Dua Puluh Satu

1153 Kata

*** “Lia, Mas anterin Nira dulu ya,” pamit Mas Azam ketika kami baru saja sampai di depan Madrasah. Mbak Lia tampak mengerutkan keningnya. “Maksud Mas?” tanyanya. Mas Azam menghela napasnya dengan berat. Mungkin bingung harus menjelaskan dengan cara seperti apa pada Mbak Lia. “Mas akan memperkenalkan diri sebagai suami Nira karena saat ini dia sedang mengandung,” terang Mas Azam. Wajah Mbak Lia terlihat terkejut. Matanya membola, sedangkan mulutnya menganga. Mbak Lia melirikku sesekali, lalu kembali menatap Mas Azam dengan tatapan tidak percaya miliknya. “Tapi Mas ini nggak dalam rencana kita,” ucapnya. Tentu saja Mbak Lia, pernikahan Kedua Mas Azam ini atas keinginan Mbak. Namun, Mas Azam berhak melakukan apapun yang menurutnya baik. Aku ingin sekali mengatakan itu pada Mbak Lia,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN