sifat ketus dan galak Fadli di kantor, ternyata ada sifat perhatian dari diri laki-laki itu walaupun masih ada sedikit sifat menyebalkan yang suka keluar.
Menyamai langkahnya dengan Fadli, Dira tersentak kaget saat merasakan tangannya digenggam oleh laki-laki itu. Genggamannya terasa hangat, hingga mampu membuat jantungnya tuing-tuing. Woilah, sebagai seorang jomblo dari orok, ini kali pertama tangannya digenggam oleh laki-laki. Hidup sebagai seorang manusia selama dua puluh empat tahun baru kali ini merasakan bagaimana rasanya gandengan tangan.
Menolehkan kepala, Fadli menunjukkan senyum tipis saat melihat Dira. "Mau makan dulu?" tanyanya lembut.
Untuk beberapa saat, Dira terdiam. Dia... dia terpesona melihat senyuman itu. Senyuman semanis gula satu ton yang mampu membuat kakinya berubah menjadi jeli. Sumpah! Demi s**u cap naga terbang! Baru kali ini ia melihat bosnya semanis dan selembut ini. Dia... dia takut jatuh hati.
"Andira?" Fadli melambai-lambaikan satu tangannya di depan wajah Dira. "Salsabila Andira Mahesa?"
"Hadir!" Refleks Dira mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Sadar dengan apa yang ia lakukan, cepat-cepat ia menurunkan tangannya lalu memasang cengiran selebar kuda. "Hehe. Kenapa Pak?"
Fadli terkekeh pelan, langkahnya terhenti sejenak, kemudian satu tangannya bergerak untuk merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan. "Mau makan dulu? Atau mau belanja dulu?" Fadli mengulang pertanyaan yang belum sempat dijawab.
"Makan dulu aja, saya laper."
Fadli mengangguk singkat, tangannya kembali menggenggam tangan Dira lalu melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti.
Diam-diam, Dira mencuri-curi pandang ke arah Fadli melalui ekor matanya. Bibirnya terasa berkedut-kedut hingga tak mampu menahan senyuman yang ingin terbit. Jantung Dira terus tuing-tuing seiring langkahnya yang mengikuti langkah suaminya. Ternyata, begini rasanya kencan. Ada perasaan bahagia yang selalu muncul saat berada di dekat pasangan.
"Pak," panggil Dira dengan kepala yang mendongak.
Fadli menoleh dan menurunkan pandangannya. "Iya?"
"Bapak kok manis sih, kalo sama saya?"
Dahi Fadli berkerut. "Maksudnya?"
"Kalo sama saya kenapa Bapak manis? Terus kalo sama orang kenapa juteknya nauzubillah?"
"Karena kamu istri saya."
Dira manggut-manggut paham. "Terus, kalo misalnya saya bukan istri Bapak pasti selalu diketusin terus ya?"
Fadli mengedikkan bahunya. "Maybe."
"Abis makan kita ke Timezone dulu ya, Pak? Main dulu sebentar di sana."
Fadli mengangguk.
Keduanya kembali diam sepanjang kaki yang terus melangkah mencari tempat makan, hingga akhirnya langkah mereka berhenti di sebuah restoran Jepang yang menunya terlihat menggiurkan. Dira mendudukkan dirinya begitu Fadli menarik kursi untuknya dan mempersilahkannya untuk duduk.
Fadli merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel lalu mengarahkan kameranya untuk men-scan barcode yang ada di meja. Setelah berbagai macam menu muncul di layar ponsel, diserahkannya ponselnya kepada Dira untuk memesan makanan terlebih dahulu.
"Kamu dulu yang pilih. Terserah kamu mau pilih apa aja," kata Fadli setelah ponselnya sudah diambil alih istrinya.
Dira mengangguk, menggulir-gulir layar ponsel lalu menekannya untuk memesan makanan yang ia pilih, setelahnya baru ia kembalikan ponselnya kepada sang empunya.
"Itu aja yang kamu pesen?" Fadli bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. "Enggak mau nambah?"
"Enggak Pak, itu aja udah bikin saya kenyang."
Fadli mengangguk. Setelah ia selesai memilih makanan dan mengirimkan form pesanan, diletakkannya ponselnya di atas meja, kedua tangannya dilipat di atas meja dengan tatapan yang menatap istrinya dalam-dalam.
