“Bagaimana mereka?” tanya Mr. Strengthen sembari membolak-balik lembaran laporan penelitian yang diberikan Mr. Oarsmane.
“Saya tidak bisa mengatakan ini buruk, tapi bukan berarti baik juga. Tuan Cloud tidak memperlakukannya dengan baik dan gadis itu juga bersikap sama. Mungkin ini tidak akan bertahan lama,” jawab Mr. Oarsmane yang berdiri di sampingnya.
“Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan.”
“Sebenarnya itu bukan pendapat saya pribadi. Gabriel yang mengatakannya pada saya. Dan baru saja ada laporan dari kelas mereka kalau Arabell Purplish baru saja berbuat onar dan sekarang gadis itu diseret pergi oleh Tuan Cloud.”
Mr. Strengthen menoleh ke arah wakilnya dengan wajah berbinar-binar. Senyumnya mengembang lebar. “Itu baru berita bagus. Akhirnya mereka ada kemajuan.”
“Mr. Strengthen Anda mendengarkan saya, bukan? Gadis itu membuat onar dan diseret pergi oleh Tuan Cloud. Bagaimana jika gadis itu akan berakhir malam ini?” Mr. Oarsmane tidak mengerti jalan pikiran vampir di hadapannya ini yang malah terlihat senang.
“Sepertinya kau lupa tentang keistimewaan putraku itu, Mr. Oarsmane. Memangnya dia sudah gila menghabisi satu-satunya sumber kehidupannya? Dia akan berpikir ribuan kali untuk itu. Dan bisa saja hal baik akan terjadi setelah ini.” Mr. Strengthen tertawa kecil. Dia kembali membaca laporan di tangannya. “Mungkin sekarang mereka tidak akur, tapi lihat saja nanti. Aku punya firasat baik.”
“Drama?” batin Mr. Oarsmane.
“Dan ...” Mr. Strengthen melirik ke arah wakilnya dengan senyum lebar. “ ... bagaimana dengan pemberian makan?”
“Tentang itu, sepertinya Tuan Cloud masih menahan dirinya. Bahkan kemarin menurut Miss Olive, mereka berdua hanya beradu mulut di Ruang Kesehatan,” ujar Mr. Oarsmane.
“Hmm ... menahan diri seperti bukan dirinya saja. Dasar anak itu,” gumam Mr. Strengthen. “Menarik sekali. Dasar anak itu, sampai kapan mau terpaku dengan sesuatu yang sudah tidak ada. Padahal aku memiliki rencana besar untuknya. Bagaimana enaknya sekarang.” Mr. Strengthen bergumam sendiri.
***
“Ini di mana?” Bell mengerjap-ngerjapkan mata mengamati tempat di mana dia berada setelah didorong paksa masuk dinding air. Dia cukup takut saat berada di dalam kegelapan yang dingin beberapa saat tadi. Meski tidak ingin mengakuinya, tapi kegelapan yang membuatnya tidak bisa melihat apapun itu mengerikan. Bell yang tak kenal takut saja bisa menciut karena itu.
“Minggir!” Cloud mendorong tubuh Bell ke samping dengan sangat tidak berperasaan. Gadis bertubuh tak seberapa berisi itu melenting sampai menabrak tiang kanopi ranjang besar di dekatnya.
“Apa-apaan itu? Kenapa kau kejam sekali?!” protes Bell kesal. Matanya menatap tajam ke arah Cloud yang melenggang duduk di atas ranjang dengan menyilangkan kaki. Seperti seorang bos besar. Bibir Bell naik sebelah, mendesis, ingin mengeluarkan makian tapi dia menahannya.
Cloud memandangnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Matanya yang terlihat dingin, seolah tak mengenal rasa belas kasih itu membuat Bell ingin mencongkelnya.
“Ini di mana ya?” tanya Bell lagi dengan nada sengak.
Cloud hanya diam menatap ke arah Bell.
“Hoi, kau dengar, kan?” ujar Bell mulai emosi.
Cloud masih diam.
“Vampir breng**k,” ujar Bell tanpa mengeluarkan suara.
“Kau punya nyali juga.” Cloud angkat bicara.
Bell tersenyum mengejek. “Aku bertanya baik-baik dan kau malah mengabaikanku. Jangan salahkan aku bila mulutku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Sejujurnya dari tadi mulutku sudah sangat gatal ingin mengatakannya.”
“Kau tidak memiliki sopan santun pada tuanmu sendiri.” Cloud tidak mengalihkan pandangannya dari Bell.
“Perlu kau tahu Tuan. Ehem.” Bell berdehem. “Aku hanya sopan pada orang yang kuanggap perlu. Dan kau Tuan Vampir yang ternyata s***s, tidak ada dalam daftar itu.” Bell tersenyum lebar.
“Baiklah. Kurasa aku juga tidak perlu sungkan lagi.”
“Eh?”
Bell membelakkan matanya mendapati hembusan angin menerpa wajahnya bersamaan dengan Cloud yang tepat berada di hadapannya. Mata mereka bertemu pandang. Saling menatap. Bell terkejut juga terpaku pada mata Cloud yang merah semerah darah.
“Selamat makan.” Cloud tersenyum miring memperlihatkan gigi taringnya yang runcing. Detik berikutnya tubuh Bell menegang merasakan rasa sakit dari lehernya. Rasa perih dan juga panas membaur menjadi satu dengan wangi mawar yang pekat. Mulutnya bergerak-gerak tanpa bisa mengeluarkan suara. Matanya masih membelalak tak percaya. Dia tidak terlalu pintar, tapi bukan berarti dia tidak tahu apa yang tengah terjadi.
Tangan Bell begerak dengan gemetaran mencoba melepaskan dirinya dari Cloud yang tengah menggigit lehernya, tapi tangannya tidak bertenaga. Pandangannya mulai mengabur dan beputar. Kepalanya pening.
Hentikan. Ini sakit. s**l.
Suaranya tidak keluar sama sekali. Dan rasa sakit itu semakin menjadi saat Cloud menarik taringnya dari leher Bell. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliknya, didorongnya tubuh Cloud yang seteguh batu hingga dirinya terhuyung menyamping dan jatuh. Bell bernapas panjang dengan susah payah. Tubuhnya menggeliat lambat, matanya yang mulai sulit untuk melihat menatap ke arah Cloud yang berdiri tetap pada posisinya dengan mulut yang belepotan dengan cairan merah yang tidak diragukan lagi adalah darahnya.
Cloud mengusap bibirnya dengan punggung tangan sesaat setelah melihat makanannya tergeletak tak sadarkan diri. Dia berjalan menghampiri tubuh Bell dan berjongkok di depannya dan mengamati tubuh Bell.
“Mungkin aku sedikit berlebihan,” gumam Cloud.
***
Mati. Itulah hal pertama yang Bell pikirkan ketika membuka mata dan semuanya hanya ada kegelapan. Dia telah digigit vampir, kehabisan darah lalu mati. Masih dalam kegelapan yang membutakan pandangannya, dia berjalan tanpa tahu arah. Lalu muncul seberkas cahaya dari atas kepalanya bersamaan dengan jatuhnya serpihan kelopak mawar.
“Mawar ...” gumamnya sembari menengadahkan telapak tangan menangkap serpihan mawar itu. Bell mendongak. Cahaya kecil itu semakin melebar dan menyilaukan matanya.
***
“Sudah bangun?”
Bell tertegun beberapa saat melihat wajah Cloud.
“Aku tidak mau mati!” teriaknya refleks bangun dan melayangkan tinju ke wajah Cloud.
“Apa yang kau lakukan, bodoh!” Cloud berhasil menahan kepalan tinju Bell sebelum menghantam pipinya. Dia mengibaskan tangan Bell dengan kasar lalu memandang tajam pada gadis itu. “Gadis ini benar-benar tidak dapat diprediksi,” batin Cloud kesal.
“Aku masih hidup?” Bell melihat tubuhnya yang masih utuh. “ Aku masih hidup. Aku sempat berpikir akan menghantui vampir yang sudah membunuhku,” ujarnya lagi dengan senyum lebar tanpa melihat ke arah Cloud.
“Cuit! Cuit! Cuit!” terdengar suara burung membuat Bell mendongak.
“Jangan Gabriel!” ujar Cloud menangkap burung berparuh panjang itu yang hendak menyerang Bell.
Bell menjulurkan lidahnya ke arah Gabriel yang terlihat meronta-ronta di genggaman Cloud. Dari cuitannya, Bell bisa menebak kalau Gabriel sedang emosi. Burung biasa tidak akan ada yang seperti itu, sayangnya Gabriel adalah burung siluman.
“Bagaimana rasanya kembali dari kematian?” tanya Cloud sembari duduk di dekat jendela yang terbuka dengan Gabriel yang diletakkan di bahunya. Burung itu terlihat sudah tenang.
Bell langsung memegang lehernya. Dia bisa merasakan plester menempel di sana. Sudah tidak ada sakit dan panas. Kepalanya juga tidak terasa pusing lagi.
“Apa benar aku tadi mati?” tanya Bell sedikit melunak. Dia ingat ketika dia berjalan tanpa arah di kegelapan sendirian. Mendadak bulu kuduknya berdiri.
“Tentu saja tidak, bodoh. Mana mungkin aku membunuh makananku sendiri. Hanya saja tidak kusangka kau akan pingsan. Manusia yang lemah. Kau akan benar-benar mati jika seperti ini saat aku makan. Kau tahu kan memberikanku darah adalah kewajibanmu?” ujar Cloud memandang remeh pada Bell.
“Aku tahu mungkin ...” Bell mendengus. “Aku tidak tahu kalau aku harus digigit olehmu,” aku Bell kesal.
“Kau benar-benar tidak tahu tentang apapun ya. Dasar manusia.”
“Manusia. Manusia. Memangnya kenapa kalau manusia?” Bell turun dari tempat tidur. Serpihan kelopak mawar ikut jatuh karena gerakannya. Dia hanya melihatnya sekilas seolah tidak peduli bagaimana mawar itu ada di sana. Dia langsung berkacak pinggang seolah menantang Cloud. “Kau seharusnya memperlakukanku dengan baik, bukan? Aku sudah dengar dari kepala sekolah tentang satu hal penting. Vampir spesial yang hanya bisa menerima satu darah.” Bell tersenyum menang melihat ekspresi terkejut Cloud yang hanya sekilas terlihat.
“Lalu?” Cloud berdiri. Sementara Gabriel sudah ribut di bahunya.
“Mau tidur lagi?” ujar Bell. “Aduh!” pekik Bell karena tiba-tiba wajahnya ditimpuk sesuatu. Tangannya bergerak menangkap sesuatu yang sudah membuatnya terkejut.
Bell melihat mawar tanpa tangkai di genggamannya. Matanya berkedip beberapa kali lalu memandang ke arah Gabriel.
“Kenapa kau menimpukku, burung ke-cil!” protes Bell melotot ke arah Gabriel.
“Kau sangat tidak sopan pada burung yang sudah menolongmu,” sahut Cloud berjalan mendekati jendela.
“Menolongku?” Bell tidak paham maksud Cloud.
“Gabriel sudah susah payah mengumpulkan mawar untukmu.”
“Ha? Lalu kenapa? Memangnya kenapa dengan mawar ini?”
“Kelopak mawar ini ...” Cloud menggerakkan pelan jarinya dan bunga mawar di telapak tangan Bell melayang dan berpindah ke tangan Cloud.
“Wah!” Bell terpukau beberapa saat. Dia antusias saat melihat sihir tepat di hadapannya.
“Karena kau sudah tahu bahwa aku vampir yang spesial, maka kuberitahu satu hal lagi meski sebenarnya aku malas mengatakannya pada manusia lemah sepertimu.”
“Katakan saja cepat. Tidak perlu mengolok manusia lemah juga, kan? Kau seharusnya sadar Tuanku. Uh, lidahku hampir tergigit karena memanggilmu tuan.” Bell menjulurkan lidah untuk melihat lidahnya terluka atau tidak. “Aku sebenarnya tidak ingin bersikap kurang ajar padamu, tapi bagaimana lagi. Kau pun memperlakukanku dengan buruk. Apa yang kulakukan ini hanya cerminan dari perlakuanmu. Tidakkah kau tahu itu?”
Cloud terdiam beberapa saat. “Memangnya aku peduli? Kau ada di sini hanya karena aku membutuhkan darahmu yang kebetulan membangunkanku. Jika aku bisa memilih, aku akan lebih memilih manusia dengan tubuh lebih berisi. Jadi, dia tidak akan pingsan hanya karena aku meminum sedikit darahnya.”
“Baiklah, jika itu memang maumu. Kau jual aku beli. Perlu kau tahu juga Tuan Vampir, aku sudi menjadi NS-mu juga hanya demi uang,” ujar Bell berusaha sekuat tenaga agar emosinya tidak meledak.
“Begitu? Itu terdengar bagus.” Cloud tersenyum datar lalu melempar mawar itu ke wajah Bell.
“Aduh!” Bell tidak cukup cepat untuk menghindari mawar yang sudah dua kali mengenai wajahnya. “Kau marah?”
“Pergi. Aku muak melihat wajahmu!” Suara Cloud terdengar berat.
“Hah?! Kau bicara seenakmu lagi, Tuan. Kau tidak perlu memberiku perintah karena aku sendiri sudah tidak tahan di dekatmu.” Bell meremas mawar di tangannya. Dia mengedarkan pandang mencari tasnya. Begitu melihat tasnya, dia segera menghampirinya dan mengambilnya.
Tanpa bicara lagi, Bell melangkahkan kaki menuju sebuah pintu berwarna putih yang ditebaknya adalah jalan keluar dari ruangan yang membuatnya kesal ini. Dia bersyukur pintu itu tidak terkunci. Dia membukanya dengan mudah dan segera keluar. Dibantingnya dengan keras hingga pintu putih itu sampai mengeluarkan bunyi yang cukup keras untuk melampiaskan rasa kesalnya. Kemudian dia berdiri di depan pintu dan menundukkan kepala menatap sepatunya.
“Dasar. Dia sendiri yang memulai dan dia sendiri yang marah. Vampir yang merepotkan. Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu pada manusia yang sudah memberinya rasa kenyang,” gerutunya sendiri. “Hah, sudahlah. Sebaiknya aku segera pulang. s**l, sudah terang lagi. Terpaksa bolos.”
Bell mulai melangkahkan kaki beberapa langkah lalu kembali berhenti. Matanya mengedar melihat sekeliling. Dan dia baru menyadari satu hal penting yang terlewat.
“Oh, ini buruk. Aku tidak tahu sedang di mana.” Bell memegang kepalanya dan rasa panik mulai menghampirinya.
***