Chapter 7

1792 Kata
“Itu kan Tuan Cloud.” “Akhirnya muncul juga.” “Selamat malam semuanya,” sapa Mr. Rafael muncul dari belakang Cloud. “Selamat malam, Mr. Rafael,” balas semua NS termasuk Bell yang disenggol Merige untuk melakukan hal yang sama. “Ah!” Mr. Rafael menatap ke arah Bell. “NS baru ya? Tuan Cloud ...” Mr. Rafael menoleh ke arah Cloud yang berdiri di sampingnya. “NS Anda,” ujarnya. Cloud, si pangeran tidur itu menatap ke arah Bell sekilas. Matanya yang terlihat dingin itu nampak tidak tertarik dengan gadis yang sudah membuatnya terbangun. Dia berjalan melewati Bell begitu saja menuju bangku kosong di tengah. Tak menghiraukan sapaan para siluman maupun NS yang terpesona padanya. Mr. Rafael hanya tersenyum melihat tingkah Cloud. Baginya itu bukan sesuatu yang mengejutkan lagi. Dirinya sudah cukup lama di dunia manusia untuk menjadi guru kelas malam ini. “Selamat datang di kelas malam, Arabell Purplish. Hum kau nampak baik-baik saja melihatku sekarang, tadi kau lari terbirit-b***t padahal aku hendak menyapamu,” ujar Mr. Rafael. “Ha?” Bell tidak mengerti. Perasaan ini baru pertama kalinya mereka berjumpa. “Ditangga,” ujar Mr. Rafael. Bell menunjuk Mr. Rafael dengan jari gemetaran. Dia menatap guru berkumis tipis itu dari atas sampai bawah. Wujud manusia ini sungguh berbeda dengan makhluk yang mengejutkannya di tangga tadi. “Tolong biasakan dirimu,” ujar Mr. Rafael. “Ma-maafkan saya.” Bell menyadari kesalahannya. Meski mereka siluman, sepertinya mereka memiliki perasaan yang sensitif layaknya manusia. Manusia dan siluman yang membedakan hanya wujud dan kekuatan mereka saja. “Dimaafkan. Dan sekarang kalian bisa kembali ke bangku masing-masing.” “Baik,” sahut Bell dan Merige bersamaan. Merige kembali lebih dulu karena bangkunya berada di pojok depan. Sementara Bell menyusuri bangku tengah menuju Cloud yang sudah duduk manis di bangku mereka. Entah hanya perasaannya atau bukan, dia merasa semua mata memandang ke arahnya, kecuali Cloud, tuannya. Bell sampai di bangkunya. Dengan ragu dia menarik kursi kosong di sebelah Cloud. Bell tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan pemindaian pada siluman pria yang terlihat paling bersinar di sini meski dengan ekspresi dinginnya. “Nona Purplish tidakkah Anda ingin duduk?” terdengar suara dari arah depan. Bell sontak terkejut. Dia menoleh dan mendapati Mr. Rafael tengah tersenyum padanya. Dia mengangguk kaku lalu segera mendaratkan pantatnya ke kursi. Karena terlalu serius memindai, dia lupa jika masih berdiri. Meski begitu matanya masih memandang penasaran pada Cloud. “Dia benar-benar hidup,” gumam Bell tanpa sadar. “Apa yang kau lihat?” Bell terkejut karena tiba-tiba Cloud bersuara tanpa melihat ke arahnya. “A-a-a ...” Bell tergagap. “Nona.” “Kyaaa!!!” Bell berteriak cukup keras karena Mr. Rafael tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Dia bahkan sampai berpegangan pada lengan Cloud. Namun, begitu sadar dia sudah berbuat berlebihan, dia segera melepas lengan Cloud dan menoleh pada Mr. Rafael dengan wajah mengiba. “Ma-maafkan saya,” ujarnya lirih. Mr. Rafael tersenyum penuh penekanan pada Bell dan dia mulai berceramah panjang lebar. Bell hanya bisa menganguk-anggukan kepalanya. Memang salahnya sendiri karena tidak bisa menghentikan rasa penasarannya pada Cloud. Bagaimana tidak? Pria di sebelahnya ini sekarang bergantung pada darahnya. Dan makhluk seperti ini ternyata hidup di tengah-tengah manusia selama ini. *** Matanya berkedut-kedut mencoba bertahan untuk tetap terbuka lebar. Suara-suara di sekitarnya timbul tenggelam. Dia sudah tidak kuat lagi. “Arabell Purplish!” bentak Merige yang langsung membuat Bell berjingkat kaget. “Ah, ya ya ya?” Bell tolah toleh seperti orang linglung. Para gadis di ruangan khusus NS menertawakan tingkah Bell yang tidak bisa menahan rasa kantuknya. Merige menghela napas. “Apa kau mendengar apa yang kujelaskan tadi?” tanyanya sangsi. Bell tersenyum kecut sembari mengusap lehernya. “Se-sepertinya tidak.” “Kau benar-benar.” Merige mulai kehilangan kesabaran. “Apa kau ini tidak pernah begadang? Masih jam sepuluh juga sudah tidak bisa menahan kantuk?” Bell merasa tidak enak. Entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan rasa kantuknya. Padahal biasanya dia juga jam sepuluh baru pulang bekerja sambilan. “Mau bagaimana lagi ini hari pertamamu. Aku hanya mengira kau memiliki sesuatu karena dari tingkat dua sudah menjadi NS Tuan Cloud. Ternyata kau cukup payah juga,” ujar Merige. “Kalian pasti salah mengira. Aku di sini bukan karena mauku. Kalau bisa aku juga tidak mau menjadi NS,” sahut Bell. “Aku hanya tertarik dengan uangnya,” batin Bell. Semua gadis sekarang memandanginya dengan wajah bertanya-tanya. Merasa menjadi pusat perhatian Bell merasa harus mengungkapkan isi hatinya yang sudah mengganjal sejak tadi. “Aku mengira kelas malam berisi murid-murid spesial atau bagaimana, tapi ternyata malah berisi para siluman. Kepala sekolah yang mendirikan sekolah ini pun juga bukanlah manusia. Bukankah ini seperti kita diperbudak siluman? Aku heran bagaimana kalian nampak biasa-biasa saja setelah mengetahui semua rahasia Deux Boiler ini? Apa kalian tidak takut?” ujar Bell. Akhirnya dia mengeluarkan unek-uneknya juga. Suasana hening sesaat. Bell berpikir para gadis ini mungkin bisa mengerti keadaannya dan memahami mengapa dirinya seperti itu. “Baiklah aku akan mengulangi penjelasanku. Jadi pada intinya-“ “Kau mengabaikanku?!” protes Bell. “Inilah mengapa kau harus berada di tingkat tiga dulu baru bisa mengerti semua ini.” Merige sedikit melunak. “Ada banyak hal mengapa kelas malam ini diadakan dan melibatkan murid tingkat tiga yang terpilih. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekaligus. Jadi, kau akan mengetahui semuanya secara bertahap. Apa kau mengerti?” Melihat tidak ada balasan dari Bell yang hanya memanyunkan bibirnya, Merige mulai menjelaskan lagi. “Dengar. Tugas utama seorang NS adalah mendampingi tuannya. Karena kita telah membuat kontrak dengan mereka, maka mereka berhak atas diri kita. Mereka berada di sini untuk melakukan sesuatu, jadi NS membantu mereka untuk mengenal seluk beluk manusia. Apa sampai di sini kau paham?” tanya Merige pada Bell yang terlihat ogah-ogahan. “Mereka ingin menginvasi manusia, kan?” ujar Bell menyimpulkan. “Apa yang kau katakan?” Merige menatap tajam pada Bell. “Mereka membeli manusia dan menjadikan kita budaknya. Aku yakin kalian juga tergiur karena gaji yang mereka tawarkan? Sebenarnya aku setuju menjadi NS juga karena aku menginginkan uang itu.” Bell mengakuinya. “Arabell Pusplish.” Merige geram. “Hahahaha.” Terdengar suara tawa dari seroang gadis bongsor dengan rambut berpotongan model laki-laki. Pandangan semua gadis beralih ke gadis itu. “Jarang-jarang sekali bertemu dengan gadis blak-blakan sepertimu. Kita memiliki pemikiran yang sama. Tapi, meskipun kita ini sama dengan seorang b***k, kita tidak rugi, kan?” Ragle Autsen, nama gadis itu, menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi sembari tersenyum. “Bukankah kau ini beruntung sekali karena Tuan Cloud memilihmu. Kau bahkan tidak perlu menjerit ketakutan seperti tadi karena tuanmu berwujud manusia. Karena itu jangan berbicara seolah hanya dirimu yang merasa terpaksa di sini.” Ucapan Ragle membuat Bell seperti ditampar sebuah fakta. Setelah direnungkan lagi, dia menyadari jika ucapannya tergolong kasar. Semua ini terjadi juga karena rasa penasarannya yang menggebu. “Sepertinya anak ini sudah lebih bisa menerima keadaan,” batin Merige melihat Bell yang termenung. “Sudah-sudah.” Seorang gadis cantik mungil dengan rambut bergelombang angkat bicara. “Jangan memojokkan Bell seperti itu. Dia masih baru di sini, biarkan beradaptasi dulu.” Gadis itu menoleh ke arah Bell. “Seperti kata Merige tadi, kamu akan tahu sedikit demi sedikit mengapa kita menjadi NS para siluman. Saat kamu sudah memahaminya nanti, aku yakin kamu bisa menerima semua dengan baik. Jadi, kamu harus senang dulu di sini. Tidak masalah jika kamu berkata terpaksa menjadi NS karena tergiur gaji atau apa. Bila tiba waktunya nanti, kamu akan menyadari bahwa uang itu tidak akan berarti apa-apa.” Bell terdiam. Menyerap setiap kata yang diucapkan oleh NS yang terlihat lembut itu padanya. Setelah dia memikirkannya kembali, ucapannya benar-benar egois. “Nah, Bell aku harap kau bisa menjadi NS yang baik setelah ini. Perlu kau ingat, kau bersama Tuan Cloud, putra kepala sekolah dan juga klan tertinggi para siluman. Apa kau paham?” Merige tersenyum. “Y-ya aku sudah paham. Maaf untuk kata-kataku tadi,” ujar Bell. “Bagus!” Merige menepuk bahu Bell. “Sekarang kau cucilah muka dan ganti seragammu.” “Seragam?” Bell baru menyadari bahwa di sini hanya dirinya yang nampak berbeda karena memakai seragam tingkat dua. Para NS mengenakan seragam khusus NS yang blazer maupun rok mereka berwarna merah dengan kemeja warna hitam. Hitam yang mewakili gelapnya kelas malam dan merah adalah darah. Pemikiran spontan Bell itu membuatnya merinding sendiri. Dibantu gadis lembut bernama Rinna tadi, Bell mendapati seragamnya pas sekali dengan tubuhnya. Tidak ingin terlalu terkejut, dia menduga jika semuanya pasti berkaitan dengan para siluman dan kekuatan sihir mereka. Berkaitan dengan sihir, saat ini dia sangat berharap ada sihir yang bisa membuat dirinya terjaga. Dia sudah mencapai batasnya. Matanya memerah dan terasa lengket. Seperti ada lem yang merekat di kelopak matanya hingga dia tak sanggup membukanya. “Arabell Purplish!” Gebrakan di meja membuat Bell hampir melompat bangun dari kursinya. Diantara keremangan matanya dia bisa melihat Mr. Rafael berdiri di sampingnya memamerkan senyumnya yang menyeramkan. “Saya paling tidak suka melihat murid tidur di kelas. Apa kau paham?” “Ma-maaf, Mr. Rafael,” ucap Bell berusaha untuk mempertahankan matanya. “Baik, sekali lagi kau melakukannya aku akan menghukummu. Tidak peduli ini hari pertamamu,” ujar Mr. Rafael yang sudah berada di meja guru. Bell menghela napasnya. Dia membuka lebar-lebar matanya yang tak seberapa lebar itu. Ini buruk. Sekarang sudah hampir pukul dua belas malam. “Dasar manusia,” ucap Cloud yang sedari tadi diam. Bell menoleh dengan matanya yang terbuka separuh. “Dasar vampir,” balasnya tidak takut. “Wah, untuk ukuran manusia kau cukup berani juga.” Salah satu sudut bibir Cloud terangkat. “Aku sudah mencapai batas. Aku tidak tahu kau bicara apa, Tuan Batman. Ah, salah tapi Tuan Vampir.” Bell menaruh buku tebal dengan posisi berdiri di depan wajahnya. Diletakkannya kepalanya di balik buku itu dan dia langsung memejamkan matanya. “Lagi-lagi aku mendapatkan yang seperti ini,” ujar Cloud terlihat tidak begitu senang mengatakannya. Bell yang mendengar samar-samar tidak terlalu mempedulikannya. Saat ini dia hanya ingin menuruti apa yang diinginkan tubuhnya. Tidur. Lima menit kemudian, Mr. Rafael kembali memergoki Bell yang sudah tertidur pulas. Bell bahkan sudah tidak menggubris omelan gurunya itu. Dia benar-benar sudah berada di dunia mimpinya sendiri. *** Bell dimarahi habis-habisan oleh Merige karena tidur hingga kelas berakhir. Tidak melakukan tugasnya sebagai NS dengan baik, bahkan dia tidak tahu Cloud sudah meninggalkannya entah sejak kapan. Hanya ada dirinya bersama Merige dan Rinna yang mau menunggunya. “Kau benar-benar. Seharusnya kau mengantar tuanmu pergi. Kau malah tidur pulas!!!” Merige rasanya ingin menarik rambutnya sendiri. Dia sudah diserahi tugas oleh Mr. Oarsmane untuk membimbing Bell, tapi jika yang dibimbing seperti ini, dia tidak akan punya muka sebagai ketua NS putri lagi. “Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur. Aku mengantuk bagaimana lagi?” balas Bell bersungut-sungut. “Dasar kau ini. Ah, sudahlah aku pusing. Aku pergi!” Merige dengan kesal mengarahkan tangannya ke dinding kaca yang langsung berubah menjadi permukaan air. Sebelum dia memasuki dinding air itu, dia menoleh pada Bell dengan raut kesal. “Pastikan besok kau tidak tidur lagi atau aku akan membiarkanmu dihukum Mr. Rafael,” ujarnya lalu menghilang tertelan dinding air itu. Bell bukannya takut pada ancaman Merige, dia malah terpesona pada pemandangan dinding air yang terlihat begitu mudah digunakan. “Hahaha. Sebaiknya kau atur jadwal tidurmu agar tidak mengantuk di kelas malam,” ujar Rinna. “Aku juga harus pulang. Sampai jumpa, Bell.” Rinna melakukan hal yang sama dengan Merige. Bell yang kembali terkagum-kagum pada sihir yang luar biasa itu baru menyadari satu hal yang penting. “Hei, tunggu! Mereka meninggalkanku sendirian di sini?” Bell melihat sekitarnya yang sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dia menelan ludahnya sendiri karena bulu kuduknya yang mulai berdiri. Seperti merasa ada yang mengawasinya. Tanpa pikir panjang Bell mengambil langkah seribu. Lagi-lagi dia berlari sekuat tenaga untuk segera keluar dari Gedung Putih ini. “Dasar anak itu. Lagi-lagi dia berlari seperti itu, padahal aku ingin memberikan beberapa buku. Dasar manusia,” gerutu Mr. Rafael yang baru saja keluar dari dinding air berniat menemui Bell. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN