Chapter 8

1704 Kata
Habile mengeryitkan kening dengan mata menyipit melihat sahabatnya tengah menyandarkan kepala di atas meja bangkunya dengan mata memerah, kantung mata yang mengenaskan dan wajah kusut. Seperti biasa Habile menjadi murid nomor dua yang sampai di kelas. Gadis itu menghampiri Bell dengan senyum getir, prihatin. “Apa yang terjadi?” tanya Habile sembari menyibak rambut Bell yang menutupi sebagian wajahnya. Bell memejamkan mata lalu mengangkat jari telunjuknya. Giginya gemerutuk menahan kesal bila mengingat bagaimana dirinya berakhir seperti ini. Semuanya gara-gara mereka ... *** Bell berlari cepat keluar dari Gedung Putih. Napasnya tersengal-sengal karena berlari-lari seperti orang gila. Matanya beredar melihat kesunyian tengah malam. Diliriknya arloji yang melingkar di pergelanan tangan kirinya telah menunjukkan pukul setengah satu. Bell mengumpat dalam hati. Apa dia harus berjalan pulang sendirian tengah malam seperti ini? “Mungkin aku bisa tidur di sekolah,” gumamnya. Bulu kuduknya kembali berdiri karena sapuan angin malam yang dingin. “Tidak. Tidak bisa. Mungkin para siluman itu sudah pergi, tapi bagaimana jika ada hantu bergentayangan?” “Manusia.” Bell menoleh cepat. Tidak ada orang. Perasaannya sudah mulai tidak enak. Dia menolehkan kepalanya ke arah semula dan begitu terkejutnya dia melihat seseorang berdiri di depannya. Dia hampir saja menjerit, tapi bisa ditahannya karena sosok di depannya berwujud manusia. “Selamat malam, Tuan ... e ...” Bell tidak ingat siapa namanya, tapi dia ingat jika siluman berwujud manusia ini adalah tuannya Merige. “Kau bertingkah sama seperti NS-nya yang dulu,” ujar Rain, siluman dari klan serigala petarung atau biasa disebut Kampfer. “Ha?” Bell tidak paham. “NS-nya yang dulu?” Bell mengangkat sebelah alisnya. “Iya.” “NS vampir itu? Jadi, dia sudah punya NS?” Mendadak Bell penasaran. “Di mana NS-nya kalau begitu? Ah, tunggu. Jangan bilang kalau NS-nya sudah mati karena darahnya dihisap sampai kering?!” cerocosnya.  “ Hahaha. Imajinasimu luar biasa. Tanya saja tuanmu sendiri,” ujar Rain. Siluman ini merepotkan. Bell kesal dalam hati. Dan ngomong-ngomong dia memang tidak tahu apa-apa tentang vampir itu. Yang dia tahu, dia telah membangunkannya dari tidur panjang dan di sini dia sedang bertanggung jawab dengan terpaksa, salah, tergiur gaji besarnya. Bell tersenyum lebar. Dia membungkuk sedikit. “Terima kasih atas pemberitahuannya. Kalau begitu saya permisi.” Bell melangkahkan kaki melewati Rain. “Apa kau mau menjadi NS-ku?” Bell menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badan ke arah Rain yang kini menghadapnya. “Terima kasih atas tawarannya. Tapi, maaf saja Tuan ...” Bell masih tidak ingat nama siluman di depannya ini. “... tuannya Merige. Saya tidak berniat berlama-lama di kelas malam. Dan juga saya ini bukan tipe yang suka berganti-ganti pasangan.” Bell menatap berani. Rain tersenyum tipis. “Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku berani pada milik tuan kami. Kuharap kau bisa terus menolak dari tawaran seperti itu di masa depan. Kasihan tuanmu kalau harus tidur lagi,” ujar Rain. Bell benar-benar tidak paham kenapa juga siluman ini memberitahunya. Kenapa dengan NS-nya yang dulu? Dan kenapa tuannya sampai tertidur? Hal seperti ini tentu akan mengusiknya. Dia terlalu mudah penasaran, apalagi menyangkut seluk beluk kelas malam dan penghuninya. Masalah utamanya karena ini menyangkut Cloud. Si vampir yang tidak ramah sama sekali. “Kalau tidak berniat memberitahu jangan membuat orang penasaran. Dasar. Ternyata bukan manusia saja yang memiliki sifat menyebalkan. Siluman tidak jauh berbeda,” ujar Bell kesal. Dia paling tidak suka diberi teka-teki, apalagi oleh siluman. “Menyebalkan?” Rain memicingkan matanya. Dia tersinggung. “Manusia ini cukup berani juga ya, Rain.” “Hah!” Bell refleks melangkah mundur karena terkejut sesosok siluman bertubuh manusia, tapi berkelapa serigala muncul di samping Rain. Dia bernapas lega karena tidak langsung berteriak. Dia bisa mengendalikan dirinya sekarang. “Waffie,” ucap Rain. Diam-diam Bell beroh ria karena mengetahui nama dua siluman di depannya ini. Rain dan Waffie. “Woah, sudah tidak menjerit ketakutan ya?” Waffie tertawa dalam wujud kepala serigalanya. Gigi runcing itu terlihat cukup tajam hingga membuat Bell menelan ludahnya. Dia merasakan hawa-hawa tidak menyenangkan. “Saya permisi dulu.” Bell membalikkan badan hendak melangkah, tapi kakinya tak dapat digerakkan. Bukan hanya kakinya, seluruh tubuhnya tidak mau bergerak. “A-apa yang terjadi?” Bell berupaya menggerakkan tubuhnya, tapi tidak ada yang terjadi. “Hahahaha. Tidak bisa bergerak ya?” Waafie melompat ke depan Bell. “Sudah lama tidak bertemu manusia yang cukup berani seperti ini,” ujarnya. “Jangan macam-macam, Waffie. Aku tidak mau kena masalah mengusik manusia ini,” sergah Rain. “Kenapa? Toh tuannya tidak ada di sini.” “Tolong jangan lakukan ini. Maafkan ketidaksopanan saya. Biarkan saya pulang untuk tidur,” mohon Bell tidak punya pilihan. Di saat seperti ini dia tak bisa mengandalkan mulut kasarnya. “Manusia itu merepotkan. Ayo pergi, Rain!” ujar Waffie tidak mempedulikan ucapan Bell. “Hei, tunggu. Lalu aku bagaimana?” tanya Bell dengan mata membulat lebar. “Saat matahari terbit kau akan lepas dari sihir itu. Jadi, nikmati saja.” Waffie mengerlingkan matanya. “Aku tidak ikut-ikutan, Waffie,” sahut Rain. “Tenang saja. Ayo!” Waffie terlihat menikmatinya. “Sampai jumpa manusia!” Dia melompat pergi disusul dengan Rain. Bell mengeram kesal hingga giginya bergesekan hingga bergemerutuk. “Dasar siluman gila! Beraninya menyiksa manusia. Awas kalian!!!” teriak Bell sekuat tenaga. Suaranya terdengar nyaring karena sunyinya dini hari di halaman sekolah. Menyedihkan. Satu kata yang cukup menggambarkan apa yang tengah terjadi pada Bell. Dia berdiri kaku seperti patung. Angin dingin tanpa mengerti keadaan malah bertiup ke arahnya. Membuat bulu kuduknya berdiri semua karena kedinginan. Dia merasa tidak ada bedanya di kelas pagi atau malam, Bell tetap menjadi sasaran bully­ yang lain. Dia masih bisa mengatasi sesama manusia, tapi kalau sudah berurusan dengan siluman dan sihir, mana bisa dia mengimbanginya. “Matahari cepatlah terbit,” ujar Bell putus asa. Sekarang dia benar-benar menyesal sudah penasaran tentang kelas malam. Lebih menyesal lagi karena tergiur gaji besarnya. Kalau seperti ini terus mungkin dia tak akan bisa bertahan. Dan Bell benar-benar baru bisa bergerak ketika matahari terbit. Tubuhnya langsung ambruk seperti patung roboh. Rasa pegal, kesemutan, menjadi satu. Wajahnya terlihat berantakan dengan mata yang memerah seperti orang mabuk. *** “Kenapa mengangkat tangan? Kau mengigau?” Habile tidak mengerti apa yang tengah dilakukan sahabatnya ini. Bell menarik kembali tangannya. Dia telungkup di meja dan menyembunyikan wajahnya. Habile menghela napas melihat aksi Bell yang tidak mau bercerita juga. “Hei, mau ke Ruang Kesehatan?” tawar Habile. Kepala Bell bergerak sedikit, memperlihatkan salah satu matanya dari balik helaian rambut. Dia mengangguk juga pada akhirnya. “Ayo kuantar.” Habile segera membantu Bell berdiri. Dia benar-benar tidak tega melihat kondisi Bell yang terlihat benar-benar menyedihkan. Kalau saja Bell tidak menolak bantuan yang ditawarkannya tentu gadis ini tidak akan mengalami hari-hari sulit seperti ini. Harga diri Bell tidak akan mengizinkannya. Gadis itu tidak akan mau menerima uang cuma-cuma, apalagi dari Habile yang sudah dianggap sahabat baiknya. Beruntung dokter jaga di Ruang Kesehatan sudah datang. Bell langsung merebahkan diri di ranjang Ruang Kesehatan yang lebih nyaman dari ranjangnya di flat. Habile menemaninya sampai mendekati bel masuk. Lalu gadis itu kembali ke kelas tanpa mengetahui apa yang sudah dialami Bell. Dia tipe gadis yang tidak akan menuntut penjelasan yang tidak ingin dikatakan orang. Meskipun itu sahabatnya sendiri. Setiap orang memiliki privasi yang harus dihargai. “Ya ampun kau benar-benar mengerikan. Minum ini lalu tidurlah.” Dokter jaga dengan name tag Dr. Olive T. C itu memberikan segelas pocari pada Bell. “Aku tidak menyangka kau masih di kelas pagi.” Bell sedikit merasa penasaran dengan nama lengkap dokter jaga ini. Dia berhenti meneguk pocari dan mendongak menatap dokter jaga yang tengah tersenyum padanya. Matanya terbelalak melihat sesuatu yang bergoyang-goyang di belakang tubuh dokter itu. “Do-Dok-Dokter ...” Bell menunjuk belakang tubuh dokter itu. “Ah?” Dokter jaga itu menoleh. “Ups. Terkadang dia keluar sendiri. Aku masih susah mengendalikan wujud ini. Oh ...” Dokter itu melihat Bell yang terlihat terkejut. “Kenapa mukamu seperti itu? Kamu kan sudah menjadi NS, pasti sudah tahu tentang para siluman di sekolah ini. Kau membuatku canggung. Ah, benar. Kau bisa memanggilku Miss Olive, aku mengajar di kelas malam juga. Karena dokter jaga sedang tidak bisa hadir, maka Mr. Strengthen memintaku menggantikannya sementara waktu.” “Saya tidak ...” Bell memilih tidak melanjutkan ucapannya. Dia meneguk habis pocarinya. “Terima kasih, Miss Olive. Saya akan istirahat dulu,” ujar Bell langsung berbaring miring membelakangi dokter itu yang hanya bisa tertawa kecil. “Baiklah, aku di depan kalau butuh sesuatu.” Miss Olive meninggalkan ranjang perawatan. Bell merasa jantungnya hampir melompat keluar. Dokter cantik yang selama ini berjaga di Ruang Kesehatan juga seorang siluman dan tidak ada yang menyadari. Bell merinding membayangkan siluman ada di mana-mana. Bisa jadi salah satu temannya, guru atau bahkan satpam yang kemarin dia temui juga adalah seorang siluman. Bell menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya. Alih-alih matanya terpejam, Bell malah semakin frustasi. Banyak hal yang berputar-putar di otaknya. Dia berteriak, berguling, bangun, berbaring dan seperti itu sampai beberapa saat. Dokter itu mengintip dari balik tirai. “Kasihan ...” gumam Miss Olive lalu meniupkan sesuatu ke arah Bell tanpa diketahui gadis itu. Hidung Bell bergerak-gerak mencium aroma wangi entah apa. Dia mulai menguap dan kelopak matanya terasa berat. Dia menepuk-nepuk bantal empuknya lalu merebahkan diri sembari menarik selimut sampai ke lehernya. Tak berapa lama terdengar bunyi dengkuran halus pertanda dia telah tertidur. “Akhirnya tenang juga. Manusia ini aneh sekali,” gumam Miss Olive yang tak lain adalah siluman kucing. “Eh?” Dia mengedip-ngedipkan mata tak percaya melihat seseorang yang baru saja keluar dari dinding air jendela Ruang Kesehatan. Mata dokter itu tidak bisa menyembunyikan binar-binar kagumnya. Setelah tujuh belas tahun lamanya tak bisa melihatnya, dia merasa beruntung karena dapat berjumpa padahal sekarang matahari tengah bersinar di langit. “Tuan Cloud,” ujarnya seramah mungkin. Cloud tidak perlu repot berbasa-basi. Dia berjalan melewati dokter itu, menyibak tirai yang menjadi batas ranjang perawatan. Cloud melihat Bell terbaring membelakanginya. “Gadis ini baru saja saya buat tertidur. Kondisinya buruk sekali seperti tidak tidur semalaman,” ujar Miss Olive tanpa menunggu Cloud bertanya. “Aku tidak bertanya,” ujar Cloud datar. “Ahaha. Tidak apa jika Anda tidak bertanya. Tapi, apa yang Anda lakukan dihari terang seperti ini? Saya rasa  ini waktunya Anda istirahat,” ujar Miss Olive nampak tidak terganggu dengan sikap Cloud yang menyebalkan. Cloud melirik ke arah dokter itu, seolah menyuruh siluman kucing itu untuk menutup mulutnya. Dia paling tidak suka pada sesuatu yang berisik, apalagi setelah dia tertidur selama tujuh belas tahun. “Anda terlihat kesal,” ujar Miss Olive malah menertawai Cloud. “Hmmm kau beruntung karena aku tidak bisa meminum sembarangan darah. Kalau tidak, aku pastikan akan menghisap darahmu sampai kering.” Cloud mendesis, memperlihatkan sedikit taringnya yang runcing. “Baiklah-baiklah. Saya tidak akan menganggu. Anda beda sekali dengan Mr. Strengthen.” Miss Olive tersenyum lebar. Lama-lama Cloud semakin jengkel pada sikap siluman kucing di depannya ini. Tidak bisa tidur di pagi hari cukup membuatnya frustasi hinga terpaksa mencari gadis itu. Dia haus. Dia membutuhkan darah NS-nya. Tapi, sialnya gadis itu malah sedang tidur dan dia harus bertemu siluman kucing yang banyak bicara. “Kau benar-benar,” geram Cloud dengan mata mulai memerah. “Berisik. Vampir sia**n!” Cloud langsung menoleh ke arah ranjang. Begitu pula dokter yang terkejut melihat Bell membuka matanya dan menatap berani ke arah mereka berdua. “Gadis ini ... bagaimana bisa terlepas dari mantra penidurku?” batin dokter siluman itu terkejut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN