*** Perhatian kami kembali pada sate kacang yang sedang kami makan. Mas Azam berkali-kali memintaku untuk menyuapinya, dan dengan senang hati aku melakukannya. Bibirku tak pernah berhenti berkedut saat melihat Mas Azam makan dengan lahap. Aku sendiri sudah merasa kenyang setiap kali melihat kunyahannya. “Kenapa jadi Mas yang makan? Kenapa kamu nggak makan?” tanya suamiku itu. Aku menggeleng pelan. “Sudah kenyang lihat Mas makan!” jawabku. Mas Azam mencebikan bibirnya. “Tadi Mas lapar karena lihat kamu makan, Nir. Sekarang kamu yang kenyang karena lihat Mas makan. Sebenarya kita kenapa?” tanyanya. Aku berpikir sejenak. “Mungkin bawaan bayi kali, Mas?” tebakku. Entahlah, tapi topic masalah anak selalu saja membuat senyum Mas Azam terbit. Dia bahkan mengangguk antusias sembari terus me

