bc

Paid Brides

book_age18+
6.9K
IKUTI
56.4K
BACA
love-triangle
HE
dominant
boss
heir/heiress
drama
bxg
bold
like
intro-logo
Uraian

Warning 21++

Harap bijak mencari bacaan

Devan Alexander, pengusaha kaya raya berwajah tampan yang harus membayar pengantin pengganti karena tunangannya masih koma.

Cecilia Pervita, wanita cantik harus terjebak dalam situasi menggantikan tunangan Devan untuk menjadi pengantin pengganti di depan altar.

Bagaimana jika Cecilia pergi dari kehidupan Devan saat dia sedang mengandung benih pria itu? pakah Devan akan kembali menemukan Cecilia dan meraih kebahagiaannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
01 Devan Alexander
Devan Alexander Seorang pria berwajah tampan dengan perawakan sempurna memandang sendu pada ranjang yang ditempati kekasih hatinya. Hatinya nyeri melihat sang kekasih hanya tergelatak lemah menutup kedua bola matanya dengan bantuan banyak alat medis disekitarnya. "Bagaimana? Apa sudah ada kemajuan?" Devan bertanya tanpa menatap Dokter pribadinya, matanya menatap lurus penuh rindu pada tunangannya. "Belum ada, Sir. Semua masih sama" jawab Martin dengan takut. Leher Devan berputar cepat, tatapan penuh amarahnya terkunci pada kedua bola mata Martin yang terlihat ketakutan. "Apa saja yang kau lakukan, huh? Sudah selama ini, tapi tunanganku belum juga membuka matanya?" "Maaf, Sir, semua tergantung kemauan tubuh Nona Grace. Bagaimana dia merespon setiap obat yang masuk kedalam tubuhnya" setelah menjelaskan kepala Martin menunduk dalam. Devan membuang nafas berat. Tatapannya kini lurus pada tunangannya yang sedang berbaring menutup mata. Sudah lebih dari enam bulan, namun tidak ada perubahan yang signifikan dari kesehatan tunangannya. Padahal persiapan pernikahan mereka sudah 90%. Pria itu mengibaskan tangannya tanpa menoleh kembali. "Kau boleh pergi" Martin mengangguk lantas berkata "baik, kalau begitu saya permisi, Sir" Devan Alexander salah satu Billionaire muda sukses di kota New York. Di usia yang masih sangat muda, dua puluh lima tahun, dia sudah mengembangkan dan melebarkan sayap bisnisnya ke berbagai Negara. Grace Maria, tunangan Devan yang sedang koma karena mengalami kecelakaan pesawat hampir tujuh bulan lamanya. Mereka sudah menjalin hubungan saat masih duduk di bangku kuliah, hampir tujuh tahun mereka memadu kasih. Kedua orang tua Devan sudah mengenal Grace cukup lama. Wanita itu tinggal berdua dengan Devan di salah satu hunian mewah eksklusif Meadow Lane di Southampton, Amerika Serikat. Karena orang tua Grace sudah lama berpisah, dan Ibunya tinggal di Manhattan dengan suami barunya. Begitu pintu tertutup, Devan langsung naik ke atas ranjang yang ditiduri kekasih hatinya. Maniknya menatap sedih wanita yang sangat dia cintai. Devan pun ikut membaringkan tubuhnya sambil mengelus lembut rambut wanitanya. "Bangun, sayang. Mau sampai kapan kau akan menutup matamu, hm?" Tak ada jawaban dari bibir sang wanita, Devan mengecup bibir sang kekasih dengan hati pedih. "Aku harap kau akan bangun sebelum hari pernikahan kita, sayang" Devan berucap lirih sambil menutup matanya. Setelah cukup puas mengobati rindu pada sang kekasih, Devan menuruni ranjang dengan wajah datar. Kakinya terayun keluar dari kamar wanitanya. Kepalanya mendadak penat, dia butuh sedikit hiburan dan minuman saat ini. Setidaknya itu bisa mengalihkan sedikit pikirannya. ****** New York-New York Hotel & Casino adalah pilihan Devan untuk menghibur otaknya yang sudah terlampau penat memikirkan banyak hal. Dia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Johan asisten pribadinya untuk menyusulnya. Devan berada di private room dan sedang menikmati salah minuman favoritnya Billionaire Vodka yang baru saja diantar oleh salah satu pelayan. Minuman beralkohol pertama yang paling mahal yaitu Billionaire Vodka, seperti namanya Billionaire ini memiliki arti yang memang dikhususkan untuk para miliarder karena harganya sangat fantastis. Minuman yang satu ini berasal dari Rusia, minuman ini juga tidak dibuat sembarangan karena memiliki resep rahasianya sendiri, bahkan keaslian rasanya sudah teruji oleh banyak kritikus minuman dan makanan dunia. Selain memang rasanya yang sangat enak, kemasan botolnya juga sangat mewah, bayangkan saja botol Billionaire Vodka ini tersemat 3.000 berlian Swarovski. Johan membuka pintu private room dengan perlahan. Matanya langsung disuguhkan dengan penampilan Devan yang sedikit kacau. Johan menghirup nafas dalam sebelum menyapa. "Selamat malam, Sir" Mendengar suara Johan membuat perhatian Devan beralih pada asiten pribadinya itu. "Duduklah, Jo, kepalaku pening memikirkan banyak hal" Johan mengangguk lantas mengisi tempat kosong. "Apa ini tentang pernikahan anda dengan Nona Grace, Sir?" tanyanya memastikan pikirannya. "Ya, itu masalah utamanya. Tunanganku masih saja betah menutup matanya" balas Devan lalu menghela nafas berat dan meneguk kembali Vodka-nya. "Menurutmu, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membatalkan acara pernikahan kami karena semua persiapan sudah berjalan 90%. Apalagi Mommy dan Daddy sudah mendesak agar aku segera menikah" imbuh Devan putus asa. Johan menatap iba tuannya, namun tak banyak yang bisa dia lakukan "bagaimana jika anda mencari pengganti sementara Nona Grace, Sir?" Kening Devan berkerut, tidak memahami saran Johan. "Apa maksudmu?" "Begini, anda bisa membayar seseorang untuk menggantikan posisi Nona Grace sementara saat hari pernikahan kalian sampai batas waktu yang anda tentukan sendiri. Anda bisa membuat surat perjanjian dengan wanita itu nantinya" jelas Johan hati-hati. Devan tertawa seraya geleng-geleng kepala. "Dimana aku bisa mendapatkan wanita normal yang tidak bisa menuntut banyak hal padaku, Jo? Kau tau sendiri bagaimana liarnya para wanita diluar sana" Johan mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya, tampak berpikir sejenak. "Saya akan mencarikan untuk anda secepatnya, Sir" Sebelum menanggapi, Devan meneguk kembali Vodka-nya hingga tandas. "Kau pesankan kembali Vodka-nya untukku, Jo" Johan mengangguk, kemudian memesan Vodka yang disukai oleh Devan. Seorang pelayan wanita dengan wajah cantik tampak risih dengan seragamnya masuk ke dalam ruangan membawa nampan yang berisi Vodka pesanan Devan. "Selamat malam, Sir. Ini pesanan anda" ucap Cecilia pelayan yang ditugaskan untuk mengantar minuman. Devan mengalihkan pandangannya dari ponselnya ke asal suara halus yang baru saja masuk dalam gendang telinganya. Tatapan mereka bertemu, Cecilia menunduk sopan saat melihat jelas siapa yang sedang duduk di sofa. "Silahkan dinikmati, Sir" ucap Cecilia diakhiri senyum manis. Setelah menyajikan pesanan pelanggannya, Cecilia pun keluar dari ruangan. Devan tertegun begitu mendengar suara halus dan melihat senyum paling manis yang pernah dilihatnya. Namun dengan segera dia menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin dia tertarik pada pelayan itu, pasti ini karena minumannya sehingga dia bisa berfikir seperti itu. Johan yang sejak tadi memperhatikan Devan tersenyum. Mungkin tidak masalah jika dia mengajukan wanita tadi sebagai kandidatnya. Wajahnya tidak terlalu buruk malah terlihat cantik untuk ukuran seorang pelayan. "Sepertinya, Nona itu pelayan baru, Sir" ucap Johan begitu wanita cantik itu menghilang di balik pintu. "Ya, mungkin, apa peduliku" balas Devan seraya mengangkat kedua bahunya acuh. "Saya akan mencari tau tentang wanita itu, Sir. Jika anda berminat untuk menjadikannya salah satu kandidat pengganti Nona Grace" Ucapan Johan disambut dengan tatapan tajam. "Jangan bercanda! Mana mungkin aku akan menggantikan posisi Grace dengan pelayan rendahan seperti dia" sarkas Devan tajam. "Kita belum tau bagaimana kehidupannya, Sir. Saya rasa itu akan lebih bagus. Mengambil wanita dari kalangan biasa untuk menggantikan Nona Grace. Itu akan jauh lebih sempurna. Anda bisa menekannya dengan perjanjian yang anda buat nantinya, Sir" jelas Johan kembali. Sejenak Devan berpikir, apa yang dikatakan Johan ada benarnya. Lagipula, wajah wanita tadi cukup menarik dimatanya. Setidaknya cukup sebanding dengan wajah tampannya. "Kau atur dan cari tau tentang wanita itu" "Baik, Sir" sahut Johan begitu bersemangat. Dia langsung berdiri dan berjalan sedikit menjauh untuk menghubungi Manager Casino. Tidak sulit untuknya mendapatkan data wanita cantik tersebut. Mengingat Devan adalah salah satu pelanggan tetap dan memiliki kamar khusus di Casino ini. "Anda ingin bermalam disini atau pulang ke mansion anda, Sir?" "Aku bermalam disini saja, siapkan kamarku dan bawa ini semua kesana" titah Devan seraya menunjuk botol Vodka dengan dagunya. "Baik, Sir" Johan mengangguk. Tubuhnya kembali bergeser sedikit menjauh, sebab harus menghubungi seseorang untuk menyiapkan kamar Devan. "Kamar anda sudah siap, Sir" Tanpa berbicara kembali, Devan pun beranjak meninggalkan private room. Dia menaiki lift menuju kamar pribadinya, diikuti oleh Johan dibelakangnya. Begitu sampai di kamarnya, Devan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Devan menutup matanya saat merasakan guyuran air shower, menikmati setiap tetes air yang mengalir membasahi seluruh tubuhnya. Setelah dirasa cukup, Devan menyudahi kegiatannya lalu melilitkan handuk pada pinggangnya. Tepat saat kakinya keluar dari kamar mandi, bel pintu berbunyi. Dengan keadaan rambut masih setengah basah dan handuk yang melilit di pinggangnya, Devan berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Cecilia menatap terkejut begitu mendapati pria tampan membuka pintu kamar. Pipinya bersemu karena melihat penampilan pria itu. Tubuh kekar dan rambutnya yang masih setengah basah membuat Cecilia menunduk malu, dia belum pernah melihat tubuh seorang pria dalam keadaan seperti ini sebelumnya. Walaupun usianya sudah dua puluh dua tahun, tapi Cecilia termasuk wanita yang kolot dan belum pernah berhubungan intim dengan seorang pria. Banyak temannya yang menyebutnya perawan tua, tapi dia tidak perduli dengan semua cibiran dan ledekan dari teman-temannya. Menurutnya, dia hanya akan memberikan keperawanannya kepada suaminya kelak. Melihat wanita dihadapannya hanya diam membuat Devan sedikit heran. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya seraya menaikkan sebelah alisnya. "Ah, tidak, Sir. Eum, maaf saya hanya mengantarkan minuman ini saja" jawab Cecilia dengan gugup. Devan membuka pintu kamar lebih lebar agar wanita itu bisa masuk "lalu kenapa kau hanya diam saja di sana?" tanya Devan lagi dengan wajah bertambah heran. "Eum, tidak, Sir. Maaf, saya akan meletakkan ini di dalam kamar anda, permisi, Sir" jawab Cecilia terbata. "Ya, silahkan" Devan membalas dengan wajah datarnya. Dia berjalan lebih dulu lantas duduk disalah satu sofa sambil mengamati wanita yang sedang meletakkan botol vodka serta gelas dengan tangan gemetar. "Kenapa kau gemetar seperti itu?" tanya Devan semakin bingung. "Eum, tidak, Sir. Kalau begitu saya permisi" pamit Cecilia dengan senyum sopan-nya, walaupun jantungnya sudah berdegup kencang sejak tadi. "Tunggu!" Devan mengambil dompetnya yang tergelatak di atas meja, lalu memberikan beberapa lembar uang tip untuk wanita itu. Cecilia menerima uang tersebut dengan wajah tegang dan tangan yang sedikit gemetar. "Thank you, Sir" ucapnya lalu memalingkan wajahnya dari pria itu. Kenapa juga pria itu tidak langsung memakai bajunya saja? Malah duduk di sofa dengan keadaan seperti itu? Membuat otak ku kotor saja! Melihat reaksi serta kegugupan wanita itu membuat Devan menyimpulkan pemikirannya sendiri. Lalu dengan entengnya dia bertanya "Apa kau tidak pernah melihat pria bertelanjang d**a ssebelumnya?" Cecilia melotot mendengar pertanyaan pria asing itu. Dengan wajah yang semakin memerah dia menggeleng kaku lalu mengalihkan kembali tatapannya. Devan tertawa kencang melihat respon wanita yang ada di depannya. Juga merasa aneh karena di jaman sekarang belum pernah melihat pria bertelanjang d**a. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai. "Kau jalang baru rupanya?" Perkataan pria itu membuat emosi Cecilia naik. Iris biru terangnya mendelik. "Maaf, Sir. Saya bukan pelayan seperti itu. Kalau begitu saya permisi" ketusnya, dengan segera dia memutar balik tubuhnya dan keluar dari kamar dengan perasaan kesal. Seringai Devan semakin lebar begitu melihat wanita cantik itu keluar dari kamarnya. "Wanita menarik" gumamnya seraya mengusap dagunya. Dia meneguk Vodka yang sudah dituang ke dalam gelas sebelumnya oleh wanita tadi. Kini tatapan Devan mengarah keluar jendela dengan pandangan kosong. Mengingat kondisi Grace membuat kepalanya kembali pening. Kemudian Devan beranjak untuk memakai boxernya tanpa menggunakan atasan. Setelahnya dia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi tengkurap. Devan memaksakan kelopak matanya terpejam. Kepalanya terasa berat setelah menghabiskan tiga botol Vodka sendirian. Devan mendesah berat, otaknya kembali memikirkan semua masalah yang menghampirinya akhir-akhir ini. Penghianatan pada cabang perusahaannya lalu kecelakaan pesawat yang menyebabkan tunangannya koma. Belum lagi orangtuanya yang memaksaknya untuk segera menikah dengan perempuan lain, karena sudah ingin menimang cucu dan memintanya untuk meninggalkan Grace karena tidak ada perkembangan lebih dari tunangannya sejak kecelakaan itu. "Sepertinya wanita polos tadi cocok aku jadikan pengganti Grace dihari pernikahan kami nanti" gumam Devan lantas menyeringai.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook