“Aw! Aw! Apa yang kau lakukan! Sakit tahu!” teriak Bell yang mendapat serangan tiba-tiba dari burung berparuh panjang yang entah muncul dari mana.
“Hentikan, Gabriel!” ujar Cloud yang membuat burung itu berhenti menyerang Bell dan bertengger di bahu Cloud. Gabriel bersiul-siul seperti tengah berbicara sesuatu pada Cloud. “Sudah jangan kau pikirkan. Aku akan memberinya pelajaran karena sudah berani menyebutku vampir s****n. Terima kasih sudah membelaku,” ujar Cloud seperti berbicara pada burung itu.
“Ternyata itu burungmu!” Bell menyingkap selimutnya dan langsung berdiri di atas kasur. “Aku sudah menunggu lama untuk bertemu kembali denganmu, Burung. Kemari kau, aku akan membalas perbuatanmu padaku waktu itu.” Bell membuat kuda-kuda hendak bertarung.
“Apa yang kau lakukan? Gabriel berbahaya saat marah.” Cloud menangkap Gabriel yang hendak terbang ke arah Bell. Burung itu nampak meronta-ronta.
“Aku tidak takut!” balas Bell.
“Oke.” Cloud melepaskan Gabriel.
Beberapa menit kemudian, Bell bersujud di depan Gabriel memohon-mohon untuk mengembalikan tubuhnya seperti semula. Dia tidak tahu kalau burung kecil dengan paruh panjang itu bisa melakukan sihir. Dan sekali patuk di kepalanya, Bell diubah menjadi seekor belalang kecil yang buruk rupa.
“Jangan main-main dengan Gabriel,” ujar Cloud setelah Bell kembali ke wujud manusianya.
Dalam hati Bell kesal sekali pada burung itu juga Cloud. Untuk sekarang dia akan menyerah, tapi dia akan tetap mencari kesempatan untuk membalas mereka.
“Ma-maafkan saya,” ujar Bell sembari bersembunyi di balik selimutnya. Lalu dia teringat apa yang terjadi semalam. “Gara-gara dirimu aku harus seperti ini,” gumamnya.
“Apa maksudmu?”
“Setidaknya kau bisa menghargai diriku yang sudah baik hati memberikan darahku padamu. Kau harusnya tidak pergi begitu saja. Gara-gara itu aku dikerjai dua siluman serigala hingga tidak bisa bergerak jika matahari belum terbit. Dan lihat mataku sekarang jadi seperti ini!” Bell menunjuk wajahnya sendiri dengan mata terbelalak.
Cloud memandang datar. “Ada apa dengan matamu?”
“Kau buta? Ah, benar mata kelelawar memang tidak baik dalam penglihatan. Jadi tidak bisa melihat mataku yang layu, merah dan juga kantong mata jelek ini,” gerutu Bell lalu menghela napas. “Hah, dasar vampir. Kau pikir aku akan tunduk padamu? Jangan mimpi,” batin Bell sungguh berani.
Bell sama sekali tidak menahan dirinya meski berhadapan dengan Cloud yang tidak lain adalah tuannya. Seperti prinsipnya, dia tidak akan takut pada wujud sesama manusia. Apalagi bila dia tidak menyukainya. Dalam artian seseorang yang membuatnya kesal. Seperti Cloud.
“Hooo kau benar tentang penglihatanku. Mataku sangat buruk untuk melihat. Sampai-sampai aku sekarang yang terlihat di depanku hanyalah seonggok daging buruk rupa yang dapat berbicara,” celetuk Cloud dengan ekspresi puas melihat wajah Bell yang terlihat memerah, marah.
Gabriel berkicau dengan mengepak-ngepakkan sayap. Meski itu hanya sebuah kicauan burung, entah mengapa Bell merasa bahwa burung berparuh panjang itu tengah menertawakannya.
“I-itu membuktikan kalau penglihatanmu memang buruk,” ujar Bell masih tidak mau mengakui kekalahannya. “Dasar kelelawar gila,” batin Bell.
“Kau cukup pemberani mengatakan aku kelelawar gila.” Cloud menyeringai.
Bell tersentak kaget. Kepalanya mendongak kaku menatap seringaian Cloud yang menyeramkan.
Bagaimana dia bisa tahu apa yang kukatakan?
“Ngomong-ngomong kelelawar itu memiliki pendengaran yang tajam. Kau tahu itu, kan? Dan karena aku siluman, aku bahkan bisa membaca isi pikiranmu. Mulai sekarang kau harus menjaga mulut dan pikiranmu. Aku bisa saja menghisap darahmu sampai kering, tapi itu tidak akan menyenangkan. Aku punya rencana yang lebih baik untuk bersenang-senang dengan peliharaan baruku.”
“A-apa?”
Cloud membalikkan tubuhnya. Dia menjentikkan jarinya. “Gabriel kau urus peliharaan baru ini,” ujar Cloud.
“Hah? Apa? Hei! Tunggu!”
Setelah itu hanya terdengar bunyi cuitan burung dan teriakan Bell yang begitu keras hingga membuat seorang guru yang lewat di depan Ruang Kesehatan sampai terkejut dan melihat apa yang terjadi. Untung saja Miss Olive dapat mengatasinya dengan rapi.
“Tapi, sungguh aneh. Aku tidak percaya gadis itu bisa bangun cepat sekali dari mantra penidurku. Aku penasaran dengannya,” batin Miss Olive sembari bertopang dagu ke arah ranjang Ruang Kesehatan yang telah kosong.
“Dokter, obat sakit kepala saya.”
“Oh?” Miss Olive tersadar dari lamunannya. Dia langsung tersenyum kecut menatap seorang murid yang tengah terlihat kesal. “Maafkan aku. Ini obatmu.” Miss Olive menyerahkan sebuah kapsul yang sejak tadi dipegangnya.
“Terima kasih.” Kazaks menerima kapsul itu. Dia langsung berdiri dan keluar dari Ruang Kesehatan. Dia berhenti sejenak di depan pintu lalu menoleh ke arah Miss Olive yang kembali bertopang dagu. “Dokter satu ini aneh,” batin Kazaks lalu segera melangkahkan kakinya kembali menuju kelasnya. Kapsul itu tidak diminumnya dan malah dilempar ke dalam tempat sampah. Dia hanya pergi ke Ruang Kesehatan untuk melihat teman sekelasnya yang sejak pelajaran pertama izin ke Ruang Kesehatan dan ternyata gadis itu sudah tidak berada di sana.
***
Bell merasa lebih baik setelah istirahat di flat kecilnya. Setelah insiden pertarungannya dengan Gabriel, dia meminta izin untuk pulang. Dia was-was Cloud akan mengerjainya kembali. Dia telah menyimpulkan bahwa tuannya seorang ‘S’, s***s.
“Waktunya bekerja.” Bell melihat jam pada ponselnya yang menunjukkan pukul enam sore.
Dia bangun meski ada sedikit rasa malas untuk pergi. Tapi, dia tidak mungkin mangkir dari kewajiban dan tanggung jawabnya. Seakan ingin mengulur waktu, dia malah melakukan peregangan badan.
“Ha-ah.” Bell menghela napas, menghentikan peregangan yang sia-sia. “Percuma-percuma. Bergegaslah Bell. Pikirkan apa yang akan dilakukan tuanmu dan burungnya yang s***s itu bila kau tidak datang tepat waktu.”
Bell segera turun dari ranjangnya dan menyambar handuk yang tersampir di kursi. Dia bersenandung lagu yang liriknya diubah sesuka hati.
***
“Selamat malam semua,” sapa Bell sembari memasuki kelasnya.
Tiba-tiba cahaya perlahan meredup dan semua menjadi gelap gulita. Bell tidak dapat melihat apapun, bahkan tubuhnya sendiri. Dia menoleh ke belakang dan hasilnya sama saja. Hanya ada kegelapan.
“A-apa yang terjadi?” gumam Bell mulai berjongkok dengan perlahan. “Apa ada orang? Kalian di mana? Jawab aku!” tanya Bell sembari melambai-lambai di udara mencari sesuatu. Dia mencoba tenang, meski sedikit menakutkan.
Tangannya menyentuh sesuatu. Dia bisa merasakan sesuatu yang keras, seperti sepatu dan semakin ke atas, terasa seperti menyentuh kain. Bell langsung mencengkramnya tidak peduli apa itu.
“Hentikan permainan anak-anak ini.”
Terdengar suara yang tidak asing di telinga Bell. Dia mendongak. Semuanya kembali terang. Matanya bisa melihat dengan jelas kaki siapa yang tengah dicengkeramnya. Dia langsung melepaskannya dan menatap sekitar. Dia dikerjai oleh para siluman.
“Kami hanya bercanda, Tuan,” jawab Waffie nampak santai.
Bell langsung berdiri dan menatap kesal pada Waffie. Dia ingat betul pada siluman yang sudah membuatnya menjadi patung kemarin. Lalu dia menoleh pada Cloud.
“Tuan, hajar dia! Kemarin dia juga mengerjaiku hingga aku terpaksa menyebutmu vampir s****n,” celetuk Bell sambil menunjuk ke arah Waffie.
Waffie tersentak. Dia terkejut Bell akan mengadukan perbuatannya. Tapi, serigala itu malah tertawa membuat Bell bertanya-tanya apakah ada yang lucu.
“Hahaha. Ternyata kau lebih payah dari yang sebelumnya. Tuan, Anda sepertinya tidak diberkahi keberuntungan dengan NS,” ujar Waffie.
“Apa katamu?” Bell rasanya mau meledak.
“Seperti yang kau dengar, manusia,” balas Waffie yang disambut keheningan dari siluman lain yang pura-pura seakan tidak mendengar omongan serigala banyak bicara satu ini.
Dari bangku pojok depan, Merige sudah mengkode Bell untuk diam. Tentu saja dia mengacuhkannya. Bukan Bell namanya kalau dia akan mundur tanpa melakukan perlawanan.
“Tuan tidak lupa kan dengan yang dulu?” Waffie masih berkoar.
Cloud tidak bereaksi apapun. Dia hanya memandang ke arah Waffie. Serigala itu berdehem sendiri merasa salah tingkah dengan pandangan Cloud.
“Tuan, hentikan. Anda jangan membuat masalah lagi,” ujar NS-nya cemas dan takut melihat ekpresi Cloud yang tenang.
“Aku hanya mengingatkannya saja. Agar Tuan Cloud tidak mengalami hal yang sama lagi. Maafkan saya, Tuan,” ujar Waffie.
Bell mengeryitkan keningnya melihat Cloud masih tidak berekasi. Sudah jelas dia sedang direndahkan oleh siluman lain, seperti dibully. Dia menjadi teringat dirinya saat di Kelas Pagi. Entah kenapa itu membuatnya kesal. Yang paling membuatnya kesal adalah pembahasan masa lalu yang tidak diketahuinya. Itu membuatnya penasaran dan dia tahu hasil dari setiap rasa penasarannya tidak akan berakhir baik.
“Dasar makhluk berbulu! Rendahan! Banyak omong seperti perempuan saja!” ujar Bell langsung mendapat perhatian semua penghuni kelas.
“Arabell Purplish!” sergah Merige langsung berdiri dan menatap tajam pada Bell.
Bell bahkan membalas tatapan mata Merige.
“Dia yang mulai merendahkan lebih dulu. Jangan kau kira karena aku hanya manusia dan kau bisa berbuat seenakmu. Kau bangga menjadi siluman?” Bell melepaskan semua rasa yang dipendamnya.
“Apa yang dikatakannya?” Para tuan mulai saling bergumam.
“Dia menghina kita?”
“Dia menghina siluman serigala?”
“Hei siluman kucing juga berbulu. Jadi, dia juga menghinaku?”
“Hei, aku juga berbulu.”
Waffie mengeram kesal melihat Bell yang dilihatnya sebagai manusia kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan seorang siluman. Dan manusia itu telah berani menghina bangsanya.
“Hentikan, Bell! Tidak diperbolehkan bicara seperti itu pada para tuan. Apa kau tahu hukumannya?” Merige segera angkat bicara sebelum Waffie berulah. Dia keluar dari bangkunya dan menghampiri Bell.
“Eh, apa? Hukuman?” Bell seperti disadarkan.
“Ya,” jawab Meriga berdiri di depan Bell. Lalu dia membalikkan badan menghadap ke arah para penghuni kelas. “Maafkan atas kelancangan NS baru ini, Tuan semua. Saya sebagai ketua NS putri mewakili Bell untuk meminta maaf dan saya akan memberinya hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku,” ujar Merige.
Bell mengedarkan pandang ke seluruh kelas dan dia bisa melihat semua pandangan menusuk terlayang ke arahnya. Dia menutup mulutnya sendiri sembari beringsut bersembunyi di balik punggung Merige.
“Hei, aku menyesal,” bisik Bell pada Merige.
“Sudah terlambat bodoh,” balas Merige dengan gerakan mulut yang disamarkan dengan sebuah senyuman.
“Hukum dia di Kandang Kegelapan!”
“Masukkan ke Lumpur Penghisap!”
“Makan Lintah!”
“Kurung dengan Nafas Maut sehari!”
Usulan hukuman yang terdengar mengerikan di telinga Bell. Dia menelan ludahnya dengan susah payah. Dia menoleh pada Cloud yang ternyata tengah memandangnya. Tuannya itu lalu tersenyum padanya. Entah kenapa Bell merasa itu bukanlah pertanda baik.
“Aku yang akan menghukumnya.” Cloud angkat bicara.
“Tidak, Tuan.” Merige membalikan badan menghadap Cloud dan Bell. “Ini adalah tugas saya. Memberi hukuman pada NS yang melanggar adalah tanggung jawab saya.”
“Dia NS-ku. Aku yang mengurusnya.” Cloud tersenyum, tapi suaranya jelas terdengar penuh penekanan.
Merige terdiam. Begitu juga penghuni kelas lainnya.
“Ikut aku!” ujar Cloud sembari berjalan lebih dulu.
“Baik.” Bell tidak memiliki pilihan. Berharap hukuman dari tuannya lebih ringan daripada hukuman yang diusulkan para siluman. Lagipula dia merasa tidak akan aman jika bersikeras berada di kelas.
Mungkin aku harus melarikan diri setelah keluar dari sini. Bell tidak tahu kapan waktunya harus berhenti melakukan hal semaunya.
Cloud berhenti melangkah di ambang pintu. Dia menoleh ke arah Waffie. “Aku diam bukan berarti akan melepaskanmu begitu saja, Waffie,” ujar Cloud lalu berlalu keluar. Bell mengikutinya di belakang.
Atmosfer di dalam kelas mendadak menjadi suram. Rain yang sedari tadi hanya mendiamkan semua keributan ini akhirnya angkat bicara. “Jangan menganggunya, Waffie. Dia bisa mengembalikanmu menjadi bayi lagi.”
“Huh!” Waffie nampak kesal.
“Selamat malam anak-anak! Duh, maafkan Ibu sedikit terlambat ya.” Suara centil terdengar bersamaan dengan kemunculan seorang guru dari dalam kaca jendela kelas. “Eh, aura apa ini?” Miss Olive tersenyum mengedarkan pandang. Gadis itu tidak ada di sini?
***
“Eh, Tuan. Kita mau ke mana?” tanya Bell sembari mengikuti Cloud yang terus menyusuri lorong.
“Jangan bicara seperti itu lagi pada siluman yang lain,” ujar Cloud.
“Ya ... itu ...” Bell menggantungkan kalimatnya. “Aku hanya kesal dia mengejekmu,” lanjutnya
“Jangan ikut campur. Itu bukan urusanmu.”
“Hei, aku juga tidak ingin membela vampir sepertimu tahu. Kau itu tuan yang kejam. Seharusnya tadi aku ikut mereka mengolokmu. Sekarang aku menyesal.” Bell kesal mendengar ucapan Cloud.
“Aku akan benar-benar menghukummu.” Cloud menghentikan langkahnya dan membalikkan badan ke arah Bell.
“Eh, maksudnya Tuan tadi tidak berniat menghukum saya?” tanya Bell berubah sopan.
“Seperti itulah. Tapi-“
“Baiklah. Terima kasih. Sampai jumpa besok!” potong Bell hendak berlari.
“Sudah terlambat tahu.” Cloud mencengkram bahu Bell yang membuat gadis itu langsung berhenti.
Bell menoleh dengan kaku. Keringatnya mengucur deras melihat mata Cloud berubah merah ditambah dengan kemunculan dua taring lancip seolah memberinya peringatan bahaya padanya.
“Kau harus diberi pelajaran tentang sopan santun,” ujar Cloud. Dia memutar tubuh Bell dan mendorongnya ke dinding kaca di sebelah mereka.
“Oh, tidak.” Bell merasakan air menyentuh punggungnya. Tubuhnya semakin terhisap masuk. Ini adalah dua kalinya Bell merasakan dinding air menelannya. “Ayah, ibu, mungkin sebentar lagi aku akan bertemu dengan kalian,” batinnya melihat seringaian Cloud.
Aku akan mati.
***