*** Mas Azam sempat menoleh ke arah Mbak Lia dan menaikan salah satu alis matanya saat Mbak Lia mendudukkan dirinya di kursi yang biasa menjadi miliknya itu. Mas Azam pun melarikan matanya kepadaku untuk sekedar bertanya, kenapa bukan aku yang duduk di sampingnya. Aku pun tegas menjawab karena kursi itu hanya milik Mbak Lia. Kami pun melanjutkan perjalanan dalam diam. Mas Azam enggan menoleh pada Mbak Lia, bahkan itu hanya sekedar lewat sudut matanya. Aku menghela napas dengan berat. Sedih sekali melihat keadaan ini. Ketika sampai di rumah pun Mas Azam masih tidak menunjukkan tanda-tanda ia ingin berbaikan dengan Mbak Lia. Bahkan, tanpa basa basi Mas Azam segera masuk ke kamar kami. Tinggalah aku dan Mbak Lia yang menatap nanar ke arahnya. “Mbak istirahat dulu aja ya, aku ke Mas Aza

