Dua Puluh Dua

1436 Kata

*** Setelah seharian ini mata dan mulut guru-guru di Madrasah memandang dan bertanya ini dan itu mengenai aku yang menikah diam-diam, akhirnya aku bisa lega karena sekarang waktunya pulang. Diriku tak perlu lagi mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang sedikit membuatku tidak nyaman. Rekan kerjaku tentu saja penasaran kenapa aku yang begini bisa nikah diam-diam. Entah apa yang akan mereka pikirkan bila mereka sendiri tahu bahwa diriku sesungguhnya adalah seorang madu, menikah hanya karena istri pertama dan suamiku ingin meminjam rahimku. Lalu mereka mungkin akan berpikir, bahwa aku melakukan pernikahan ini hanya demi uang. Astagfirullah, aku belum siap melihat rekan kerjaku memandang hina diriku. Aku berharap suatu hari, bila mereka mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, mereka tak p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN