Seventeen | Staring

1664 Kata
Nadin berdiri di atas trotoar sambil melihat-lihat taksi yang lewat dan juga melirik jam tangannya.  Ia tadi terpaksa lembur sampai pukul sembilan malam karena Dewi yang memintanya menemani. Semua karyawan sudah pulang semua, sedangkan Dewi tidak ingin ditinggal sendiri karena takut. Hanya karena Adit yang menyebarkan rumor ada hantu di toilet lantai sepuluh ketika malam hari. Padahal Nadin sudah beberapa kali tersisa seorang diri karena lembur, dan ia bahkan tidak pernah melihat hantu atau apa pun yang tidak berwujud. Taksi yang ia maksudkan tak kunjung lewat. Ia ingin memesan melalui aplikasi online, tapi bahkan baterai ponselnya habis karena ia lupa mengisi daya. Baguslah jika tidak ada taksi yang lewat. Mungkin Nadin perlu kembali ke hotel dan menginap di ruang kerja Wira yang tersedia sofa empuk. Tak berselang lama, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Saat kaca jendela mobil tersebut turun, matanya terbuka lebar saat melihat sosok Wira ada di dalam mobil tersebut. “Apakah ini yang dinamakan takdir?” tanya Wira. “Apa?” balas Nadin yang tak mendengar jelas ucapan Wira. Wira akhirnya keluar dari mobilnya. Berbeda dengan Nadin yang masih mengenakan pakaian kerja, Wira tampak begitu santai dengan hoodie berwarna hitamnya dan juga celana jeans selutut. Pria itu memang tidak sengaja melewati hotel saat ia akan pulang. Wira baru saja kembali dari tempat Rizal untuk makan malam. Dua pria itu memang sering mengunjungi banyak tempat makan. Maklum, mereka hanya berdua di Malang, dan hanya dapat bergantung satu sama lain. “Saya tidak mengerti mengapa orang harus lembur saat bekerja di TM Hotel Malang.” Nadin menghela napas kasar. Mungkinkah Wira akan mengeluarkan sikap menyebalkannya lagi. “Saya pamit, Pak. Permisi.” “Mau ke mana kamu?” tanya Wira dengan menahan lengan Nadin, menahan kepergian wanita itu. “Apa saya harus kembali ke kantor untuk bekerja?” “Saya tidak bilang begitu.” “Maka izinkan saya pulang, Pak. Saya butuh istirahat.” “Saya lapar,” ujar Wira tiba-tiba. “Apa?” “Traktir saya makan.” “Apa?” “Apa kamu melupakan janji soal mentraktir saya makan siang.” “Saya rasa Bapak juga pasti tahu jika ini sudah malam, bukan siang hari.” “Saya ingin pakai tiket makan itu sekarang. Saya tidak punya lagi waktu untuk makan siang.” “Tapi, Pak, saya―” Belum sempat Nadin menyelesaikan ucapannya, Wira sudah memaksanya masuk ke dalam mobil. Berbeda dengan perkiraannya jika Wira akan membawanya ke sebuah restoran, Wira justru mengajaknya ke sebuah kafe yang berada di puncak yang cukup terkenal Kota Batu. Ia belum pernah mendatangi tempat itu, tapi sungguh pemandangannya sangatlah indah. Angin sejuknya bahkan begitu terasa hingga cukup membuat ia memeluk tubuhnya sendiri. “Menakjubkan, bukan?” tanya Wira dengan menolehkan kepalanya. Nadin yang berdiri tepat di sampingnya sedang tersenyum lebar sambil menatap pemandangan di hadapan mereka. Atas puncak tersebut memang sudah ramai pengunjung. Di sana banyak jajanan kali lima yang tersedia. Dimulai dari penjual makanan berat, hingga makanan ringan. Nadin menoleh dan tersenyum hingga jajaran gigi putihnya terlihat. Baru kali itu Wira melihat Nadin tersenyum begitu lepas. “Sejak kapan Bapak tahu tempat ini?” tanya Nadin. “Cukup lama.” “Wah, ini bener-bener bagus, Pak.” Wira terkekeh kecil karena Nadin yang masih terus terdengar antusias. “Mau jagung bakar?” “Bapak serius hanya minta traktir jagung bakar?” “Memang berapa jatah saya?” “Apa?” “Kalau masih ada sisa dari traktir jagung bakar, maka saya pasti akan menghabiskannya. Tenang saja, kamu tidak akan bisa bebas sebelum melunasi hutang kamu.” “Apa ada nominal traktir?” tanya Nadin tak percaya. “Tentu saja. Setidaknya kemarin menghabiskan cukup banyak.” “Yang bayar makan siang itu bahkan Mas Rizal, bukan Bapak!” seru Nadin tak sabar. Membuat orang di sekitarnya sontak menoleh ke arah mereka. “Tapi kamu bilang akan mentraktir orang yang menghabiskan makanannya.” “Karena mubazir jika Bapak buang! Bapak inget dong, banyak orang di luar sana yang bahkan untuk makan saja susah. Bapak yang tersedia semangkuk soto di depannya saja masa tidak mau makan?” Wira menyadari jika semakin banyak mata yang memperhatikan mereka berdua. “Apa kamu serius akan tetap manggil saya Bapak di tempat seperti ini?” “Kenapa memangnya? Bapak mau saya panggil dengan sebutan Wira?” Wira yang semula ingin meninggikan suaranya, mendadak mengurungkan niat. Sepertinya itu bukan sesuatu yang buruk untuk dicoba.” “Coba saja.” “Mas Wira.” “Err … jangan panggilan itu.” “Lalu apa? Langsung dipanggil nama boleh?” “Cobalah.” “Wira? Elwira?” Wira sontak terdiam, begitu juga dengan Nadin. Keduanya hanya sibuk saling menatap. Waktu seakan berjalan dengan lambat. “Apa keterlaluan?” tanya Nadin yang seketika ragu. “Tidak … Kamu … tetap panggil saya seperti itu ketika kita di luar area pekerjaan.” Wira langsung pergi membeli jagung bakar, sementara Nadin masih terdiam di posisinya. Wanita itu menghela napas lega. Entah mengapa bisa memanggil Wira langsung dengan namanya membuat ia merasa senang juga berdebar. Rasanya ia bisa memanggil teman kecil dan cinta pertamanya hingga saat itu dengan begitu bebasnya. *** Tak sadar waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Wira dan Nadin juga telah menghabiskan jagung bakar serta teh hangat mereka. Entah berapa banyak senyum yang Nadin keluarkan hari ini hanya karena menatap langit malam yang indah itu. Nadin berhenti menatap langit kesukaannya. Ia menolehkan kepalanya dan menemukan Wira yang entah kapan sudah memejamkan matanya dalam posisi duduk. Pria itu benar-benar  tertidur. Padahal kursi yang mereka duduki tidak ada sandarannya, bagaimana jika karena terlalu pulas tertidur pria itu terjungkal ke belakang? Bagaimana jika― Nadin berdiri dengan cepat dan langsung berdiri tepat di samping Wira hingga membuat pria itu tertidur dengan bersandar di pelukannya. Tubuh Nadin membeku, merasakan kepala Wira yang ia tangkup dengan tangannya dan menyentuh perutnya. Haruskah ia membangunkan pria itu? Dengan menahan napas agar tak mengganggu tidur pria itu, Nadin masih memilih diam. Ia membiarkan dirinya tetap dalam posisinya tanpa bergerak. Membiarkan pria itu tertidur dengan tenang untuk beberapa saat. Tangannya bahkan terus bergerak, menghalau nyamuk yang mendekati mereka berdua. Tanpa Nadin sadari, Wira sudah membuka kedua matanya sejak ia menjatuhkan kepalanya ke dalam pelukan Nadin. Ia terlalu terkejut sampai tidak bisa membuat matanya terpejam lagi. Haruskah ia bangun sekarang? Namun, ia sudah terlanjur merasa malu. Lalu bagaimana? Wira sudah akan berniat berhenti pura-pura tidur, tetapi sebuah tangan yang dengan perlahan membelai puncak kepalanya membuat ia mengurungkan niatnya. Tangan Nadin terus membelai pelan puncak kepalanya. Kedua mata Nadin sontak membulat saat tangan Wira menggenggam tangannya. “Apa kamu mau membuat saya tertidur sampai pagi?” “Apa?” “Ini.” Wira mengangkat tinggi sebelah tangan Nadin yang ada di tangannya. Nadin langsung mendorong tubuh Wira menjauh hingga pria itu hampir terjerembab jika saja tak berpegangan pada ujung meja. “Tidak, ya. Jangan kegeeran.” Wira tersenyum miring mendengar ucapan Nadin. Mana mungkin ia berhalusinasi? “Hei, kenapa juga saya harus kegeeran seperti itu? Jelas-jelas kamu memang elus kepala saya.” “Tidak, itu karena nyamuk. Ayo pulang, saya mengantuk.” Nadin memutar tubuhnya dan bergerak cepat menuju parkiran. “Wah, wanita itu benar-benar.” Wira meniupkan angin ke wajahnya yang seketika terasa panas karena malu. *** Wira berhasil membawa mobilnya dengan selamat hingga mereka tiba di parkiran apartemen. Dilihatnya Nadin sudah tertidur di sampingnya. Apakah wanita itu membalas dendam karan ialah yang sebelumnya ketiduran. Wanita itu memang benar-benar tertidur hingga posisi kepalanya yang miring. Untuk sesaat, Wira menyandarkan kepalanya pada kemudi stir dan menatap wajah Nadin yang tampak tertidur dengan pulas. Wira tersenyum tanpa sadar. Rupanya cukup menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama wanita itu. Karena jauh dari suasana kantor, membuat mereka berdua bisa mengobrol banyak hal. Kadang Wira bahkan tertawa tanpa sadar. Wira menghentikan lamunannya. Ia kembali duduk dengan benar, dan membangunkan Nadin dengan perlahan. “Apa kita sudah sampai?” tanya wanita itu sambil merentangkan tangannya dan mulut yang menguap. Membuat Wira yang menyaksikannya tersenyum geli. Dengan mata yang masih terbuka setengah, Nadin keluar dari mobil, disusul oleh Wira yang mengunci mobilnya dengan alarm. Dengan sepatu heels yang masih dipakainya, Nadin berusaha jalan dengan benar menuju lift. Namun beberapa kali ia hampir tersandung kakinya sendiri karena berjalan dengan tidak benar. Karena sudah terlalu mengantuk, Nadin kesulitan membuka matanya dengan benar. Hingga sebuah tangan yang meraih bahunya, Nadin baru bisa berjalan dengan benar. “Maaf, aku terlalu ngantuk, jadi―” “Diam saja,” balas Wira. Sampai di dalam lift, Wira segera menekan tombol sepuluh. Hingga di dalam lift, tangan Wira masih merangkul bahu Nadin. “Wir, aku bisa jalan sendiri kok.” “Bagaimana kalau nanti hampir jatuh lagi?” “Tidak akan. Aku sudah membuka kedua mataku.” Wira akhirnya menjauhkan tangannya dari bahu Nadin. Ketika lift berhenti tepat di lantai sepuluh, kaki Nadin sontak akan keluar dari lift dengan terburu-buru. Setelah Nadin keluar dari lift, WIra menyusul. Namun setelah kedua kakinya memijakkan kaki di luar lift, tangan Wira langsung menarik tangan Nadin hingga wanita itu memutar tubuhnya cepat dan menabrak tubuhnya. Tepat saat itu, seorang petugas mendorong troli besar yang membawa sampah, melewati lift. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama terdiam. Terkejut dengan keadaan dan suasana mereka berdua yang kini malah berpelukan di depan lift. Wira bisa meraskaan aroma shampo yang tercium dari puncak kepala Nadin, sedangkan Nadin bisa mendengar jelas bunyi detak jantung WIra yang beraturan. Masih dalam posisi berpelukan seperti itu, Nadin menarik sedikit kepalanya dan mendongak. Ia menyesal detik itu juga karena nyatanya Wira juga sedang menundukkan kepalanya. Apa yang mereka lakukan itu secara pasti membuat keduanya saling bertatapan. Entah berapa detik telah berlalu tanpa mereka sadari. Keduanya seolah sedang berada dalam pusarannya sendiri. “Apa kita akan seperti terus seperti ini?” “Oh … tidak … tadi karena ada petugas yang baru saja lewat di depanmu.” Nadin dan Wira sama-sama menjaga jarak. Keduanya sama-sama memutar tubuh dan berjalan beriringan menuju unit apartemen mereka masing-masing. Tanpa ada salam perpisahan atau obrolan yang lain keduanya segera membuka kunci dan masuk ke dalam unit apartemen masing-masing. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN