Eighteen | Angry or ... Jealous

2122 Kata
Pukul tujuh pagi ini Wira sudah selesai mandi. Ia bersiap mengenakan kemejanya yang berwarna putih, celana panjang slim fit berwarna hitam, dasi berwarna maroon, dan jas berwarna hitam. Hari ini ia perlu melakukan pemeriksaan kecil ke seluruh lini bagian pelayanan. Entah sejak kapan ia begitu bersemangat untuk pergi bekerja. Dan entah sejak kapan ia juga merasa begitu bersemangat untuk melakukan yang terbaik. Setidaknya ia merasa perlu lebih berusaha di sisa masa jabatannya. Setelah merapikan tatanan rambutnya hingga menampakkan keningnya yang membuat garis wajahnya lebih terlihat tampan dan tegas, Wira tersenyum. ia juga tidak mengerti ada apa dengan dirinya hari ini. Mungkinkah ia sudah mulai bisa menikmati pekerjaannya? Ah tidak, Wira masih belum mau melakukan semuanya dengan maksimal. Bagaimana pun juga ia ingin membuat TM Hotel Malang menjadi― Wira berhenti memikirkan niat buruk itu. Di pagi hari yang cerah dan membuatnya bersemangat itu, ia tidak ingin ada hal-hal yang membuat mood-nya memburuk. Setelah memastikan dirinya siap, Wira segera keluar dari apartemen. Ia sempat menoleh, menatap pintu unit apartemen Nadin yang masih tertutup rapat. Dengan senyum samarnya, ia segera turun ke basement. Tanpa ingin dijemput oleh sopir di kantornya, Wira memilih untuk membawa mobilnya sendiri hari ini. Tepat pukul tujuh lebih tiga puluh menit, Wira memastikan ia masih berada di depan gedung apartemennya. Saat ia melirik ada seorang wanita yang sedang berjalan cepat dari dalam kaca spionnya, senyumnya sontak berbinar. Wanita itu adalah Nadin. Dengan roknya yang satu jengkal berada di atas paha dan heels yang dipakainya membuat wanita itu cukup terlihat kesulitan berjalan cepat. Sepertinya wanita itu memang akan mengejar taksi. Wira mulai mengemudikan mobilnya perlahan. Keempat rodanya tepat berhenti di samping tubuh Nadin. Klaksonnya berbunyi sehingga wanita itu refleks menoleh. Kaca mobilnya terbuka. Dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, Wira mengeluarkan sikunya dari jendela dan seolah sedang berpose bak model. “Ayo naik.” “Apa?” “Naik. Bukankah kita satu arah?” “Maksud kamu, kita…” “Saya antar kamu. Ayo cepat, bukankah kamu benci terlambat?” “Tapi―” “Naik,” tegas Wira yang tidak menginginkan adanya penolakan dari Nadin. Nadin menghela napas pelan. Ia memutari mobil Wira dan masuk ke dalam kursi penumpang di samping Wira. Ia mengiyakan perintah pria itu. Lagi pula akan sangat menguntungkan untuknya. Selain bisa menghemat biaya taksi, ia juga bisa lebih cepat sampai karena ia tahu bagaimana cara Wira mengemudikan mobil. “Wira.” “Apa?” “Apa kamu yakin nggak salah jam?” “Salah gimana maksudnya?” “Iya, ini kan masih setengah delapan.” “Terus kenapa?” “Apa jam di apartemen kamu rusak?” “Tidak. Kenapa sih, memangnya?” Nadin menggeleng sambil menahan tawanya. Ia masih tidak percaya jika Wira mau berangkat bekerja lebih awal. “Kamu memang sengaja berangkat jam segini?” “Saya turun lebih awal.” “Lalu kenapa baru berangkat ke kantornya sekarang?” “Saya nunggu kamu.” “Apa?” Apa yang Wira ucapkan dengan suara dan ekspresi datar itu sontak membuat wajah Nadin menoleh dan memasang ekspresi kagetnya. “Saya hanya kepikiran agar kita berangkat bersama pagi ini.” Wira menoleh beberapa detik dan membalas tatapan terkejut yang diberikan Nadin. Wira mencoba menahan senyumnya agar tidak menghias wajahnya saat ini. Ia tahu Nadin terkejut dengan jawabannya, dan ia tidak peduli dengan itu. Ia hanya menjawab jujur pertanyaan wanita itu. Ia bersiap lebih awal memang hanya untuk menunggu Nadin. Ia ingin berangkat bersama wanita itu dan menghabiskan perjalanan pagi bersamanya. “Besok saya tunggu di waktu dan tempat yang sama.” “Apa?!” “Apa kamu keberatan?” “Tidak, hanya saja itu―” “Kalau begitu kita sudah sepakat, bukan? Tidak perlu kamu tambahkan jawaban setelahnya.” Nadin sontak membuang pandangannya keluar jendela. Apa yang dikatakan Wira sukses membuat wajahnya memerah dan berdebar. Sangat berbahaya jika pada akhirnya ia kembali menyukai pria itu. Wira jadi membuat Nadin bisa mengharapkan perasaan yang sama dari pria itu. Wira jadi membuat Nadin memberanikan diri untuk mengatakan siapa dia sebenarnya. *** Nadin masih terus menatap layar laptopnya. Ada beberapa hal yang masih perlu ia sesuaikan mengenai daftar rencananya untuk Wira agar pria itu bisa membuat keputusan mengenai pengembangan TM Hotel Malang. Nadin sudah selesai membuat grand desain yang dibantu oleh Rizal. Pria itu juga banyak membantunya untuk bisa mensupport Wira. Karena Nadin tahu, ia dan Rizal memiliki visi dan misi yang sama sejak mereka ditugaskan di TM Hotel Malang. Nadin refleks bangkit berdiri saat ia melihat Wira keluar dari ruang kerjanya yang disusul oleh Rizal. Wira menghampiri meja Nadin dan berkata, “Ikut saya sekarang.” “Ke mana, Pak?” “Ikut saja.” “Baik, siap!” seru Nadin semangat. Ia lantas membawa buku kecil beserta pulpen di genggamannya. Ia benar-benar merasa senang jika dibutuhkan oleh pria itu. Pertama-tama, Wira pergi memeriksa restaurant yang berada di lantai 1. menurutnya sangatlah penting untuk menjaga kualitas bahan, rasa, dan juga yang tidak kalah penting adalah kebersihan dan kerapian restaurant itu sendiri. Begitu mengetahui jika Wira akan berkunjung langsung untuk memeriksa, semua staf dan para koki yang bertugas saat itu langsung berkumpul. Hal yang cukup aneh dan jarang bagi seorang Elwira berkunjung untuk melalukan pemeriksaan. “Ini bahan yang dibeli sejak kapan?” tanya Wira sambil mengangkat satu-persatu jenis sayur di tangannya. “Semua bahan yang kita gunakan maksimal kita pakai untuk tiga hari, Pak.” “Tiga hari?” tanya Wira tak percaya. “ Jadi semua bahan yang kita pakai itu jangka waktunya untuk tiga hari?” “I … iya, Pak. Itu sesuai dengan arahan Bapak dulu.” “Apa? Saya?” Wira menunjuk dirinya sendiri. Ia semakin tidak mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh salah satu koki restaurant. Nadin menarik ujung jas hitam Wira ketika pria itu masih sibuk berpikir. Wira menurunkan kepalanya sedikit dengan tatapan yang masih menatap satu-persatu orang yang bekerja di restaurant. “Bapak harus mengganti kebijakan itu, bukan?” Nadin berbisik. Wira menoleh tiba-tiba dan membuat Nadin sontak memundurkan wajahnya. “Apa yang harus diganti?” balas Wira. “Memakai bahan masakan untuk tiga hari menurut saya cukup berlebihan, Pak. Harga menu makanan yang ada di price list menu cukup mahal, sehingga saya rasa Bapak perlu mengganti kebijakan agar bahan masak yang digunakan bisa lebih fresh lagi.” “Kalian dengar itu, kan?” “Apa?” Pertanyaan dari Nadin itu sudah cukup untuk mewakili yang lainnya. “Ikuti sarannya. Mulai besok pakai bahan masakan yang lebih segar. Jika sudah lebih dari dua hari, dilihat lagi barangnya. Untuk lauk-pauk juga berlaku sama. Untuk seafood lebih enak lagi jika bahan yang diiolah adalah dari baran yang segar. Saya ingin kita bisa menjaga kualitas bahan masakan yang akan diolah.” “Makanlah.” Hanya ada suasana penuh hening yang terjadi setelah Wira mengucapkan satu kata perintah itu. Tidak ada yang tahu kepada siapa Wira berbicara. “Kamu yang makan.” “Apa?” Mata Nadin membesar saat Wira menyenyenggol lengannya. “Makan. Kamu cobalah buncisnya.” Mata Nadin berkedip cepat dengan mulutnya yang terbuka. Apa ia benar tidak salah dengar? “Makan … buncis?” “Iya. Apa kamu mau coba makan brokolinya?” Nadin sontak menggelengkan kepalanya. Rizal yang berdiri di dekat kulkas besar itu ikut tersenyum geli melihat ekspresi wanita itu. Semua orang yang bertugas dalam kitchen ataupun yang ikut pemeriksaan ke kitchen bersama Wira pasti pernah berada dalam posisi Nadin. “Mentah?” “Semua bahan ini sudah dicuci bersih, kan?” “Betul, Pak. Semuanya telah dicuci bersih dan telah lulus QC.” Wira mengangkat bahunya santai sambil menatap Nadin yang masih menatapnya bingung. “Kenapa … harus saya, Pak?” “Karena saya yakin kamu belum pernah mencobanya.” “Apa? Tentu saja saya pernah!” “Kalau begitu makanlah.” “Tap  … tapi, Pak, saya cuma pernah makan sayur yang dimasak.” “Saya mengerti. Sekarang cobalah.” “Tidak mau,” bisik Nadin penuh memohon. Wira menggelengkan kepalanya. Seolah rengekan Nadin tidak mempan untuknya. “Cepat, makan. Kalau kamu tidak makan, kita tidak akan beranjak dari sini.” Nadin akhirnya menerima sebatang buncis mentah yang diberikan oleh Wira. Dengan mata terpejam erat, ia menggigitnya. Saat mengunyahnya, tangan Nadin tidak bisa diam. Ia terus meremas blazer bagian belakangnya sambil terus berusaha mengunyah sekuat tenaga. Tangannya bahkan tidak sadar tidak mungkin memuntahkannya, karena itu tidaklah sopan. Saat Nadin masih memejamkan matanya sambil mengunyah buncis, Wira menarik satu tangan Nadin dan membawanya ke belakang punggungnya. Tangan Nadin yang jauh lebih kecil itu dengan sempurna berada dalam kepalan tangan Wira. Saking terkejutnya hingga wanita itu membuka lebar kedua matanya. Ia melupakan rasa aneh di dalam mulutnya dan malah bengong menatap Wira yang berdiri sambil menghadap ke depan, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. “Apakah rasanya enak?” Nadin menggeleng dengan jujurnya. “Pahit dan rasanya kering.” “Benar. Itu artinya buncisnya sudah tidak segar. Mulai sekarang perhatikan penggunaan bahan-bahan. Tidak ada lagi penggunaan bahan untuk tiga hari. Saya ingin bahan yang dipakai semuanya adalah bahan yang fresh.” “Baik, Pak. Akan kami perhatikan semuanya.” “Kerja bagus. Lanjutkan pekerjaan kalian.” Wira menoleh lagi menatap Nadin. Wanita itu bisa melihat jika sudut kanan bibir Wira tertarik. Pria itu tersenyum diam-diam padanya. Tangan Wira melepaskan tangan Nadin. Pria itu segera berbalik cepat dan pergi keluar dari restoran. Rizal segera menyusulnya, sedangkan Nadin masih terbengong di tempat. ***  Apa yang Wira lakukan tadi sukses membuat Nadin kepikiran setengah mati. Mungkinkah Wira memang sengaja melakukan itu? Mungkinkah jika Wira menyukainya? “Nadin.” “Apa?” Nadin berkedip dan mencari siapa yang telah memanggil namanya. “Kamu melamun?” tanya Rizal. “Oh, tidak, saya cuma tiba-tiba tidak fokus.” “Apa kamu lelah?” Nadin hanya diam saat tangan Rizal menepuk puncak kepalanya. “Semangatlah. Ini kan hari pertamamu karena diajak pergi untuk pemeriksaan.” Nadin memberikan seutas senyum tipis. Tidak tahukah Rizal jika Nadin tidak fokus karena sibuk memikirkan Wira? “Iya, Mas saya―” Sadar akan banyak tatapan yang mengarah padanya, termasuk tatapan Wira membuat Nadin memilih menutup mulutnya. Ia bahkan tidak sadar jika masih bersama dengan Wira dan Rizal untuk melakukan pemeriksaan di ruang linen and laundry. “Apa yang kamu lakukan?” Suara Wira yang terdengar marah itu sontak membuat Nadin menatap ke arahnya. “Kalau mau melamun, lebih baik pulang ke rumah saja sana.” Wira langsung berbalik pergi. Pria itu masuk menuju lemari kaca yang dijadikan tempat penyimpanan bagi segala macam kain yang digunakan oleh hotel, meliputi seprai, sarung bantal, selimut, handuk, dan yang lainnya. Wira menarik salah satu seprai dari dalam lemari dan membentangkannya. Telunjuknya mengarah pada setitik noda yang terlihat oleh matanya. “Apa kalian sudah benar-benar mencuci ini?” “Maaf, Pak?” “Ini. Apa kalian tidak melihat noda ini?” “Maafkan kami. Kami akan mencucinya kembali, Pak.” Wira kembali mengambil satu seprai dari dalam lemari kaca itu. Ia kembali membentangkan seprai itu seperti sebelumnya. “Lipat.” Semua yang berada dalam ruang itu sontak saling beradu pandang. Bertanya-tanya siapa yang diperintahkan melipat oleh Wira. “Kamu.” Begitu telunjuk Wira menunjuk salah satu orang di sana tanpa menolehkan kepalanya, membuat semuanya mengikuti telunjuk Wira. Begitu pun dengan Nadin yang dengan sadarnya jika telunjuk Wira mengarah padanya. Bagaimana bisa pria itu menunjuk dengan begitu tepat ke arahnya berdiri? “Kamu tidak dengar?” Wira lantas menolehkan kepalanya dan memancarkan tatapan tajamnya pada Nadin. “Saya?” “Apa ada orang lain yang berdiri di belakangmu?” Nadin menelan ludahnya. Perubahan sikap Wira kembali terjadi dengan tiba-tiba. Dengan senang hati ia menepis jauh pikirannya tadi jika Wira mungkin menyukainya. Kaki Nadin akhirnya melangkah maju dan mendekati Wira. “Apa yang harus saya lakukan, Pak?” “Kamu tidak dengar apa yang saya tadi minta?” Mata Nadin menatap lurus mata Wira. Ia tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba marah padanya. “Dengar. Lalu bagaimana cara saya melipat ini?” “Kamu tidak bisa? Apa biasanya kamu selalu mendapat perlakuan spesial dari kedua orang tuamu? Apa kamu terbiasa dimanjakan sejak kecil?” “Pak, saya rasa itu berlebihan.” Rizal mendekat dan mengingatkan Wira. Pasalnya pria itu cukup berlebihan hanya untuk membalas pertanyaan Nadin. “Saya sedang bicara dengannya.” “Saya tahu, tapi Anda cukup berlebihan. Dia belum pernah melakukan itu, wajar jika dia bertanya.” “Sudah hampir tiga bulan kamu bekerja di sini, bukan? Apa kamu masih belum banyak belajar?” “Maafkan ketidakcakapan saya, Pak.” “Kamu pikir minta maaf cukup?” “Lalu apa yang harus saya lakukan?” Tanpa menjawabnya, Wira langsung pergi begitu saja dari ruang linen and laundry. Membuat Nadin dan Rizal saling tatap kebingungan. Entah apa yang membuat Wira begitu marah hingga pria itu begitu saja. Padahal sebelumnya, Wira tampak baik-baik saja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN