*** Nasi uduk yang Mas Azam berikan padaku sudah habis tak bersisa. Perutku penuh. Tanpa dapat kucegah, aku bersendawa di depan Mas Azam dan Mbak Lia. Diriku meminta maaf atas perbuatan tidak sopan itu. Kukira suamiku akan marah, tetapi ai judtru tertawa. “Kamu benar-benar lapar ya, Nir?” Mas Azam pun bertanya. Aku yang melihat binary di matanya menjadi lebih percaya diri untuk menjawab. “Iya, Mas. Dari pagi tadi pengennya makan nasi uduk, tapi belum sempat keluar,” ucapku. Sungguh diriku senang mendapati Mas Azam memaklumi tingkah tidak sopanku karena bersendawa tanpa sengaja di depannya. “Maaf ya, Mas, Nira nggak sengaja bersendawa,” ucapku sekali lagi. Mas Azam menggelengkan kepalanya. Senyum di wajah tampannya tak hilang barang sedetik pun. Matanya pun tak terputus menatapku.

