*** Paginya, aku terbangun dengan kantung mata yang menghitam. Ternyata hal itu mengganggu pandangan Mas Azam. Dia pun bertanya padaku dari mana kantung mata itu berasal ketika kami tengah melakukan sarapan bersama. Aku menjawab sekenanya. “Kurang tidur, Mas. Semalam Nira baru tidur jam Dua Belas lewat,” ucapku. Mas Azam menatapku dengan tatapan entah apa. Terlalu sulit untuk bisa aku gambarkan. Dia seolah ingin bertanya lebih lanjut, tapi mengurungkannya. Aku tidak tahu kenapa, tapi matanya juga seolah ingin menjelaskan sesuatu. Mungkinkah Mas Azam ingin menjelaskan tentang apa yang kulihat semalam? Aku menggeleng keras, itu tidak mungkin. Untuk apa Mas Azam menjelaskan semuanya. “Kamu kenapa, Nir?” Aku menoleh cepat ke arah Mbak Lia setelah mendengar pertanyaannya. Kulihat Mbak Li

