Ten | Getting Touch

1403 Kata
Harus Nadin akui jika ia sangat tidak menyesal pergi makan siang bersama Rizal. Selain menu steak yang enak, Nadin jadi ingin kembali lagi ke sana. Nadin sesekali menyapa beberapa tamu hotel yang ia lewati saat akan memasuki lift dengan senyum terbaiknya. Menjadi ramah kepada orang yang belum dikenalnya bukanlah masalah baginya. Ia sudah terbiasa melakukan itu. Setelah masuk ke dalam lift dan sampai di lantai 4, Nadin langsung menuju meja kerjanya. Tetapi belum sampai di meja kerjanya, Nadin kembali melangkah mundur dan menolehkan kepala. Wira masih duduk di kursi kerjanya, berkutat dengan laptop, sedangkan semua karyawannya belum ada yang kembali dari istirahat makan siang. Nadin melihat jam tangannya, sudah hampir pukul 1 siang. “Jangan pernah ada di dekat dia kalau sudah mendekati jam makan siang. Walau kelakuannya acuh begitu, dia itu orang yang workholic. Kalau sudah fokus bekerja, dia akan lupa sama waktu makan.” “Apa benar dia belum makan siang?” tanya Nadin bermonolog. Ia diam di sana beberapa saat sambil menatap ke arah Wira yang terlihat begitu sangat fokus. Bagaimana Nadin harus mendeskripsikan apa yang ia lihat pada Wira saat ini? Wira terlihat tampan. Benar, pria itu terlihat tampan karena wajahnya yang serius. Ia tidak bisa memungkiri fakta itu. Rambut hitam Wira yang ditata rapi ke atas itu memperjelas garis dahi dan alisnya yang tebal. Hidungnya yang mancung, dan tangannya yang besar berotot itu. Mendadak Nadin merasa bangga karena pernah melihat otot yang selalu terlindungi di balik jas hitam itu. “Gila,” ucap Nadin yang mengedipkan matanya dengan cepat. Ia berdeham kemudian berdiri dengan tegap lagi. Ya, karena terlalu fokus melihat ke arah Wira, ia seakan melebur dengan jendela ruang kerja pria itu. “Gue pasti udah nggak waras,” ucapnya lagi. Nadin segera memutar tubuhnya dan menjauh dari ruang kerja Wira. “Kamu baru tahu?” “Apa?” Nadin yang semula ingin melayangkan protes mendadak menutup bibirnya rapat saat melihat Wira yang rupanya sudah berdiri di depan pintu ruangannya. “Kamu ngapain di sini?” “Itu― sejak kapan Bapak di situ?” “Sejak kamu mengatakan diri kamu tidak waras.” “Iya, Pak. Saya memang lagi tidak waras sekarang.” “Bagus kalau kamu sadar itu.” Nadin langsung membulatkan matanya, sebal. “Mana Rizal?” tanya Wira dengan mata mencari keberadaan sahabatnya itu. “Katanya masih ada urusan di luar, Pak. Jadi saya duluan ke sini.” Tanpa aba-aba, Wira kembali mundur selangkah dan hendak masuk kembali ke dalam ruangan sebelum suara Nadin berteriak memanggilnya. “Kenapa?” tanya Wira dengan kepala yang tengah menoleh. “Bapak sudah makan?” tanya Nadin hati-hati. “Kenapa?” “Saya cuma ingin memastikan kalau Bapak tidak lupa makan siang.” Bukannya menjawab, Wira malah bersidekap d**a. “Bagaimana rasanya makan berdua dengan Rizal?” “Apa?” Nadin bengong sekitar 2 detik sebelum akhirnya tersadar kembali. “Mas Rizal orangnya ramah dan asyik untuk temen ngobrol. ” “Apa semenyenangkan itu?” “Oh, ya lumayan, Pak. Terus juga kebetulan saya ditraktir steak dan rasanya enak banget. Dan saya― “Cukup,” kata Wira yang tak mau mendengar Nadin bicara lagi. “Bilang saja kalau kamu mau komplain sama saya soal mie instan di apartemen.” Nadin sontak membulatkan mata dan mendekati Wira hingga jaraknya tak banyak bersisa dengan pria itu. Ditatapnya kedua mata Wira dengan kedua mata yang membulat sempurna. “Pak, saya tahu saya kemarin banyak repotin Bapak. Tapi plis, soal saya menginap di apartemen Bapak hanya kita dan Mas Rizal yang tahu. Jangan sampai semua karyawan Bapak tahu, karena saya nggak mau jadi bahan omongan orang. Nanti dikiranya kita melakukan hal yang tidak-tidak.” Kedua mata Nadin berkedip cepat dan segera mengambil jarak aman ke belakang saat menyadari posisinya dan Wira sudah teramat dekat. Wira menyipitkan matanya, kemudian berkata, “Dasar otak mesum.” “Apa? Ini sudah kedua kalinya loh Bapak panggil saya m***m!” “Memang benar adanya. Otakmu itu perlu dicuci agar tidak memikirkan hal yang tidak-tidak.” Nadin berdecih dengan tatapan matanya yang kesal karena ucapan bosnya yang suka bicara seenaknya. “Padahal saya ke sini karena mau ajak Bapak makan siang, tapi sepertinya saya salah. Saya yakin Bapak pasti sudah kenyang karena puas membuat orang merasa kesal.” Wira tak bisa menahan senyum gelinya melihat ekspresi dan keluhan dari bibir wanita seperti Nadin. Dua detik setelahnya, ia kembali memasang wajah seriusnya. “Tadi kamu bilang apa? Mau ajak saya makan siang?” “Iya. Saya tahu Bapak belum makan, jadi saya mau ajak Bapak makan siang.” “Kamu kan sudah makan, untuk apa makan lagi?” “Makan itu paling nikmat kalau ada yang menemani, Pak. Ayo, saya temani Bapak makan siang. Nanti setelah itu baru Bapak kerja lagi.” “Saya tidak lapar,” kata Wira. Nadin mengerutkan wajahnya. “Bapak pasti akan kelaparan sebentar lagi. Tubuh harus diisi asupan ketika sudah waktunya.” Nadin menarik tangan Wira tanpa sadar. Melangkah cepat membawa pria itu menuju pantry. Sesampainya di pantry, Nadin justru menganga takjub saat melihat menu makan siang hari ini yang terlalu menggiurkan. “Wah, ada ikan dori.” Nadin melepaskan tengan Wira begitu saja Karyawan memang terbiasa mendapat jatah makan sesuai dengan menu yang dipesan oleh tamu. “Wah, dagingnya banyak. Ada udang dan cumi juga.” Mata Nadin tak bisa berhenti berbinar. “Saya rasa ini bukan pertama kalinya kamu melihat semua makanan itu,” komentar Wira. “Apa hari ini ada tamu spesial, Pak?” Nadin menoleh dan sontak membeku di tempat saat ujung hidung mancungnya menyentuh permukaan yang lembut dan terasa dingin. Kedua kaki Nadin langsung mundur cepat. Begitu pula Wira yang kini sudah berdiri dengan tegap dan benar, karena posisi berdirinya tadilah, Nadin mengalami kecelakaan dengan hampir mencium pipi kanan Wira. Salah pria itu yang melongokkan kepalanya ke samping kepala Nadin dan sedikit merunduk hingga kepala mereka sejajar. Wira berdeham pelan. Tangannya membenarkan letak dasi yang sebenarnya masih sangat baik-baik saja. “Maaf, Pak. Saya nggak sengaja. Saya nggak pernah mengira kalau kepala Bapak akan ada di samping persis muka sa―” Nadin kembali menutup rapat bibirnya saat melihat kepala Wira sudah menoleh dan menatap tajam ke arahnya. “Maaf, tapi saya rasa lebih baik saya kembali kerja sekarang. Bapak silakan lanjutkan makan siangnya.” Bertepatan dengan Nadin yang hendak memutar tubuhnya, sebuah tangan dengan sigapnya menangkap lengan Nadin hingga wanita itu tak bisa ke mana-mana. “Kamu yang ajak saya ke sini, kalau kamu lupa.” Nadin meringis pelan. “Iya, Pak itu benar. Tapi sepertinya―” “Apa kamu lupa apa yang kamu katakan sebelumnya untuk meyakinkan saya di ruang meeting?” “Tapi, Pak, itu, kan―” “Nadin! Pak Wira!” Seruan ramai itu sontak membuat Nadin dan Wira menoleh kompak. 2 orang tim keuangan dan 1 marketing baru saja berdiri dan melangkah mendekati mereka berdua. Sadar jika Wira masih memegang lengannya, Nadin menarik tangannya cepat. “Pak Wira baru mau makan siang?” tanya Dimas. “Iya,” jawab Wira apa adanya. “Kamu ngapain di sini, Nad? Bukannya katanya ada janji makan siang bareng Mas Rizal?” tanya yang lainnya. “Iya, saya ke sini mau ….” “Makan bareng saya,” jawab Wira cepat. Membuat Nadin menoleh dan membulatkan matanya cepat. Ketiga orang yang mendengar jawaban Wira sontak berseru menggoda keduanya. “Ada apa ini, Nad? Kamu mulai PDKT dengan Pak Wira?” “Nggak! Udah deh, kalian mau balik kerja, kan? Sana, pergi,” perintah Nadin dengan wajahnya yang merah padam karena malu. Begitu hanya menyisakan dirinya dan Wira, Nadin lantas menoleh dan meminta penjelasan dari pria itu dari tatapan matanya. “Apa?” tanya Wira tanpa dosa. Pria itu berlalu meninggalkan Nadin dan mulai mengambil piring. “Apa kamu benar tidak mau makan?” tanyanya pada Nadin yang masih saja berdiri terdiam membeakanginya. “Bapak bicaranya jangan yang aneh-aneh gitu, dong. Nanti kita jadi bahan gosip.” Wira tersenyum miring mendengar kalimat Nadin yang menggelitik telinganya. “Memangnya kita ada hubungan apa sampai dijadikan bahan gosip?” “Ya tidak ada, tapi, kan―” “Berhenti mencemaskan ucapan orang lain. Ambil piring dan temani saya makan.” “Tapi, Pak―” Nadin menghela napas panjang saat Wira meninggalkannya begitu saja ke depan sana untuk mengambil lauk. “Ah, stres,” keluh Nadin yang seketika mengecek suhu di keningnya dan merasakan keningnya menghangat hanya karena masalah sepele seperti beberapa saat lalu. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN