“Pada akhirnya aku masih hidup,” gumam Bell di depan cermin di dalam kamarnya. Jemari kecilnya menarik pelan plester yang melekat di pangkal lehernya. Wajahnya resah membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana nanti jika bekasnya mengerikan? Bagaimana jika ada yang bertanya? Bagaimana jika ... Bell menarik kasar plester itu. Dia menjerit kecil karena plester itu cukup erat menempel pada kulitnya. Rasanya seperti plester untuk wax bulu. Bell berjongkok sembari mengusap-usap lehernya. Dia menahan diri untuk tidak berteriak. “Vampir si*lan,” geramnya lalu dia kembali berdiri masih dengan menutupi lehernya. Bell tersenyum lebar sembari menoleh ke arah meja kotak kecil di dekat jendelanya. Di sana terdapat setumpuk bunga mawar yang dia petik dari halaman rumah mewah di belakang Gedung Putih. D

