“Fiuh, akhirnya aku bisa lolos juga meski salah tujuan.” Bell tersenyum lebar karena berhasil menyelinap pergi dari pengawasan Cloud. “Jantungku bisa meledak jika berada didekatnya lebih lama lagi. Siapa sangka hati ini bisa berbeda pendapat dengan otakku. Tetap saja aku berpihak pada kau otakku. Aku tidak mungkin memiliki perasaan pada vampir itu. Benar! Itu tidak mungkin!” Bell terdiam sejenak dan seketika bayang-bayang wajah Cloud memenuhi otaknya dan sang jantung berdebar tanpa diperintahnya. Dia dapat merasakan wajahnya terasa memanas, malu sekaligus tidak ingin mengakui kebenaran. “Tenang-tenang. Aku tidak boleh terbawa suasana. Aku harus konsentrasi untuk membuka jalan pulang. Tapi, aku ada di mana?” Bell mengedarkan pandang lalu tersenyum kaku. Bisa-bisanya dia membuka jalan hin

