*** Aku masih berdiri pada tempat yang sama saat tiba-tiba saja diriku mendengar suara Ibu. “Loh, Azam langsung pergi, Nir?” Pertanyaan yang terdengar secara tiba-tiba itu membuyarkan lamunan sedihku. Kualihkan tatapku kepada Ibu mertuaku itu. Lalu mengangguk lemah untuk menajwab pertanyaannya. Entah apa yang harus kujelaskan pada Ibu, tetapi aku tahu tidak ada orang lain tempatku bercerita selain dirinya. Lagi pula apa yang sedang menimpa Mbak Lia, Ibu berhak tahu. Kuajak Ibu masuk ke dalam. Kami pun duduk di ruang tamu. “Najla mana, Bu?” tanyaku saat tak melihat Najla bersamanya. “Barusan tidur,” jawab Ibu. Aku menghela napas dengan berat. “Tadinya Mas Azam mau nengokin Najla dulu, tapi tiba-tiba ada yang nelpon dia,” ucapku memulai pembicaraan ini. Ibu terlihat penasaran. “Ma

