Lima Puluh Lima

1494 Kata

*** Sudah bermenit lamanya aku meninggalkan Mbak Lia bersama Mas Azam. Akhirnya, kuputuskan untuk bergabung dengan mereka. “Bu, titip Najla boleh?” tanyaku karena ternyata Najla tak juga tidur meskipun sudah kenyang. Ibu terkekeh, ia mengangguk senang. “Ini memang sudah saatnya jam malamnya Najla, Nir,” ucapnya. Ibu benar, setengah Sembilan adalah waktunya Najla terbangun. Siap-siap saja bergadang, begitu kata Ibu. Namun, anehnya kemarin-kemarin Najla nyenyak jam segini. Sekarang saja dia terjaga. “Sini Sayang, sama Nenek ya,” ucap Ibu sembari mengambil Najla dariku. “Makasih ya, Bu. Aku ke depan dulu,” pamitku saat Najla sudah bersama Ibu. Setelah melihat anggukan kepala yang Ibu berikan, aku pun keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Namun, apa yang lihat sedikit banyak membua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN