*** Aku terpaksa meminta izin datang agak siangan ke sekolah hari ini karena Mbak Lia ingin kami memulai drama karangannya. Mbak Lia bilang, Mas Azam pulang agak siangan, sehingga aku harus menunggunya pulang dulu baru berangkat ke Madrasah. Aku tidak enak sebenarnya pada guru yang lain, tapi mau bagaimana lagi? Diriku hanya bisa mengiakan saja. Kupandangi bayanganku yang sedang berdiri di depan cermin yang ada di kamarku. Perutku masih rata, tetapi aku sudah merasakan getaran dari seenggok daging di dalam sana. Bila sudah waktunya, perutku akan membesar. Membayangkannya saja sudah membuatku bahagia. Saat ini daster rumahan yang biasa aku kenakan sudah berganti dengan pakaian santai tanpa lengan, tetapi panjang sampai ujung kaki. Aku lengkapi dengan sweater rajut berkancing depan berw