Dira yang sadar ditatap seperti itu jadi menundukkan kepalanya dengan bibir yang membentuk senyum malu-malu monyet. Amboi~ tatapan teduh laki-laki itu mampu membuat jantungnya kembali tuing-tuing dan kakinya kembali berubah menjadi jeli. Namun, itu tidak bertahan lama karena sebuah pelayan datang membawakan pesanan mereka.
"Abisin ya. Kalau nggak abis, kamu pulang jalan kaki," ucap Fadli setelah pelayan yang mengantarkan makanan pergi.
Dira mengangguk. "Iya, Om."
"Andira!"
Dira terkekeh. "Bercanda elah," katanya sambil mengibaskan tangannya.
Fadli geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis. Satu tangannya bergerak, mengusap-usap punggung tangan Dira dengan ibu jarinya. Tatapan teduh terpancar dari iris hitam laki-laki itu, senyumannya semakin melebar, sambil berkata, "Kamu ... lucu."
Doeng!
***
"Bapak~ ayo senyum, kalo bisa nyengir lebar sampe giginya yang kinclong itu keliatan. Tangannya juga, bentuk peace, ya. Ayo senyum. Satu... dua... tiga..."
Layaknya seorang fotografer profesional, Dira mengarahkan kameranya ke arah suaminya yang berdiri kaku kayak patung hidup di depan sana. Ia sangat semangat begitu melihat tempat yang terlihat estetik untuk berfoto. Saking semangatnya, ia sampai rela berpose jongkok, miring kanan-kiri, kaki ditekuk sebelah, sampai hampir rebahan hanya untuk mendapatkan angle yang bagus.
"Udah belum? Lama banget dari tadi. Giliran kamu yang foto. Sini, biar saya yang fotoin," Fadli mulai mengoceh di depan sana dengan raut wajah masamnya.
Dira terkikik geli. Amboi~ wajah suaminya jika sedang ngambek gemoy sekali. Ingin rasanya ia mencubit gemas kedua pipi suaminya itu sampai memerah. Melangkahkan kaki menghampiri suaminya, Dira menggandeng tangannya begitu sampai di sana.
"Foto berdua yuk, Pak? Sekali-sekali. Buat kenang-kenangan. Ya, mau ya?" Dira mendongak, matanya mengerjap-ngerjap, memasang wajah sok imut yang dimilikinya.
Fadli menghela napas panjang. "Ya udah, iya."
Dira bersorak senang, diarahkannya kamera ponselnya ke arahnya dan suaminya. Berbagai macam gaya telah terabadikan dalam sebuah potret. Mulai dari gaya batu, duck face, peace, metal, pura-pura tertawa, senyum lebar, hingga gaya di mana Fadli berpura-pura mentoyor kepala Dira dengan ekspresi Dira yang cemberut, semuanya telah terabadikan. Dira tersenyum puas melihat hasil potretnya, begitupun dengan Fadli.
"Keren Pak! Nanti mau saya cetak jadi polaroid. Mau dipajang di kamar." Dira tersenyum lebar sambil memeluk erat lengan suaminya.
Fadli mengangguk sambil mengusap-usap kepala Dira. "Iya, terserah kamu," sahutnya. "Oh iya, ini kita mau pulang atau mau jalan-jalan lagi?"
"Pulang! Saya capek."
Fadli mengangguk. Kakinya terus melangkah keluar dari mall sambil terus menggenggam erat tubuh istrinya. Langkah mereka berhenti begitu sudah sampai di parkiran. Dira segera masuk ke dalam mobil lalu disusul dengan Fadli yang ikut masuk setelah berlari kecil memutari mobilnya.
Sebelum melajukan mobilnya, Fadli memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap ke arah Dira. Satu tangannya bergerak, menyentuh punggung tangan Dira dengan pandangan yang menatap dalam-dalam wajah istrinya dari samping.
"Andira."
"Iya?"
Suasana mendadak hening. Fadli tidak berkata lagi, tapi tubuhnya dicondongkan ke depan hingga wajahnya berdekatan dengan wajah Dira. Satu tangannya bergerak, menyentuh pipi Dira kemudian membelainya dengan lembut. Tatapan sayu terpancar dari iris hitamnya, sebelum akhirnya empat kata mengejutkan keluar dari mulutnya.
"Can i kiss you?"
***