*** Setelah lama terdiam, akhrinya mobil Mas Azam menepi juga. Aku pun diam-diam menghela napas lega. Pura-pura tidak peduli pada keberadaan Mas Azam ternyata membuatku capek sendiri. Kerap kali inginku menatap Mas Azam atau sekedar mengajaknya bicara sesekali. Namun, aku benar-benar menahan diri. Kubatasi semua rasa ini dan memang sebaiknya aku hanya fokus pada tugasku saja. Menjaga bayiku adalah yang paling utama. Tak perlu lagi mengharapkan apapun terlebih mengharapkan siapapun. Biarlah menjadi urusan Alla untuk semua perasaan yang saat ini memenuhi hatiku. Namun, bagaimana jika Mas Azam yang akhirnya membuka suara lebih dulu? Kemudian membahas Satu persatu masalah yang membuatku menangis tadi pagi. Mas Azam seolah ingin mengurai benang kusut di antara kami agar mendung di wajahku

