Sixteen | Jealous

1858 Kata
Nadin berusaha keras menyembunyikan wajahnya dengan buku catatan di tangannya. Ia bahkan terus bersembunyi di balik tubuh siapa pun yang bisa menghalangi dirinya dari tatapan Wira. Mereka kini tengah melaksanakan briefing pagi. Entah sejak kapan Wira mulai rajin melakukan itu setiap harinya. Waktunya tidaklah lama, hanya sekitar lima belas menit. Nadin berharap itu merupakan langkah awal positif Wira untuk mau lebih bersemangat membangun TM Hotel agar bisa kembali berjaya seperti dulu. Namun, kini Nadin tidak bisa fokus mendengarkan apa yang dikatakan pria itu. Nadin meringis pelan sambil menghela napas panjang. Waktu briefing hanya lima belas menit, tetapi selama itu pulalah Wira terus melayangkan tatapan padanya. Padahal Nadin sudah sengaja berdiri baris kedua, tepat di belakang tubuh Dewi. Apakah Wira masih marah padanya karena masalah semalam? Tapi itu bukanlah salahnya, karena ia sendiri dalam keadaan setengah sadar. “Apa data yang saya minta sudah ada?” Semuanya diam, menunggu ada seseorang yang dapat menjawab pertanyaan dari Wira barusan. Tatapan Wira menatap satu-persatu stafnya. Tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan sederhananya. “Nadin? Bukankah kamu harus menjawab?” Wira mengakhiri tatapannya pada Nadin yang masih bersembunyi di belakang. “Nad? Kamu dipanggil Pak Wira.” Dewi berbisik ke belakang. “Aku?” “Iya, kamu.” Nadin mulai menggeser kepalanya dan menatap ke arah Wira yang berdiri di depan sana sambil bersidekap d**a. Semuanya sontak menoleh dan menatap ke arah Nadin. Menunggu wanita itu memberikan jawaban pada Wira. “Bapak … tanya apa sama saya?” tanya Nadin dengan suara cicitannya. Wira mengerutkan keningnya, tak jelas mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Nadin. “Kalau mau berbisik, mendekatlah. Saya tidak bisa dengar suara kamu.” “Pak Wira nanya data, Nad. Kamu tahu nggak?” “Belum kamu kerjakan? Sepertinya sudah saya minta sejak dua hari yang lalu.” “Sudah, Pak. Tapi saya lupa kirim semalam, karena―” Nadin sontak membungkam rapat bibirnya. Wira mengangkat sebelah alisnya menunggu kelanjutan ucapan Nadin. “Karena apa, Nad?” tanya Rizal penasaran. “Karena―” “Cukup, kita bahas itu di ruangan saya,” potong Wira ingin percakapan itu berakhir. “Terima kasih untuk semuanya.” Wira menutup briefing mereka dan langsung masuk ke dalam ruangannya. Meninggalkan Nadin yang menghela napas panjang seketika. “Ada apa?” tanya Rizal setelah menghampiri Nadin. Nadin memberikan senyumnya dengan paksa. “Doain saja saya bisa keluar dari ruangan Pak Wira dengan utuh dan selamat ya, Mas.” Pintu ruang Wira terbuka. Nadin masuk ke dalam dan melihat Wira yang baru saja akan duduk setelah menggantung jas hitamnya. “Kita mau bahas apa ya, Pak?” tanya Nadin memberanikan diri. “Kenapa ekspresi kamu seperti itu? Memangnya saya gigit?” “Tidak, saya …” Bibir Nadin akhirnya terbuka dan menampilkan cengirannya yang terlihat sangat dipaksakan. “Kalau kamu masih ingat soal kemarin malam―” “Tidak, saya sudah lupa. Saya juga harap Bapak melupakan itu. Saya benar-benar minta maaf karena telah merepotkan Bapak.” “Tidak mau.” “Apa?” “Melupakan kejadian kemarin.” “Kenapa Bapak tidak mau?” “Kenapa saya harus?” “Apa Bapak masih perlu bertanya?” “Apa saya tidak boleh bertanya?” “Bukan begitu, hanya― tapi, Pak, kenapa kita jadi bahas soal kemarin? Bukannya Bapak ingin tanya soal tugas yang Bapak berikan ke saya?” “Bukannya kamu duluan yang mulai?” “Saya?” “Iya, kamu.” Nadin mendelik heran. Entah ia yang sulit mengerti atau memang pembahasan mereka yang tidak jelas. “Jadi mana?” “Apanya?” “Data yang saya minta.” “Oh, sebentar, Pak. Saya ambilkan di meja.” Tak lama kemudian Nadin kembali ke hadapan Wira dengan membawa dokumen yang diminta oleh Wira sebelumnya. “Apa kamu punya janji siang nanti?” “Apa?” kening Nadin mengerut tipis. “Kita makan siang bersama.” “Apa?” Kening Nadin sukses mengerut dalam. Apakah ia tidak salah dengar barusan? Wira mengajaknya makan siang bersama. “Jangan berpikir macam-macam. Saya hanya ingin bahas dokumen ini dengan kamu sambil makan siang.” Nadin mencoba berpikir sejenak. “Jadi Bapak ajak saya bekerja di jam makan siang?” “Kenapa? Tidak mau? Haruskah saya ajak kamu bekerja sambil makan malam?” “Tidak, terima kasih, Pak.” “Pukul 12 di restoran Soto Bu Sri.” “Di mana itu?” “Kita berangkat bareng nanti.” Nadin menatap Wira dengan lekat. Entah apa yang dipikirkan pria itu hingga mengajak Nadin makan siang bersama. Apalagi hanya mereka berdua, tanpa ada orang lain. “Kenapa? Apa permintaan saya aneh?” “Aneh sekali.” Wira bersidekap d**a dengan bersandar pada kursi hitamnya. “Kamu ini terlalu jujur atau bagaimana?” “Intinya Bapak serius?” “Apa saya terlihat bercanda?” “Tidak.” “Pergilah. Kamu harus bekerja agar Pak Wisnu tidak menyesal telah menggaji kamu.” Nadin membentuk senyum terpaksa di wajahnya. Menyebalkan sekali rasanya mendengar kalimat itu. Itu adalah kalimat yang sering sekali diungkit oleh Wira saat ia baru bergabung. “Nadin.” “Iya.” “Ambilkan saya minum.” “Itu… dispensernya ada di samping meja Bapak.” “Saya tahu, tuangkan.” Nadin sukses mengerutkan keningnya bingung. Apa dia bilang tadi? “Tuangkan saya minum.” “Oh .. baik .. sepertinya dispenser itu masih terlalu jauh bukan?” Nadin tersenyum dan menuangkan air minum ke dalam gelas milik Wira. Pria itu balas tersenyum tipis saat melihat Nadin. Ia tahu wanita itu menahan rasa kesalnya. “Buatkan saya kopi juga.” “Tapi kopi Bapak yang itu saja belum dihabiskan.” Wira bersidekap d**a sambil bersandar pada kursinya. “Dingin, saya tidak suka.” “Oh .. baik .. kalau gitu akan saya buatkan yang baru.” Nadin lantas pergi dari ruangan Wira sambil membawa cangkir kopi pria itu yang masih tersisa setengah. “Benar-benar menyebalkan.”   *** Wira memutar kedua bola matanya karena Rizal yang duduk tepat di hadapannya. Saat ia akan pergi makan siang bersama dengan Nadin tadi, tiba-tiba Rizal muncul di parkiran dan langsung masuk ke dalam mobil tanpa bisa dicegah. Sehingga mereka bertiga makan siang di meja yang sama. Nadin duduk di samping Rizal, sementara Wira duduk sendiri tepat di hadapan Rizal. “Bukannya lo bilang ada agenda meeting dengan klien sampai jam 2?” Rizal tersenyum lebar sambil menopang dagunya. Menatap manja ke arah Wira hingga pria itu mendelik jijik. “Selesai lebih awal tanpa direncanakan.” “Bukannya lo ada jadwal―” “Nggak ada. Intinya gue nggak ada kegiatan siang ini. Gue pengangguran. Gue laper dan gue mau makan.” Wira menatap aneh ke arah Rizal, sedangkan Nadin hanya melongo menatap kedua pria di dekatnya bergantian. “Puas kan lo sama jawaban gue?” Wira menghela napas panjang dan memilih bersandar tenang di kursinya. Menu makan siang yang telah mereka pesan tiba. Wira bahkan masih tidak mengerti bagaimana bisa pas sekali ia bertemu dengan Rizal saat di basement. Jika sudah soal makan, maka Rizal tidak akan mau mengalah. Tanpa membuang waktunya yang berharga, Rizal mulai mengaduk mangkuk sotonya setelah ia tuangkan dua sendok sambal. Rasa panas dan kaldu dagingnya sangat terasa. Apalagi ditambah dengan rasa pedas yang membuatnya ketagihan dengan cita rasa soto tersebut. Restoran Bu Sri yang menghidangkan soto sebagai menu utamanya memang sudah dikenal oleh banyak orang, termasuk karyawan di TM Hotel Malang yang beberapa kali makan di sana. “Enak?” Rizal mengangkat pandangannya. Ia melihat Wira yang masih menatapnya jengah dan belum menyentuh makanan yang sudah tersaji. “Banget, sampe gue heran kenapa lo nggak makan.” “Iya, Bapak kenapa nggak makan? Kan, Bapak yang ngajak makan siang di sini.” “Sudah tidak berselera,” jawab Wira. “Kenapa?” Nadin sontak tersenyum kecil saat melihat Wira yang hanya menggeser lirikannya pada Rizal yang sibuk makan sendiri. Bolehkah ia terlalu percaya diri jika Wira hanya ingin makan siang berdua dengannya saja? Tanpa ada orang yang bergabung seperti Rizal, contohnya. Nadin mengetuk pelan meja untuk mengalihkan tatapan Wira yang sejak tadi hanya fokus pada Rizal. Wira menoleh dan menatap Nadin. “Makan,” ucap Nadin tanpa mengeluarkan suaranya. Wira menjawabnya dengan gelengan kepala. Nadin membalasnya dengan mata yang melotot tajam. Padahal pria itu yang mengajaknya makan siang di luar, tetapi pria itu juga yang enggan makan dan malah membiarkan semangkuk sotonya begitu saja. “Makan,” ucap Nadin lagi tanpa suara. Wira kembali menjawab dengan gelengan kepala. “Mas Rizal.” Rizal menolehkan kepalanya segera. “Hm?” “Kapan-kapan mau saya yang traktir, Mas?” “Wah, ide bagus! Saya nggak akan nolak, Nadin.” Nadin tersenyum kecil. “Saya senang lihatnya kalau orang nafsu makan. Lain kali kita makan siang bareng lagi ya, Mas.” “Setuju.” Wira yang mendengar itu sontak memberikan tatapan tajam pada Nadin, sementara wanita itu membalasnya dengan tatapan datar. “Makan,” katanya lagi tanpa suara. Akhirnya dengan perlahan Wira mulai memakan semangkuk sotonya. Nadin bahkan sudah benar-benar gemas. Rasanya seperti melihat sosok Wira yang berubah menjadi anak kecil lagi. *** Wira masih tidak bisa membiarkan Rizal pergi begitu saja, walaupun pria itu yang akhirnya membayar makan siang mereka bertiga. Wira belum bisa merelakan Rizal pergi dengan tenang. Ia akan membalas sikap menyebalkan sahabatnya itu karena telah mengganggu makan siangnya. “Rizal.” Rizal yang sedang bicara dengan Nadin di meja wanita itu sontak menoleh. Nadin pun ikut menolehkan kepalanya dan menunggu Wira berbicara. Wira masih terdiam beberapa saat. Ia masih menatap Rizal dan Nadin bergantian. Kedua manusia itu terlihat semakin akrab. Nadin bahkan tidak pernah bersikap canggung pada Rizal. “Iya, Pak?” “Apa waktu luang kamu sangat banyak hingga bisa mengobrol santai seperti itu?” Rizal menaikkan sebelah alisnya bersamaan dengan tatapan bingungnya pada Wira. Sejak makan siang tadi, Wira terus saja terlihat sensi padanya. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya Rizal menawarkan diri. “Kopi.” Rizal tersenyum tipis. “Baik, ada lagi?” “Tidak.” “Biar saya aja Mas, yang buat.” Nadin ikut berdiri dan meminta Rizal melalui gerakan matanya agar tetap di tempat. “Nggak usah, Nad. Saya aja. Kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu.” “Saya aja, Mas. Udah selesai juga kok kerjaannya.” “Rizal, sekarang.” Keduanya sontak menoleh kompak dan menemukan Wira yang sudah menatap mereka bergantian dengan tangan bersidekap d**a. “Iya, sekarang,” balas Rizal dengan memberikan reaksi dari tatapan matanya. Sementara Rizal sudah pergi menuju pantry, Nadin masih berdiri di tempatnya karena Wira yang sejak tadi terus menatapnya. “Apa kamu …” “Apa?” tanya Nadin. “Tatapan kamu dengan Rizal ….” “Iya, kenapa?” tanya Nadin lagi karena Wira yang tak kunjung menyelesaikan ucapannya. Wira sendiri sulit menyelesaikan kalimatnya. Ia masih tidak terima dengan perlakuan Nadin pada Rizal saat di restoran tadi. Wanita itu bicara manis dengan Rizal, tapi dengan dirinya malah terus memaksanya makan, padahal ia enggan. “Pak?” Wira mendengus pelan. “Lupakan,” katanya. Ia memutar tubuhnya dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya begitu saja. Ia menjatuhkan keningnya begitu saja pada permukaan meja kerjanya. Entah apa yang sedang ia pikirkan hingga membuatnya meracau dan bertindak tidak jelas seperti itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN