SETELAH mengambil barang-barang yang dibutuhkan dari rumah, mereka kembali ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil agak hening. Rena melirik ke arah El. Lelaki itu tampak tenang menuntunnya. Rena tersenyum sendiri. Lega karena El mengizinkannya menjaga Hafis. "Kenapa lirik-lirik begitu?" El menangkap tatapan Rena padanya. Bibirnya mengulum senyum ketika melihat wajah Rena memerah. Rasa malu menyelimuti hati wanita itu saat tertngkap mencuri pandang. "Terima kasih telah mengizinkan ku untuk menjaga abang," kata Rena. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke tengah jalan raya sambil menghela napas lega. Dalam hati, ia bersyukur karena El memahami situasinya. "Tidak masalah. Kakakmu itu adalah kakak iparku. Sebelum kita menikah, dia yang merawatmu." "Besok setelah jam

