Chapter 6

1867 Kata
Bell menghela napas setelah memasuki halaman sekolahnya. Dia tidak menjumpai adanya tanda-tanda manusia kecuali satpam di gerbang depan. Entah manusia atau bukan karena satpam itu terlihat mencurigakan. Tapi, apapun itu selama berwujud manusia, Bell masih sanggup mengatasinya meski bulu kuduknya tak tenang. Buru-buru dia mempercepat langkahnya menuju Gedung Putih yang terlihat paling megah dari gedung tingkat lain. “Akhirnya kau datang juga,” ujar Mr. Oarsmane yang sudah menunggunya di dalam lantai satu Gedung Putih. Bell segera menghampiri wakil kepala sekolah dengan wajah gembira seakan melupakan fakta bahwa pria dewasa ini juga bukanlah manusia. “Apa saya terlambat?” ucapnya. “Tidak, hanya saja ini hari pertamamu. Lain kali datanglah lebih awal, kau harus datang lebih dulu dari tuanmu. Ayo ikuti aku!” Tuanmu? Bell mengeryitkan kening. “Baik,” ujarnya tidak terlalu ingin tahu maksud Mr. Oarsmane. Mr. Oarsmane membawanya ke sebuah ruang kelas di lantai empat. Lantai kedua dari atas. Jantungnya mulai berdebar dengan kencang karena untuk pertama kalinya dia akan berjumpa dengan para murid kelas malam. “Ini adalah kelasmu.” Bell mengangguk. “Nanti ada yang akan membimbingmu, jadi tenang saja. Nah, mari kita masuk. Kau harus memperkenalkan dirimu.” Mr. Oarsmane membuka pintu kelas yang terbuat dari kayu yang berukiran indah. Bell bisa menerka pintu kelas ini harganya tidak sembarangan. Pintu kelas terbuka. Bell melangkahkan kaki mengikuti Mr. Oarsmane, namun langkahnya terhenti tepat diambang pintu kelas yang mahal itu. Bell sudah memiliki bayangan apa yang dihadapinya, tapi ternyata dia tak setangguh yang diharapkannya. Bell membatu di ambang pintu dengan mata membelalak lebar melihat isi ruang kelasnya. Dia melihatnya. Apa yang selama ini menjadi hasrat terpendamnya. “Kyaaaa!!!!!” teriaknya sembari berlari kencang meninggalkan kelas yang dipenuhi makhluk berwujud hewan yang menakutkan. Mereka bukan manusia. Jelas-jelas bukan. Mereka semua adalah siluman. Bell terus berlari tanpa tahu ke mana arahnya pergi. Matanya mengabaikan fakta bahwa di dalam kelas itu juga terdapat gadis manusia seperti dirinya. Mr. Oarsmane menengok keluar kelas. Dia hanya memandang Bell yang berlari seperti dikejar hantu. Dia membiarkannya dan kembali masuk ke dalam kelas. “Ya ampun manusia itu lari seperti melihat hantu saja. Padahal aku sudah berpenampilan setampan mungkin hari ini,” ujar salah satu murid kelas malam dengan kepalanya yang berbentuk ular dengan lidahnya yang tak berhenti menjulur-julur. “Dasar, mentang-mentang dia manusia. Sikapnya tidak sopan sekali,” sahut murid lain yang bahkan berwujud kodok hijau besar yang tengah duduk di atas meja dengan memanggul kapak besar berlumuran cairan merah. “Semuanya tenang.” Mr. Oarsmane menepuk tangannya dua kali yang langsung mendapat perhatian para penghuni kelas. “Nampaknya kalian sudah mendengar berita kedatangan NS baru dari tingkat dua ini dan sengaja berpenampilan seperti ini,” ujar Mr. Oarsmane menyadari apa yang terjadi. “Kami tidak dengan sengaja melakukannya. Manusia itu saja yang berlebihan,” sahut siluman katak yang merubah wujudnya menjadi manusia. Kapak yang tadi dipikulnya hanyalah penggaris NS-nya yang dia pinjam. “Ya, sudahlah.” Mr. Oarsmane menatap seorang gadis di bangku pojok depan. “Marige , NS baru itu aku serahkan padamu. Aku harus pergi sekarang,” ujar Mr. Oarsmane. “Saya mengerti, Mr. Oarsmane,” jawab si gadis tinggi berparas cantik dan terlihat tegas. Bingkai matanya tajam, sangat sesuai dengan posisinya sebagai ketua NS putri kelas malam. “Ah, dan tolong cari anak itu,” ujar Mr. Oarsmane seraya melangkah keluar kelas dan berhenti satu langkah sebelum mencapai pintu. “Seperti yang kalian dengar, anak itu dari tingkat dua dan tolong berikan dia toleransi, Tuan-Tuan.” Mr. Oarsmane tersenyum pada setiap siluman dari berbagai klan yang menjadi penghuni kelas malam Deux Boiler High School. Para siluman itu hanya menyeringai, jelas sekali mereka tidak akan melakukan seperti yang diperintahkan Mr. Oarsmane. Sementara itu Bell akhirnya mulai kehabisan napas. Dia memutuskan berhenti di lorong di dekat tangga menuju lantai lima. Dia duduk di anak tangga paling bawah sembari mengatur napasnya. Keringatnya bahkan sampai bercucuran karena dia berlari begitu kencang. Gadis itu perlahan kembali mengingat para penghuni kelas malam. Yang paling terpatri dalam otaknya adalah katak besar memanggul kapak berlumuran darah. Semua persiapannya langsung hancur melihat fakta yang jauh dari ekspetasinya. Dia mengira bahwa penghuni kelas itu sejenis dengan kepala sekolahnya, nyatanya kelas itu lebih mirip kebun binatang yang mengerikan. Dia bahkan tidak bisa menggunakan keberaniannya. “Mereka menakutkan,” gumam Bell merasa bulu kuduknya berdiri semua. Tiba-tiba saja dia merasakan semilir angin lembut menerpanya. Bell langsung begidik ngeri. Matanya menatap lurus lorong yang sunyi. Dia tadi berlari begitu saja. Ceroboh sekali. Tuk. Tuk. Tuk. Bell tersentak mendengar suara langkah sepatu dari arah tangga. Kepalanya menoleh dengan kaku. Matanya menangkap bayanan hitam mengerikan di dinding. Nampak seperti orang besar, bertelinga cukup panjang dan memiliki lima bayanan ekor yang bergerak-gerak, tengah berjalan menuruni tangga. Bell menelan ludahnya dan tubuhnya mulai gemetaran. Siluman lagi? Bell berdiri dengan perlahan. Dia membungkam mulutnya agar tidak berteriak seperti tadi, tapi itu tidak berhasil. “Kyaaaa!!!” teriaknya lebih nyaring dari tadi ketika siluman itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Tubuh besar, penuh bulu, mata merah menyala dan menyeringai padanya. “Oh, kau kan-“ Bell langsung berlari tanpa mendengar apa yang akan siluman itu katakan. Mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk pergi sejauh mungkin dari siluman yang mengerikan itu. Siluman itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Bell yang lari sampai sebegitunya. Tubuh besarnya menyusut dan seluruh bulu di tubuhnya menghilang. Perlahan tubuhnya berubah wujud menjadi manusia. “Ya ampun itukah anak baru dari tingkat dua?” gumamnya. Suara kecipak air membuat siluman itu menoleh ke arah cermin besar di dekat tangga. Sebuah tangan mulai keluar dari cermin yang berubah menjadi pusaran air. “Duh, aku sedikit terlambat,” ujar seorang wanita yang baru saja keluar dari cermin. Dia menoleh ke arah siluman berwujud seorang pria tengah berdiri tak jauh darinya. “Oh, Mr. Rafael. Apa anda juga terlambat?” tanya wanita yang memiliki ekor kucing panjang di belakang tubuhnya. “Sepertinya begitu Miss Olive,” jawab Mr. Rafael sembari menghampiri Miss Olive. “Hari ini anak baru akan masuk. Kudengar dia dari tingkat dua. Benar-benar tidak kusangka kalau anak baru itu yang akan menjadi NS putra Mr. Strengthen. Apa dia sungguh hebat?” ujar Miss Olive. “Hebat?” Mr. Rafael tertawa kecil. “Aku sangsi ini akan berjalan lancar,” lanjutnya sembari berjalan. “Kenapa seperti itu?” Miss Olive mengejar dengan penasaran. “Lihat saja sendiri.” “Aku jadi semakin penasaran seperti apa dirinya.” Mereka sama-sama tertawa kecil memperlihatkan gigi-gigi tajam yang seharusnya tidak diperlihatkan saat mereka berubah wujud seperti manusia.  Napas Bell sudah mulai kembali tersengal-sengal, tubuhnya sudah tidak kuat untuk berlari lagi. Dia menyesal karena tidak makan banyak saat akan kemari. Biasanya dia yang paling cepat saat pelajaran olahraga lari mengelili lapangan. Harusnya ini bukan apa-apa, tapi dia sudah mencapai batasnya. GUBRAK. Bell tersungkur karena sudah tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Beruntung wajahnya tidak mencium lantai karena dia melindunginya dengan kedua tangannya. Bukannya lekas bangun dan berlari lagi, Bell memilih tengkurap di lantai dengan pose yang sungguh tidak elegan. “Aku penasaran apa yang tengah kau lakukan, Arabell Purplish.” Bell mendongak masih dengan tengkurap di lantai. Di hadapannya tengah berdiri seorang gadis tinggi dengan rambut diikar ekor kuda tengah bersedakap dan tersenyum manis padanya. “Ma-manusia?” tanya Bell dengan wajah waspada. Gadis itu tersenyum lalu berjongkok di depan Bell. “Aku manusia,” jawabnya. “Ayo kubantu bangun.” Bell merasakan kelegaan mendengar jawaban gadis itu. Akhirnya dia berjumpa dengan sesama manusia di gedung yang ternyata dihuni para siluman ini. Dia segera bangun dibantu gadis itu. “Terima kasih,” ujar Bell ketika dia sudah berdiri lagi. “Sama-sama,” balas gadis itu. “Kau siapa?” tanya Bell sembari menepuk-nepuk seragamnya yang lusuh karena dia berlari-lari hingga tersungkur dengan dramatis. “Perkenalkan aku Merige Standler, ketua Night Staff  tahun angkatan ini. Dan akulah yang akan membimbingmu.” Merige mengulurkan tangannya. “O-Oh ...” Bell menjabat tangan Merige dengan canggung. “Kau sudah tahu namaku. Arabell Purplish, kau bisa memanggilku Bell saja,” ujar Bell. Mereka mengakhiri jabatan tangan mereka. Saling memandang beberapa saat lalu Merige memulai pembicaraan terlebih dahulu. “Baiklah, Bell. Selamat datang di kelas malam. Sekarang mari kita kembali ke kelas. Sebentar lagi kelas akan di mulai dan kau belum memperkenalkan dirimu pada semuanya,” ujar Merige sembari membalikkan badan hendak berjalan. “Tunggu!” cegah Bell. “A-aku merasa tidak siap harus melihat mereka lagi.” “Tidak ada yang perlu kamu cemaskan. Kamu tidak sendirian di kelas.” “Eh?” “Kamu bahkan tidak memperhatikan ada NS lain di kelas karena terlalu fokus pada para tuan. Ada lima belas NS di kelas dan enam belas ditambah denganmu.” “Be-benarkah?” Bell sungguh tidak memperhatikan isi kelas karena terlalu terkejut dengan para siluman yang berwujud mengerikan. “Maaf,” ucapnya merasa tidak enak hati karena tingkahnya. “Tidak apa. Aku bisa memakluminya. Kau dari tingkat dua tentu saja akan terkejut mengetahui hal seperti ini. Lama-lama nanti akan terbiasa kok. Ayo kita harus kembali ke kelas.” Merige tersenyum. “Aku takjub padamu yang bisa berlari sampai sejauh ini.” Merige mulai melangkahkan kakinya. Bell hanya tersenyum kecut. Sekarang dia tidak ada pilihan lain selain mengikuti Merige. Dia mulai membangun keberaniannya jika nanti melihat para siluman itu lagi. “Hei, aku sama sekali tidak tahu apa itu NS dan apa yang harus aku lakukan,” ujar Bell saat mereka hampir tiba di kelas. “Itulah mengapa ada aku,” sahut Merige. “Sejak masuk Deux Boiler aku sangat penasaran seperti apa kelas malam di Gedung Putih. Sekarang setelah mengetahuinya ... aku-“ “Menyesal?” potong Merige. “Entahlah bagaimana mengatakannya.” Bell tersenyum kikuk. “Ada yang bilang rasa penasaran bisa membunuhmu. Tapi, jangan khawatir. Mereka tidak seperti bayanganmu.” Mereka berdua sudah berdiri di depan pintu kelas. Bell memperhatikan dengan serius saat Merige mulai membuka pintu itu. Kakinya terasa berat untuk melangkah ke dalam kelas. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Dia bahkan menutup matanya karena tidak siap. “Tolong berhenti bersikap konyol, Bell. Buka matamu,” ujar Merige jengah. “A-aku merasa ingin lari lagi,” ujar Bell lirih. “Jangan lalukan itu lagi.” Merige menghela napas. Dia berjalan ke belakang tubuh Bell dan tanpa aba-aba dia membuka mata Bell dengan paksa. “Ja-“ jerit Bell terhenti karena pemandangan di depannya kali ini berbeda. Matanya membulat melihat satu persatu deretan bangku yang berisikan sepasang murid. Dia bisa melihat empat belas gadis berseragam sama yang duduk berdampingan dengan seorang pria yang bisa Bell katakan memiliki wajah yang rupawan. Tidak ada katak memegang kapak  maupun kepala ular lagi. Tidak ada mata merah menyala yang menatapnya tajam lagi. Sekarang yang ada dihadapannya adalah pemandangan kelas normal berisikan manusia. “Nah, sekarang perkenalkan dirimu, Bell,” ujar Merige. “Oh!” Bell tersadar. Dia agak terkejut karena dirinya ternyata sudah berdiri di depan papan tulis. Dia segera beradaptasi. Sudah cukup bertingkah konyol. Meski dia tidak tahu bagaimana kelas ini menjelma menjadi normal, setidaknya dia harus bersikap seperti anak baru pada umumnya. “Se-selamat malam, saya Arabell Purplish. Ma-maaf karena sikap tidak sopan saya tadi.” Bell membungkuk cepat. “Cih, manusia payah sepertimu bisa-bisanya menjadi NS Tuan Cloud,” ujar salah seorang pria, ralat, siluman berwujud manusia yang melemparkan pandangan meremehkan pada Bell yang berdiri di depan. “Kita taruhan berapa lama dia bisa bertahan,” sahut yang lain. “Satu minggu paling lama,” sahut yang lain lagi. Terdengar gelak tawa dari para siluman berwujud pria. Bell mengepalkan tangan dengan raut muka masam. Dia paling tidak suka diremehkan oleh orang lain, apalagi diremehkan oleh para siluman. Dia tidak akan diam saja. “Tahan dirimu,” cegah Merige yang melihat gelagat Bell. Bell menggigit bibirnya kesal. Baru saja dia akan membalas ucapan para siluman itu, tapi dihentikan Merige. “Tuan Cloud pasti sedang mabuk saat memilihmu. Ha ha ha-“ Gelak tawa para siluman itu terdengar begitu menjengkelkan. Tapi tiba-tiba mereka semua berhenti tertawa saat tercium aroma wangi mawar. Bell pun mencium wangi itu dan dia mengingatnya. Wangi yang tidak akan pernah dilupakannya. Karena wangi itulah sekarang dia berada di sini. Mereka semua memandang ke arah pintu. Waktu terasa melambat dan muncullah seorang pria berambut cokelat dengan wajah pucatnya. Si pangeran tidur telah mengakhiri tidur panjangnya. Mulut Bell terbuka lebar. Dia memang sudah tahu bahwa pria yang dikiranya mayat adalah anak kepala sekolahnya, namun melihat dengan mata kepalanya sendiri mayat itu tengah berdiri di depannya dan membuka mata, tetap saja mengejutkan baginya. Sampai-sampai dia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Kehidupannya di kelas malam dimulai dari sekarang. Bersama para siluman. ***        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN