Lima Puluh Dua

1603 Kata

*** Aku memijit dahiku berkali-kali. Gugup sekali diriku karena masalah ini. Sungguh, diriku tidak menyangka rangkaian kejadian licik yang Mbak Lia rencanakan berakhir seperti ini. Mbak Lia ketahuan dan terancam dipolisikan. Astagfirullahal'azim. Semoga semuanya masih bisa dikendalikan. Kami masih di ruang tamu. Mas Azam belum mengatakan apapun. Mungkin dirinya juga bingung harus melakukan apa. Sedangkan Ibu juga sama gelisahnya seperti aku. Beberapa kali aku memergokinya menghela napasnya dengan berat. Aku tahu, meskipun Ibu tidak menyukai Mbak Lia karena sikap kurang ajarnya, tapi Ibu sebenarnya juga menyayangi Mbak Lia. Kembali aku memfokuskan perhatian pada Mas Azam. “Di mana Mbak Lia sekarang, Mas?” tanyaku khawatir. Jangan bilang dia sudah di penjara? Ya Allah tidak! Jangan sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN