*** Pada akhirnya aku memang benar-benar tak lagi membawa nama Mbak Lia dalam percakapan kami hingga makan siang selesai. Sejujurnya, aku sedikit merasa tidak nyaman sekarang karena sejak menyebut nama Mbak Lia, Mas Azam benar-benar terdiam. Hanya sesekali ia membalas ucapanku. “Mas?” panggilku saat ia baru saja selesai mengelap mulutnya dengan tishu. Mas Azam pun akhirnya menatapku. “Hem?” tanyanya. “Mas nggak apa-apa?” Aku menyesal karena telah membahas tentang Mbak Lia. Andai aku bisa menahan diri, mungkin suasana canggung ini tak mungkin terjadi. Mas Azam menghela napasnya dengan berat. Ia menatapku dengan lekat, lalu menggeleng pelan. “Mas minta sama kamu, Nir, untuk saat ini jangan menyebut namanya dulu. Mas hanya ingin menghabiskan waktu sama kamu,” katanya. Aku merasa bu

