*** Pagi yang cerah menyambut semua jiwa di muka bumi ini, tak terkecuali diriku, Anira. Pagi kali ini pun aku bersama Najla dan Mas Azam. Diriku terbangun kala merasakan pergerakan dari Mas Azam sesaat yang lalu. Ketika kutanya, Mas Azam pun menjawab bahwa ia ingin bermain bersama Najla yang sudah terlebih dahulu bangun dari tidurnya. Aku pun tak ingin ketinggalan. Kupaksa mataku yang terkantuk untuk ikut menghampiri buah hati kami. “Selamat pagi sayangnya Ayah,” ucap Mas Azam yang semakin pintar menggendong Najla. Seolah menyambut sapaan itu, Najla menggeliat dalam gendongan Mas Azam. Aku tersenyum melihatnya. Semalam kami kembali dari taman sudah cukup larut. Dirinya baru mengajakku beranjak setelah aku merasakan dinginnya embusan angina yang menerpa wajahku. Tidak ada yang kami baha

