*** Aku menyadari perbuatanku setelah merasakan tubuh Mas Azam menegang. Aku terpejam sejenak sebelum perlahan melepasnya. Diriku salah tingkah tentu saja. “Maaf Mas, maksudku … ” Mendadak aku kebingungan menjelaskan apa yang baru saja aku lakukan. Buru-buru aku berdiri dari dudukku, lalu melepas mukenahku untuk kembai kusimpan pada tempatnya. Aku juga segera mengenakan hijab instanku. Sekarang aku kebingungan lagi harus melakukan apa. Dapat kurasakan Mas Azam bergerak ke arahku. Ia juga ikut menyimpan peralatan sholatnya. Aku sendiri merutuki diriku karena tak bisa mengeluarkan satu kata pun dari mulutku. Ini sungguh menyebalkan karena aku terlalu malu untuk menghadapi suamiku. “Nir, kamu belum makan, kan? Sana makan dulu, Mas tunggu di sini aja,” ucap Mas Azam kepadaku. “Ba … ba

