*** Hari ini, aku baru saja menyelesaikan jadwal kontrolku bersama mertuaku. Bukan aku yang paling semangat, tapi dirinya. Aku tersenyum senang melihat itu. Sejenak terlintas dalam benakku, andai kebersamaan kami bisa terus berlanjut hingga nanti. Namun, segera aku tepis. Tak baik berharap seperti itu sementara aku tahu betul apa yang akan terjadi ke depan. Hanya ada perpisahan yang menanti karena aku tahu Mas Azam tidak ada alasan untuk mempertahankan diriku yang akan difitnah habis-habisan oleh Mbak Lia. Itu lah sebabnya hingga detik ini aku harus belajar menerima semuanya. Memang, berpisah dari Mas Azam adalah sesuatu yang tidak diriku inginkan, tapi selagi anakku baik-baik saja, maka aku pun akan rela melepasnya. “Nira, kamu melamun lagi?” Teguran mertuaku berhasil membawa diriku

