Lima Puluh Tujuh

1520 Kata

*** Berhari-hari setelah pagi itu, Mbak Lia masih berusaha untuk meluluhkan hati Mas Azam. Namun, yang terjadi justru Mas Azam semakin menganggap Mbak Lia tak kasat mata. Mas Azam seolah tidak melihat Mbak Lia di rumah ini. Bahkan secara terang-terangan dia jarang menjawab pertanyaan Mbak Lia. Sekedar berdehem atau menganggukkan kepala pun enggan. Aku kasihan melihat itu, tetapi diriku sudah berjanji untuk tidak ikut campur lagi. Meski demikian, aku masih menegur Mas Azam, dan memintanya untuk setidaknya memberi Mbak Lia kesempatan sekali lagi. Mas Azam tidak mengatakan apa-apa setiap kali aku meminta itu. Ia hanya tersenyum sembari mengelus pipiku dengan lembut. Beruntung ia tidak marah karena aku masih saja tak bisa menahan mulutku untuk memintanya berbaik hati menerima Mbak Lia lag

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN