Eleven | It was You

2229 Kata
Seorang pria dengan rambut sebagian yang telah memutih itu masih memandang keluar jendela di ruang kerjanya selama hampir sepuluh menit. Tatapannya menatap bagaimana awan membentuk lika-liku yang indah menghiasi langit biru. Pikirannya penuh, ingin berbagi, namun tak ada siapapun yang dapat ia jadikan tempat berbagi cerita. Langit terlihat biru. Terlihat jelas bagaimana padatnya jalan pusat kota Jakarta dari gedung 30 lantainya. Gedung itu miliknya, ia menjadi salah satu pebisnis paling berpengaruh di Indonesia, kaya raya, tetapi kesepian di usianya yang semakin menua. “Pak Wisnu.” Pria paruh baya itu berdeham pelan mendengar suara asisten yang memanggilnya. Asisten barunya yang menggantikan posisi Nadin yang pergi ke TM Hotel Malang. “Rapat RUPS sudah akan dimulai lima menit lagi.” Wisnu melihat jam tangan silver yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya serta pandangan yang kembali ia lempar ke jendela menatap ibu kota. Entah mengapa ia rindu dengan sosok Nadin. Walau gadis itu selalu menguji kesabarannya, ceroboh, dan kadang menyebalkan, tetapi justru itulah yang membuat Wisnu merindukan Nadin yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Wanita itu mampu membuat suasana mood membaik di ruang kerjanya. Dan ia terpaksa harus memberikan Nadin pada putra semata wayangnya, Elwira. Wisnu berharap Wira mampu keluar dari zona amannya dan mau melangkah maju. Ia berharap putranya itu dapat menyembuhkan rasa sakit di hatinya. Ia cukup banyak berharap jika Nadin bisa memperbaiki masalahnya dengan Wira suatu saat nanti. Ia pasti akan bisa tersenyum lepas dengan bahagia jika saja Elwira mau menemui dirinya. Membicarakan banyak hal dan tertawa bersama seperti dulu lagi. “Pak Wisnu?” Wisnu menghela napas panjang. “Baik. Kita pergi sekarang.” Wisnu berbalik dan keluar dari ruang pribadinya. Adit, asisten yang baru bekerja sekitar satu bulan mengikuti langkah Wisnu tanpa suara. Walau belum lama ia dipindah tugaskan untuk membantu Wisnu, ia sudah bisa menilai bagaimana kepribadian seorang Wisnu Putra Adhitama. Kerja kerasnya, tingkat kedisiplinannya, caranya mengatasi masalah, dan bagaimana pria itu memimpin perusahaan, sangat cukup untuk menjadikan alasan besar bagaimana TM Group bisa berkembang pesat. “Pak Wisnu oke?” Adit menoleh dan menemukan siapa orang yang baru saja mengajukan pertanyaan padanya. “Maksudnya?” “Kabarnya Pak Wisnu,” jawab Vera kemudian. “Akhir-akhir ini gue liat Pak Wisnu kelihatan nggak sehat. Ya nggak, sih?” tanyanya lagi. “Iya, gue rasa juga begitu. Gue juga udah sempat tanya, tapi Beliau bilang baik-baik aja.” “Biasanya Nadin sering nyiapin vitamin untuk Pak Wisnu konsumsi setiap pagi. Coba lo chat Nadin, tanya-tanya ke dia soal Pak Wisnu.” “Oke, nanti gue chat dia. Thank you, Ver.” Begitu melihat Vera mengangguk, Adit lantas berjalan cepat menyusul kepergian Wisnu menuju lift. Vera memandang punggung bos besar TM Group itu dengan tatapan memicing. “Jelas-jelas Pak Wisnu kelihatan nggak sehat. Apa karena kesepian ditinggal Nadin pergi, jadi sekarang Beliau nggak punya objek yang menguji kesabarannya?” “Oh iya, gue belum tanya kabar dia akhir-akhir ini. Lagi ngapain itu anak sampai ikutan lupa buat kasih kabar gue?” tanya Vera bermonolog sambil membuka ponselnya. Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya sambil mengirimkan sebuah pesan pada sahabatnya yang kini berada di Malang. To : Nadia Nad, sesibuk apa pun lo di sana, gue harap lo sesekali masih kontak Pak Wisnu. Karena lo, Pak Wisnu jadi nggak punya objek penguji kesabaran.   *** Berbeda halnya dengan Vera yang sedang fokus dengan kesibukannya di kantor pusat, Nadin hanya membuka tutup kedua matanya dengan gerakan lamban. Ia benar-benar bosan. Sejak pagi tak ada apapun yang bisa ia kerjakan. Seperti biasa, Wira mengabaikannya seperti ia adalah orang tak terlihat. Ketika ponselnya bergetar, dengan cepat tangan kanannya meraih dan membuka lock screen ponselnya. Ia langsung mendengus saat membaca pesan dari Vera. “Ini manusia emang bisanya cuma ngeledek gue doang,” lirihnya sambil mengetik membalaskan pesan masuk dari Vera. To : Vera Saking sibuknya gue sampai ngantuk dan ngabisin 2 gelas kopi. Kalau sampai malem gue masih duduk bengong di kursi, mungkin gue emang termasuk orang yang sial di tahun ini. Getaran kembali terasa dari ponselnya. Secepat itulah Vera membalas pesannya. Pelet lo belom kenceng buat bos baru lo, Nad. Mungkin di makanannya harus lo kasih serbuk pelet, biar sekalian dia jatuh cinta sama lo. “s***p,” caci Nadin dengan membuang ponselnya begitu saja ke atas meja. Ia berdiri karena hendak pergi ke toilet. Jika tak ada pekerjaan yang menghampirinya, lebih baik ia yang mencari pekerjaan itu. Siapa tahu ada orang yang membutuhkan bantuannya, tak seperti Wira yang terus sibuk berdua bersama Rizal dan mengabaikannya. “Saya tidak mau mendengarnya lagi!!” Suara kencang yang terdengar dari ruang kerja milik Wira membuat langkah kaki Nadin sontak berhenti. Padahal ruangan itu sudah tertutup dengan rapat, berarti suara Wira di dalam memang sangat kencang sekali hingga bisa terdengar hingga keluar. Nadin mengintip dari balik tirai yang biasanya tertutup jika sedang ada pembicaraan privasi di dalam ruangan tersebut. Dan itu biasa terjadi jika Wira bersama dengan Rizal. Di dalam ruangan, Wira berdiri dari kursinya dan menatap tajam ke arah Rizal yang berdiri di depan mejanya. Mereka berdua saling memberikan tatapan yang sengit dan tajam. Rizal bahkan sampai bisa mendengar suara napas Wira yang mulai terdengar memberat juga melihat bagaimana raut wajah bosnya yang tegang dan marah. “Perlu Anda ingat, bahwa Anda perlu mendengar berita ini! Tolong lihat bagaimana perjuangan―” “Cukup, Rizal!” potong Wira menyeru. Tangannya menggebrak meja dengan kencang hingga kedua telapaknya memerah dan tak sadar menggores kulit tangannya dengan ujung kater yang masih terbuka di atas meja. “Perlu kamu tahu, kalau saya tidak perlu rasa pedulimu!” Rizal tersenyum miris. “Jadi begitu ya, penilaian Anda selama ini tentang saya?” Rizal menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat. “Harusnya gue nggak perlu bicara panjang lebar sama orang yang nggak pernah mau buka mata hatinya.” Air muka Wira yang semula kencang karena emosi, mendadak gugup. Jika Rizal sudah menggunakan bahasa santai padanya saat di tempat kerja, itu tandanya pria itu benar-benar serius sedang marah. Bertepatan saat Wira akan membuka bibirnya untuk bicara, Rizal sudah memutar tubuh dan keluar dari ruangannya dengan suara debaman pintu yang terdengar. Sementara itu, Nadin membulatkan matanya terkejut melihat Rizal yang baru saja keluar dari ruangan Wira. Pria itu berlalu begitu saja melewatinya pergi. Jelas terbaca dari wajah Rizal, jika 2 pria yang katanya sahabat dekat itu memang sedang terlibat pertengkaran. Mata Nadin kembali membulat lebih lebar saat melihat seseorang yang baru saja keluar dari ruangan adalah Wira. Pria itu menatap kepergian Rizal dan kini giliran menatap kedua matanya. “Saya nggak bermaksud menguping, Pak. Tadi awalnya saya mau ke toilet, terus nggak sengaja berhenti di sini, dan―” Nadin refleks membungkam bibirnya saat melihat Wira pergi begitu saja tanpa mau mendengar kelanjutan penjelasannya. Nadin menghela napas panjang. Ia ikut memutar tubuhnya, melihat Wira yang bergegas pergi, mungkin ingin mengejar kepergian Rizal. “Ada apa sih sama mereka? Kenapa kelihatan serius begitu?”   *****   Wira menghela napas panjang saat melihat nomor yang tak ia simpan meneleponnya. Sebenarnya ia sudah hafal siapa pemilik nomor tersebut karena sudah menghubunginya beberapa kali. Tetapi ia merasa tidak ada gunanya menyimpan nomor itu, karena ia pun tak berniat melakukannya. “Saya sibuk. Tolong dipersingkat,” ujar Wira dingin pada seseorang di seberang telepon sana.” “Bapak pingsan tadi sore, Mas.” “Apa katamu?” tanyanya dengan kening mengerut tipis. “Bapak pingsan Mas, tidak lama setelah waktu makan siang.” “Lalu apa kata dokter?” “Dokter ingin langsung bertemu dengan Mas Wira untuk menjelaskan.” “Saya tidak punya waktu untuk ke sana.” “Hanya Mas Wira yang Bapak punya sekarang. Bukankah seharusnya Mas Wira menyediakan waktu sesaat untuk menemui Bapak?” Wira menahan napasnya beberapa saat. Ia menguatkan dirinya untuk membalas permintaan dari Adit, asisten Wisnu saat ini. “Maaf, tapi saya tidak ada waktu untuk ke sana. Untuk sementara kamu saja yang menjadi walinya, atau kalau mau kamu bisa mencoba menghubungi Om saya yang ada di Malaysia.” “Tapi, kan, Pak, yang pantas menghubungi beliau adalah Mas Wira langsung yang termasuk keluarganya. Kalau saya―” Wira langsung menutup teleponnya sepihak. Ia mendesah panjang dan mengusap kasar wajahnya. Ia jadi mengingat pembicaraannya dengan Rizal kemarin yang berujung saling emosi. Sampai hari ini Wira bahkan belum melihat Rizal muncul lagi di hadapannya. Ketika mereka tak sengaja bertemu, maka Rizal akan dengan cepat menghindar. Jika biasanya Rizal akan tetap profesional, entah mengapa kali ini terasa berbeda. “Pak Wisnu tetap mempertahankan Anda untuk menjadi pilihan utama saat ada sesuatu yang terjadi pada Beliau suatu hari nanti.” “Kamu tidak perlu repot-repot memberikan informasi tidak penting seperti itu.” “TM Group saat ini bukanlah lagi perusahaan keluarga semata, Pak. Anda harus menyadari hal itu. Pak Wisnu telah memperjuangkan sebagian hidupnya di tangan Anda suatu saat nanti.” “Zal, saya benar-benar tidak mau mendengarkan apapun.” “Anda juga pasti mengerti jika yang mampu membuat keputusan seperti itu bukanlah hanya Pak Wisnu semata. Beliau membutuhkan persetujuan dewan komisaris dan para pemegang saham.” “Dia yang membuang saya, jadi untuk apa saya harus repot memikirkan itu semua?” “Apa Anda menikmati sudah berpura-pura bodoh selama ini? Tolong buka mata dan telinga Anda sesekali. Pikirkan ada berapa pundak yang bertumpu di Pak Wisnu? Ada berapa orang yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja di TM Group?” Wira langsung merebahkan tubuhnya ke sofa yang tadi ia duduki. Ia menutupi kedua matanya dengan lengannya. Mengatur napas bahkan terasa berat untuknya saat ini. “Gue nggak pernah minta semua itu. Apa hanya kasih sayang begitu sulit untuk dibagi?” lirihnya. ***   “Udah jam 8 lewat, tapi Pak Wira masih di ruangannya,” ucap Nadin bermonolog. Nadin melirik ke sekitarnya. Sudah tidak ada orang yang tersisa selain dirinya dan Wira di ruang pribadinya. “Suasananya bener-bener aneh dari kemarin. Mas Rizal juga kelihatan jelas kalau menghindari Pak Wira.” Nadin masih berdiri mondar-mandir sejak tadi di depan mejanya. Ia merasa tidak tenang memikirkan Wira yang masih berada di dalam ruang kerjanya, namun ia juga tidak berani jika harus masuk ke dalam ruang pria itu. Ia tidak tahu apa yang sedang Wira lakukan, atau ia takut karena memikirkan mungkin saja ketika ia membuka pintu, Wira akan melempar barang apapun itu ke arahnya. “Terserah lah.” Dengan bermodal nekat, akhirnya Nadin memberanikan diri mendekati ruang kerja Wira. Ia mengetuknya tiga kali dengan bunyi ketukan sedang. “Pak!” panggilnya. “Apa saya boleh masuk?” tanyanya dengan suara yang lebih tinggi. Tak mendengar ada sahutan dari dalam, Nadin kembali mengetuk pintu ruang kerja Wira dengan lebih kencang dan memanggil pria itu lagi. Nadin akhirnya menarik gagang pintu tersebut dan membukanya perlahan. Ia melongokkan kepalanya ke dalam dengan hati-hati. Saat kepalanya menoleh ke sudut kiri, pupil matanya sontak membesar dengan mulut menganga karena melihat Wira yang tertidur di atas sofa. “Pak Wira?” panggilnya dengan hati-hati berharap Wira akan segera bangun. Pintu akhirnya terbuka lebar, Nadin melangkah perlahan mendekati pria yang tampak sedang tertidur lelap itu. Nadin menundukkan kepalanya, ingin melihat bagaimana tampak wajah Wira yang tertidur. Sayangnya pria itu menutupi bagian matanya dengan lengan, sehingga yang terlihat jelas hanya bibir merah muda dan dagunya yang tajam. “Dia kelihatan lelah banget,” ucapnya pelan. Belum pernah ia melihat Wira berada di hotel lebih dari jam kerja. Pria itu selalu memanfaatkan waktu pulangnya dengan sangat baik. “Oh, itu ….” Mata Nadin berhenti pada luka merah yang terlihat dari telapak tangan Wira. Nadin semakin menunduk dan akhirnya berjongkok di dekat sofa sambil memegang tangan Wira untuk mengecek luka pria itu. “Luka begini harusnya nggak didiamkan. Nanti kan bisa berbekas.” Nadin merogoh hansaplast yang kebetulan masih ada di sakunya karena ia sebelumnya pun sempat melukai tumitnya karena memakai high heels dengan ukuran yang sedikit kekecilan. Setelah memakaikan hansaplast itu ke telapak Wira, Nadin mengamati setengah wajah pria itu dengan hati-hati. “Saya yakin, setiap orang punya sisi positifnya masing-masing. Jadi saya harap Bapak juga punya sisi itu dan mau memberikannya untuk hotel ini.” Bunyi dering yang berasal dari meja membuat Nadin menolehkan kepalanya. Sepertinya ada pesan yang masuk di ponsel bosnya. Tetapi belum sempat ia mengambil ponsel Wira, foto wallpaper pria itu sedikit menarik perhatiannya. Dengan senyum samar, Nadin meraih ponsel itu. Wallpaper ponsel Wira adalah gambar langit biru dengan awan putihnya, namun yang membuat kening Nadin mengerut dalam adalah saat melihat ada sebuah gambar berukuran kecil yang ditempel dalam wallpaper tersebut. Kening Nadin semakin mengerut dalam saat melihat jelas gambar yang ada di sudut bawah layar ponsel milik Wira. Di foto itu mengabadikan 2 orang anak kecil yang berdampingan di depan sebuah rumah besar dengan pagar berwarna hitam. Anak laki-laki yang mengenakan celana kodok dengan kaos berwarna hitam itu menggandeng tangan seorang gadis kecil yang mengenakan kaos pink beserta rok dengan motif bunga. Dengan tatapan yang tak luput dari layar ponsel Wira, Nadin mengambil ponselnya dan membuka galerinya. Ibu jarinya terus menggeser jauh layar ponsel ke bawah, membuka memori lama yang mungkin masih tersimpan. “Wira?” lirih Nadin tak percaya sambil menatap antara layar galeri di ponselnya sendiri dan ia bandingkan dengan yang ada di wallpaper ponsel Wira. Kedua gambar itu sama persis, sama dengan yang Nadin miliki. Nadin sontak menoleh ke arah Wira sambil membekap bibirnya rapat. Benarkah ini? Bermimpikah ia? Orang yang selama ini ia cari ternyata orang yang sama dengan orang yang sedang terlelap di dekatnya?   *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN